
"Mereka akan datang nanti. Seharusnya kau tidak mengambil barang orang lain. Aku tidak bisa mendatangi mereka karena kau masih lemas." Feby masih saja mengoceh sambil menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Bagaimana tidak? Mereka memang punya janji temu, tapi bukan di rumah sakit. Dokter bilang Sarah boleh pulang setelah kondisinya membaik.
Feby masih tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Tidakkah cukup menyakiti diri sendiri dan makan banyak obat dari resep dokter akhir-akhir ini? Tubuh gadis yang terbaring di hadapannya sungguh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kepribadian yang awalnya terbuka juga kini jadi tertutup.
Sarah hanya menatap temannya, "Maafkan aku. Aku mual ketika akan makan, jadi aku menundanya. Dampaknya sama buruknya dengan makan pedas." Jika begini Feby tidak bisa marah terlalu lama. Temannya sudah mengakui kesalahan, jadi lupakan saja argumen panjang yang ingin ia sampaikan. Yang terpenting adalah Sarah masih bisa hidup lebih lama.
"Berjanjilah padaku untuk tidak mengulangi hal semacam ini lagi, Sarah. Hargai kesehatanmu, jaga dia dengan baik. Karena itu yang tidak akan pernah pergi dari sisimu." Feby duduk di samping tempat tidur temannya. Hawa rumah sakit ini sudah tidak terasa dingin seperti terakhir kali. Mungkin karena kini Sarah mau mendengarkan ucapannya.
Hening, tidak ada yang ingin membuka suara. Tangan Sarah mengepal kala merasakan nyeri dari bagian ulu hati. Pasti penyakitnya kambuh. Jika dia menunjukkan rasa sakit, Feby bisa marah lagi. Sarah menatap kakinya, ada luka lecet akibat terjatuh sebelum mendapatkan taksi. Laki-laki yang membantunya tadi itu baik sekali.
Untuk memecah keheningan, Feby akhirnya bertanya. "Jadi yang menolongmu di jalan itu Rajendra kan? Kenapa kau harus sampai membawa barang miliknya? Seharusnya kau memperhatikan jalan agar tidak terjatuh juga." Tangan Feby bergerak untuk menutupi kaki temannya dengan selimut rumah sakit. Ia tidak tega melihat luka luar semacam ini.
Sarah tidak sengaja menggunakan gantungan kunci ini sebagai pegangan. Niatnya ingin berjalan santai namun rasa sakit di perutnya membuat kakinya lemas. Untuk kedua kalinya benda ini berada di genggamannya. Ia tidak bisa menitipkan pada Bagas lagi. Ignacia dan Rajendra akan datang.
Genggaman Sarah pada gantungan kunci ini melemas. Telapak tangannya terbuka menunjukkan benda yang sedari tadi ia genggam. "Dahulu aku pernah dengan dengan Rajendra. Rumah kamu jauh, tapi dulu kami satu sekolah saat masih kecil. Dia laki-laki yang baik. Apa karena itu dia ingin benda ini kembali? Pasti ini dari seseorang yang ia sayangi."
Tatapan macam apa yang Sarah layangkan pada benda itu sekarang? Feby tidak paham lagi dengan ucapan melantur temannya ini. Memangnya Rajendra pernah bertingkah tidak baik pada orang lain? Ignacia adalah perempuan beruntung yang berhasil menjalin hubungan dengan laki-laki itu. "Berikan padaku. Biar kuberikan padanya nanti."
Tangan Sarah berpindah dengan cepat, seolah mencegah Feby untuk menyentuh barang yang bukan miliknya. Sarah ingin memberikannya pada si pemilik nantinya. Dia ingin bertanya sesuatu juga pada Ignacia selalu kekasih Rajendra. Ada yang membuatnya penasaran. Mungkin setelah mendengar jawabannya, Sarah bisa melupakan mantan kekasihnya.
Ignacia dan Rajendra masih harus menghabiskan makan siang mereka perlahan juga membutuhkan waktu untuk sampai disini. Feby meminta Sarah untuk makan sesuatu sebelum mereka datang. Makan sedikit namun perlahan. Meksipun merasa mual, Sarah masih harus makan setelah lewat tiga puluh menit setelah minum obat.
Beberapa kali Sarah merasa perutnya terasa di aduk-aduk. Makanan yang masih ada di mulutnya saja terasa menjijikan. Di sampingnya, Feby masih memberikan dukungan. Berkata tidak apa-apa, makanan itu akan terasa lezat bagi lambungnya setelah ini. Makanlah meksipun perlu waktu lama. Tidak ada yang memaksa untuk makan cepat.
Feby mendapatkan pesan jika Ignacia sudah sampai di depan rumah sakit. Feby membantu Sarah mengambil minum dari meja sementara temannya berhasil menghabiskan setengah makanan yang ia bawa. Untuk sementara ini Sarah sudah lebih baik. Warna di wajahnya kembali perlahan.
"Aku akan menunggu merasa di depan agar tidak tersesat. Kau membutuhkan sesuatu sebelum aku keluar?" Sarah menggeleng pelan. Tatapannya hanya tertuju pada gantungan kunci di tangannya. "Baiklah, tunggu sebentar. Jangan lakukan apapun hingga energimu kembali, mengerti?"
Di lobi, sepasang kekasih tengah berjalan santai menuju meja informasi. Bertanya dimana seseorang yang baru masuk bernama Sarah. Mereka langsung ditunjukkan sebuah ruangan untuk mereka yang perlu beristirahat sebelum meninggalkan rumah sakit. Di salah satu bilik, Ignacia menemukan keberadaan Feby di depannya.
"Feby," panggil Ignacia. Keduanya masih tidak menyangka bisa bertemu di tempat ini. Keduanya pernah bilang jika akan mengunjungi kota lain, tapi siapa sangka jika kota yang mereka tuju sama persis? "Bisa kami ambil gantungan kunci itu sekarang?" Ignacia yang meminta, dia menjaga Rajendra agar tetap di belakang.
Ada perasaan tidak aman disini. Jadinya Ignacia ingin mengambil barang milik kekasihnya lalu pergi setelah basa-basi singkat. Sayangnya Ignacia justru mendapat gelengan pelan dari Feby. Dia menunjuk ke dalam seolah meminta keduanya untuk masuk. Ignacia dan Rajendra saling pandang. "Apa kamu berdua harus masuk? Kukira kami hanya datang untuk -"
Bahu Ignacia disentuh oleh Rajendra lembut, dia berbisik agar gadisnya tetap dingin. Rajendra tahu jika Ignacia tidak suka datang kemari. Ketika mendapatkan telpon tadi saja gadisnya tampak tak nyaman. Rajendra bilang jika sebaiknya mereka juga berbasa-basi dengan Sarah. Bentuk kebaikan ketika mengunjungi orang yang tengah sakit.
Rajendra menggandeng tangan kekasihnya untuk dibawa masuk. Sarah sudah menunggu dengan kaki yang ia turunkan dari brangkar rumah sakit. Terlihat luka karena jatuh di trotoar. Feby tidak bisa menutupinya lagi sekarang. Terserah temannya ini apa. Sarah tidak membuat segalanya mudah. Mereka bertatapan beberapa detik.
"Sarah, bagaimana keadaanmu?" Ignacia mengumpulkan banyak energi untuk bertanya. Sedari awal Ignacia tidak menyukai gadis ini meskipun dia adalah teman baik rekan kerjanya. Ada sesuatu dalam tatapan gadis itu yang membuat Ignacia langsung muak. "Kelihatannya bukan sakit pencernaan saja yang membuatmu masih berada disini."
Rajendra mengerakkan genggaman pada kekasihnya, memperingatkan untuk tidak berkata demikian lagi. Rajendra juga muak berada disini dan berurusan dengan orang yang mengambil barang miliknya. Sarah mungkin tidak sengaja. Dengan satu-dua permintaan maaf Rajendra bisa langsung melupakannya.
"Aku sudah baik-baik saja. Kalian baik sekali sudah mau datang kemari." Ignacia sungguh ingin cepat-cepat pergi. Kini ia harus menahan senyuman palsu hanya agar terlihat lebih manusiawi. Bisa Ignacia lihat sesuatu yang sedari tadi ada di tangan Sarah. Itu bukan miliknya, sebaiknya cepat kembalinya pada yang berhak. "Ini milikmu kan?"
Juga ada gantungan kunci mirip dengan milik Rajendra di tas gadis itu. Benar dugaan Sarah. Benda yang ia rebut dari Rajendra tanpa sengaja benar dari seseorang yang berharga. Berasal dari gadis yang sangat ia sayangi. Tidak ada alasan untuk tidak datang hanya untuk gantungan kunci kecil.
Ignacia langsung meraih gantungan kunci itu mendahului Rajendra. Telapak tangan Sarah yang terbuka bisa saja menyentuh jari Rajendra. Ignacia tidak ingin melihat adegan semacam itu disini. "Terima kasih. Benda ini sangat berharga untuk kami. Terima kasih sudah menyimpannya hingga kami bisa memilikinya kembali."
"Karena kalian sudah mendapatkannya kembali, apa aku boleh bicara denganmu sebentar, Ignacia?" Rajendra langsung menoleh pada kekasihnya. Bisa ia lihat air wajah muak yang ditahan sekuat tenaga. "Tidak akan lama. Aku ingin menyudahi tradisi bodohku, jadi aku butuh seseorang yang pernah berada di posisi yang sama."
Hal bodoh apa yang pernah Ignacia lakukan hingga Sarah bisa berkata demikian? Ignacia tidak pernah mencoba untuk menyakiti dirinya sendiri ketika sedang putus asa. Mungkin pernah namun tidak dengan makan makanan pedas hingga masuk rumah sakit. "Boleh kupinjam waktumu sebentar?"
Baiklah jika itu hal terakhir yang Sarah inginkan. Setelah ini Ignacia dan Rajendra harus menikmati sisa hari yang seharusnya dari awal sudah mereka gunakan untuk satu sama lain. Ignacia bahkan belum sempat mengatakan kabar bahagianya pada Rajendra. Sarah menepuk tempat kosong di sampingnya, "Duduklah disini. Aku butuh sosokmu juga."
Rajendra dibawa Feby untuk keluar sebentar sesuai kode yang diberikan Sarah. Awalnya laki-laki itu menolak. Apalagi dengan permintaan aneh Sarah. Ada kursi yang bisa Ignacia tempati di samping tempat tidur. Ignacia mengatakan bahwa ia akan segera menyelesaikan ini lalu bisa pergi segera. "Tunggulah di depan sebentar. Berikan kami lima menit untuk membahas sesuatu."
Sarah tersenyum kecil, mengucapkan terima kasih untuk memulai pembicaraan. Basa-basi soal pekerjaan Ignacia di perpustakaan dengan Feby. Ignacia tidak bisa menebak arah percakapan ini. Apa yang ingin Sarah ketahui? Lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan lain dilontarkan. Dis bertanya bagaimana kabar Nesya akhir-akhir ini.
"Apa Nesya baik-baik saja? Aku tidak mendengar kabarnya sejak beberapa bulan belakangan." Sarah tentu mengenal Nesya. Mereka pernah ikut ke sebuah acara bersama. Dan Nesya adalah anggota OSIS dulunya. "Kalian sepertinya berada di sekolah yang sama. Kalian bekerja di tempat yang sama, apa aku benar?"
"Kalian berkomunikasi?" Ignacia balik bertanya untuk memastikan. Dia tidak pernah tahu jika Nesya menghubungi gadis ini. Sarah menjawab pertanyaan temannya dengan gelengan pelan. Gadis itu menoleh, matanya tampak berkaca-kaca. "Hei ada apa denganmu? Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?"
Sarah memulai ceritanya yang sudah Ignacia ketahui lewat Feby. Dirinya putus dengan pacarnya sekitar setahun yang lalu. Sarah masih tidak bisa melupakan mantan kekasihnya. Sudah ia coba untuk menyibukkan diri, tapi itu justru membuatnya semakin mengingat laki-laki itu. Dahulu mereka sering belajar dan mengerjakan tugas bersama.
"Farhan pasti memperlakukan Nesya dengan sangat baik kan? Aku melihat media sosial Farhan dan kulihat mereka banyak menghabiskan waktu bersama." Apa Ignacia tidak salah dengar? Barusan Sarah menyebutkan nama kekasih temannya setelah cerita sedih soal dirinya dengan mantan kekasihnya? "Aku iri pada Nesya karena bisa membuat Farhan lupa denganku."
Ignacia tertegun sebentar. Jadi Farhan sebelumnya sudah pernah berkencan? Karena itu dia pandai sekali memperlakukan Nesya dan teman-teman kekasihnya dengan baik. Sepertinya yang Ignacia lihat adalah Farhan yang adalah kekasih Sarah dan bukannya orang asing yang tanpa sengaja tersangkut di ingatannya. "Lupakan saja Farhan. Dia tidak bisa kau gapai lagi."
Sarah terkekeh, dia tahu jika mantannya tidak akan kembali. Bukan itu alasan ia ingin bicara dengan Ignacia saat ini. Dia tahu jika Ignacia tidak pertama kali berkencan. Sarah ingin tahu bagaimana Ignacia bisa bersama dengan Rajendra setelah dihancurkan oleh seorang laki-laki yang ia sukai. Penasaran bagaimana Ignacia bisa berani pergi ke pelukan orang lain setelah hancur dan merasa dibuang.
"Aku tidak peduli dengan mantanku lagi. Lagipula dia tidak pernah mencintaiku. Aku hanya menangis selama beberapa jam lalu melupakannya. Kita berbeda, Sarah. Pasti sulit untukmu melupakan seseorang yang menyayangimu selama bertahun-tahun. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya."
Ignacia sejujurnya tidak peduli, hanya saja hati kecilnya merasa kasihan pada Sarah. Gadis ini pasti merasa kehilangan cinta yang selama ini selalu menemaninya. "Bertemanlah dengan pria baik seperti yang kukatakan dengan Rajendra dahulu. Perlu kau ingat, aku tidak berniat untuk membuat hubungan dengan orang lain setelah Bagas membuangku. Aku hanya menjalani hidupku dan bertemu dengan orang yang tepat."
Hanya Ignacia atau atmosfer di sekitar keduanya emang berubah? Si tamu menjauhkan dirinya dari brangkar yang sedari tadi memang tidak ia duduki. "Jaga kesehatanmu agar bisa menemukan orang yang tepat, Sarah. Terima kasih sudG mengembalikan barang Rajendra Sampai jumpa." Ia membuka pintu lalu mendapati Rajendra dan Feby tidak saling bicara.
Di lobi, Ignacia masih saja diam. Dia menatap Rajendra yang diam-diam sibuk mengembalikan rantai pada gantungan kuncinya. Ignacia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia berada di posisi Sarah jika harus kehilangan orang sebaik Rajendra. Mereka memang banyak bertengkar di masa lalu, Ignacia banyak menyimpan perasaan beberapa waktu lalu. Tapi semuanya tidak ada yang bisa merusak hubungan ini.
"Akhirnya bisa." Rajendra tersenyum sangat cerah lalu menatap Ignacia. Mata keduanya bertemu. Tidak ada tanda-tanda kekhawatiran apapun. Tidak ada tanda-tanda Rajendra penasaran dengan obrolannya dengan Sarah. "Lihat, aku berhasil menyambungkannya kembali. Terima kasih sudah membantuku mendapatkannya kembali, Ignacia."
Ignacia mengehentikan langkahnya yang otomatis membuat Rajendra juga berhenti. Laki-laki itu kini bertanya-tanya kenapa Ignacia juga menatapnya aneh. "Ayo kita pergi. Kamu bilang ingin mengatakan sesuatu padaku." Rajendra berniat meraih tangan kekasihnya namun malah mendapatkan penolakan dari Ignacia.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku apapun yang terjadi, Rajendra." Gadisnya tampak bersungguh-sungguh. Pasti ada hubungannya dengan apa yang dia obrolankan dengan Sarah.
Bukannya merespon, Rajendra justru terkekeh. Sekali lagi ia mencoba meraih tangan Ignacia sekali lagi. Kali ini niatnya berhasil mengandeng tangan kekasihnya. "Mana mungkin aku bisa meninggalkan kamu? Tidak bertemu selama beberapa Minggu saja aku sudah kesulitan. Apalagi jika kita bukan siapa-siapa. Jangan khawatir. Aku akan terus bersamamu."