Beautiful Monster

Beautiful Monster
Makan Bersama



Sampai di sebuah restoran, Ignacia dibiarkan mencari tempat duduk lebih dahulu sementara kedua temannya memesan. Mereka sudah menentukan makanan apa yang akan dipesan melalui penelusuran di aplikasi pesan antar. Menu restoran ini terdata dengan sangat lengkap.


Nesya sudah mencatat semua pesanan mereka tadi di catatan ponselnya. Sambil berbaris di depan kasir, Nesya menggunakan waktunya untuk membuka grup komiknya. Di sampingnya Danita juga memainkan ponselnya. Mengirimkan pesan pada sang kekasih tentang apa yang terjadi hari ini.


Dari mejanya, Ignacia juga memainkan ponsel. Membuka media sosial jika saja ada sesuatu yang menarik. Rajendra tidak online, Athira juga sama. Berganti ke aplikasi pengirim pesan instan, Ignacia melihat jika mamanya sedang online. Apa sebaiknya Ignacia menghubungi mamanya saja? Ingin saja.


Ignacia memulai obrolan dengan mengirimkan foto pemandangan orang-orang yang tengah makan di depannya. Tak perlu waktu lama hingga mamanya membuka foto itu dan ikut mengirimkan foto untuk menunjukkan dimana keberadaan mamanya. Mamanya sedang ada di ruang keluarga, duduk-duduk sambil menonton tv.


Mamanya memberitahu Ignacia bahwa kedua adik laki-lakinya sekarang sudah pandai berenang. Ya meskipun masih belum bisa diikutkan dalam olimpiade atau apalah itu sebutannya. Mamanya berharap Ignacia bisa cepat pulang agar bisa melihat perkembangan kedua adik laki-lakinya.


Lalu obrolan berbelok pada Athira. Katanya Athira sekarang lebih sering menikmati harinya diluar kamar untuk melukis pemandangan. Akhir pekan kemarin ayah mengajak semua orang untuk berjalan-jalan pagi mengelilingi daerah rumah. Setelah lelah berjalan-jalan, nantinya mereka akan beristirahat sebentar di taman.


Athira kebetulan baru saja membeli buku sketsa dan waktu itu ia membawanya untuk iseng. Dia bingung akan menggambar apa. Mungkin ada sesuatu yang menarik untuk digambarnya ketika keluar rumah. Dan disanalah Athira melihat banyak balon berisi udara untuk acara ulang tahun anak di sekitar taman.


Butuh waktu lama untuk mengantri dan menunggu makanan siap. Hampir lama seperti saat berbaris di acara penandatanganan buku tadi. Itu pun baru makanan pendamping yang keluar. Ramennya masih belum selesai. Nanti akan dianta katanya. Sambil menunggu, ketiganya mencoba makanan pendamping yang sudah dipesan tadi.


Mulai dari Yakiniku, Sushi, Yakitori, Gyoza, dan Takuan semuanya mereka coba. Hanya mencoba sedikit, agar setelah makan ramen nanti bisa dimakan bersama lagi. Ketiganya sama-sama memesan Shoyu ramen, jadi ketika melihat seorang pegawai membawa nampan berisi tiga ramen itu, ketiga teman ini langsung mengangkat tangan sebagai kode.


Tidak ada pembicaraan selagi makan. Mereka terlalu lapar hingga tidak mampu memikirkan topik obrolan. Bahkan Danita sekalipun. Setelah ramen habis, barulah obrolan datang. Seputar acara penandatanganan buku dan perjalanan Nesya melihat-lihat komik selain yang ia incar saja.


"Bagaimana jika bersantai di suatu tempat lalu pergi berbelanja? Sekarang masih belum sore," usul Ignacia, "Mungkin tempat untuk kita membaca buku yang baru kita beli. Sambil mengecas kembali energi."


Kedua temannya setuju saja. Nesya mulai dengan tugasnya, mencari tempat sekitar pusat perbelanjaan yang dekat dengan taman atau alun-alun yang bisa digunakan untuk bersantai. Tempat yang tidak tenang tidak masalah, yang penting bisa untuk sekedar duduk-duduk lama.


"Supermarket di dekat alun-alun sedang mengadakan banyak promo. Bagaimana jika kita ke alun-alun saja?" Danita menunjukkan brosur di layar ponselnya. "Temanku kebetulan ada disana dan mengirimkan ini karena aku bilang akan berbelanja beberapa bahan makanan." Koneksi Danita bekerja lagi.


Nesya menutup ponselnya, "tentu ayo coba pergi. Mungkin ada sesuatu yang ingin kalian cari juga disana."


...*****...


Cakrawala tertutup awan putih, menghalangi sinar mentari untuk menyentuh tanah. Keramaian di sekitar tidak mengusik ketiga teman yang tengah membaca buku baru disini. Udaranya sejuk khas kota. Tempat duduk yang nyaman menambah kebetahan ketiganya.


Disaat Ignacia dan Danita membalik halaman buku dengan perlahan, di samping Ignacia ada Nesya yang membaca komik dengan kecepatan membalik halaman yang berbeda. Beberapa kali Nesya terlihat seperti menutup mulut karena kagum dan menahan senyuman agar tidak terlihat seperti orang aneh.


Sekitar satu dua jam mereka ada disana. Membaca dengan damai tanpa merasa terusik sedikitpun. Dunia dalam ratusan kata-kata yang ada di dalam buku menyedot perhatian ketiganya terlalu dalam. Bahkan sudah lama duduk-duduk disana saja tidak terasa.


"Wah sudah sore." Ucapan Ignacia mengalihkan perhatian kedua temannya, ikut menatap langit yang sudah berubah warna fana merah jambu. "Sebaiknya kita cepat berbelanja agar bisa cepat memasak dan makan," ajak Ignacia. Dia lebih dahulu bangkit, memasukkan buku ke dalam tas. Disusul dengan kedua teman lainnya.


Ketiga teman ini memeriksa daftar barang yang akan dibeli. Mereka memutuskan untuk tidak membuat makanan yang rumit karena peralatan di pantry juga terbatas. Masing-masing masih menyembunyikan menu makanan yang akan mereka masak hingga sampai di supermarket. Mereka mengambil keranjang belanja lalu mulai berpencar.


"Kita bertemu lagi disini dalam 20 menit," usul Nesya agar bisa segera kembali ke asrama. Kedua temannya setuju lalu memeriksa waktu. Waktu berpencar dimulai. Sebelumnya Ignacia dan Danita sudah memeriksa bahan dasar apa yang mereka miliki di asrama. Jadi nantinya hanya akan melengkapi. Nesya nanti menyesuaikan saja untuk rempahnya, meminta sedikit dari kedua temannya di asrama.


Ignacia mulai dengan membeli bahan makanan kering seperti saus tiram, kecap manis, mentega, dan tepung maizena. Selanjutnya ke tempat daging, Ignacia mengambil dada ayam. Kebetulan sekali disana sudah ada Nesya yang mengambil sebungkus bakso ikan di tempat Frozen food tak jauh dari tempat Ignacia mengambil ayam.


Setelah Ignacia dan Nesya pergi, Danita berganti datang ke tempat itu untuk membeli telur. Dia bahkan tidak memperhatikan jika dirinya berpapasan dengan Ignacia yang tengah melihat-lihat bahan makanan lain karena dirinya sibuk mencari dimana letak telur.


Mereka yang awalnya sudah mengikuti daftar belanja kini tengah mencari barang-barang yang harus diisi ulang untuk di rumah. Lalu akibat promo yang ada, mereka juga membeli beberapa camilan untuk teman membawmca buku baru. Ya biasalah perempuan. Yang tidak masuk daftar biasanya juga ikut terbeli. Memanfaatkan promo maksudnya.


Dua puluh menit berlalu begitu cepat. Ketiganya saling mengirimkan pesan jika masih membeli sesuatu dan akan pergi ke titik kumpul setelah 10 menit. Dan benar saja, mereka membawa kantong plastik ukuran sedang akibat barang-barang promo. Segera ketiganya pergi ke halte bus. Duduk-duduk disana sambil menunggu jadwal selanjutnya.


Sambil menunggu dan memangku barang belanjaan, Ignacia dan Danita bersandar pada Nesya yah duduk di tengah. Tubuh Nesya lebih besar daripada kedua temannya, jadi nyaman untuk bersandar padanya. Nesya juga tidak keberatan karena di belakang ada sandaran juga.


Hening, tidak ada yang memulai obrolan. Ketiganya lebih memilih untuk bergulat dengan pikiran masing-masing. Ignacia tentang adik, kekasihnya, dan juga ujian besok. Nesya soal komik dan teman-teman di dunia mayanya. Selanjutnya ada Danita yang memikirkan Bahri dan Ibunya. Danita merindukan sosok wanita yang ia panggil Ibu seumur hidupnya itu.


Bus berikutnya datang. Mereka bergantian masuk dan mengambil barisan tempat duduk yang sama di samping jalan keluar agar lebih dekat. Bus terlihat lenggang, tidak ada orang yang berdiri. Kembali lagi kedua teman Nesya bersandar padanya. Kali ini juga hening lagi.


...*****...


"Kalian sedang ada disini?" Ayah Bagas datang, si pemilik restoran warisan keluarga ini.


"Aku memerhatikan Rajendra yang menatap kalender." Sang ayah tentu tidak pernah menduga jawaban anaknya. Selang beberapa lama, pria berumur setengah abad itu berlalu pergi. Lebih baik menuntaskan keinginan untuk minum air dingin daripada ikut memperhatikan Rajendra.


Sementara itu laki-laki yang masih menatap kalender di dapur restoran masih saja mematung. Pikirannya fokus menimbang-nimbang keputusan sulit. Padahal Rajendra sudah tahu apa pernyataan yang akan ia sampaikan, namun tetap saja rasanya ada sedikit penyesalan. Dirinya sendiri juga ingin menyegerakan temu menyesakkan.


"Oh apa sekarang sudah harinya lagi?" Bagas bersuara. Mengusik konsentrasi temannya hingga berbalik. Tatapan yang diberikan rekan sekaligus teman sekamarnya itu sudah menjawab pertanyaan Bagas sepenuhnya.


...*****...


Semua bahan makanan yang dibutuhkan dikeluarkan dari kantong plastik. Layaknya acara memasak di TV mereka bertiga menyebutkan nama makanan yang akan dimasak. Mulai dari Ignacia yang akan memasak protein, lalu Nesya akan memasak serat, dan Nesya akan membuat karbohidratnya. Jadilah mereka akan memakan makanan kompleks. Lauk, sayuran, dan nasinya.


Namun tidak sama seperti acara memasak di tv, mereka tidak fokus memasak masing-masing dan menunjukkan keunggulan. Tidak akan menyenangkan jika acara memasak mereka malah menjadi kompetisi. Ketiganya saling bantu mengupas bahan dasar dan mencuci bahan baku utama bergantian.


Beruntung tidak ada yang datang ketika pantry dipenuhi dengan aroma masakan. Asrama terlihat sepi tanpa ada yang berlalu-lalang. Entah ada dimana para penghuninya malam itu. Jika ada yang datang, ketiganya tidak tahu akan bereaksi bagaimana juga sebenarnya.


Butuh waktu setidaknya tiga puluh menit untuk menyajikan semua makanan dengan sempurna. Mereka membawa makanan tadi ke meja makan pantry setelah mencuci semua alat masak yang digunakan. Sambil menatap cakrawala tertabrak bintang dengan dikawal oleh sang Dewi malam.


Suasana hangat menyelimuti ketiganya, membawa kedamaian juga kenyamanan yang dirindukan. Ignacia tidak henti-hentinya tersenyum mendengar apa yang teman-temannya bicarakan. Sesekali dia juga merespon jika diminta. Selebihnya hanya mendengarkan karena kekurangan energi. Bahkan meksipun makanannya sudah habis, ketiganya masih mengobrol dan menganggap tempat makan mereka ini sebagai rumah sendiri.


"Kuharap kita bisa melakukan ini lagi setelah lulus nanti. Jika kalian punya waktu, hubungi saja aku," pesan Danita sebelum mengambil kembali lauk yang dibuat Ignacia.


"Tentu. Aku akan menunggu kabar jika kalian ada waktu juga untuk bertemu setelah lulus. Bagaimana menurutmu Ignacia?" Ignacia mengangguk setuju. Kedua temannya terkekeh kadsna melihat Ignacia yang mengangguk sambil memakan suapan kesekiannya.


"Baiklah kalau begitu kita memiliki janji untuk bertemu. Akan kumasukkan ke daftar kegiatan setelah kelulusanku." Nesya dan Ignacia saling pandang sebentar. Kelihatannya Danita merencanakan banyak hal hingga membuat daftar.


Nesya harus pamit pulang sebelum larut. Besok masih ada ujian yang menunggu. Ignacia dan Danita mengantar teman berkacamata mereka hingga gerbang asrama. Menunggu hingga temannya mendapatkan tumpangan pulang sebelum kembali masuk. Danita menggandeng tangan Ignacia sepanjang jalan kembali, berkata jika hari ini menyenangkan.


Setelah bersih-bersih, Ignacia mengirimkan pesan pada Rajendra sesuai permintaan. Ada perasaan mengganjal ketika Ignacia selesai mengirimkan pesan. Namun si gadis berambut panjang ini tidak terlalu menghiraukan. Yang penting Rajendra akan menghubunginya setelah ini.


Benar saja, panggilan datang dari Rajendra sekitar 10 menit setelah pesan tadi dikirim. Saat panggilan tersambung, Rajendra langsung menyampaikan tujuannya.


"Tahun ini kita tidak bisa merayakan anniversary lagi. Aku tidak bisa lagi datang di lain waktu. Maafkan aku. Tapi kita masih bisa bertemu ketika liburan. Aku akan menemui kamu dan kita pulang bersama. Bagaimana?"


Rajendra tidak membiarkan Ignacia memotong. Langsung ia beberkan semua informasi miliknya. Sekuat tenaga ia menyembunyikan rasa bersalah. Logikanya terlalu kuat hingga Ignacia tidak bisa membalas apa-apa.


"Tidak, kamu tidak perlu datang. Kita bisa bertemu lain kali. Jangan khawatir, aku tidak masalah." Ignacia tidak menghilangkan senyuman yang terbit dari sudut bibirnya. Ignacia sudah punya rencana untuk mengejutkan kekasihnya di hari kepulangan keduanya. Anggap saja sebagai perayaan hari jadi yang kesekian.


"Maaf aku mengecewakan kamu lagi. Tapi aku benar-benar tidak bisa pergi dilain hari liburan. Sekolah dan pekerjaanku disini tidak bisa ditinggalkan."


"Tidak masalah. Aku bisa menunggu. Lagipula liburan sudah akan datang." Ignacia sekarang menyadari betapa sibuknya kekasihnya ini. Kupon hadiah ulang tahun Ignacia saja tidak datang. Bagaimana bisa Ignacia melupakan hari ulang tahunnya sendiri? Tidak apa, Ignacia tidak butuh hadiah lagi.


"Terima kasih sudah mau mengerti, Ignacia."


"Tidak masalah. Bagaimana harimu, Rajendra? Semuanya lancar? Aku merindukanmu." Ignacia membawa ponselnya mendekati rak. Berniat meletakkan buku yang baru ia beli. "Aku? Hari ini aku datang ke acara penandatanganan buku Nona Cream. Aku bahagia sekali karena ternyata Nona Cream mengingatku. Mungkin aku salah satu penggemar yang beruntung karena diingat oleh idolanya."


Ignacia mengapit ponselnya dengan kepala juga bahu karena harus menggunakan tangannya untuk mencari cela di jajaran buku miliknya. "Aku melihat banyak laki-laki yang mengantarkan kekasihnya ke acara itu namun tidak ikut masuk ke dalam. Aku jadi mengingatmu, Rajendra."


"Apa kamu lupa? Kamu pernah pergi ke toko buku bersamaku. Tidak, bukan acara penandatanganan buku. Oh ya tadi masakanku berhasil. Nesya dan Danita menikmatinya. Ini pertama kalinya aku memasak untuk orang lain, jadi aku agak gugup. Tapi rupanya rasanya enak sekali."


"Haha baiklah akan kubuatkan juga lain kali. Jika rasanya tidak sesuai, tolong jangan marah-marah padaku."


Mata Ignacia menatap jam di dinding, dirinya masih bisa mengobrol lama dengan Rajendra sebelum waktu tidur. Ignacia membawa ponselnya kembali dengan tangan, duduk di sisi tempat tidur masih dengan meneruskan pembicaraan.