
Perang dimulai. Ignacia harus mulai mengerjakan skripsi dan meminta bimbingan seorang dosen agar bisa segera lulus dan mencari pekerjaan. Berhari-hari duduk di depan laptop dengan melihat beberapa sumber dari website yang di rekomendasikan sang dosen. Jika giat, skripsinya akan cepat selesai, begitu yang dikatakan dosen pembimbing Ignacia.
Cepat selesai juga jika Ignacia sering-sering bertemu dengan sang dosen ketika jadwal bimbingan. Sering kali Ignacia hanya bisa meletakkan hasil revisi di meja sang dosen yang kebetulan tengah ada urusan diluar kampus. Ignacia juga pernah diminta untuk datang ke rumah dosennya jika ingin bimbingan diluar jadwal. Jadinya jadwal Ignacia agak berantakan.
Dirinya masih beruntung jika dibandingkan dengan mahasiswa lain yang sulit menemui dosen pembimbing karena banyak alasan. Dosen Ignacia ini dosen senior yang tidak ingin membuat mahasiswanya kewalahan. Beliau sendiri juga pernah merasakan pahitnya mengerjakan skripsi dengan dosen sibuk, jadi anggap saja ini sebagai balasan untuk dimasa lalu.
Ketika skripsi Ignacia sudah hampir siap, Danita mendatangi kamarnya sambil menangis. Dia tidak percaya jika dia harus melakukan banyak revisi lagi. Mungkin dirinya bisa menyelesaikan miliknya beberapa Minggu setelah Ignacia berhasil menyelesaikan tugasnya.
Bahri juga sedang mengerjakan skripsi kala itu, ikut membantu kekasihnya agar tidak putus asa. Mereka kadang membuat tugas bersama, menongkrong di kafe atau taman kampus. Tergantung suasana hati Danita ingin dimana. Ia ingin mengajak Ignacia juga untuk bergabung tapi temannya itu terus menolak.
"Ignacia terlalu banyak di kamar dan perpustakaan. Kami jarang mengobrol dan makan bersama. Aku agak khawatir padanya." Danita mengambil mochi yang ada di atas meja, "Kamu tahu, mungkin dia akan makan banyak Fitbar lagi. Caranya untuk mempersingkat waktu makan benar-benar aneh."
Laki-laki di samping Danita menghembuskan nafas panjang, temannya pasti bisa sakit jika hanya makan Fitbar. Bertanya-tanya apakah Rajendra tahu tentang kebiasaan makan tidak baik gadis berambut panjang itu. Saat menjemput Danita tadi saja Bahri tidak menemukan keberadaan tetangga sebelah kamar kekasihnya.
Hari ini langit begitu cerah, tidak adil jika hanya dihabiskan dengan berdiam diri di dalam ruangan. Danita menyandarkan tubuh pada laki-laki yang duduk di sebelahnya. Sudah lelah menatap laptop demi revisi yang kesekian. Bahri meraih tangan gadisnya, "Bagaimana jika kita bersantai dulu sekarang? Tidak baik terus menerus menatap layar."
Ide bagus. Danita juga sudah muak dengan skripsinya. Hanya awalannya saja yang terasa menyenangkan. Menentukan judul dan bertemu di bimbingan pertama saja yang membuat Danita bersemangat. Titik ini sudah membuatnya ingin berhenti. Harap-harap pekerjaan kali ini akan diterima.
Keduanya terdiam, menatap jalanan depan kafe. Laptop sudah disimpan, sekarang waktunya untuk menikmati kencan sore hari. Langit sudah semakin gelap, lampu jalan sudah bersiap-siap untuk dinyalakan menggantikan fungsi dewa siang. Trotoar semakin padat, para pekerja mulai berjalan pulang. Kesibukan kota kembali terlihat.
Lagu-lagu populer khas anak remaja berbagai genre terus diputar, mengikuti trend. Kebisingan kafe terdengar semakin keras bersamaan dengan bertambahnya para pengunjung. Mungkin sudah waktunya Danita juga Bahri meninggalkan tempat duduk. Orang lain pasti juga ingin duduk di dekat jendela seperti keduanya.
Bahri harus mengantarkan kekasihnya pulang, memastikan gadis itu aman hingga sampai di kamar. Ketika keduanya baru sampai, sosok perempuan berambut panjang memakai kaus lengan pendek dan celana panjang. Ia berjalan dengan langkah pelan sambil menatap ponsel. Buru-buru Danita berpamitan dan menemui gadis yang ia kenal itu.
"Sampai jumpa, terima kasih untuk hari ini." Langkah yang tadinya malas karena harus membawa laptop kini mendapatkan tenaga. Danita merangkul temannya yang tengah berjalan sendirian sambil menyapa ramah. Bahri masih di tempatnya, menunggu hingga kedua gadis itu menghilang.
Danita melihat bungkusan makanan di tangan kanan si teman, senyuman muncul karena akhirnya ia mendapati temannya membeli sesuatu. "Wah kelihatannya ada yang akan makan enak malam ini." Ignacia mengangguk, berkata jika makanan ini kiriman dari Rajendra.
Omong-omong Danita sekarang melihat temannya menjadi sekurus sebelum liburan kuliah. Tekanan dan Fitbar membuat tubuhnya yang kembali normal di waktu liburan sekarang kembali kurus. Jadi Rajendra yang membuat Ignacia akhirnya meninggalkan laptop di kamar. Danita masih merangkul temannya, menatap bahagia.
"Kau tahu, setidaknya kita harus makan makanan enak sekali seminggu. Tubuhmu sudah bagus, Ignacia. Jadi jangan berdiet dan menunda makan." Ignacia jelas tahu itu. Yang dia tidak tahu, bagaimana caranya pergi keluar membeli makanan enak atau memasak untuk dirinya sendiri. Gadis ini terlalu khawatir pikirannya akan kacau jika terdistraksi sesuatu.
Sebelum masuk ke kamarnya, Danita berhenti untuk melihat temannya sebelum keduanya jarang bertemu. Jujur saja Danita merindukan ikatan batin yang biasa ia rasakan ketika berdekatan dengan Ignacia. Rasa hangat yang membuatnya sangat bersemangat dan bahagia.
Ignacia langsung duduk di depan komputer begitu makanan kiriman Rajendra datang. Ia mendapatkan panggilan video, ajakan untuk makan malam bersama. Kebetulan kekasihnya ada waktu luang hingga bisa mengajak Ignacia makan. Satu hal yang mampu membuat Ignacia bersedia meninggalkan skripsinya sesaat.
Sudah berbulan-bulan mereka tidak mengobrol karena Rajendra bilang ia tidak bisa menelfon. Dan sekarang waktunya untuk membalas semua rasa rindu Ignacia akan suara sang kekasih. Jika saja Rajendra tidak jauh dan tidak melarang untuk ditemui, Ignacia pasti sudah bersamanya saat ini.
Obrolan sambil makan dimulai dengan pertanyaan kabar. Bagaimana kondisi Ignacia akhir-akhir ini, apa yang ia kerjakan sedari pagi, apakah dia makan dengan baik, dan apa rencana Ignacia akhir pekan ini. Sebisa mungkin Rajendra yang membuat topik lebih dahulu dan Ignacia yang melanjutkannya. Semuanya terkendali, Ignacia bahagia, Rajendra juga senang.
Hal yang dilihat oleh Danita juga tertangkap di mata Rajendra. Wajah gadisnya tampak lebih kurus dari terakhir bertemu. Ada lingkaran di bawah mata, mirip dengan panda namun Ignacia tidak akan senang mendengarnya. Meskipun begitu, perubahan-perubahan yang nampak jelas tak mampu menandingi kecantikan gadis itu sendiri.
Rajendra merasa bersalah karena kurang memperhatikan kesehatan kekasihnya. Setelah lama dibujuk untuk makan di beberapa kesempatan, Ignacia mungkin hanya makan ketika itu saja. Dan soal lingkaran mata itu, Rajendra tidak bisa melarang kekasihnya untuk menjadi sibuk mengerjakan tugas kuliah.
Meskipun seperti kurang memperhatikan kesehatan karena tuntutan pendidikan, Ignacia selalu sempat untuk mengirimkan pesan bernada menyenangkan dan semangat pada Rajendra. Jika kekasihnya ingin mengobrol juga Ignacia akan selalu ada. Ya seperti tidak terjadi apa-apa, ia akan hadir jika di butuhkan.
Selama ini juga Rajendra tidak berpikir jika kekasihnya melakukan sesuatu yang melanggar aturan hubungan romantis ini. Melihat respon Ignacia yang selalu ada untuk Rajendra, mana mungkin bisa sempat bermain hati. Seperti yang dikatakan Ignacia waktu itu, Rajendra semakin percaya sekarang.
Rajendra menyampaikan candaan soal temannya, membuat Ignacia terkekeh dan urung memakan suapan selanjutnya. Keduanya tertawa bersama, bertatapan lewat layar ponsel masing-masing. Kenapa perasaan rindu harus terpancar hanya lewat tatapan mata? Tidakkah itu akan membuat kejutannya tidak lagi menyenangkan?
"Rajendra, aku ingin bertemu." Ignacia tersenyum kecil.
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan, tidak terasa masa-masa kuliah akan berakhir begitu sidang terakhir dilaksanakan. Tanggal sidang skripsi Ignacia dan Danita kebetulan sama. Keduanya menunggu berbalut baju hitam putih sesuai aturan, tengah berdoa agar waktu sidang terasa lebih cepat dan mudah.
Beberapa menit sebelum sidang, Rajendra menelfon. Panggilan kedua yang Ignacia dapatkan di mode tempur keduanya. Dari nada suaranya, laki-laki beralis tebal di kota jauh sana terdengar gugup. Suaranya sedikit gemetar, bicaranya agak gelagapan. Rupanya perasaan berdebar Ignacia bisa sampai pada kekasihnya juga.
Laki-laki itu ingin menyampaikan kalimat-kalimat penenang karena tahu sang kekasih akan melakukan presentasi di depan para dosen yang terhormat. Membayangkan Ignacia berada di hadapan para dosen saja sudah membuat Rajendra gelagapan, apalagi jika ia duduk bersama Ignacia seperti yang dilakukan Danita sekarang.
"Apapun hasilnya, aku akan tetap bangga padamu. Kamu sudah menyiapkan banyak hal untuk bisa sampai di situasi ini, berdoa saja agar kamu lolos. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Semangat, cantik. Hubungi aku setelah kamu selesai."
Bagaimana Ignacia bisa menahan hatinya yang semakin bergetar jika Rajendra mengatakan itu? Tentu. Ignacia akan langsung menghubungi setelah dirinya berhasil keluar dari ruangan dingin disana hidup-hidup. Mungkin ia tidak akan bisa mengirimkan pesan jika tangannya bergetar hebat. Ia kemudian meminta izin apakah bisa menelfon Rajendra.
Reaksi yang diberikan kekasihnya sungguh membuat Ignacia hampir berteriak kegirangan. Katanya melakukan panggilan video juga boleh. Sekarang Rajendra tengah ada waktu senggang dan bisa melakukan apa saja. Kesempatan yang tidak akan Rajendra buang sia-sia dengan menolak panggilan kekasihnya setelah sidang.
Setelah panggilan berakhir, Ignacia kembali ke tempatnya di samping Danita. Bergandengan tangan dengan tangan dingin. Mereka bahkan tidak mampu bicara satu sama lain, takut malah membuat masing-masing semakin gugup. Ignacia akan di panggil lebih dahulu baru Danita.
"Ignacia Maheswari."
Ignacia hampir tidak bisa bernafas begitu masuk ke dalam ruangan, menghadap ke para dosen yang salah satunya adalah dosen pembimbingnya. Dosen paling baik yang Ignacia kenal. Baiklah, satu sampai dua jam kedepan Ignacia akan bertahan dari segala tantangan dan keluar dengan hati gembira karena berhasil membawakan presentasi yang luar biasa.
...*****...
"Ignacia juga sidang skripsi? Kebetulan Nesya juga." Bagas yang tengah makan memberitahu. Bagas pasti teman yang baik hingga Nesya bisa berbagi jadwal kegiatannya padanya, pikir Rajendra. "Hei ayo makanlah. Kesempatan emas ini tidak akan datang selamanya," bujuk Bagas untuk kesekian kali.
Sedari tadi laki-laki bertubuh jangkung di hadapan Bagas ini tidak mampu makan selahab Bagas. Rajendra terlalu gugup hingga nafsu makannya hilang. Tangannya yang ingin memegang sendok juga agak gemetar. Sementara Bagas cuek saja, makan tanpa ada masalah.
Bagas terpaksa harus membungkus makanan Rajendra karena selera makannya belum kunjung datang. Mungkin begitu Ignacia berhasil dan mengirimkan kabar, barulah Rajendra bisa memakan nasi goreng yang sekarang ia bawa. Tidak mungkin Rajendra dan Bagas duduk di dalam restoran selama dua jam penuh. Kecuali itu restoran ayah Bagas.
Menit demi menit berlalu, Rajendra setia menetap cemas hamparan rumput dan pepohonan. Beberapa kali tangannya tampak meremas kuat pagar besi pembatas. Bungkusan nasi gorengnya juga lupa tidak ia letakkan di meja tempat Bagas duduk bersama teman lainnya.
"Ada apa dengan Rajendra? Kenapa dia terlihat sangat tegang begitu?" Seorang teman bertanya, kebingungan dengan sikap teman bertubuh tinggi disana. Bagas memberitahu jika Rajendra tengah meungu kekasihnya selesai sidang skripsi. Mendengar itu, teman-teman yang mendengar menganggukkan kepalanya paham. Mereka juga akan berdoa untuk keberhasilan kekasih temannya itu.
Sudah lebih dari satu jam Rajendra berdiri di pagar tanpa melakukan apa-apa. Untuk pertama kalinya teman-teman si laki-laki melihat Rajendra yang begitu cepat tentang sesuatu. Bagkan ketika hari besarnya datang, Rajendra tidak akan terlihat secemas ini. Apa karena dirinya tidak bisa menenangkan Ignacia secara langsung? Atau hanya khawatir tentang gadisnya.
Bagas bangkit, ingin mengajak Rajendra untuk duduk berkumpul dengan yang lainnya. Bahkan ia sudah pesakan temannya ini kopi paling enak di kafe tempat mereka berada. Bagas kalah cepat dengan panggilan yang datang ke ponsel Rajendra. Segera laki-laki disana meraih benda pipih di dalam saku celana dan menggeser tombol hijau di layar.
"Aku berhasil!" terdengar seruan bahagia dari panggilan video Rajendra dan Ignacia. Sontak Rajendra ikut berseru, mengepalkan tangan di udara sebagai wujud perayaan untuk sang kekasih. Baru mendengar bahwa Ignacia berhasil melewati sidang dengan bahagia membuat Rajendra sangat bangga.
"Aku sangat bangga padamu, Ignacia. Selamat untukmu. Semoga hasilnya sesuai dengan yang kamu harapkan."
Reaksi yang Rajendra berikan lalu diterjemahkan oleh Bagas, teman-temannya mendekati Rajendra, ingin muncul di layar untuk ikut memberi selamat. Memang baru selesai sidang, belum pengumuman. Tapi mereka akan memberikan dukungan agar Rajendra bisa lega juga. Ignacia terkejut dengan kemunculan beberapa orang hingga kekasihnya tak lagi terlihat.
Banyak dari orang-orang yang Ignacia lihat ini juga memberikan pujian yang bisa membesarkan hatinya. Si gadis tidak bisa menahan tawa karena mendapatkan banyak dukungan dari orang-orang yang tidak ia kenal. Pasti teman-teman Rajendra. Tak lama kemudian ponselnya kembali pada Rajendra, tatapan laki-laki itu terasa sangat lembut dan bahagia.
"Aku senang kamu memberikan dukungan padaku, Rajendra. Terima kasih karena sudah menungguku juga." Ignacia tersenyum lebar, matanya tampak berkaca-kaca hingga butiran bening turun dari sudut mata. Itu air mata bahagia.
"Sekali lagi selamat, Ignacia. Setelah semua ini, apa rencanamu? Apa kamu akan pulang?" Si gadis memberikan anggukan sebagai jawaban. Tangannya menguap air mata di pipinya kasar. Ignacia menyayangkan situasi yang mengharuskan Ignacia pulang sendirian tanpa Rajendra. Tanpa menggandeng tangannya dan menikmati waktu di kereta bersama.
Katanya Ignacia akan menghubungi kapan ia aka pulang. Lalu ia ingin dihubungi ketika Rajendra mungkin pulang juga. Jika menunggu Rajendra pulang yang entah kapan, Ignacia akan terlambat bertemu dengan keluarga yang menunggu di rumah. Tidak bertemu selama beberapa bulan benar-benar menyiksa.
"Kamu sangat hebat hari ini, Ignacia."