Beautiful Monster

Beautiful Monster
Pergi Berenang



Ignacia sudah duduk manis di teras. Dengan tas ransel kecil di pundak, ia siap pergi berenang. Ignacia sudah meminta izin jika akan pergi lagi hari ini, namun sempat ditentang oleh ayahnya. Katanya Ignacia terlalu sering keluar Minggu ini. Sekarang akan pergi berenang bersama teman. Entah siapa temannya.


Mama Ignacia setuju saja jika anaknya akan pergi, alasannya karena Ignacia pasti juga butuh bersenang-senang mumpung masih muda. Berenang juga olahraga yang bagus. Siapa tahu nanti anaknya menjadi lebih cerah setelah mengabiskan waktu untuk hal-hal yang ia inginkan.


Di teras, Ignacia dapat dengan jelas mendengar suara sepeda motor Rajendra yang kian mendekat. Ia tidak mungkin salah. Daan benar saja, laki-laki tampan yang sudah Ignacia tunggu-tunggu akhirnya datang. Baru dua hari yang lalu keduanya bertemu namun rasanya sudah kembali rindu saja. Pasti ada yang salah dengan hati Ignacia akhir-akhir ini.


Kolam Renang yang akan mereka kunjungi merupakan salah satu tempat wisata yang paling populer di kota sebelah. Rajendra memilih tempat ituu karena fasilitas dan penampakannya lebih baik daripada yang ada di kota mereka. Juga untuk memastikan orang tua Ignacia tidak menangkap basah anaknya berkendara dengan seorang laki-laki.


Jarak tempuhnya sekitar tiga puluh menit, lumayan dekat. Di waktu yang panjang itu Rajendra menceritakan soal kolam renang yang akan mereka datangi ini. Katanya ada berbagai spot foto yang instagramable, salah satunya pajangan payung- payung di atas kolam. Ignacia akan menantikan wujud spot foto yang dikatakan Rajendra itu.


Tempat yang akan mereka tuju berada di kaki gunung, hawanya akan lebih sejuk ketika sudah hampir sampai. Sambil terus berkendara, Ignacia bisa memuaskan pandangan dengan melihat pepohonan hijau nan rindang di sekitar jalan. Beruntung jalan yang mereka lalui cukup ramai, jadinya tidak menyeramkan.


"Kamu punya waktu hingga berapa lama, Ignacia?" Rajendra bertanya.


"Sampai sore. Sampai kita selesai." Ignacia meletakkan dagunya di atas bahu Rajendra, "Kenapa kamu bertanya?"


"Tidak apa. Aku hanya memastikan saja."


Selang beberapa lama, akhirnya keduanya berhasil sampai di kolam renang. Tempatnya ramai oleh pengunjung yang kebanyakan keluarga. Namun tidak sedikit Ignacia melihat beberapa pasangan masuk ke dalam. Rajendra membawa gadisnya masuk setelah memastikan sepeda motornya terparkir dengan baik.


Saat pertama kali masuk, keduanya di sambut dengan keberadaan kolam renang khusus untuk dia yang pandai berenang. Kedalamannya cukup berbahaya bagi anak-anak dibawah sepuluh tahun, sekitar dua meter. Di atas kolam renang terdapat peringatan agar menjauhi kolam jika tidak bisa berenang dengan baik dan di bahwa umur.


Ada beberapa Gazebo di pinggir kolam yang memiliki desain unik seperti semi tradisonal. Membuat suasana di kolam renang semakin menyatu dengan alam. Cocok sekali dengan pemandangan gunung yang indah dari kejauhan yang ada di sebelah Timur sana.


Di kolam renang dewasa itu lumayan sepi karena hanya ada beberapa orang yang menggunakannya. Lebih damai dan tenang daripada kolam lain yang ada di balik sekat pendek disana. Beberapa kolam dipisahkan dengan sekat agar tahu mana yang diperbolehkan untuk anak-anak dan mana yang tidak. Katanya juga ada kolam renang untuk remaja juga. Mungkin sedikit lebih dalam untuk bagian anak-anak namun tidak sedalam kolam dewasa.


Bukan tempat itu yang akan Rajendra tunjukkan. Jika terus melangkah melewati jalan menuju kolam renang selanjutnya, mereka akan sampai di kolam yang Rajendra ceritakan pada Ignacia di jalan tadi. Kolam yang memiliki hiasan payung warna-warni yang menghalangi sinar matahari. Memang tidak sepenuhnya, namun tetap saja cantik.


Di sekitar kolam remaja ini juga terdapat beberapa Gazebo seperti di depan. Bedanya disini ada yang ukurannya besar dan kecil. Ignacia yakin jika yang besar itu pasti untuk keluarga. Rajendra mengedarkan pandangan, mencari gazebo kecil kosong yang bisa keduanya gunakan.


"Ayo pergi kesana," ajak si laki-laki. Ignacia yang masih sibuk melihat-lihat menurut saja ketika tangannya di tarik menuju suatu tempat. Di samping beberapa Gazebo terdapat pepohonan yang berbunga. Beberapa kelopak bunganya berguguran dan membuat suasana berbeda. Ada juga pohon buah ketika Ignacia melewati jalan untuk sampai disini. Di dekat gazebo kolam dewasa di depan.


"Kamu pergi saja berganti pakaian, Ignacia. Kita bergantian saja." Rajendra duduk lebih dulu, lalu meletakkan tas di tangannya. "Kamu tahu dimana tempat gantinya kan?" Tadi keduanya sempat melewati tempat ganti sebelum sampai disini. Tepat di ujung kolam renang yang tidak terlalu jauh dari tempat keduanya berada sekarang.


Tanpa basa-basi Ignacia langsung pergi menuruti ucapan kekasihnya. Omong-omong apa tidak masalah memakai baju renang yang ketat itu? Jujur saja Ignacia lebih suka menggunakan baju santai untuk bermain air daripada baju renangnya. Tubuhnya bisa terlihat. Semoga Rajendra tidak marah dengan penampilannya setelah ini.


Sambil menunggu, Rajendra membuka ponselnya jika saja ada pesan dari ibunya. Setelah beberapa lama tenggelam dalam sosial media, akhirnya seseorang muncul di hadapan Rajendra. Seorang gadis berambut hitam panjang tergerai, memiliki wajah cantik dan mata coklat.


"Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat aneh? Sudah lama aku tidak memakai baju ini." Ignacia bertanya dalam gugup.


Baju renang yang ia gunakan tidak seketat yang Ignacia pikir. Baju renang hitam berlengan panjang dan bagian celananya hanya sampai di atas paha. Menampakkan paha mulus Ignacia yang putih bersih. Rajendra ingin cemburu jika saja ada laki-laki yang menatap gadisnya dalam pakaian ini. Tapi apa boleh buat? Gadisnya tampak sangat menggemaskan.


"Kamu cantik. Kalau begitu aku pergi sebentar ya."


Giliran Ignacia yang duduk. Si gadis mengedarkan pandangan, melihat keramaian sekitar. Beberapa anak kecil dari kolam renang sebelah berlari pelan ke tepi kolam remaja. Mereka cukup tinggi jadi tidak khawatir akan tenggelam. Salah satu sisi kolam tidak sedalam sisi lainnya. Salah satu dari mereka memilih melompat ke dalam air, mengejek teman lain yang ragu-ragu menyentuh air. Iseng sekali dia.


Angin berhembus pelan, menggerakkan rambut yang sengaja Ignacia biarkan tergerai. Mungkin sebaiknya nanti ia ikat sedikit rambutnya agar tidak mengganggu. Beberapa pengunjung lain datang, satu keluarga yang langsung berjalan ke arah kolam anak-anak bersama seorang gadis kecil. Gadis itu tampak bersemangat, menarik-narik tangan ayahnya yang sedang ia gandeng agar berjalan lebih cepat.


Ibunya menyusul dari belakang, membawa tas dan memberitahu anaknya untuk berhati-hati ketika melangkah. Beberapa nasihat seperti jangan berlarian di sekitar kolam juga turut diberikan. Kelihatannya menyenangkan bergandengan dengan ayah yang membawa pelampung berbentuk bebek di tangan lainnya. Gadis itu pasti beruntung sekali.


Cepat-cepat Ignacia membuyarkan tatapannya pada tubuh kekasihnya. Rajendra pasti sadar jika Ignacia tertegun menatapnya beberapa saat. Karenanya ada senyuman kecil yang muncul di sudut bibir wajah si tampan. "Apa aku pantas memakai baju ini? Apa sebaiknya aku lepaskan saja?"


"Tidak jangan dilepas!" Ignacia tidak ingin ada yang melihat tubuh kekasihnya. Apalagi ada banyak remaja perempuan di sekitar sini. "Kamu cocok menggunakan baju itu. Sangat cocok. Jangan dilepaskan di tempat umum begini." Ignacia jadi salah tingkah sendiri. Setidaknya ucapannya berhasil membuat Rajendra lebih aman.


Meskipun udara di kota ini sedang dingin karena berada sedikit di dataran tinggi, airnya tidak sedingin yang Ignacia bayangkan. Rajendra bilang kolam renang ini airnya dialirkan langsung dari pegunungan. Karenanya air disini terasa dingin namun menyegarkan. Bebas dari bahan kaporit hingga nyaman dan aman untuk semua pengunjung terutama anak-anak.


Ignacia duduk di tepian kolam, menatap ke arah Rajendra yang sudah mulai berenang setelah pemanasan. Ingin sekali rasanya bergabung, meksipun tidak pandai berenang. Apa mungkin Ignacia harus menunggu Rajendra selesai menyegarkan diri lalu baru ia repotkan untuk mengajarinya berenang?


"Ignacia," Rajendra memanggil, perlahan ia berenang mendekat tepian kolam. "Kenapa kamu tidak ikut berenang? Apa airnya masih terasa dingin untukmu?"


Si gadis menggeleng, "Aku tidak bisa berenang."


Mendengar ucapan gadisnya, Rajendra tersenyum. Dia meminta Ignacia turun dan mengajarkan beberapa cara berenang yang baik. Kata Rajendra kolam ini cocok untuk pelajaran berenang karena tidak terlalu rendah dan tidak terlalu dalam. Nanti jika sudah pandai, Rajendra ingin mencoba membawa Ignacia ke kolam di depan.


Rajendra terus memberikan tangannya pada sang kekasih , mencegah Ignacia tenggelam dalam pelajaran dadakan hari ini. Dalam beberapa detik, Rajendra terhanyut dengan wajah basah Ignacia. Tanpa ia sadari pelajaran keduanya hampir menabrak seorang gadis yang berenang di belakang Rajendra. Ignacia segera berdiri dan menyeka wajah.


"Bisa kita berhenti sebentar? Tempat ini semakin ramai." Pinta Ignacia masih dengan menggenggam pergelangan tangan kekasihnya. Ketika sampai di tepian kolam, Rajendra pamit ke suatu tempat. Katanya ia akan pergi sebentar, dimintanya Ignacia agar tidak pergi kemanapun.


Kembali si gadis mengedarkan pandangan sembari menunggu kekasihnya kembali. Pemandangan yang sama kembali. Gadis kecil yang tadi dibawa ke kolam sebelah kini berada di pinggiran kolam yang hadapan Ignacia. Sialnya kenapa gadis itu memiliki wajah putih seperti Ignacia kala seusianya? Memang tidak mirip, tapi Ignacia layaknya melihat dirinya sendiri di masa lalu.


Pelampung bebek, tepian kolam, peringatan untuk berhati-hati. Gadis yang tampak ragu itu berpegangan pada sang ibu yang duduk di sebelahnya. Antara ingin menerima uluran tangan ayahnya yang sudah menyiapkan pelampung di sebelahnya atau hanya bersama ibunya menatap ayahnya berenang kesana kemari. Dia terlalu takut di kolam yang lebih dalam daripada tinggi tubuhnya.


Ucapan ayahnya untuk meyakinkan gadis itu tidak terdengar oleh Ignacia. Jaraknya terlalu jauh, ditambah dengan keadaan sekitar yang ramai dengan teriakan bahagia. Pada akhirnya gadis itu menerima uluran tangan ayahnya. Gadis itu ditemani ayah dan ibunya berkeliling kolam. Ayahnya berenang sementara ibunya berpegangan pada sang suami juga pelampung anaknya.


Wajah bahagia gadis itu terlihat sangat jelas. Ibunya ikut tersenyum gemas melihat sang anak. Ketika ayahnya berhenti, tangannya usil mengerjai si gadis kecil dengan cipratan air. Perang air dimulai dengan sang ibu berpihak padanya untuk membalas perilaku sang ayah.


"Ignacia," panggil seseorang membuyarkan tatapa Ignacia pada keluarga bahagia tadi. Rajendra mengulurkan tangan untuk membantu Ignacia berdiri. Dari bau-bau yang ada di belakang, sepertinya Rajendra membawa makanan. Ia langsung diberikan handuk kering oleh Rajendra untuk menutupi tubuhnya yang masih basah.


Di gazebo yang keduanya tempati, sudah ada dua mi cup yang tengah dimasak. Pasti ini alasan kenapa laki-laki ini pergi tadi. Rajendra bertanya apa yang membuat kekasihnya melamun tadi, kelihatannya sangat serius hingga Rajendra baru bisa mendapatkan perhatiannya setelah beberapa kali memanggil. Ignacia tidak mungkin bilang jika dirinya ingin bermain dengan kedua orang tuanya seperti gadis tadi. Tidak cocok untuknya yang sudah beranjak dewasa.


Mi akhirnya selesai dimasak, Rajendra mengaduk salah satunya agar bercampur dengan bumbu. "Setelah ini kamu ingin bermain lagi? Disini ada kolam ombak juga. Mungkin kamu ingin mencobanya sebelum kita selesai." Mi cup tadi ia berikan pada Ignacia, "Sudah siap, makanlah."


Gadis di sampingnya menyambut mi cup yang disodorkan padanya dengan baik. Mengangguk untuk ajakan Rajendra barusan. Bermain air mungkin bisa membuatnya lupa soal apa yang dilihatnya barusan. Di tengah makan, Rajendra sedikit memperbaiki posisi handuk yang ada di bahu Ignacia. Seseorang menatapnya dengan aneh tanpa si gadis sadari katanya.


Ignacia tidak kalah beruntung dengan gadis tadi sebenarnya. Di sampingnya sudah ada laki-laki baik yang bisa menjaganya seperti ayah gadis tadi. Ada Rajendra yang bisa menggandengnya kala berjalan di samping kolam, dia melindungi Ignacia dari tatapan tidak menyenangkan, bahkan membawakan makanan untuk menghangatkan diri.


Rajendra merangkul Ignacia menuju tempat kolam ombak. Ignacia diperingatkan untuk tidak jauh-jauh darinya demi keamanan bersama. Laki-laki tampan ini tidak ada habis-habisnya memastikan kekasihnya baik-baik saja dan jauh dari hal-hal yang tidak diinginkan. Contohnya seseorang yang terlihat berniat buruk.


Beberapa kali Ignacia dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Bahkan sejak tadi masih ia rangkul gadis yang lebih pendek dari Rajendra ini. Ketika peringatan ombak datang, Rajendra berubah menggenggam tangan Ignacia. Diingatkan lagi untuk bertahan. Ombaknya tidak begitu kuat, jadi seharusnya tidak berbahaya.


Ombak dilepaskan, tampak sudah gelombang besar yang muncul dari depan sana. Mirip ombak yang pernah Ignacia lihat ketika bermain di pantai terakhir kali. Begitu biru dan tampak menakjubkan. Tepat beberapa detik sebelum ombak mengenai Ignacia, tubuhnya kembali di rangkul oleh laki-laki di sebelahnya. Mungkin ada rasa tidak aman saat itu.


Ignacia tidak kalah beruntung dari gadis kecil tadi. Ada seseorang yang juga khawatir padanya seperti ayah gadis itu yang khawatir anaknya tenggelam meskipun sudah memakai pelampung. Ada Rajendra di sampingnya yang akan memastikan ombak di depan sana tidak menyakitinya sedikitpun.


"Ombaknya datang," ingat Rajendra terakhir kali.