Beautiful Monster

Beautiful Monster
Keluar Kota



...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Sepertinya besok aku tidak sekolah


^^^Kenapa tiba-tiba? |^^^


| Ada saudara ku diluar kota yang meninggal


^^^Besok tidak ada pelajaran berat? |^^^


^^^Besok kamu tidak ada ujian? |^^^


| Kurasa tidak ada yang berat


| Hanya fisika dan matematika peminatan


^^^Oh fisika, kesukaanmu |^^^


| Iya benar


| Tapi besok aku tetap tidak masuk


Jadi besok Ignacia tidak bisa melihat Rajendra lagi? Hah, padahal dikiranya dia bisa bertemu dengan laki-laki kesayangannya. Sejak menonton acara musik di acara kuliner waktu itu, Rajendra sibuk mengurus sesuatu tanpa mengatakan apapun pada Ignacia.


Ignacia agak merindukannya.


"Ayah akan pergi kemana?"


Ignacia melihat ayahnya sudah siap dengan jaket seperti akan pergi ke suatu tempat. Kebetulan ayah dan mama Ignacia mengambil cuti karena ada acara di sekolah Arvin siang tadi. Jadi saat malam tentu masih berada di rumah. Tadi ayah dan mamanya baru saja kembali dari membeli makanan diluar.


Kenapa sekarang akan keluar lagi?


"Sepertinya ada yang salah dengan sepeda motormu, Ignacia. Akan ayah cek di bengkel." Jawaban sang ayah yang buru-buru menyambar kunci di balik pintu dan melangkah keluar tentu membuat Ignacia bangkit dari duduknya.


Ignacia bahkan hampir saja menumpahkan camilan yang dia pangku sambil menerima pesan dari Rajendra tadi.


"Lalu besok aku bagaimana?" Ignacia tidak sempat bertanya, ayahnya sudah pergi lebih dahulu. Mungkin ayahnya buru-buru agar bisa cepat selesai.


Ayahnya langsung pergi setelah selesai makan malam, kata mamanya. Hah, seorang ayah memang harus begitu meskipun baru merasakan kenyang?


Ignacia kembali duduk di sofa, memakan camilan sambil menunggu ayahnya kembali. Semoga sepeda motornya baik-baik saja dan masih bisa digunakan besok. Karena jika tidak, bagaimana dia bisa berangkat dan pulang sekolah?


"Ignacia, bisa bantu mama sebentar?" Panggil dari dapur.


Ignacia bangkit dengan langkah berat setelah menutup camilannya dengan rapat. Dilihatnya sang mama yang sibuk mengiris daging dan memasukkannya ke dalam wajan dengan bumbu yang sudah berbau harum.


"Tolong campurkan daging-daging ini dengan bumbunya. Mama masih akan mengiris daging yang lain."


Ignacia tidak bicara apapun, dia langsung melakukan apa yang di minta sang mama tanpa protes. Dia sibuk memikirkan apakah sepeda motornya baik-baik saja atau tidak. Keberlangsungan sekolahnya ada pada sepedanya.


"Bagaimana kabar Rajendra?" Mamanya bertanya. Kembali memasukkan beberapa potongan daging ke dalam wajan.


"Besok dia tidak akan masuk sekolah. Ada saudaranya yang meninggal dan harus datang."


"Oh benarkah? Berarti kamu tidak akan melihatnya besok. Sama seperti saat dia sakit hari itu."


"Iya benar. Omong-omong apa yang terjadi pada sepeda motorku? Katanya ada masalah."


"Ada yang salah dengan rodanya. Kata ayah mungkin bocor dan ban belakangnya harus segera di ganti."


Semoga tidak memakan waktu lama. Besok Ignacia tidak bisa dijemput oleh orang tuanya. Kedua orang tuanya harus pergi bekerja beberapa menit setelah kepulangan Ignacia di rumah. Jika begitu ayahnya akan berputar-putar setelah menjemput Ignacia.


...*****...


"Nanti jika ayah bisa, akan ayah jemput. Ayah pulang dahulu. Semoga sekolahmu menyenangkan," pamit ayahnya sebelum memutar arah sepeda motornya kembali menuju jalanan yang ramai. Ignacia menghembuskan nafas panjang sebelum mulai melangkah masuk ke dalam sekolahnya.


Sepeda motornya akan melewati pengecekan di bengkel. Mungkin nanti sore baru bisa diambil. Kemarin juga ayah datang hampir terlambat. Bengkel terdekat akan tutup lebih awal karena pemiliknya ada acara. Jadi sepeda motornya menginap semalaman disana dan mulai di proses pagi ini.


Lucu sekali. Ignacia bingung akan pulang dengan siapa.


Sesampainya di kelas, Ignacia tidak memiliki semangat untuk melewati hari. Rajendra tidak ada disana. Siapa yang bisa dia lihat diluar kelas? Sekarang hanya Nesya yang bisa membuat dia merasa lebih baik.


Di mejanya, Ignacia hanya meletakkan kepalanya di atas meja, berbantalkan tas sekolahnya.


"Aku tidak melihat sepeda motormu di tempat parkir," suara Nesya membangunkan Ignacia. Membuat si gadis tanpa ikat rambut itu memperbaiki posisi duduknya. Arah matanya mengikuti langkah Nesya yang kemudian duduk di sampingnya.


"Sepeda motorku harus diperbaiki. Nanti sore baru selesai. Jadi ayah mengantar aku tadi."


"Benarkah? Lalu nanti bagaimana kamu akan pulang? Ayahmu akan menjemputmu?"


"Entahlah. Katanya jika sempat, aku akan di jemput."


"Kalau tidak, aku akan mengantarmu pulang. Dahulu kamu pernah mengantarkan aku sampai rumah. Nanti aku akan melakukan hal yang sama."


Nesya mengumbar senyuman ramahnya pada si teman yang tengah kurang bersemangat.


"Terima kasih. Semoga kamu tidak kerepotan karena aku."


Ignacia melihat reaksi Nesya yang sama sekali tidak merasa keberatan. Katanya justru dia senang bisa membalas kebaikan Ignacia yang pernah jauh-jauh mengantarkan dia pulang ke rumah. Rasanya juga menyenangkan pulang bersama.


"Jika kita tidak pindah, jika kamu tidak pindah, Ignacia. Mungkin kita akan pulang dan berangkat sekolah bersama setiap hari. Bermain, mengerjakan tugas bersama."


Ignacia mengingat kalimat yang pernah diucapkan Nesya waktu mengantarkan si teman ke rumahnya. Ignacia jadi memikirkan soal itu lagi sekarang.


Ignacia mengecek ponselnya secara acak. Melihat apakah Rajendra mengirimkan pesan. Dari semalam Ignacia tidak membuka ponselnya. Rajendra tidur lebih awal agar bisa bangun lebih pagi. Tidak ada alasan bagi Ignacia membuka ponselnya jika Rajendra saja tidak online.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Hari ini aku bangun sangat pagi


Oh ada pesan yang datang sekitar dua jam yang lalu. Rajendra pasti sudah sangat jauh dari kota. Sudah sampai dimana dia? Apa dia sedang menikmati pemandangan alam di sekitar?


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Wah pasti kamu sudah sangat jauh |^^^


^^^Kira-kira kapan kamu akan pulang? |^^^


Ignacia meletakkan ponselnya di atas meja, memilih untuk mengacuhkan ponsel yang tidak akan membawa pesan apapun dari Rajendra. Laki-laki itu lebih menyukai menikmati waktu tanpa ponsel. Bahkan mungkin dia membuka ponsel hanya untuk melihat apakah ada sesuatu yang penting dalam pesannya.


"Ignacia, kamu tahu, kelihatannya akan ada banyak novel yang dirilis bulan Desember ini. Aku mendapat banyak informasi bahwa ada beberapa penulis yang akan merilis novel terbarunya akhir tahun ini." Nesya menunjukkan layar ponselnya, ada beberapa daftar buku yang akan dirilis segera.


"Tentu. Tapi kenapa tidak pergi dengan Rajendra saja? Kalian mungkin membutuhkan kencan pertama sebelum sibuk dengan semua ujian tahun depan."


Benar juga. Nesya tidak pernah tahu jika dia dan Rajendra sebenarnya sering pergi berdua diam-diam. Ignacia tidak pernah membahasnya dengan siapapun. Hanya mama dan Athira saja yang tahu. Keinginannya untuk pergi berkencan diam-diam berhasil sejauh ini.


Selama setahun terakhir tidak ada yang mengetahuinya.


"Akan aku pikirkan soal itu."


...*****...


Orang tua Ignacia tidak bisa menjemput. Kekecewaan terbesarnya ketika berangkat bersama ayahnya datang sesuai perkiraan.


Sepeda motornya sudah ada di rumah, tapi mana mungkin bisa datang sendirian kemari. Gadis itu juga tidak lagi berharap pada Nesya. Teman baiknya harus datang ke rapat penting organisasi sepulang sekolah.


Ignacia duduk di depan sekolahnya, tidak tahu harus pulang bagaimana. Dia tidak bisa memesan ojek online karena memori ponselnya habis dan teman-teman yang memiliki aplikasinya sudah pulang. Jadilah Ignacia mempertimbangkan harus pulang berjalan kaki atau terbang saja.


"Hah jika saja Rajendra bersekolah hari ini. Mungkin aku bisa diantarkan pulang olehnya."


Ignacia bersandar pada gerbang sekolah, mendongakkan kepala menatap langit mendung yang menemaninya sejak tiga puluh menit yang lalu. Dia benar-benar merasa kebingungan sekarang. Antara bingung, panik, dan kesal menjadi satu.


Mana tranportasi umum tidak ada yang lewat disana pada jam segini. Tidak ada teman yang merupakan tetangganya juga. Sekolah sudah semakin sepi. Bahkan satpam yang berjaga di depan bertanya kapan Ignacia akan di jemput.


Dari dalam tas, Ignacia bisa merasakan ponselnya yang berdering. Siapa yang akan menelfon di jam segini? Athira saja mungkin tidak tahu jika kakaknya tidak bisa pulang. Ayah dan mamanya? mereka sudah berangkat bekerja. Rajendra? Mana mungkin laki-laki itu menghubungi.


Bahri


Nama itu ada di layar ponsel Ignacia. Melakukan panggilan suara. Dengan ragu, Ignacia menggeser tombol hijau yang ada di layar, mendekatkannya ke telinga sebelah kanan.


"Kenapa menghubungi aku? Nanti pacarmu bisa marah padaku."


"Hei aku sedang ada di kotamu. Aku akan berada disini selama dua hari karena sekolahku libur. Sengaja aku ingin bermain saja disini. Kau ada dimana? Mau menitip sesuatu? Aku sedang ada di jalan sekarang."


Kebetulan sekali.


"Kau ada dimana? Apa kau bisa menjemput ku? Aku ada di depan sekolah. Tidak ada yang menjemputku." Ignacia tidak berharap banyak, tapi semoga saja Bahri mau menjemput dia.


"Baiklah. Tetaplah disana. Aku akan kesana."


Panggilan berakhir. Ignacia membulatkan matanya tidak percaya. Teman lamanya yang harus pindah rumah sangat jauh ini kembali ke kota dengan sangat kebetulan. Bahkan Bahri bisa datang untuk menjemputnya disini.


Sekitar sepuluh menit kemudian Bahri datang dengan wajahnya yang masih sama persis. Sudah tiga tahun keduanya tidak bertemu. Berkirim pesan saja sangat jarang. Ignacia takut akan membuat Rajendra marah sementara Bahri sendiri sudah memiliki kekasih di perantauan.


Ignacia bangkit dan mendekat pada Bahri yang sudah siap menyodorkan sebuah helm seolah sudah merencanakan ini sebelumnya. "Ini helmku. Bagaimana kau mendapatkannya?"


"Aku sedang ada di minimarket depan perumahan saat menelfon tadi. Aku menginap di rumah tetangga lamaku di perumahanmu dan mampir mengambil helm mu dari Athira. Beruntung dia masih mengingatku."


Ignacia memakai helmnya kemudian duduk di jok belakang. Ini bukan pertama kalinya dia dibonceng Bahri. Tidak ada rasa canggung atau apapun. Apa karena keduanya pernah dekat sebelumnya? Hubungan pertemanan yang akrab.


"Bagaimana jika membeli Thai Tea sebentar? Kau masih menyukai minuman itu? Dahulu kau pernah mengatakannya padaku."


Ignacia menatap tidak percaya pada laki-laki yang ada di hadapannya ini. Bagaimana Bahri bisa mengingat minuman yang disukai Ignacia setelah sekian lama?


"Jika kau membelikannya untukmu, aku tidak masalah," ucap Ignacia setengah bercanda. Dianggapnya Bahri tidak akan membelikannya Thai Tea seperti masa lalu.


"Tentu. Aku menabung cukup banyak untuk sampai disini. Jadi kau mau? Kita mampir beli sebentar."


...*****...


"Ini," Bahri keluar dengan membawa dua Thai Tea, menyodorkan keduanya pada Ignacia. "Keduanya untukmu. Jika Athira mau, berbagi saja dengannya."


Sungguh ada yang aneh dengan laki-laki ini. Pacarnya mungkin akan tertekan jika melihat Bahri begitu baik pada teman lamanya ini. Semoga gadis itu tidak kecewa dengan hubungan pertemanan Bahri dan dirinya.


"Terima kasih. Padahal aku hanya bercanda tadi."


"Tidak masalah. Sekarang ayo aku antar pulang. Omong-omong kekasihmu kemana?" Bahri bertanya sambil memakai helmnya dengan benar. "Kenapa dia tidak mengantarkan kau pulang saja? Apa dia ikut organisasi OSIS atau semacamnya?"


"Rajendra tidak sekolah hari ini. Ada saudaranya yang meninggal, jadi dia harus pergi keluar kota."


"Oh begitukah? Aku yang membelikanmu minuman dan mengantarmu pulang tidak akan membuatnya marah kan? Dia terlihat sangat menyeramkan ketika marah. Seperti saat aku membelikanmu Thai Tea untuk pertama kalinya. Dia marah pada kita. Suasananya terasa tidak enak karena kedatangannya."


Ignacia tersenyum kecut. Karena sikapnya yang tidak dewasa malam itu, Rajendra jadi hari datang dan menemui Ignacia yang sedang menikmati waktu dengan teman-temannya. Rajendra memang tidak terlihat membenci Bahri, tapi Ignacia tahu betul jika ada rasa tidak nyaman di sekitarnya.


"Aku tidak akan mengatakan soal ini padanya. Omong-omong aku akan mengganti uangmu untuk Thai Teanya."


Bahri yang akan menaiki sepeda motor pun berhenti menghentikan aktifitasnya, menatap tajam pada Ignacia yang tengah merogoh saku seragam.


"Aku membelikanmu dengan yang tabunganku, kenapa kau harus menggantinya? Aku sudah lama tidak bertemu denganmu. Anggap saja itu oleh-oleh karena aku sudah kembali kemari."


"Oleh-oleh apanya? Kau membeli Thai Tea ini di kotaku."


Bahri melanjutkan kembali aktifitas naik ke atas motornya sambil terkekeh kecil. Menunjukkan wajah tanpa dosa yang tampak konyol.


"Ayo cepat naiklah. Kudengar orang tuamu masuk sore. Jadi sebaiknya adik-adikmu tidak menunggu terlalu lama. Kau juga harus segera mandi."


...*****...


Sesampainya di rumah, Ignacia terus mengatakan terima kasih sampai Bahri bosan mendengarnya. Setelah Bahri pergi, barulah Ignacia melangkah masuk ke dalam rumah. Didapatinya Athira tengah duduk di tangga teras. Jelas jika dia pasti melihat Bahri yang mengantarkan dia pulang tadi.


"Lihat apa yang kubawa."


Ignacia mengangkat tangan kanannya, menunjukkan dua Thai Tea berukuran besar yang diberikan Bahri tadi. Namun oleh-oleh yang dibawa kakaknya tidak mampu mengubah air wajah Athira.


"Kakak akan mendapatkan masalah besar jika Kak Rajendra tahu kakak diantar pulang oleh Kak Bahri. Kakak tidak takut akan bertengkar hebat lagi? Dahulu kalian sangat sering bertengkar karena laki-laki lain."


Athira mengomel. Dia merasa kesal namun juga tidak bisa terlalu memarahi kakaknya.


Dia hanya tidak suka jika kakaknya bertengkar dengan kekasihnya. Athira tidak suka melihat kakaknya menangis hanya karena laki-laki lagi. Sudah cukup mantan kakaknya yang membuat Ignacia kebingungan sekaligus sedih. Jika Rajendra hanya bisa marah-marah pada Ignacia, Athira yang akan melawannya. Tidak peduli apapun.


"Kalau begitu jangan sampai Rajendra tahu," lirih Ignacia pasrah. "Tindakanku salah karena meminta laki-laki lain untuk menjemputku pulang. Tapi jika Bahri tidak mengantarkan aku, mungkin sekarang aku masih ada di jalan pulang menuju rumah dengan segala kekuatan kakiku."


"Thai Tea itu?"


"Bahri hanya memberikannya padaku."


"Sebenarnya apa yang kakak pikirkan?"


"Akan kuurus sendiri, Athira."