Beautiful Monster

Beautiful Monster
Panggilan Singkat



"Berjalan-jalan di tempat yang memiliki kenangan masa lalu memang yang terbaik," senang Bahri dengan puasnya.


Keduanya tengah duduk di sebuah kursi taman dengan pemandangan kota siang hari. Awan datang menutupi langit sejak pagi hingga membuat kota lebih sejuk. Kelihatannya akan hujan, tapi bukan awan hujan yang datang.


"Rajendra disana sedang apa? Apa dia makan dengan baik? Dia tidak terluka kan disana?"


Tiba-tiba pikiran Ignacia melayang pada Rajendra. Laki-laki itu benar-benar tidak memberikan kabar apapun. Dikiranya tidak ada hati yang tengah menunggu kabarnya? Kenapa dia harus begitu sibuk sampai-sampai tidak memberikan pesan?


Atau sinyalnya disana terlalu buruk?


"Ignacia," Bahri memanggil untuk kesekian kalinya.


Tidak tahu apa yang sedang gadis berambut panjang ini pikirkan, tapi kelihatannya bukan hal yang ringan. Tatapannya kosong ke depan, air wajahnya datar seolah arwah jahat bisa mengambil tubuhnya sewaktu-waktu.


"Apa?" Respon Ignacia cepat begitu kesadarannya kembali.


"Kau tidak bisa melamun di sembarang tempat. Bagaimana jika kau kerasukan hah?" Canda Bahri. Tapi tatapannya seperti khawatir pada pikiran temannya. "Kau memikirkan soal Rajendra? Kenapa tidak hubungi saja dia? Toh dia masih kekasihmu. Kau bisa hubungi dia sesukamu."


Ignacia menunduk, tersenyum kecut. "Aku bisa dimusuhi para anggota MPK nanti jika terus menganggu ketuanya. Kau tahu, kadang aku ingin menganggunya lewat telfon. Aku sangat ingin mendengar suara Rajendra. Terdengar kekanak-kanakan?"


"Itu namanya rindu. Tidak apa-apa. Semua orang pasti pernah merasakan rindu. Ayah dan mamamu saja pasti pernah saling menelpon jika berjauhan saat masih awal-awal menikah."


Bahri meletakkan tangannya ke sandaran kursi, "tidak apa-apa jika ingin menelfon kekasihmu. Tapi kirim pesan dahulu. Agar Rajendra bisa bersiap-siap dan tidak mengecewakanmu."


"Agar dia memilih waktu yang tepat?" Bahri mengangguki pertanyaan Ignacia.


Mengirimkan pesan untuk meminta izin memang yang paling penting agar tidak ada salah paham. Namun Ignacia terlalu takut untuk meminta. Rajendra mungkin akan menolak.


"Kau ini," Bahri merangkul bahu Ignacia, "hubungan itu tidak sesulit yang kau pikirkan. Kau terlalu khawatir karena laki-laki berengsek yang kau temui di masa lalu. Mantanmu itu memang orang terburuk yang pernah ada. Berbeda dengan kekasihmu. Rajendra itu sangat menyukaimu, Ignacia. Dia berbeda dengan mantanmu."


Ignacia segera menjauhkan dirinya dari rangkulan Bahri. Agak tidak nyaman jika laki-laki ini menyentuhnya.


"Sudah kucoba untuk memberikan semua hatiku untuk Rajendra. Aku sudah sangat percaya jika dia tidak akan meninggalkan aku seperti mantanku. Tapi kenapa Rajendra terus meninggalkan aku dan membuatku kesepian?"


"Sudahlah. Setelah dia selesai, dia akan datang padamu."


"Kapan semua ini selesai?"


...*****...


Bahri pergi meninggalkan Ignacia di sebuah meja. Keduanya berpindah ke restoran kaki bukit. Perut keduanya sudah ingin diisi dengan semangkuk ramen yang terkenal dengan kuahnya yang sangat sempurna. Tentu Ignacia yang merekomendasikan tempatnya. Dia pernah datang dengan Nesya sebelumnya.


Hari tanpa ponsel ini menyenangkan. Ignacia tidak harus mengecek apakah Rajendra mengirimkan pesan atau tidak. Membawa ponsel sama saja dengan cari masalah dengan hati. Pesan dari Rajendra tidak datang, yang ada hanya rasa penasaran yang memuakkan.


"Dari aromanya saja sudah enak," bisik Bahri sambil duduk di depan Ignacia, "kenapa kau tidak membawa ponsel segala? Tidak ada yang bisa kau lakukan sekarang."


"Sudahlah, aku tidak peduli. Kukatakan pada Athira untuk menghubungi kau jika ada sesuatu."


"Dasar merepotkan," ejek Bahri terang-terangan.


Ramen keduanya datang setelah lima menit menunggu. Bahri memesan dengan rasa pedas ringan karena Ignacia katanya sedang ingin makan pedas. Awas saja jika nanti mengeluh sakit perut. Mana pernah anak ini makan makanan pedas. Apalagi untuk ramen yang masih mengepulkan asap.


"Kau suka telurnya?" Bahri bertanya sambil menatap Ignacia. Tangannya bergerak untuk memberikan telur miliknya pada gadis di hadapannya begitu mendapatkan anggukan. "Kau terlihat tidak nyaman seharian. Kukira kau sedang lapar dan sebagainya. Habiskan. Setelah ini kita pulang."


Ignacia mematung di posisinya yang menyeruput mie. Dia tidak tahu kenapa Bahri menjadi sangat perhatian. Ada angin darimana hingga laki-laki ini bersikap manis? Ignacia mengira jika kekasih Bahri rupanya dapat mengubah sikap Bahri yang dahulu agak jahil menjadi lebih lembut.


"Kenapa diam saja?"


Ignacia tertangkap basah tengah mematung. Segera melanjutkan aktivitas makan seolah tidak terjadi apapun. Sebaiknya dia tidak berpikir macam-macam. Dia hanya ingin pergi dengan seorang teman. Bahri dan dirinya sudah dekat sejak lama, tidak mungkin ada perasaan.


"Oh ya bagaimana kabar Athira?"


Obrolan baru datang setelah keduanya selesai makan. Ditemani makanan penutup berupa gelato, keduanya saling melempar pertanyaan. Dimulai dengan Bahri dengan topik adik perempuan Ignacia.


"Dia baik-baik saja. Dia semakin sering menggambar dan melukis daripada sebelumnya. Sepertinya dia akan menjadi pelukis yang baik nantinya. Lalu bagaimana kabar Ibumu, Bahri? Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabarnya."


"Ibuku baik-baik saja. Tapi sering pergi untuk bekerja dan semacamnya. Setelah nenekku meninggal, ibuku hanya ingin membuatku senang dengan memenuhi semua kebutuhan yang kuinginkan. Padahal, aku tidak memerlukan banyak hal."


Ibu Bahri itu sudah lama ditinggalkan oleh suaminya. Jadi kehilangan seorang suami dan ibu pasti sangat berat untuk wanita yang seusia dengan mama Ignacia itu. Bahri hanya tinggal berdua dengan ibunya setelah neneknya meninggal.


Ignacia jelas tahu bagaimana rasanya ditinggalkan sendirian oleh orang tua untuk bekerja. Bahkan ditinggalkan Rajendra saja sudah tidak terhitung berapa kalinya. Padahal dahulu Ignacia mengira jika Rajendra adalah jawaban atas pertanyaan kenapa dia selalu merasa sendirian.


Ignacia mulai menerka-nerka apakah ditinggalkan ibunya bekerja adalah salah satu hal yang membuat Bahri bergonta-ganti pasangan setelah putus beberapa bulan. Pikirkan aneh, mana mungkin Bahri begitu.


"Tapi dari yang kulihat di media sosialmu, yang kau lakukan hanya bermain dengan teman-temanmu, Bahri. Jika tidak minum kopi bersama di teras rumah, mungkin bersepeda ke tempat-tempat makan dan nongkrong."


"Di rumah tidak ada siapapun selain aku. Jadi lebih baik aku pergi keluar saja. Mencari udara segar."


...*****...


Athira sudah menunggu di depan pintu ketika Ignacia akan memasukkan sepeda motornya ke dalam rumah. Dia ingin diantar ke rumah temannya untuk mengambil sesuatu. Katanya untuk persiapan sebelum teman mereka pergi. Ignacia tidak menolak. Meminta Athira menunggu sebentar hingga dia selesai melepas penyamaran.


"Kakak menikmati jalan-jalan dengan Kak Bahri?" Athira iseng bertanya ketika sepeda motor kakaknya berhenti di lampu merah.


Ignacia mengangguk, tapi kelihatannya dia tidak yakin. Dia hanya merasa senang, tapi ada yang mengganjal. Rencananya berhasil, tapi hatinya terasa sakit.


Athira sedang membaca isi kepala kakaknya?


"Iya, salahku. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Kak Rajendra mengirimkan pesan. Sebaiknya kakak lihat dan membalasnya nanti. Kakak pasti akan sangat menyukainya."


Lampu kembali hijau. Sepeda motor Ignacia melaju menelusuri jalanan kota menuju rumah teman si adik. Kira-kira pesan apa yang akan diterima Ignacia? Kebetulan sekali Athira membawakan ponsel kakaknya sebelum pergi tadi. Jadinya Ignacia dapat melihat pesan yang datang sambil menunggu.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Aku ingin menelfonmu, aku merindukanmu


| Jika boleh, aku ingin menghubungimu


Setelah sekian hari menghilang tanpa kabar seolah masuk ke dalam goa untuk bertapa, akhirnya Rajendra kembali ke peradaban dunia. Mengirimkan pesan dengan kedua jari yang mungkin selama ini sibuk digunakan untuk melakukan hal lain.


Laki-lakinya kembali. Laki-laki kesayangan Ignacia, dia kembali.


...*****...


Ignacia duduk di dekat jendela kamarnya. Memandangi langit yang bersih tanpa awan. Matanya dapat menangkap dengan jelas serbuk bercahaya yang dimiliki cakrawala di sekitar sang Luna. Mungkin karena perasannya begitu senang, jadinya langit seperti ikut senang untuknya.


"Halo," suara Rajendra. Suara yang dirindukan Ignacia.


Ignacia tidak bisa menahan senyumannya ketika pada akhirnya bisa mendapatkan perhatian Rajendra. Pada akhirnya dia bisa mendapatkan kembali kekasihnya dari kesibukan yang sebentar lagi akan berakhir. Ini sudah hari keenam. Besok Rajendra akan pulang dan beristirahat.


"Rajendra, bagaimana kabarmu? Semuanya baik-baik saja disana?" Ignacia bertanya.


"Aku baik. Bagaimana denganmu, Ignacia? Aku tidak sedang menganggumu dengan semua novelmu kan?" Ada nada candaan dari Rajendra. Rupanya laki-laki ini masih ingat dengannya.


"Tentu saja aku baik-baik saja. Hari ini aku sudah menyelesaikan novelku. Tapi sebentar lagi aku akan membela novel lain. Oh ya, besok kamu pulang pukul berapa? Kamu akan membutuhkan banyak tidur begitu sampai di rumah."


"Kelihatannya begitu. Aku masih tidak tahu kapan akan pulang. Tapi jika mengikuti jadwal, sekitar pukul satu acaranya sudah selesai. Ignacia, kuharap kamu bisa ada disini sekarang. Disini kamu bisa melihat bintang lebih terang dan bersinar."


Tanpa datang pun Ignacia sudah dapat merasakannya. Tidakkah pemandangannya hampir sama seperti yang sedang dilihatnya melalui jendel kamar? Posisinya yang tengah duduk di atas karpet, menghadap ke jendela, memandangi cakrawala berwarna dominan hitam namun cerah.


"Di kota juga cerah, Rajendra. Kuharap bisa berkeliling kota malam denganmu nanti. Segeralah pulang, berhentilah sibuk. Aku ingin bersamamu lebih lama lagi."


Rajendra terkekeh di ujung panggilan. Tidak menduga serangan manja dari Ignacia malam-malam begini. "Maaf karena aku terlalu sibuk, Ignacia. Ayo pergi lain kali. Omong-omong besok kamu tetap akan pergi dengan mamamu? Apa kamu yakin bisa menanganinya? Kamu tidak pernah pergi sendiri."


"Aku akan mencobanya. Meskipun aku belum pernah pergi, aku tetap akan mencobanya. Kamu harus bangga padaku jika nanti aku bisa pulang dengan selamat."


Ignacia terkekeh, menatap jam di dinding dan kembali ke jendela. "Kamu tidak akan tidur? Kamu pasti membutuhkan banyak energi untuk kembali beraktivitas besok."


"Aku tidak bisa tidur jika tidak mendengar suaramu malam ini. Seminggu itu sangat lama. Apalagi aku sungguh jahat tidak mengirimkan pesan apapun."


"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa. Omong-omong kamu sedang ada dimana sekarang? Teman-temanmu tidak sedang mendengarkan percakapan kita 'kan?" Kedengarannya sepi, tapi bisa saja ada seseorang di sebuah sudut.


"Aku ada diluar area. Aku mencari udara segar. Sinyalnya tidak begitu bagus di area ldks. Jadi aku menyelinap pergi sebentar agar lancar berkomunikasi denganmu. Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja. Apa kamu sudah mengantuk? Maaf menelfonmu malam-malam begini. Aku ingin tahu apa kamu besok akan benar-benar pergi."


"Aku akan tetap pergi besok, Rajendra. Jangan khawatir."


"Aku selalu bisa percaya padamu, Ignacia. Jika ada masalah, kamu harus minta bantuan orang lain, mengerti? Jangan menjadi terlalu pemalu juga berada jauh dari rumah. Toh kamu tidak akan bertemu mereka lagi."


"Kamu khawatir karena aku biasanya hanya bergaul dengan Nesya di sekolah? Aku pergi dengan mamaku, Rajendra. Mamaku pandai bersosialisasi dan bertanya pada orang lain. Ada banyak alasan kenapa aku memilih mamaku pada akhirnya."


"Haha kamu memang hebat."


Pembicaraan masih terus berlanjut hingga hampir larut. Rajendra lupa dengan rasa lelahnya setelah seharian menjadi panitia, di sisi lain Ignacia sama sekali tidak menyadari butiran bening yang menetes dari mata sebelah kanan. Air mata bahagia yang sudah lama tidak datang.


Dari balik daun pintu, seseorang tengah mendengar sebagian pembicaraan kakaknya. Niatnya tadi untuk meminjam ikat rambut, tapi sebaiknya dia datang lagi besok. Harus dia tahan rasa tidak nyaman dari rambutnya yang dibiarkan tergerai. Salahnya sendiri karena tidak sengaja menghilangkan ikat rambut milik ketika berada diluar.


"Kakak itu aneh," gumam gadis itu sebelum melenggang pergi.


"Kamu belum tidur Athira?" Suara mamanya mengagetkan yang akan kembali ke kamarnya. Wanita yang sudah mengantuk itu berjalan mendekati anak keduanya, "kenapa berkeliaran di malam hari? Seharusnya kamu sudah tidur sejak tadi."


"Aku ingin meminjam ikat rambut pada Kak Ignacia. Tapi rupanya Kak Ignacia sedang melakukan panggilan dengan pacarnya. Mama sendiri, kenapa masih terbangun?"


"Mama sepertinya meninggalkan cangkir di meja teras. Baru ingat sebelum tidur. Sebaiknya kamu segera tidur, Athira. Anak perempuan tidak boleh bangun terlambat di pagi hari." Anak keduanya menurut saja. Berjalan ke arah kamarnya dan segera menutup pintunya dengan sempurna.


Sebelum pergi ke teras untuk mengambil cangkir seperti yang dikatakannya, wanita yang mengantuk tadi mendekati kamar si anak pertama. Benar apa kata Athira. Anak gadisnya sedang dalam drama-drama percintaan yang dibuatnya dengan calon menantu kesayangan.


"Semoga mereka tidak tidur terlalu malam." Mama Ignacia paham dan mengerti betul dengan apa yang anaknya lakukan. Biarkan saja sepasang kekasih itu menikmati waktu mereka.


Ignacia harus mengakhiri panggilan sebelum Rajendra tidur semakin larut. Dia tidak bisa menahan kekasihnya untuk beristirahat dan bersiap untuk hari terakhirnya besok. Padahal Rajendra masih tidak ingin memastikan panggilan.


"Sudahlah, kita harus tidur. Sampai jumpa di hari sekolah, Rajendra. Pulanglah dengan selamat," putus Ignacia kemudian mematikan panggilan secara sepihak. Jika tidak begitu, Rajendra mungkin tetap akan menolak.


Di tengah keheningan kamarnya, hati Ignacia kembali merasa tidak nyaman. Ini rasa bersalahnya karena sudah pergi dengan Bahri untuk pergi ke bukit waktu itu.


"Jika kamu tahu apa yang kulakukan, kamu pasti akan sangat marah dan tidak mau bicara denganku, Rajendra. Tapi aku ingin membuat Bahri tidak kesepian seperti aku. Aku tahu bagaimana rasanya ditinggalkan sendiri. Aku ingin membantunya."


"Meskipun itu artinya aku sudah membuatmu kecewa."