
Cup!
Rajendra mencium puncak kepala kekasihnya singkat. Kembali ke posisi semula seolah tidak terjadi apa-apa begitu Ignacia menatap ke arahnya.
"Hei apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika ada yang melihatnya?" Ya siapa yang tidak akan melihatnya kecuali mereka yang berada di depan keduanya?
Rajendra menoleh, membisikkan sesuatu ke telinga kekasihnya, "sebentar lagi kita akan lulus. Orang-orang tidak akan mau mengadu ke Bimbingan Konseling tentang kita," bisiknya lembut.
Pertunjukan dadi anak dance sudah selesai dan suasananya menjadi agak hening.
Suara gemuruh tepuk tangan memenuhi aula. Tangan Rajendra kembali turun, menyimpan ponselnya ke dalam saku dan hanya fokus dengan Ignacia. Genggaman tangannya dieratkan untuk memastikan kekasihnya tetap disana dan tidak hilang atau mungkin diambil seseorang darinya.
...*****...
"Ignacia ada dimana?" Kemala bertanya pada Nesya. Mereka bertemu secara tidak sengaja di dekat tempat camilan.
"Dia bersama dengan Rajendra. Tadi aku meninggalkan dia di tengah-tengah sana." Nesya menunjuk ke arah dimana dia meninggalkan pasangan yang sedang kasmaran tadi.
Kemala mengangguk-angguk paham, berterima kasih kepada Nesya kemudian membawa seseorang di sampingnya ke arah yang ditunjukkan. Kemala sebaiknya cepat sebelum kehilangan keberadaan Ignacia dan Rajendra.
"Tapi aku masih ingin makan camilannya," protes laki-laki yang di gandeng Kemala. Tangannya yang akan meraih kue manis hanya bisa menggapai udara. Bahkan tangannya masih seolah akan mengambil camilan saat Kemala sudah membawanya menjauh.
"Aku ingin melihat Ignacia dan Rajendra sebentar. Mereka itu belum pernah berkencan, jadi aku penasaran," jelas Kemala pada kekasihnya. Meskipun begitu, kekasihnya masih ingin berada disana dan makan camilan. Dia belum pernah mencoba makanan manis yang ada disana.
"Kenapa kita harus menganggu pasangan baru yang sedang kasmaran? Mereka mungkin akan terganggu." Kekasih Kemala ini mulai pandai membuat alasan. Rasanya berat untuk meninggalkan makanan.
"Baru apanya? Mereka sebentar lagi sudah lima tahun berpacaran. Kita yang masih baru."
Kekasih Kemala menutup mulutnya dengan tangan lain yang tidak sedang di gandeng si gadis. Dia agak terkejut dengan apa yang baru didengarnya. Pasangan mana yang bisa menahan untuk tidak pergi berdua seperti itu? Dia tidak tahu saja jika Kemala menutupi rumor kencan Ignacia dan Rajendra di rumah.
"Tapi bagaimana bisa kita menemukan mereka di tengah keramaian? Tidakkah kita bisa menonton ekstrakurikuler dance di depan? Mereka akan segera memulai." Kemala pura-pura tidak dengar. Lagipula mereka bergerak samar, masih ada beberapa detik untuk menonton.
Kemala berhenti, menatap kekasihnya lamat-lamat. "Menurutmu kenapa Rananta menitipkan kameranya padaku? Dia ingin aku memotret kegiatan yang dilakukan teman-teman kami. Dia tidak ingin kehilangan momen. Kami sama-sama tidak ingin kehilangan momen terakhir."
...*****...
Salam sambutan diberikan oleh guru pembina. Guru yang memberikan izin dan membantu pada panitia untuk membuat acara ini terlaksana. Ada sesi dimana sang guru pembina mendapatkan buket bunga sebagai rasa terima kasih karena sudah mau memberikan izin.
"Selamat menikmati malam kalian," ucap sang guru pembina sebagai penutup sambutannya.
Akhirnya sesi salam sambutan sudah selesai. Waktunya untuk menikmati acara selanjutnya. Katanya nanti akan ada sesi membawa lilin dan sekuntum bunga sebagai dokumentasi dan acara terakhir. Acara yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang yang datang.
Masih dengan posisi yang sama, Ignacia menatap ke atas panggung. Orang-orang yang tinggi sepertinya lelah dan akhirnya menepi untuk mengambil camilan. Ada tempat kosong yang memungkinkan Ignacia untuk melihat sekitar panggung.
"Kapan kamu akan pulang? Mau kuantarkan?" Rajendra bertanya. Tidak mungkin Ignacia bisa berada disini hingga larut. Orang tuanya tidak akan memberikan izin jika anaknya pulang begitu malam. Tidak mungkin juga gadis ini pulang sendiri.
"Sampai selesai," jawab Ignacia tanpa menoleh.
"Aku bertanya pada salah satu panitianya tadi. Mereka juga tidak tahu pasti kapan acaranya selesai. Jika kamu sudah lelah dan mengantuk, aku akan mengantarmu pulang."
"Baiklah, aku mengerti."
Tapi bagaimana bisa panitia tidak tahu jadwal berakhirnya acara yang mereka adakan? Lagipula mereka adalah anggota organisasi penting. Seharusnya tahu dengan pasti jadwalnya. Bagaimana bisa membuat daftar acara jika jadwal berakhirnya acara saja tidak tahu?
"Kamu masih tidak mau memberitahu aku dimana kamu akan berkuliah, Rajendra?" Nada bicara Ignacia terdengar berbeda. Meskipun sekitar keduanya berisik, Rajendra masih bisa mendengar dengan baik.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu? Yang jelas, kita tidak akan dari kota, Ignacia. Universitas yang kita pilih berbeda, jurusannya juga sangat berbeda."
Ignacia menggenggam lengan kekasihnya dengan tangan lain, menyandarkan kepalanya ke bahu si laki-laki. "Tidakkah kamu terlalu jahat padaku? Sebentar lagi kita tidak akan bisa bertemu lagi. Kita akan sibuk dan aku yakin kamu akan menghilang seperti biasa."
"Aku akan menemuimu jika liburan datang, Ignacia. Akan ku kirimkan pesan sesering yang aku bisa. Maafkan aku belum bisa mengatakannya padamu. Aku masih ingin merahasiakannya."
"Kenapa kamu ingin merahasiakannya dariku? Kamu pikir aku tidak akan paham dengan apa yang kamu katakan karena aku tidak berasal dari jurusan yang sama denganmu?" Tatapan mata Ignacia tampak menelisik. Ignacia tidak suka jika orang terdekatnya menyembunyikan sesuatu.
Rajendra melepaskan kedua tangan Ignacia dari tangannya. Menghadap di gadis dengan senyuman tulus. "Aku ingin memberikan kamu kejutan terbaik. Setelah semuanya siap, akan kukatakan yang sejujurnya."
Satu tangan Rajendra terangkat. Menutupi wajah Ignacia dari orang-orang yang berada di belakang keduanya berdiri. "Aku tidak bermaksud untuk membuatmu kesal. Aku hanya ingin menyiapkan kejutan terbaik yang bisa kuberikan."
Ignacia terpanah dengan tatapan yang diberikan Rajendra. Akhirnya dia bisa menetap mata itu beberapa detik. Pada akhirnya dia tidak bisa menahan dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Apa Rajendra sengaja melakukannya agar Ignacia tidak lagi bertanya?
"Hei, lihat aku," Rajendra mengarahkan wajah Ignacia agar terus menatapnya. Ignacia seperti kembali melihat kilas balik mimpi yang membuatnya begitu malu. "Jangan kesal begitu. Kurasa aku akan memiliki waktu ketika liburan kuliah. Aku akan datang ke tempatmu, berkencan denganmu lagi."
"Siapa yang kesal? Terserah padamu i-" Kalimat Ignacia terpotong karena tindakan tiba-tiba yang dilakukan Rajendra. Bibir keduanya bertemu sekilas. Setelahnya Rajendra menurunkan tangannya dan membiarkan wajah Ignacia bebas.
Si gadis tertunduk malu sekaligus tidak percaya. Bagaimana bisa Rajendra melakukan itu di depan banyak orang? Apalagi tadi hanya tertutup sedikit dengan tangannya, orang-orang pasti tahu apa yang sedang dilakukan sepasang kekasih ini.
Rajendra pura-pura tidak tahu. Sok bernyanyi dengan seseorang yang ada di atas panggung dan tidak memikirkan wajah Ignacia yang sudah merah padam seperti kepiting rebus. Wajahnya memanas dan senyumannya tidak karuan. Dengan posisi kepalanya yang tertunduk, Ignacia sangat gugup..
Ignacia lagi-lagi menyandarkan kepalanya pada bahu Rajendra. Bedanya kali ini kepalanya masih tertunduk. Ingin menyembunyikan ekspresi anehnya dari dunia. "Apa yang kamu lakukan Rajendra? Kamu jadi berani malam ini," geramnya.
Tawa terdengar dari mulut Rajendra. Siapa yang bisa bernyanyi sambil tertawa selain laki-laki yang berani-beraninya mencium seseorang di depan orang-orang ini? Tangannya merangkul bahu Ignacia, memberikan kekuatan agar si gadis bisa kembali bersikap seperti semula.
"Ignacia," panggilan itu membuat keduanya menoleh. Langsung menatap ke lensa kamera yang entah sejak kapan sudah diarahkan pada mereka. "Ayo buat pose berdua agar bisa dicetak," perintah Kemala yang membawa kamera.
Rajendra yang mengambil alih. Memposisikan Ignacia dengan mengangkat wajahnya sambil masih merangkul bahunya lembut. Jangan lupakan pose dengan jempol biasa Rajendra yang sangat tidak disukai Ignacia ketika berfoto. Dari sekian banyak pose, kenapa harus jempol?
"Aku tidak apa-apa. Aku kuat." Ignacia memposisikan dirinya dengan baik. Sudah cukup jiwanya tergoncang akibat tindakan berani Rajendra di hadapan orang banyak. "Ayo ambil foto sebanyak mungkin dan kirimkan padaku nanti, okay?"
...*****...
"Oh itu Ignacia." Kemala akhirnya menemukan keberadaan temannya setelah melewati banyak kerumunan. Tidak terlalu padat memang, namun tetap saja ada banyak orang. Kekasih Kemala tampak lelah mengikuti kemanapun si gadis bermata sipit ini pergi. Tapi ya mau bagaimana lagi?
Cup!
Kemala tidak sengaja melihat Rajendra mencium puncak kepala Ignacia. Membuat yang melihat langsung balik badan dan memilih untuk tetap di tempatnya. Bukan dia yang dicium, namun yang malu dirinya.
"Kita datang di waktu yang tidak tepat. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Apa maksudnya tidak tepat?" Kekasih Kemala tentu kebingungan. Dia tidak mengingat wajah Ignacia meskipun Kemala pernah sesekali memperkenalkan para sahabatnya lewat foto bersama. Jadinya dia kebingungan seperti orang bodoh.
"Sudahlah. Kita datang lagi nanti."
Kemala dan kekasihnya datang lagi setelah selang beberapa lama. Tapi ketika kembali, dia mendapatkan kejutan berupa kegiatan romantis antara Rajendra dan Ignacia.
"Kenapa Rajendra harus melakukan itu pada Ignacia? Lihatlah dia sampai kehilangan nyawanya seperti itu," gumam Kemala.
"Hah?" Di sisi lain kekasihnya kebingungan dengan apa yang digunakan Kemala. "Kamu bilang apa?" Dikeraskan suaranya karena keramaian di atas panggung semakin merajalela.
Kemala tidak menjawab. Dia menguatkan tekad agar bisa mengambil momen Ignacia dengan kekasihnya. Semoga Rananta tidak kecewa dengan hasil fotonya. Dia masih memiliki Aruna dan Dianti yang harus difoto. Mereka belum terlihat, jadi Kemala mencari Ignacia lebih dahulu.
Dia mengambil banyak gambar kemudian pergi. Membiarkan sepasang kekasih itu kembali ke kehidupan mereka. Ignacia berusaha tersenyum dan bersikap seolah tidak ada apa-apa karena kedatangan Kemala. Membuat si mata sipit merasa aneh sekaligus malu sendiri karena tahu alasannya.
...*****...
"Rananta!" Kemala memanggil. Tangannya sekali lagi menggandeng si kekasih untuk menemui temannya. Jika Rananta, kekasih Kemala sudah tahu. Mereka baru saja bertemu sebel acaranya dimulai. "Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. Aku sudah mengambil foto teman-teman."
"Itu bagus. Akan ku kirimkan hasilnya pada masing-masing kalian nanti. Oh ya, apa Ignacia bersama dengan Rajendra? Aku belum melihat mereka sama sekali." Rananta bicara sambil mengambil kembali kamera yang disodorkan Kemala.
"Percayalah, kau tidak akan ingin menemui mereka saat ini. Lebih baik temui setelah hatimu kuat." Kemala izin undur diri dan kembali ke malamnya bersama sang kekasih. Meninggalkan Rananta yang kebingungan dengan ucapannya barusan.
"Memangnya apa yang bisa Ignacia dan Rajendra lakukan? Aku saja tidak yakin mereka benar-benar berkencan di rumah Rajendra hari itu," gumam Rananta.
Teman-teman kelas Rananta memanggil, mengajaknya kembali ke kerumunan. Rananta segera menyimpan kamera tadi dan meninggalkan tempat camilan. Tidak lupa membawa sedikit camilan di tangannya sebelum benar-benar pergi.
...*****...
Semakin malam acaranya semakin meriah saja. Ada bintang tamu yang diundang tanpa sepengatahuan para siswa karena panitia sepakat untuk membuatnya seperti kejutan. Seorang laki-laki yang terlihat familier. Sejak pertama melihat, Ignacia rasanya sudah melihat orang itu sebelumnya. Entah kapan dan dimana. Ignacia tidak mengingatnya.
Orang-orang berdesakan menuju panggung. Mendekatinya agar bisa melihat wajah laki-laki berumur sekitar dua puluh tahunan itu lebih dekat. Ignacia mendapatkan foto laki-laki itu dari Rananta menggunakan kameranya. Diakuinya jika laki-laki itu cukup tampan seperti orang luar negeri.
Tapi bukan selera Ignacia. Jadinya dia tidak begitu tertarik.
Lagipula sekarang ada Rajendra. Ignacia tentu tidak ingin ada masalah apapun. Meskipun tidak ada, Ignacia juga tidak akan melihat lebih dekat karena tidak ingin mendekati kerumunan.
"Halo semuanya," sapa laki-laki di atas panggung. Dia cukup ramah. Dan Kelihatannya orang-orang ada yang mengenalnya. Mereka meneriakkan nama pemuda itu dengan senang seolah dia adalah idolanya. Apa mungkin seorang artis? Ignacia tidak begitu mengikuti kegiatan artis-artis.
Rajendra menyenggol lengan Ignacia. "Kamu tidak ingin memberikan sorakan juga?" Rajendra terus menatap wajah kekasihnya untuk melihat reaksi. Tapi Ignacia hanya menatap tidak tertarik ke atas panggung. Dia menggeleng pelan sebagai jawaban. Rajendra cukup puas dengan itu.
"Tapi sepertinya aku pernah melihat laki-laki itu di suatu tempat. Apa kita pernah melihatnya?"
Rajendra berpikir-pikir sebentar. Sepertinya dia belum pernah melihat laki-laki itu. "Mungkin kamu hanya merasa Dejavu, Ignacia. Kamu tidak pergi keluar jika tidak denganku. Jadi aku pasti tahu. Tapi saat pergi ke acara penandatangan buku, kamu tidak bersamaku. Apa mungkin kamu melihatnya diluar kota?"
Entahlah. Ignacia tidak yakin.
"Tidak mendekat ke panggung?" Nesya muncul. Ada seorang perempuan yang tidak dikenal Ignacia di samping gadis berkacamata itu. Seseorang yang sama-sama menggunakan kacamata seperti Nesya. Ignacia menggeleng sebagai jawaban. Tidak mengatakan jika laki-laki itu tampak familier.
"Bagaimana denganmu, Nesya?" Rajendra merespon.
"Kudengar jika laki-laki itu menenangkan juara pertama di sebuah kontes di kota ini." Nesya menjelaskan.
"Kontes di kota?" Beo Ignacia sambil menatap temannya. Tapi pandangan Nesya hanya tertuju pada seseorang yang masih melakukan persiapan kecil di atas panggung.
"Katanya ada di mall yang biasa kamu datangi, Ignacia. Aku juga dengar jika dia sering mengover banyak lagu artis dari dalam dan luar negeri."
Ignacia merasa semakin familier ketika mendengar intro lagu yang akan dibawakan.
"We got it started in the worst way,"
"Just by the way you looked at me,"
"Goddamn, it was a spectacle,"
"We look fuckin' incredible now,"
Ignacia sepertinya mengingat sesuatu.
"Oh dia laki-laki yang kita lihat di kontes hari itu, Rajendra! Laki-laki yang menyanyikan lagu Car Crash!" Sekarang Ignacia mengingatnya.