Beautiful Monster

Beautiful Monster
Harus Dirahasiakan



"Kapan Ignacia akan mengenalkan kekasihnya padaku?"


Pertanyaan ayah Ignacia membuat istrinya terkejut. Tangannya yang tadi sibuk memindahkan bunga ke pot baru jadi terhenti beberapa saat. Perasaan wanita itu bilang jika suaminya pasti tahu sesuatu tentang Ignacia dan calon menantunya itu. Semuanya sudah ia tutupi dengan sempurna, bagaimana bisa rencananya untuk melindungi kebahagiaan anaknya gagal?


"Dunia sudah semakin maju. Aku yakin di umur seperti ini Ignacia pasti sudah jatuh cinta pada laki-laki. Salah satunya mungkin sedang menjadikan Ignacia sebagai kekasihnya saat ini. Apa hanya aku yang tidak boleh tahu soal kisah cinta anakku sendiri? Anak pertamaku malah."


Dengan gemetar istrinya menjawab, "Kenapa tidak tanyakan saja sendiri? Ini berhubungan dengan anakmu kan? Anak pertamamu." Gemetar namun juga ingin membalas ungkapan terakhir suaminya. Ini akan menjadi awal yang bagus jika Ignacia juga terbuka pada ayahnya, terlebih jika ayahnya tidak akan marah setelah tahu anaknya sudah berkencan.


Mama Ignacia melihat suaminya menggeleng. "Aku takut membuatnya tidak nyaman. Selama ini aku melarangnya untuk berkencan. Dia bisa salah paham dan tidak jujur jika tiba-tiba aku bertanya. Aku hanya ingin tahu kapan aku bisa mengenal kekasih Ignacia. Hanya itu." Ayah manapun pasti ingin tahu soal itu jika anaknya sudah dewasa seperti Ignacia.


Soal obrolan ini, minta dirahasiakan oleh si ayah. Anggap saja obrolan kecil antara suami istri tanpa harus diketahui siapapun. Termasuk anak yang tengah dibicarakan tadi. Mama Ignacia mengangguk, menuruti permintaan kecil suaminya yang malu-malu jika Ignacia sampai tahu soal rasa penasarannya.


Jika dipikir-pikir, dirinya juga penasaran kapan Ignacia akan mengenalkan Rajendra secara resmi pada keluarga mereka. Dan kapan pula Ignacia akan dikenalkan pada keluarga Rajendra. Lalu setelahnya pertemuan kedua keluarga yang berujung... Pembicaraan serius tentang hubungan dua anak muda yang tengah kasmaran ini.


Ignacia izin pulang malam, sekalian makan malam dengan kekasihnya. Orang tuanya mengizinkan, padahal di sisi lain agak berat sebab Ignacia sudah lama berada diluar. Diam-diam mama Ignacia menunggu kepulangan anak gadisnya, beberapa kali melirik pintu serta menajamkan telinga kalau-kalau Ignacia sudah sampai di depan.


Butuh waktu lama hingga suara motor Rajendra terdengar. Bututh waktu lama juga untuk anak gadisnya muncul dari balik pintu. Bukannya mendapati ekspresi bahagia, Ignacia jutsru tampak sebaliknya. Langsung saja mama Ignacia yang tadinya duduk di sofa ini bangkit menemui Ignacia. "Kenapa sedih begitu? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Sebelum berada di hadapan mamanya, Ignacia sempat ketahuan menghembuskan nafas berat. Sorot matanya tampak sayu dengan gerakan lamban. Jelas sekali jika energinya seakan terkuras habis karena sesuatu.


Yang di tanyai enggan menjawab, lebih memilih melenggang pergi ke kamarnya. Pasti ada yang sedang sedih karena tidak bisa bertemu dengan Rajendra lagi. Sebelum masuk ke kamar diikuti sang mama, Ignacia hanya bilang jika dirinya lelah. Jalan-jalan dengan temannya tadi berjalan baik. Mamanya tidak perlu khawatir.


Gadis cantik itu menutup pintu kamarnya pelan, menghindari kontak mata mamanya. Di balik pintu, dirinya kembali menghembuskan nafas berat, hatinya terasa sesak. Ignacia tidak merasa sedih karena harus berpisah lagi dengan Rajendra. Toh keduanya bisa bertemu lagi di liburan Rajendra selanjutnya. Ignacia tidak kecewa dengan jadwal laki-lakinya datang.


Hanya saja--hatinya tengah tidak bisa di ajak bekerja sama. Ada yang aneh dengan reaksi hatinya ketika meninggalkan Rajendra di depan rumah. Padahal tadinya ia merasa gugup karena akan mencium Rajendra, sekarang kenapa lagi dengan dirinya? Bayang-bayang apa lagi sekarang?


Ia terduduk bersandar pada daun pintu. Kakinya terasa selelah hatinya. Ignacia mungkin butuh satu buku fiksi yang bisa membawanya menjauh dari dunia nyata. Mengalihkan emosi bukan sesuatu yang baik, memendamnya juga kebiasaan buruk. Tidak ada yang boleh tahu soal ledakan emosinya malam ini. Harus Ignacia saja yang tahu.


Setelah melewati masa yudisium, Ignacia sebentar lagi bisa menjadi calon wisudawan. Rasanya sudah tidak sabar menunggu jadwal wisuda dan memakai toga. Kembali mendapatkan buket bunga dan bertemu dengan Rajendra. Kali ini Ignacia mungkin tidak melihat kekasihnya memakai jas atau toga yang sama, setidaknya Rajendra kemungkinan besar hadir.


Hari demi hari berlalu, Ignacia mendapatkan informasi jika wisudanya akan dilaksanakan bulan depan. Begitu mendapatkan informasi, langsung ia kirimkan pesan pada Rajendra soal jadwal terbarunya. Sambil menunggu balasan, Ignacia beranjak dari sofa ruang tamu menuju dapur tempat kedua orang tuanya berada. Memberitahu soal wisudanya juga.


Mama dan ayahnya tersenyum bahagia, mengucapkan puji syukur pada Tuhan berkali-kali. Anaknya sebentar lagi akan bergelar sarjana. Kebahagiaan mana lagi yang bisa membuat orang tua tidak bersyukur? Empat tahun tinggal terpisah kini membuahkan hasil yang sangat manis.


Buru-buru ayah dan mama Ignacia menghubungi atasan, mengajukan cuti sebelum orang lain melakukannya. Peraturan di tempat kerja kedua orangtuanya cukup rumit jika ada lebih dari dua orang yang mengajukan cuti. Mereka harus cepat-cepat mendapatkan izin sebelum yang lainnya juga ikut mengajukan cuti untuk urusan penting lainnya.


Sebelum Ignacia kembali ke kesibukan membaca buku di rumah tamu, mamanya meminta Ignacia membantunya sebentar. Seperti mencari baju untuk digunakan di acara besar anak pertamanya. Ayahnya juga bingung harus memakai apa, jadinya mengikuti istri dan anaknya menuju kamar.


Acaranya masih bulan depan namun kedua orangtuanya ingin menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Ignacia akan memberikan informasi tambahan soal itu nanti. Sekarang dia belum mendapatkan informasi lebih lanjut. Mungkin dia atau tiga hari mendatang akan disampaikan.


Kembali ke ruang tamu, meraih buku yang sempat ia balik untuk menandai halaman. Ponsel Ignacia menyala sekali. Kebetulan sekali jawaban Rajendra datang dengan cepat. Benar, kekasihnya akan datang ke acara besar si gadis. Rajendra menambahkan jika dia tidak sabar melihat Ignacia dan memberikan buket bunga.


Rajendra juga bilang jika akhir pekan ini dia bisa kembali ke rumah untuk liburan. Katanya Rajendra akan menatap di rumah selama seminggu karena kerja kerasnya. Omong-omong sampai detik ini Rajendra belum memberitahu Ignacia kapan laki-laki itu akan wisuda. Pikiran buruk muncul di kepala Ignacia, prasangka jika Rajendra tidak ingin Ignacia datang ke wisudanya.


Cepat-cepat Ignacia hilangkan prasangka buruk itu. Sebentar lagi dia bisa bertemu dengan kekasihnya lagi. Kencan yang Rajendra janjikan selanjutnya akan segera datang. Ignacia harus bersiap-siap mencari baju yang bagus dan mempercayakan rambutnya pada Athira.


Athira dapat mengetahui maksud dari senyuman kakaknya ketika melihat ponsel. Niatnya untuk meminta bantuan kakaknya memilih lukisan urung. Sekarang waktunya untuk menjahili kakaknya setelah lelah mendekorasi ulang kamarnya. "Ehem, ada yang sedang kasmaran. Awas nanti ponsel kakak salting jika terus diberikan senyuman begitu."


Ignacia tidak peduli dengan ejekan adiknya, terlalu asik mengobrol dengan Rajendra. Bahkaj ketika Athira sudah duduk di tempat Ignacia tadi membaca saja kakaknya masih belum peduli. Athira menunggu dengan sabar, orang yang kakaknya hubungi sangat penting jadi sebaiknya jangan di ganggu.


Ada beberapa lukisan yang rencananya akan Athira pindahkan ke gudang. Ia sudah menyiapkan plastik untuk membungkus lukisan-lukisan itu agar tetap cantik. Lukisan-lukisan yang ingin ia pindahkan sudah tersusun rapi di lantai, kakaknya tinggal memilih saja. Sebeluk memutuskan, Ignacia bertanya kenapa harus dipindahkan, semuanya tampak bagus.


Jawaban adiknya cukup sederhana. "Aku hanya ingin membuat kamarku kerasa lenggang. Ada beberapa fotoku dan teman-teman yang ingin kupajang juga. Jadinya aku akan menyimpan harta karun di gudang."


"Apa bukan karena kau khawatir Arvin dan Rafka masuk ke kamarmu tanpa izin dan merusak lukisanmu?" Ignacia menyanggah alasan adiknya. Athira mengangguk, itu alasan kuat lain yang ia pikirkan. Kakaknya kini pandai dalam membaca pikiran. Athira tidak akan rela lukisan yang ia buat dengan kerja keras harus rusak karena tangan-tangan jahil.


Setelah di pilih, Athira akan menggantung kembali lukisan yang dirasa masih ingin disimpan di kamar. Athira tidak akan meminta bantuan kakaknya untuk melapisi lukisan-lukisannya, jadi Ignacia diizinkan untuk pergi. Bukannya pergi, kakaknya malah duduk di samping sang adik yang sibuk memotong plastik dan disesuaikan dengan ukuran kanvas.


"Kenapa kakak masih disini? Kakak tidak ingin kembali membaca buku?" Athira bertanya tanpa menoleh. Ingin segera menyelesaikan kegiatannya lalu bermalas-malasan.


"Akhir pekan ini kau sibuk? Bagaimana jika kau membantuku menata rambut? Aku ada janji penting dengan orang penting. Kuharap kau punya waktu untuk kakakmu ini." Sudah Athira duga jika pesan calon kakak iparnya ikut ambil bagian dalam permintaan kakaknya. Beruntungnya Athira memang tidak punya rencana apapun. Ia menyanggupi permintaan sang kakak tanpa syarat.


Di ruangan lain, kedua orang tua Ignacia masih ada di dalam kamar. Membuka isi lemari untuk mencari baju yang bisa digunakan untuk acara formal. Baju batik, kebaya, dan lainnya. Mama Ignacia sibuk membedah isi lemari sementara suaminya duduk di tepi tempat tidur. Menatap kegiatan istrinya.


"Apa di hari wisuda itu apa Ignacia akan mengenalkan kekasihnya? Tidak mungkin laki-laki yang ia kencani tidak datang ke acara besar Ignacia." Lagi-lagi membahas itu. Kepalanya penuh dengan pertanyaan kapan bisa bertemu dengan kekasih anaknya melebihi sang istri.


Mama Ignacia yang lebih dahulu bersemangat kapan bisa menyambut Rajendra di rumah mereka tanpa merasa takut. Mengobrol dengan calon menantu bersama sang suami. Anggap saja permulaan sebelum pertemuan kedua keluarga untuk acara lamaran. Jika dilihat-lihat Rajendra bukan tipe laki-laki yang tidak berniat menikahi putrinya kan?


Ignacia tidak sabar menunggu akhir pekan. Hari-hari berjalan lebih lamban karena ia begitu menantikannya. Lagi-lagi Rajendra melarang Ignacia untuk menjemput di stasiun. Kataya biar ia yang mendatangi si gadis. Ignacia sudah pernah mendatanginya jadi sekarang gantian.


Keduanya berencana pergi makan es krim di siang hari lalu berkendara tanpa tujuan di sekitar kota. Mereka kehabisan ide untuk menghabiskan waktu bersama, semuanya menyenangkan bagi keduanya. Lalu agar keduanya bisa lebih dekat secara fisik, berjalan-jalan menggunakan sepeda motor adalah pilihan yang bagus. Ignacia bisa memeluk kekasihnya sepanjang perjalanan.


Di kedai es krim, Rajendra banyak bertanya soal kabar dan kegiatan Ignacia selama di rumah. Dunia perkuliahan kekasihnya ini akan segera berakhir, Rajendra ingin memastikan semaunya baik-baik saja. Rajendra hanya ingin mendengar suara dan antusias Ignacia selama bersamanya. Rasanya seolah beban berat yang ia tanggung berubah menjadi seringan bulu.


Laki-laki beralis tebal yang terus menatap wajah Ignacia tidak henti-hentinya tersenyum. Energi positif yang kekasihnya berikan mampir mengangkat kedua sudut bibir Rajendra cukup lama. Sepertinya genggaman tangan keduanya di atas meja juga termasuk salah satu alasan selain kerinduan yang Rajendra rasakan bisa terobati.


Berganti Ignacia yang bertanya bagaimana kegiatan Rajendra selama menjalani pendidikan akhir-akhir ini. Tidak banyak yang bisa laki-laki itu sampaikan. Katanya hanya ada beberapa hal menarik yang terjadi setelah dia kembali ke kota dan berangkat menemui Ignacia. Giliran Ignacia yang mendengarkan.


Rajendra bilang sesampainya ia di kota perantauan, gerimis menyambut kedatangannya. Ada beberapa orang yang santai berjalan di bahwa tirai hujan kecil itu dan ada juga yang terburu-buru pergi. Yang Rajendra lakukan hanya berdiri di batas antara tirai hujan dan atap stasiun. Katanya ia tiba-tiba ingat soal mimpi buruk Ignacia yang berkaitan dengan hujan.


"Entahlah, tiba-tiba aku jadi mengingatnya," tambah Rajendra.


Lalu ketika dirinya baru menyentuh gerimis, tiba-tiba rasanya ia mencium aroma tubuh Ignacia. Aroma khas yang selalu Ignacia keluarkan ketika keduanya berdekatan dan berpelukan. Otomatis Rajendra menoleh, aroma khas itu seolah menabrak laki-laki ini ketika berjalan ke depan. Alih-alih mencium aroma hujan yang bercampur dengan tanah, Rajendra justru mencium aroma yang sangat ia rindukan.


"Rasanya saat itu aku masih bersama denganmu. Kita berjarak sangat jauh namun masih bisa kucium aromamu." Ignacia bingung harus bereaksi bagaimana. Senyumannya semakin mengembang. Bahagia rasanya ketika Rajendra bahkan masih mengingat aroma tubuhnya. Bahkan hingga terbawa ke kota yang jauh.


Selanjutnya ketika akan menemui Ignacia pagi ini, Rajendra kembali mencium aroma kekasihnya. Niatnya untuk cepat-cepat mengeluarkan motor terhenti sebentar di dekat pagar. Ketika si empunya bau akan ditemui saja Rajendra sudah lebih dulu merasakan keberadaannya. Ignacia mulai berpikir jika kekasihnya pasti juga merindukan dirinya seperti ia merindukan Rajendra.


Rajendra menguatkan genggaman tangannya, menatap lurus pada manik mata coklat si gadis. "Senang bisa bertemu denganmu secara langsung setelah di bayang-bayangi wangimu yang sangat membuatku candu." Suara tenang Rajendra mengalihkan dunia Ignacia seketika.


Untuk urusan salah tingkah sepertinya Ignacia tidak perlu menyembunyikan. Biar saja Rajendra tahu. Bagaimana ia bisa menutupi wajah memerahnya ketika kekasihnya jelas-jelas menatapnya sedari tadi? Ignacia merasa sedikit gerah padahal pendingin ruangan berfungsi dengan baik.


Jantung Ignacia mulai berdisko, kupu-kupu di dalam perut Ignacia bereaksi. Tidak, Ignacia tidak cemas soal detak jantungnya yang mungkin bisa mengisi seluruh ruangan ramai ini. Ignacia senang bisa merasakan debaran menyenangkan itu lagi ketika bersama Rajendra.


"Kamu tipeku sekali, Rajendra."