
Ada Minggu dimana seluruh kelas 12 pulang di jam yang sama dengan para adik kelas dan menikmati sisa hari di rumah. Ya itu hari-hari remidi. Hari dimana orang-orang lebih repot mengurus dan mengumpulkan tugas-tugas yang kurang dan terlewat demi kelanjutan kehidupan mereka nanti.
Kesempatan pulang siang ini tentu tidak akan disia-siakan Ignacia agar bisa menemui kekasihnya. Terlalu lama jika hanya menunggu Rajendra yang datang. Sebaiknya datangi saja lebih dahulu tanpa rasa malu. Sudah cukup Ignacia melihat Rajendra dikelilingi teman-temannya Sepanjang waktu.
"Temannya saja dapat membuat Rajendra menetap. Lalu kenapa aku tidak bisa? Ini konyol," kesal Ignacia.
"Kalian bertengkar?" Tegur Nesya.
Sedari tadi teman berkacamatanya ini memperhatikan Ignacia yang hanya terfokus dengan beberapa orang yang berada diluar. Rajendra dengan kelompok- entah apa kelompok apa itu. Nesya juga dapat melihat jika Rajendra bukan hanya membahas hal serius dengan teman-temannya.
"Bertengkar? Mana sempat. Berkirim pesan saja sudah jarang. Bagaimana mau bertengkar?" Ignacia menjawab ketus.
"Lalu ada apa dengan kalian?"
"Entahlah, aku juga tidak paham," Ignacia melunak, tangannya yang tampak mengepal di atas meja kini dilemaskan, "aku kesal saja melihatnya terus bersama para manusia itu. Mereka selalu hadir menghalangi jalanku untuk mendekati kekasihku sendiri. Aku merasa bodoh karena menunggunya tanpa melakukan apapun."
"Bukan bodoh. Mungkin kata yang kau cari adalah bucin."
"Begitukah?" Ignacia menyengir, "tapi kenapa aku merasakan ini hanya ketika menunggunya?"
"Jika bukan begitu, masih ada pilihan kata rindu di dalam kamus, Ignacia. Aku tahu jika manusia normal yang sudah memiliki kekasih bisa merasakan hal semacam itu. Jadi jangan khawatir. Itu normal dan bisa dirasakan kapan saja."
Kenapa malah Nesya yang tahu banyak?
...*****...
"Rajendra, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi jangan menoleh dan tetaplah di posisi ini. Kau tahu kenapa Ignacia terus menatap ke arah kita?" Salah seorang teman perempuan Rajendra bertanya.
Sebenarnya dia sudah menyadari tatapan kekasih temannya ini sejak tadi. Namun rasanya mulai semakin tidak nyaman. Apalagi itu bukan tatapan bersahabat. Ignacia menatap mereka seolah keberadaan mereka sungguh menganggu.
"Ignacia?" Tanya Rajendra memastikan. Dia ingin menoleh, namun teman perempuan lainnya melarang.
"Jika kau menoleh, Ignacia mungkin akan semakin marah. Sekarang kami akan pergi, jadi kau bicara berdua saja dengan anak ini. Kita bicarakan yang lainnya nanti." Dua perempuan tadi berjalan menjauh, mencoba terlihat natural tanpa melirik ke dalam kelas Ignacia sekalipun.
Sementara mereka meninggalkan Rajendra dengan teman laki-lakinya. Keduanya satu bangku dan sekarang melanjutkan percakapan mengenai tugas membuat TTS PPKn bertemakan Hukum. Dan tentu saja mereka akan bersikap seolah-olah tidak mengetahui tatapan Ignacia.
Setelah di dalam, Rajendra ingin sekali menatap keluar. Tapi teman di sampingnya bilang jika Ignacia masih menatap mereka. Gadis itu menjadi menyeramkan jika tiba-tiba menatap seperti itu meksipun bukan tatapan yang membunuh.
"Kalian bertengkar atau semacamnya?" Teman Rajendra bertanya.
"Jika bertengkar, bukankah biasanya tidak melihat satu sama lain? Lalu kenapa juga kami bertengkar?"
"Entahlah. Tapi Ignacia tampak tidak senang."
...*****...
Nesya merenggangkan badannya. Merasa lelah setelah menyelesaikan tugas membuat kerangka novel untuk mata pelajaran bahasa Indonesia wajib. Berbeda dengan Ignacia yang sudah menyelesaikan Minggu lalu.
Ya bagaimana tidak? Ignacia mendapatkan inspirasi aneh dari novel yang pernah dibacanya dan langsung membuat lima belas bab dalam beberapa hari. Bahkan sebelum hari pengumpulan saja dia sudah sudah menyelesaikannya.
"Remidi matematika tadi membuatku ingin terbang," bisik Nesya di tengah keheningan.
Orang-orang sudah pulang. Bel berbunyi tiga puluh menit yang lalu. Nesya dan Ignacia memutuskan untuk mengerjakan tugas di sekolah. Ignacia dan Nesya memiliki tugas kelompok sastra yang harus segera diselesaikan. Jadinya menetap di sekolah lebih lama. Jika dikerjakan sendiri, nanti akan berantakan.
"Alih-alih terbang, aku justru merasa seperti tenggelam ke Samudera Artik. Aku menemukan banyak gunung es selama perjalanan menuju dasar." Ignacia juga merenggangkan badannya. Tubuhnya yang sejak tadi menenang kini sudah kembali rileks. Mengetik dan mengedit banyak hal bukanlah sesuatu yang dia sukai.
"Besok tidak ada remidi apapun 'kan? Kita tidak gagal di mata pelajaran besok 'kan?" Ignacia menyandarkan dirinya sambil bertanya. Di sampingnya, Nesya mengangguk. Tangannya masih ada di atas meja, menggenggam ponsel untuk menulis novelnya.
"Kita berhasil melewati semua remidi dua hari terakhir. Jadi kita sudah tidak perlu memikirkan apapun. Hanya beberapa persiapan sebelum ujian kelulusan." Ucapan Nesya membawa Ignacia kembali ke pikiran jangka panjang yang selalu dihindari gadis berambut panjang ini.
"Setelahnya kita akan lulus?" Ignacia tidak membutuhkan jawaban. Nesya juga tidak bisa memberikan jawaban. Keduanya tahu jika pertanyaan itu pun tidak perlu dijawab.
"Seseorang datang," bisik Nesya kemudian memperbaiki posisi duduknya.
Bersamaan dengan itu datanglah seseorang dari luar kelas. Seseorang bertubuh tinggi dengan tas laptop di tangan kanannya. Dia berjalan dengan santai memasuki ruang kelas yang sudah sepi. "Apa yang kalian lakukan disini? Kukira kalian sudah pulang." Orang itu bertanya.
Ignacia senang karena memiliki kesempatan untuk menunggu orang itu datang. Kebetulan sekali bersamaan dengan tugas sastra yang harus di selesaikan. Jadinya Ignacia tidak perlu mengarang apapun pada Nesya untuk tinggal lebih lama.
Rajendra mendekat, berdiri di samping meja Ignacia. "Apa ada banyak hal yang harus kamu lakukan?" Laki-laki itu berbisik.
"Tinggal sedikit lagi."
"Biar aku yang mengeditnya nanti," Nesya menyahut. Mungkin dia sudah kelelahan dengan kerangka novelnya hingga sekarang mematikan layar ponsel. "Bagaimana jika bergantian sekarang? Kamu cari lagi majas lainnya."
Ignacia tidak menolak. Lagipula laptop yang dia gunakan untuk mengetik sedari tadi menang milik Nesya.
"Mau kubantu?" Rajendra menawarkan diri.
Ignacia menggeleng pada yang bertanya. Beralih menatap Nesya yang menunggu. "Kurasa kita sudah mendapatkan cukup banyak. Kita edit saja dan sudahi ini. Sekarang sudah semakin sore. Bagaimana menurutmu?"
Nesya mengangguk-angguk setuju, memeriksa hasil kerja Ignacia dengan santai. Beberapa kali Rajendra menginterupsi, memberikan cara terbaik bagi Nesya melanjutkan kerja Ignacia tadi. Tentu itu juga dilakukan dengan dirinya yang mencoba mendekati Ignacia yang merasa canggung.
Posisinya yang masih berdiri memudahkan Rajendra untuk bergerak. Sesekali Rajendra juga meletakkan dagunya di atas kepala Ignacia saat tidak sedang bicara. Membuat gadis di bawah dagunya ini diam saja tanpa suara.
"Rasanya aneh, tapi tidak apa-apa," batin Ignacia.
Masih ada sisa tempat di kursi Ignacia. Memang kursinya saja yang terlalu besar. Dan Ignacia lebih suka duduk di ujung tanpa alasan. Jadilah Rajendra bisa duduk disana hingga mengejutkan pemilik kursi. Dari banyaknya kursi, kenapa harus duduk sedekat itu dengan Ignacia?
"Hei, lihat ini."
Rajendra berbisik pada Ignacia, menunjukkan sesuatu di layar ponselnya ketika gadis itu menoleh. Rupanya ada sosok Ignacia di sebuah foto yang diambil oleh temannya kemarin. Itu saat Ignacia juga Nesya tidak sengaja melewati belakang teman-teman perempuan Rajendra yang tengah berfoto.
"Aku tidak terlihat buruk," balas Ignacia santai. Wajahnya tidak menunjukkan adanya aib yang bisa membuatnya malu.
Fokus Ignacia kemudian kembali pada Nesya yang bertanya tentang spasi yang diinginkan guru waktu itu. Setelahnya, Rajendra kembali memanggil kekasihnya dengan cara yang sama seperti tadi. Menunjukkan sesuatu lagi padanya.
Kali ini foto yang diambil Nesya dengan filter kupu-kupu berwarna keunguan di atas kepala. Ignacia tidak dalam mood yang baik setelah remidi hari itu. Jadinya dia tersenyum dengan datar saat Nesya mengarahkan kamera padanya dan menggambil foto.
"Ei seharusnya kamu tidak menyimpan foto itu." Ignacia ingin protes, namun dia tidak terlalu buruk disana.
"Kenapa? Ini lucu."
...*****...
"Aku akan mengambil jalan ini." Nesya menunjuk arah yang di maksud. Membuat Rajendra tampak kebingungan. "Aku tidak membawa sepeda motor hari ini. Ayahku sudah menunggu di depan. Rajendra, tolong antar Ignacia, ya." Nesya langsung berlalu setelah mengatakan pesan.
Membiarkan Ignacia dan Rajendra berdiri di tempat. Tapi tak lama kemudian si gadis menyadarkan. Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran. Tidak ada yang bicara, namun Ignacia bisa merasakan sesuatu yang janggal.
"Ada yang ingin kamu katakan?" Tanya Ignacia memecah keheningan. Langkahnya berhenti dan membuat Rajendra juga otomatis berhenti. Gadis berambut panjang itu menatap kekasihnya, mencari sesuatu.
"Aku hanya ingin bersamamu lebih lama. Akhir-akhir ini kita tidak sering bersama dan sibuk dengan sekolah. Jadi... aku ingin bersamamu lebih lama." Rajendra menunduk selama jeda. Membuat tingkahnya tampak manja di mata Ignacia. Lelaki tangguhnya pasti kelelahan juga seperti dirinya.
"Hah," Ignacia menghembuskan nafas pasrah, "kamu pasti kelelahan." Tangannya bergerak untuk menyentuh puncak kepala Rajendra. Meskipun harus berjinjit untuk melakukannya, juga mata keduanya bertatapan dan mengikis jarak diantara keduanya. "Kamu sudah bekerja keras, Rajendra."
Bisa dilihatnya wajah Rajendra yang perlahan berubah merah hingga harus berpaling. Ignacia tersenyum lebar tanpa sepengetahuan Rajendra. "Kenapa wajahmu berubah kemerahan begitu? Apa kamu tahu jika kamu terlihat manis saat sedang salah tingkah?"
"Manis apanya?" Kesal Rajendra tanpa alasan.
"Bagaimana jika makan es krim sebelum pulang, Rajendra? Rasanya aku juga ingin bersamamu lebih lama." Ucapan Ignacia membuat Rajendra tidak bisa menahan senyum. Rasanya ada kembang api yang meledak di dalam dadanya sekarang.
...*****...
Es krim vanila.
"Rajendra, kamu serius tidak ingin menghapus fotoku? Kamu bisa mendapatkan yang bagus nanti." Ignacia menatap ponsel yang ada di genggaman Rajendra. Kegiatannya yang mengoperasikan ponsel membuat Ignacia kembali ingat tentang foto konyol yang Rajendra miliki.
Ucapan Ignacia membuat Rajendra terkekeh pelan. "Sudah kubilang ini lucu. Kenapa juga aku harus menghapusnya? Tapi jika aku bisa mendapatkan lebih banyak fotomu, itu akan lebih baik, hehe." Ignacia mendengus sebal mendengar ucapan kekasihnya.
Di tengah keheningan setelah membahas foto, Ignacia menyandarkan kepalanya pada Rajendra. Matanya menatap lurus ke depan. "Rajendra, aku melihatmu dengan perempuan hari ini. Memang sudah biasa, tapi aku sekarang sedikit tidak suka. Memangnya kalian harus sedekat itu?"
"Mereka teman dekatku. Lagipula aku tidak hanya berteman dengan laki-laki di kelas."
Ignacia membenci jawaban yang baru dia dengar. Rasanya Rajendra tidak memperdulikan perasannya yang tidak nyaman mendapati kedekatan kekasihnya dengan beberapa perempuan. Apa memang Ignacia saja yang berlebihan? Rajendra pasti menganggap bahwa dirinya tidak melanggar batas.
"Bahkan aku pernah melihat kalian berfoto bersama," Ignacia menambahkan, "aku melihat status salah satu temanmu yang ikut berfoto disana. Dan kalian tampak sangat dekat. Kalian sepertinya bisa saling mengandalkan."
"Hanya untuk urusan akademik, Ignacia. Tidak ada yang lain. Kami tidak akan memakai perasaan. Kami hanya teman biasa."
Rajendra serius mengatakan itu? Dahulunya Ignacia dan Rajendra adalah teman sebelum hubungan ini ada. Apa dia bisa menjamin tidak akan ada yang mengambilnya dari Ignacia?
"Aku biasanya tidak khawatir ketika kamu berdekatan dengan lawan jenis, kamu tahu? Empat tahun yang kita bagi bersama itu menjelaskan banyak hal. Tapi beberapa bulan terakhir aku agak terganggu dengan mereka yang terus berputar-putar di depanmu. Maafkan aku."
Rajendra menghabiskan es krimnya dengan cepat hingga sekarang tangannya kosong. Perlahan tangan Rajendra berpindah ke bahu sebelah kanan Ignacia dan sedikit memeluk si gadis.
"Kenapa minta maaf? Mungkin itu karena aku jarang ada untukmu akhir-akhir ini, Sayang. Jadinya aku membuatmu khawatir. Tapi bisa kujamin jika kami hanya sebatas rekan."
"Jika rekan, kalian harus berfoto bersama juga?" Ignacia tidak ingin kalah.
"Itu untuk hiburan saja."
Hiburan? Tapi tidak dapat menghibur semua orang.
"Haha kenapa kamu tampak cemberut? Aku hanya menyukai kamu, tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu. Jadi jangan khawatir soal apapun. Lagipula mereka sudah tahu jika aku memiliki kamu. Kamu lebih segalanya daripada mereka."
Masih dengan es krim vanila di tangannya, Ignacia mendongak dalam posisi masih menyandarkan kepalanya pada bahu Rajendra. Matanya menatap manik mata hitam milih kekasihnya seolah meminta kejelasan. "Bagaimana aku bisa percaya?"
"Buktinya selama ini aku masih denganmu. Kamu adalah segalanya bagiku, jadi mana mungkin aku meninggalkan kamu."
"Bisa saja kamu menyembunyikan hubungan dengan salah satu dari mereka kan?" Ignacia tampak menuduh sekarang. Tapi tingkahnya yang seperti ini justru membuat Rajendra semakin gemas. Tampak seperti anak kecil yang merajuk dsn terus mencerca ayahnya dengan kata-kata polos.
"Mana mungkin aku melakukan itu. Jika aku sudah menyukai kamu, mana mungkin aku bisa menyukai perempuan lain. Juga mereka tidak semenggemaskan kamu." Rajendra mencubit pipi Ignacia dengan tangan lainnya. Namun yang di cubit itu tidak bereaksi apapun karena masih makan es krim.
"Percaya saja padaku, Ignacia," final Rajendra.
...*****...
"Mau berkencan lagi di akhir pekan? Rumahku kosong. Ayah dan ibuku akan pergi ke rumah saudara tanpaku. Jadi mungkin kita bisa berkencan sambil belajar." Rajendra serius dengan apa yang dikatakan sebelum membiarkan Ignacia pulang. Tapi dia sedikit merasa canggung karena mengundang seseorang.
"Tentu. Kenapa tidak? Meskipun berbeda jurusan, mungkin kita bisa saling membantu. Tapi aku lebih suka melakukan kencan biasa daripada belajar. Kamu tahu jika aku lebih bersemangat jika membaca novel daripada buku pelajaran." Ignacia tidak berniat menolak. Hanya ingin Rajendra tahu.
"Sejujurnya," Rajendra memberikan jeda sebelum menjawab, "aku punya tugas yang harus di selesaikan. Jadi aku ingin kamu datang agar aku bisa tetap bersamamu. Aku tidak ingin kamu merasa ditinggalkan.
"Aku hanya ingin ada untukmu. Meskipun nantinya akan jadi membosankan, aku ingin kamu tidak kesepian," Rajendra kembali memberikan jeda, "bagaimana, Ignacia?"