Beautiful Monster

Beautiful Monster
Bulan Bahasa



Akhirnya hari yang ditunggu Ignacia dengan kelompoknya datang juga. Hari dimana mereka akan menunjukkan karya seni berupa drama bertema perjuangan yang menjadi latar belakang terbentuknya bulan bahasa ini. Ignacia sudah tidak sabar berdiri di atas panggung dan menunjukkan kemampuannya membuat drama bersama yang lainnya.


"Kau tidak gugup?" Danita berjalan mendekati Ignacia, "kau tidak terlihat gugup sama sekali."


"Gugup, tapi tidak seperti saat pertama kali tampil. Bagaimana denganmu, Danita?" Si gadis berambut pendek itu menggenggam tangan Ignacia sebagai jawaban. Tangannya dingin, namun senyuman mengembang sempurna di wajahnya yang tertutup make up tipis.


"Aku bersemangat, tapi tubuhku dingin," responnya kemudian.


Ignacia sejak tadi tampak cemas, sambil menangkupkan tangan sejak tadi matanya tidak henti-hentinya diedarkan untuk melihat barisan penonton di depan panggung. Seharusnya Ignacia tidak diperbolehkan berdiri di dekat pintu masuk ke backstage. Tapi karena dia tidak menganggu, akhirnya dia dibiarkan saja.


"Masih memikirkan Rajendra? Dia belum menghubungimu? Seharusnya dia sudah datang kan?" Danita ikut mengedarkan pandangan, niat membantu Ignacia mencari sang kekasih. Jika melihat jadwal kereta, seharusnya Rajendra sudah ada di kota ini sejak tadi. Bahkan seharusnya sekarang sudah sampai di kampus.


Danita menepuk bahu Ignacia untuk menenangkan. Memberitahu jika sebaiknya Bu Sutradara ini santai agar drama ya berjalan lancar. Danita membawa Ignacia ke tempat teman lainnya bersiap-siap. Semua orang tidak terlihat tegang, mereka malah mengobrol ria. Menurut mereka tampil di drama ini ajang yang bagus untuk menjadi keren di hadapan orang-orang. Jadi tidak perlu malu atau gugup.


"Tim Drama, sebentar lagi kalian tampil," ucap seorang panitia yang membawa walkie talkie. Ignacia langsung menjawab, dia bangkit dan berkata jika kelompoknya sebentar lagi akan mendatangi pintu masuk panggung. Seperginya panitia perempuan tadi, Ignacia menatap satu persatu temannya.


"Apapun yang terjadi nanti, yang penting kalian sudah berusaha sangat keras," ucap si sutradara, tangannya mengepal untuk menunjukkan semangat.


"Kalau begitu setelah ini kita akan di traktir ayam bakar di belakang kampus?" celetuk seorang penata panggung untuk mencairkan suasana. Dia melihat sesuatu yang tidak beres pada sutradaranya ini sejak Ignacia berdiri di pintu keluar masuk ke belakang panggung dengan tatapan cemas.


Anak itu mendapatkan pukulan di lengannya karena mencoba untuk membuat gurauan. "Tenang saja, kami sangat percaya diri sekarang," jawab orang yang memukul tadi.


Panitia yang tadi kembali, memanggil tim Drama untuk segera memulai. Ignacia dipersilahkan keluar lebih dulu. Hampir sama seperti yang dilakukan Ignacia ketika SMA, dia akan menyampaikan sesuatu pada penonton. Panitia acara sudah menyiapkannya, jadi Ignacia cukup menghafal dan mengubahnya menjadi lebih natural.


Sekembalinya Ignacia, drama pun dimulai.


Ignacia tidak lagi memikirkan soal kekasihnya. Untuk sekarang dia harus menjadi sutradara sekaligus narator yang baik. Dia harus memastikan kelompoknya yang sudah direkomendasikan oleh dosen paling berpengaruh di kampus ini bangga dan puas dengan hasilnya.


"Untuk sekarang aku harus fokus dengan apa yang ada di hadapanku," batin Ignacia.


...*****...


Sekali lagi Rajendra menginjakkan kaki di stasiun kota Ignacia. Dilihatnya jam yang melingkar di tangan kirinya untuk memastikan dia tidak terlambat. Masih ada banyak waktu. Rajendra tidak perlu terburu-buru. Lalu apa dia akan datang dengan tangan kosong?


Laki-laki beralis tebal itu berjalan keluar stasiun. Akan mengecek ponsel untuk memberitahu Ignybahwa dirinya sudah sampai. Namun sebelum itu, seseorang lebih dulu membuatnya tertegun. Kenapa orang ini ada disini? Tanya Rajendra pada dirinya sendiri.


"Jadi kau sudah datang? Ignacia memintaku menjemputmu karena dia tidak bisa datang," jelas Bahri. Laki-laki itu sebenarnya juga malas harus berurusan dengan Rajendra lagi. Dia pernah difitnah menyukai teman masa kecilnya sendiri hanya karena membelikan minuman. Ya meskipun-


"Kenapa aku harus ke jemput?" Dingin Rajendra. Apa Ignacia menganggap dirinya tidak bisa datang sendiri hingga bagus mengirim seseorang menjemputnya? Memangnya apa yang akan terjadi jika Rajendra menghampiri kekasihnya sendirian? Toh Rajendra masih ingat betul rute mana yang harus dia ambil untuk sampai di tempat Ignacia.


"Kau mungkin tidak tahu dimana Ignacia jika tidak pergi denganku. Sudah kupesankan taksi online tadi,"


"Aku tidak datang sendirian," respon cepat Rajendra membuat Bahri berhenti.


Tadinya dia ingin mendekati trotoar agar lebih mudah dilihat oleh supir taksi yang dipesannya. Ketika berbalik, Bahri melihat seorang laki-laki muncul di belakang Rajendra. Bahri tentu tahu siapa laki-laki itu.


"Kau menunggu lama? Toiletnya cukup jauh tadi," ucap laki-laki yang baru muncul itu pada Rajendra. Butuh beberapa saat hingga dia menyadari ada seseorang yang memperhatikan dirinya. "Dia temanmu? Kau dijemput olehnya?" tanya laki-laki tadi kebingungan.


"Taksinya tidak kecil," sahut Bahri. Ada rasa menyesal karena Bahri harus menjemput dua orang laki-laki yang tidak disukainya. Meskipun salah satu dari mereka adalah kesayangan Ignacia yang tiada tara.


Sesampainya di kampus, Rajendra juga temannya terkejut dengan keberadaan banyak orang. Kampus gadisnya menjadi sangat ramai karena sebuah acara yang disebut 'Festifal Bulan Bahasa'. Rajendra ingat jika Ignacia pernah mengajaknya pergi ke acara ini, namun laki-laki ini tidak mengira jika acaranya hari ini. Lalu dimana gadis yang mengajaknya datang itu?


Bahri membawa dua laki-laki yang ditemuinya di stasiun ke lapangan besar kampus. Dengan banyaknya pohon rindang di sekitar lapangan dan udara yang sejuk, rasanya tidak apa-apa terkena sinar matahari. Lagipula cuaca cerah kota di dataran tinggi tidak membuat orang berkeringat.


Teman Rajendra membuka ponselnya, dia mengetikkan sesuatu lalu pamit pergi pada Rajendra juga Bahri. Katanya dia akan menemui seseorang. Bahri tidak peduli mau kemana anak itu. Yang menjadi tanggungjawab Bahri hanya Rajendra. Mereka mencari tempat duduk dan menunggu.


Rajendra membuka ponselnya, bermaksud mengirimkan pesan pada Ignacia. Rajendra terlalu malas bertanya pada Bahri yang juga enggan bicara. Entah apa yang membuat Ignacia tidak segera membalas. Entah apa yang dilakukan gadis itu di tengah keramaian ini. Rajendra khawatir.


Di panggung depan sana, masih ada seorang pria paruh baya yang melakukan pembukaan acara. Jika mendengar dari pembicaraan orang-orang di sekitar, pria itu adalah rektor di kampus ini. Rajendra tidak terlalu memperhatikan, dia sibuk mencari kabar Ignacia.


"Selamat pagi semuanya," suara seseorang yang sudah bukan pak rektor menarik atensi Rajendra. Jarak Rajendra dan Bahri duduk tidak begitu jauh dari panggung. Mata si alis tebal dapat melihat dengan jelas siapa yang tengah memberikan sambutan di depan sana.


Dejavu. Itulah yang tengah dirasakan Rajendra. Ignacia berdiri di atas panggung, tersenyum, dan memulai narasi dengan pembawaan yang unik. Kemampuannya menjadi lebih baik setelah kemenangannya di SMA. Perannya kembali menjadi sutradara, narator yang mengagumkan.


Senyuman kecil muncul di wajah Rajendra meskipun dramanya tidak bergenre komedi. Kehadiran Ignacia di tengah keramaian ini membuatnya kagum. Gadisnya sudah menjadi lebih berani dan percaya diri. Dia terlihat menikmati dramanya lebih dari saat pertama kali menjadi sutradara.


Apa Ignacia memang secantik itu ketika berada di kampus? Rambutnya yang bermodel half updo twist menambah keistimewaan gadis berwajah cantik disana. Dengan tema masa lalu ini, Ignacia juga memakai pakaian yang sama seperti zaman yang ada di dalam drama. Rajendra jatuh cinta lagi.


Lalu di bagian selanjutnya, muncul seseorang yang sangat berarti bagi Bahri. Tentu saja Danita. Tampilan gadis itu mirip dengan pemudi di masa lalu, pasti tampak sangat menawan bagi orang yang sangat mencintainya. Ketika Rajendra memperhatikan Bahri sekilas, terlihat jelas bahwa laki-laki di sampingnya sangat menyukai gadis itu.


Bahri tidak mungkin jatuh cinta dengan gadisnya jika begini.


...*****...


"Bu Sutradara, anda benar-benar keren," puji teman perempuan Ignacia, "kita semuanya melakukannya dengan sangat baik. Kau lihat bagaimana orang-orang terpukau dengan drama kita? Wah aku yakin setelah ini kita akan mendapatkan popularitas."


Saling puji, saling memberikan energi positif, saling memberikan dukungan agar lebih percaya diri adalah kebiasaan teman-teman Ignacia setelah selesai melakukan sesuatu secara berkelompok. Bahkan teman-teman lain yang tidak termasuk kelompok drama juga memberikan selamat.


"Ignacia, kita berhasil," senang Danita, "ada yang ingin bertemu denganmu. Ayo ikut denganku." Gadis berambut pendek itu menarik Ignacia keluar dari keramaian, dibawa diam-diam agar tidak ada yang mengambil kembali sutradaranya ini.


Keduanya sampai di pintu keluar belakang panggung. Disana, sudah ada dua pria yang menunggu kedatangan keduanya. Yang satu menunggu dengan sabar sementara yang lainnya tidak. Dua orang yang berbeda namun memiliki rasa bangga yang sama.


"Rajendra!" Ignacia berlari menghampiri kekasihnya, berlari kecil agar segera sampai dan memeluk Rajendra yang menunggu dengan sabar. Dibalasnya pelukan Ignacia yang mendadak, bahkan puncak kepala itu juga dicium singkat.


"Kamu keren sekali, Ignacia. Dramanya sangat bagus, kamu melakukannya dengan sangat baik lagi kali ini. Jika ini pertandingan, kamu pasti menang lagi." Keduanya saling pandang masih dengan kondisi berpelukan. Ignacia sangat senang sekali mendengarnya.


Setelah sesi foto dan berganti pakaian, Ignacia membawa Rajendra berkeliling. Di ajaknya mencari camilan dan sesuatu yang mungkin disukai Rajendra. Si laki-laki akan menggandeng gadisnya karena keramaian yang ada di sekitar stan Basar yang mereka jelajahi saat ini.


"Kamu tidak perlu meminta Bahri untuk menjemputku. Aku bisa langsung datang sendiri." Rajendra masih kesal dengan keputusan Ignacia mengirim laki-laki itu. Ignacia hanya tidak ingin Rajendra tersesat dan Danita menawarkan kekasihnya untuk pergi bersama Rajendra.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa meninggalkan kampus karena harus bersiap-siap." Sekarang Rajendra sudah merasa lebih baik setelah tahu alasannya. Juga akan merepotkan jika Rajendra membiarkan gadisnya yang datang. Sebaiknya dia yang datang menemui Ignacia meskipun yang mengajak bertemu adalah gadis itu.


"Kenapa kamu tidak bilang jika kamu berlatih drama? Kamu menyembunyikannya dengan sangat baik. Dan kamu tidak bilang jika ada Festival Bahasa."


"Untuk kejutan," respon Ignacia singkat.


Satu hal yang membuat keduanya merasa seperti berkencan. Es krim. Keduanya membeli dengan rasa yang berbeda dari biasanya. Untuk kali ini Ignacia dan Rajendra memutuskan untuk membeli es krim cone dengan dua rasa. Vanila dan coklat seperti kesukaan masing-masing.


"Bahkan di acara seperti ini kita juga makan es krim," gumam Ignacia. Diliriknya Rajendra yang menatap es krimnya. Setelah membeli beberapa camilan, sepasang kekasih ini kembali mencari tempat untuk menonton musikalisasi puisi. Membaur dengan penonton dan mahasiswa lain.


Ignacia menyandarkan kepalanya pada bahu Rajendra, dirinya lelah setelah memainkan drama. Padahal dia bukan aktor. Rajendra tidak keberatan, bahkan dirinya mencoba untuk membuat Ignacia merasa nyaman bersandar padanya. Laki-laki mana yang tidak suka direpotkan oleh gadisnya sendiri? Apalagi jika dia adalah gadis kesayangannya.


Dari dalam tas, Ignacia merasakan sesuatu yang bergetar. Hanya sekali, pasti ada pesan masuk. Ignacia memperbaiki posisi duduknya, memakan satu es krim di tangan kanan dan yang kiri melihat isi pesan. "Danita mengajak kita berfoto dengan Nesya juga, Rajendra. Katanya kita bertemu di acara puncak."


"Acara puncak? Acara apa itu?"


"Nanti kamu akan tahu." Si gadis kembali pada posisi nyamannya di bahu Rajendra. Biar si laki-laki beralis tebal ini menebak-nebak apa puncak acara bahasa yang belum pernah diketahuinya ini. Ignacia sudah tidak sabar memberikan hadiah kecilnya pada Rajendra.


Sesi demi sesi acara sudah dilaksanakan, Hampir mendekati acara puncak yang dimaksud Danita. Katanya biar dia yang menghampiri Ignacia. Danita dengan mata elangnya bisa langsung tahu dimana temannya berada karena Danita yang membawanya ke salon untuk menata rambut.


MC di atas panggung meminta semua orang untuk berdiri. Sudah waktunya acara puncak. Di tengah keramaian, Ignacia menggunakan kesempatannya untuk mengambil kue muffin dan surat dari dalam tasnya. Ketika sampai di sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh bintang tamu, para mahasiswa akan memberikan kue dan suratnya pada yang terkasih.


Dunia Tipu-Tipu dari penyanyi dan penulis lagu bernama Yura Yunita. Lagu tentang orang terdekat di dalam hidup, orang spesial yang selalu hadir untuk kita, menerima segala kekurangan kita, dan menjadi tempat kita mencurahkan segalanya. Seperti Rajendra untuk Ignacia.


Mungkin tidak segalanya karena keduanya memiliki kesukaan yang berbeda. Tapi Rajendra akan selalu hadir untuk Ignacia di waktu yang tepat. Bukan waktu yang Ignacia inginkan.


Orang-orang yang mengetahui lagu ini ikut bernyanyi, yang menjadi target hadiah juga seperti tidak menyadari ada yang aneh dari tatapan teman atau pasangannya. Rajendra juga, dia terlalu asik bernyanyi dan menggandeng tangan Ignacia tanpa merasa curiga.


Sampai di bait terakhir lagu, waktunya para mahasiswa beraksi. Kue dan surat di keluarkan, disodorkan pada orang di sampingnya dan menyanyikan lirik, "Janji takkan ke mana-mana" bersama-sama.


Ignacia tersenyum melihat wajah kaget Rajendra. Ignacia tidak tahu apa maksud dari tatapan kekasihnya yang tampak berbeda. Mungkin bahagia, senang, atau sebagainya. "Rajendra, berjanjilah untuk tidak pergi kemana-mana," ucap Ignacia, mengutip lirik lagu tadi.


Rajendra mengambil pemberian Ignacia dengan senang hati, tangannya dilepaskan dari genggaman lalu merangkul gadisnya penuh sayang. "Tanpa berjanji pun aku tidak akan pergi kemana-mana," bisiknya tepat di telinga Ignacia.


"Janji (janji), janji (takkan) takkan ke mana-mana."


Lagu berakhir.