
"Jadi Ignacia tidak mengatakannya padamu?" Rajendra menatap bingung. "Ignacia tidak bilang jika mamanya jatuh tengah malam tadi dan kesulitan berjalan?"
"Mama Ignacia tidak ikut?!"
Ada nada mengintimidasi dalam pertanyaan Rajendra. Laki-laki itu segera bangkit dan mengambil ponsel yang sejak tadi dia isi dayanya. Di bukanya sebuah roomchat seseorang yang membuatnya sungguh terkejut. Seharusnya Ignacia memberitahu.
Nesya masih ada di tempatnya, melihat reaksi yang ditunjukkan Rajendra tanpa ragu.
Laki-laki itu frustasi karena panggilannya tidak kunjung mendapatkan jawaban dari yang di panggil. "Kemana gadis itu? Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku?" geram Rajendra. Dia bisa saja melempar ponselnya ke sembarang arah jika Nesya tidak ada disana dan tetap menunggu.
"Ignacia tetap pergi sendirian?"
Rajendra menyerah dan memilih bertanya pada Nesya. Yang di tanya mengangguk, menjelaskan jika Ignacia tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menemui penulis kesukaannya. Apalagi ini pertama kalinya dia akan mendapatkan tandatangan.
"Apa yang harus kulakukan? Dia belum pernah pergi sendirian. Dia tidak seharusnya- ah dia memang keras kepala."
"Kau percaya saja padanya," putus Nesya kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Rajendra. Nesya tahu jika kekasih temannya ini sedang sangat khawatir karena Ignacia sendiri belum pernah melakukan perjalanan sendirian. Nesya paham. Tapi dia juga tidak bisa apa-apa.
"Ini salahku karena memberitahu soal penandatanganan buku itu? Atau salahku karena membuat Rajendra tahu jika Ignacia pergi sendirian?" Nesya jadi tidak enak sendiri.
Nesya bisa melihat tatapan tidak suka Ignacia ketika sudah tahu siapa itu Feby, ketika melihat Sarah tengah bicara dengan kekasihnya juga. Tapi Ignacia merasa lebih waspada karena Feby adalah teman sekaligus tetangga Rajendra. Apalagi keduanya pernah diminta pergi bersama oleh orang tua masing-masing.
Ignacia menyalakan mode cemburu pada tetangga kekasihnya.
"Andai kau tahu jika bukan Feby yang harus kau perhatikan, Ignacia. Kau akan sangat muak dengan dunia jika tahu," Nesya bergumam.
Tatapan matanya kini terfokus dengan tali sepatu. Tak lama setelahnya beralih pada seseorang yang akan berpapasan dengannya. Seorang perempuan yang sekelas dengan Rananta. Tujuan gadis itu bukan pada Nesya. Tapi ke arah penginapan yang tadi ditinggalkan Nesya.
"Hah gadis itu membuatku muak," geram Nesya.
Namun Nesya tidak ingin cepat-cepat pergi. Dia harus memastikan gadis itu tidak akan menghancurkan perasaan teman terbaiknya. Seperti tahu sudah diduga Nesya, Sarah bicara manja pada teman lamanya. Gadis dengan wajah yang sangat memuakkan bagi Nesya itu digunakan untuk bicara dengan Rajendra.
Nesya bisa saja tertawa sangat keras jika saja lupa jika dia berada di dunia nyata. Rajendra lebih sibuk dengan ponselnya daripada Sarah yang sedang mengeluh. Sarah juga salah satu dari jajaran panitia karena berada di organisasi OSIS. Jadi dia bisa sampai disini bukan tanpa alasan.
Rajendra pasti lebih khawatir pada Ignacia yang entah sedang apa dan bagaimana keadaannya daripada Sarah yang hanya mengeluh soal wajahnya yang tampak- hah, Nesya tidak ingin benar-benar mendengarkan keluhan perempuan itu.
"Kudengar Sarah bertengkar dengan kekasihnya karena alasan yang cukup berat. Mungkin dia mendekati Rajendra hanya untuk membuat kekasihnya semakin marah. Ya kau tahu, mungkin untuk menarik perhatian saja." Nesya jadi ingat dengan ucapan seorang temannya di malam ketiga.
"Jika kau macam-macam dengan kehidupan sahabatku, aku tidak akan memaafkanmu, Rajendra."
Nesya akhirnya benar-benar pergi, kembali kepada teman-temannya yang beristirahat di tempat lain. Sebaiknya dia percaya dengan si Ketua MPK daripada terus mengawasi.
Seseorang berlari ke arah Nesya. "Nesya, kau melihat Sarah?" Orang itu bertanya sambil mengedarkan pandangan, "aku mencarinya di area ldks tapi belum menemukannya."
"Penginapan panitia," jawab Nesya dingin kemudian pergi.
...*****...
"Bagaimana acara penandatanganan bukunya? Apakah menyenangkan? Wah aku jadi ingin pergi kesana," Nesya menelfon, ingin memastikan sahabatnya baik-baik saja, "apa saja yang kamu lakukan di kota tetangga?"
"Aku bertemu dengan teman baru, kamu tidak akan percaya jika aku bisa bersosialisasi dengan manusia lain. Rajendra saja tidak percaya saat aku bercerita."
Ignacia terdengar sangat bahagia. Hatinya pasti tengah sangat berbunga-bunga dan kepalanya dipenuhi dengan hal-hal yang menyenangkan. Senang mengetahui jika Ignacia mendapatkan pengalaman yang baik meskipun pergi sendirian.
Di ujung telfon, Ignacia sungguh mengatakan banyak hal. Lebih banyak daripada biasanya. Mulai dari tiket kereta, pertemuan dengan teman baru, acara penandatanganan, dan bahkan soal Rajendra yang tiba-tiba muncul dan mengantarkan dia pulang. Padahal laki-laki itu sendiri juga kelelahan.
Senyuman muncul di wajah Nesya. Dia menunda bermain dengan kucing kesayangannya untuk mendengarkan semua cerita Ignacia. Dia bersyukur karena Ignacia tidak tahu soal Sarah dan Rajendra masih memberikan seluruh kasih sayangnya untuk teman baiknya ini.
"Setidaknya tidak ada yang berubah dari hubungan mereka," batinnya senang.
Bahkan hingga Mia--kucing kesayangan Nesya naik ke pangkuan pemiliknya, Nesya masih akan mendengarkan dengan teliti semua yang dikatakan Ignacia. Dia harus menjadi orang pertama yang tahu soal suasana hati temannya. Agar Ignacia tidak kembali menyembunyikan perasaannya dari dunia.
"Sepertinya aku harus bertemu dengan Tata ini. Dia kedengarannya orang yang hangat," respon Nesya.
Kini Nesya sedikit membagi perhatiannya dengan Mia juga. Kasihan dia juga ingin diperhatikan. Sejak tadi pemiliknya masih mengobrol seru dengan temannya hingga melupakan Mia.
"Lain kali aku ingin mempertemukan kalian berdua. Tapi aneh sekali. Tata orang yang sangat terbuka padaku. Padahal kami baru saja bertemu. Bukankah itu aneh?"
Nesya juga merasakan keanehan sejak Ignacia bercerita jika Tata memiliki kekasih. Orang-orang biasanya tidak akan membagi hubungannya dengan seseorang semudah itu. Rasanya seperti Tata dan Ignacia adalah teman lama.
"Mungkin karena dia sudah percaya padamu, Ignacia."
"Mungkin saja. Omong-omong bagaimana acara ldksnya? Aku ingin tahu apa yang kalian lakukan." Oh Ignacia membelokkan topik pembicaraan.
"Ya- Seperti itu."
Nesya bercerita sekarang. Mulai dari hari pertama, hingga bagaimana dia dijemput orang tuanya beserta neneknya sekali menggunakan mobil di hari terakhir. Nesya sudah lelah, namun malah diajak makan diluar. Padahal Nesya ingin langsung tidur begitu selesai mandi.
Ada niatan untuk bercerita soal Rajendra, keseharian laki-laki itu, dan membagikan foto untuk membuat hati Ignacia semakin berbunga-bunga. Tapi semuanya Nesya urungkan. Takutnya pertanyaan yang Ignacia ajukan malah membuatnya harus mengatakan semua hal.
Lebih baik dihindari.
"Omong-omong, Rajendra sepertinya akan memiliki lebih banyak waktu luang setelah posisinya tergeser. Ketua MPK yang baru sudah di lantik, sekarang dia murid biasa. Aku tidak sabar menunggu hari-hari selanjutnya."
"Iya, kamu benar. Rajendra sekarang tidak akan sibuk. Ah, kuharap bisa sering bertemu dengannya."
"Ingatlah bahwa kalian masih satu sekolah, Ignacia. Kamu akan bisa bertemu dengannya lebih sering nanti."
...*****...
Ignacia mendapatkan banyak ceramah dari ayah dan mamanya sepulangnya dari acara penandatanganan buku. Tentu saja semua yang dikatakan orang tuanya adalah hal yang sudah diketahui oleh Ignacia. Ponselnya harus terus menyala, memberikan kabar, menjawab panggilan dari orang tua. Tapi Ignacia tidak ingin liburannya sia-sia.
Setelah semua urusannya dengan manusia selesai, begitu pula dengan panggilan dari Nesya yang berakhir tiga puluh menit yang lalu, perlahan Ignacia mulai kembali ke dunianya sendiri. Buku baru yang dia beli hari ini sungguh membuatnya senang.
Harinya menjadi semakin menarik karena kehadiran Rajendra di stasiun dan kesempatannya untuk mencium kekasihnya sebelum masuk ke rumah. Beruntung ayahnya tidak tahu apapun. Ignacia juga tidak akan bercerita soal ini pada mama atau Athira. Biarkan saja hanya Ignacia dan Rajendra yang tahu soal ini.
"Kakak," panggilan dari seseorang diluar pintu mengalihkan perhatian Ignacia. Si pemilik ruangan memberikan izin pada yang diluar untuk membuka pintu. Arvin muncul dengan sesuatu di kedua tangannya.
"Kakak mau makan kue? Mama membuat brownies dan baru saja matang. Rasanya enak karena aku juga memasukkan banyak choco chips."
Arvin melangkah masuk ketika melihat anggukan dari kakaknya. Diletakkannya sepiring brownies di atas nakas sang kakak tertua setelah mendapatkan perintah.
"Kakak membaca buku apa?" Perhatiannya tertuju pada buku dengan cover menarik yang ada di tangan Ignacia.
"Buku novel baru. Terima kasih untuk Browniesnya, Arvin."
"Kenapa kakak selalu membaca buku?"
Satu pertanyaan polos meluncur mulus dari bibir kecil Arvin. Kelihatannya dia benar-benar penasaran dengan kebiasaan kakaknya yang selalu membaca sesuatu yang berbentuk buku. Apalagi halamannya pasti tidak sedikit. Bukunya selalu berganti setiap dia mendapati kakaknya di dalam kamar.
"Hm, bagaimana mengatakannya ya?" Ignacia pura-pura berpikir, "kamu tidak perlu tahu, Arvin. Kamu tidak akan tertarik untuk mendengarkan penjelasan kakak." Ignacia memberikan senyuman terbaik dan memberikan kode untuk adiknya keluar dari kamarnya.
...*****...
"Wah hari ini panas sekali." Di tangan kanan Sarah ada kipas angin kecil yang baru selesai di cas. Sengaja dia datang kesana untuk menemui Rajendra yang sedang sibuk dengan ponsel. Dia butuh seseorang untuk mendengar keluh kesah.
"Kau tidak lelah? Kenapa kau terlihat tegang begitu?" Sarah tidak suka diabaikan oleh laki-laki.
"Bukan urusanmu," dingin Rajendra. Pikirannya hanya tertuju pada Ignacia yang entah sudah ada dimana.
"Kau bertengkar dengan Ignacia?"
"Bukan urusanmu, Sarah."
Rajendra sudah mencoba untuk menahan kesabarannya. Tapi Sarah terus memancing dengan mengatakan bahwa pertengkaran diantara kekasih itu hal yang wajar. Rajendra merasa terusik dan memilih untuk pergi sambil membawa ponselnya, meninggalkan Sarah yang masih bicara.
"Rajendra, kau terlalu menyukai perempuan itu," gumam Sarah sebal, "kau pasti tahu bagaimana rasanya bertengkar dengan Ignacia. Tapi kenapa kau sangat menyukainya? Kau seperti tidak takut Ignacia akan meninggalkanmu."
Sarah menyandarkan dirinya ke dinding. Sudah tidak lagi memakai kipas angin kecil yang ada di tangannya. "Aku juga ingin menyukai seseorang tanpa rasa takut. Ini bukan hubungan pertamaku, tapi semakin hari semakin aku tidak ingin memberikan semua hatiku pada orang lain."
"Tidak bisakah kau memberitahuku caranya?"
...*****...
Hari sekolah kembali. Waktunya untuk kembali mengisi kepala yang sudah terasa ringan dengan banyak materi lain. Hari pertama masih lenggang. Entah apa yang dilakukan para guru di ruang guru, yang jelas beberapa dari guru wajib kelas 12 sedang berhalangan datang.
Ignacia menikmati hari dengan membaca novel di samping Nesya yang lebih tertarik dengan komik online di ponsel. Keduanya hanya diam dan hanyut dalam kegiatan masing-masing. Mereka cukup lelah karena bertemu dengan manusia lain setelah hari libur yang menyenangkan.
"Ignacia, ada yang mencarimu."
Sebuah pemberitahuan datang dari seseorang yang ada di dekat pintu. Mengalihkan perhatian Ignacia dari novel. Ada rasa malas untuk datang karena kode dari seseorang yang memanggilnya tadi mengatakan bahwa seseorang yang mencarinya ada di depan kelas.
Entah siapa itu. Dia berdiri di dekat pintu.
"Oh?" Ignacia terkejut melihat siapa yang datang. Teman yang memanggil tadi tahu soal hubungan Ignacia dengan kekasihnya. Jadi dia menjauh dari pintu dan tersenyum untuk menggoda Ignacia. Tapi kenapa harus Rajendra yang datang?
"Kenapa kamu ada disini?" Bingung Ignacia.
"Aku ingin memberimu ini," disodorkannya sebuah paper bag kecil dengan senyuman senang, "kemarin aku memikirkanmu dan ingin membelikan sesuatu. Oh ya, sebagai rasa terima kasih karena waktu itu sudah merayakan ulang tahunku lebih awal."
Ignacia terkekeh, "kedengarannya kamu banyak mengada-ada. Jika kamu ingin memberikan sesuatu, sebaiknya ketika sudah pulang saja, Rajendra." Sekarang paper bag itu sudah berpindah ke tangan Ignacia.
"Kenapa?" Rajendra jadi agak sendu, "aku ingin terlihat seperti kekasih yang baik untukmu."
"Aku mengerti. Tapi lebih baik jika tidak ada yang melihatnya."
"Kamu malu berkencan denganku?"
Suasananya jadi berubah tidak nyaman. Ignacia menatap dengan tatapan bersalah. Bukan itu yang dia maksud.
"Kita sudah lama bersama, kamu mulai bosan dan tidak menyukaiku lagi?" Rajendra dalam mood yang buruk sekarang.
"Omong kosong apa itu, Rajendra? Aku hanya tidak suka ketika orang-orang menatap kita."
Sejak tadi memang banyak teman-teman Rajendra dan Ignacia yang menatap keduanya. Melihat sambil menggoda keduanya yang jarang terlihat bersama. Pasangan lama yang dingin namun hangat di dalam. Ignacia belum siap mendapatkan kembali bahan godaan setelah liburan.
"Ah benar," Rajendra baru menyadarinya, "maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Terima kasih untuk camilannya."
...*****...
"Apa yang kau lihat?" Nesya menatap Ignacia aneh, mencari-cari apa yang mungkin menjadi pusat perhatian Ignacia diluar kelas. Yang ditangkap mata Nesya adalah Rajendra yang tengah berada di dekat kelasnya. Orang di sampingnya sedang jatuh cinta.
"Feby itu harus bicara dengan Rajendra ketika akan pulang? Dia membuatku berpikir bahwa keduanya berencana untuk pulang bersama. Hah, aku menghawatirkan diriku sendiri yang terlalu khawatir." Ignacia masih terpaku dengan adegan manusia yang biasa-biasa saja disana.
"Rajendra bukan orang yang mudah, Ignacia."
"Apa maksudmu?"
"Aku yakin kau tahu jika Rajendra itu selalu memiliki prinsip. Dan ketika dia sudah memiliki prinsip, Rajendra tidak akan pernah melanggarnya. Dari yang kulihat, Rajendra sudah memutuskan untuk tidak menerima permintaan orang tuanya. Dia tidak ingin terlalu dekat dengan Feby."
"Tapi tetap saja," Ignacia menghembuskan nafas panjang, "aku tidak bisa merasa biasa saja. Padahal aku sangat ingin melihat Rajendra berboncengan dengan perempuan, agar aku bisa mengganggunya. Tapi aku jadi khawatir."
Nesya menatap temannya. Biarkan saja Ignacia berpikir Feby berbahaya meskipun kemungkinannya sangat-sangat kecil. Yang penting dia tidak boleh tahu soal Sarah dan Rajendra ketika ldks waktu itu. Teman baiknya tidak harus mengetahui semuanya. Rajendra pun sepertinya berpikir demikian.
"Jatuh cinta itu memang sulit, Ignacia."