
Ada banyak penundaan soal rencana berlibur ke pantai. Awalnya dari Bahri yang tidak bisa meninggalkan kesibukan, lalu ada Rajendra yang juga sama sibuknya. Berbeda dengan Nesya juga Farhan yang tidak punya masalah apapun. Mereka berada di lembaga yang sama dan mendapatkan hari libur yang sama. Ignacia merasa tidak enak, begitu pula Danita.
Rajendra menyampaikan rasa penyesalan pada kekasihnya setiap ajakan itu ia tolak. Rajendra tidak bisa pergi ketika hari tahun ajaran baru dan akhir tahun ini. Sementara Bahri juga harus menyelesaikan masa magang dan naik pangkat menjadi pegawai tetap dan segera bersiap untuk wisuda. Nesya dan Farhan bisa menunggu. Lagipula mereka bisa menyiapkan banyak hal sebelum liburan.
Ignacia tidak marah sama sekali atau menaruh curiga kenapa kekasihnya tidak bisa ikut. Rajendra pasti sudah mengusahakan yang terbaik agar bisa ikut. "Di tahun ajaran baru selanjutnya, akan kusahakan untuk bisa mendatangi kamu, Ignacia. Lalu kita akan pergi berlibur dengan teman lainnya."
Kesibukan Rajendra tidak padat sebenarnya. Dia hanya ingin memastikan dirinya siap sebelum pergi. Jadi ada banyak penundaan bersamaan dengan kesibukan yang masih tidak Ignacia ketahui. "Tidak perlu terburu-buru. Kita bisa gunakan liburan ini sebagai reuni kita. Jangan merasa bersalah."
Rajendra beberapa kali bertemu dengan Ignacia setiap bulannya. Terus berkata jika waktu liburannya harus tertunda sekali lagi. Bahkan setelah Ignacia berhasil menyelesaikan tugas pertama sebagai Proofreader saja Rajendra masih belum punya waktu. Sementara itu Bahri sudah mendapatkan posisi yang ia inginkan. Hanya menunggu Rajendra saja.
Hubungan Ignacia dan Rajendra sudah resmi menginjak umur yang kesepuluh. Masih belum ada kejelasan soal hubungan keduanya. Ignacia tidak berpikir jika Rajendra sengaja menunda karena alasan yang tidak ia ketahui. Laki-laki ini belum mengundang Ignacia datang ke wisudanya. Apa yang laki-lakinya lakukan selama ini tanpa kejelasan?
Sepiring kue coklat Ignacia berikan pada Rajendra. Orang tua Ignacia tengah mengunjungi Athira di kos, sekali lagi Ignacia akan datang lain kali dan memilih untuk makan camilan dengan kekasihnya di rumah. Rajendra merasa bersalah karena terus menunda rencana liburan. Di samping itu Ignacia masih menunjukkan wajah bahagianya. Seperti tidak ada rasa kecewa.
"Oh ya aku melupakan sesuatu." Ignacia kembali bangkit, ia lupa dengan minuman dan juga garpu kecil untuk makan kue. Melihat Ignacia yang seolah mengalihkan emosi semakin membuat Rajendra merasa tidak enak. Setelah Ignacia kembali duduk di sampingnya, Rajendra langsung memeluk Ignacia. Gadis itu tampak membeku dan kebingungan.
"Hei kanapa? Ayo kita makan kuenya, Rajendra." Ignacia berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Meskipun terasa nyaman, ia juga berhak tahu apa yang sedang kekasihnya pikirkan. "Rajendra, apa ada yang salah? Kamu bisa mengatakannya padaku. Kenapa kamu melakukan ini?"
"Aku minta maaf. Aku kuusahakan untuk bisa datang di tahun ajaran baru. Kamu mendapatkan hari libur kan?" Ignacia melepaskan dirinya dari Rajendra perlahan. Sebisa mungkin tidak membuat kekasihnya tersinggung. Ia tatap wajah dengan alis tebal tampan di sampingnya ini. Rajendra merasa bersalah.
Padahal Ignacia membuat kue ini untuk menyemangati Rayendra. Rupanya belum cukup untuk mengalihkan topik penundaan liburan ini. Ignacia mengulangi perkataannya sekali lagi. Tidak apa-apa jika harus ditunda. Tidak ada yang terburu-buru. Ignacia sendiri juga belum meminta izin pada orang tuanya.
Mereka semua akan berlibur setelah semuanya siap, bukan setelah semuanya berhasil bebas dari tanggung jawab. Ignacia paling mengerti jika apa yang dilakukan Rajendra saat ini pasti demi sesuatu yang ia cita-citakan. Tidak ada yang salah dengan kesibukan Rajendra. Ignacia tidak kesal, teman-teman lain juga tidak keberatan.
Ignacia mengambil potongan kecil kue dari piring kekasihnya. Ia suapkab kue itu agar emosi Rajendra kembali naik. Rajendra tersenyum, Ignacia memang yang terbaik. Bergantian Rajendra yang menyuapi kekasihnya. Keduanya tekekeh pelan, rasanya aneh. Mereka belum pernah melakukan ini sebelumnya.
Hari demi hari berlalu. Ignacia tidak sempat menemui Athira karena anak itu yang datang ke rumah. Sudah waktunya liburan bagi para mahasiswa. Jadi Athira lebih memilih untuk pulang daripada tetap di kos. Saat pertama datang, Athira sejujurnya ingim mengajak kakaknya menonton film di kamar, sudah lama mereka tidak menonton bersama. Hanya saja pemandangan pertama yang ia lihat tampak tidak asing.
Kakaknya tengah duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur, ada buku di tangan dan ponsel di sebelah tempatnya duduk. Athira bisa langsung menebak jika kakaknya tengah bosan di hari libur. Atau ada pesan yang sedang ia tunggu hingga harus dialihkan dengan buku. Selalu kakak dengan buku di tangannya. Pemandangan paling lumrah dan normal.
Athira mendapatkan informasi jika kakaknya sudah mendapatkan lima permintaan soal Proofreader itu. Kakaknya tampak tidak tertekan sama sekali. Beruntung hobinya bisa digunakan sebagai cara meraup pundi-pundi rupiah. Setelah tawaran pekerjaan itu diambil, kakaknya tampak tidak lelah membaca lembar-lembar buku tebal itu.
Yang lebih muda mengetuk pintu kamar kakaknya yang terbuka lebar sebelum melangkah masuk. Kakaknya hanya melihat sekilas lalu balik membaca lagi. "Ada apa? Ada yang kau butuhkan?" Ignacia bertanya tanpa menatap. Buku yang ia baca terlalu menyenangkan untuk ditinggalkan barang sebentar.
Bukannya menjawab, Athira malah langsung duduk di samping kakaknya. Balik bertanya soal buku yang kakaknya tengah baca. Rupanya buku terbaru Nona Cream. Ignacia menyampaikan jika Nona Cream sudah tidak membuat acara penandatanganan buku lagi karena akan mulai mengerjakan series buku baru. Ignacia tampak sudah tidak sabar.
Adiknya lalu bertanya lagi, "Bagaimana hubungan kakak dengan Kak Rajendra? Hubungan kalian sudah satu dasawarsa sekarang. Kakak tidak berkencan atau semacamnya?" Athira tidak tahu kapan tepatnya kakaknya menjalin hubungan dengan pacarnya itu, jadi ia hanya menghitung lewat tahun-tahun yang telah berlalu. Benar sudah sepuluh tahun sekarang.
Kakaknya mengangkat bahu tidak tahu. Hari jadian mereka rupanya masih belum datang. Masih butuh waktu. Ignacia berharap jika dirinya bisa bertemu dengan Rajendra tepat di hari itu. Tidak ada salahnya berharap meksipun melihat dari yang dahulu, mereka tidak pernah bisa bertemu tepat di hari itu. Ignacia masih punya kesempatan untuk bertemu Rajendra apapun yang terjadi.
Athira mengintip isi buku kakaknya. Kelihatannya ada momen ketika toko utama menemukan kebahagiaan pertamanya setelah berhasil keluar dari rumah orang tuanya. Athira jadi ikut membaca. Lupakan saja bagaimana awal cerita dimulai, Athira penasaran dengan halaman selanjutnya. Ignacia menandai bukunya secara tiba-tiba.
"Danita dan Nesya mengajakku untuk pergi ke pantai. Mereka juga akan mengajak kekasih mereka, begitu juga aku." Athira menatap kakaknya, sesekali mengangguk paham. "Tapi Rajendra terlalu sibuk hingga kami hanya bisa menundanya. Bukankah menyenangkan jika tiba-tiba kami berlibur sehari sebelum hari jadi kami dan bangun ketika aku tahu jika saat itu adalah hari kesekian hubungan kami."
Ada tatapan berbinar yang terpancar dari mata Ignacia. Siapa yang tidak tertarik jika berada di posisi itu? Buku yang Ignacia baca pasti mempengaruhi imajinasinya saat ini. Kekehan lalu terdengar dari mulut Ignacia. "Jika itu jadi kenyataan, aku pasti akan menjadi perempuan paling bahagia tahun ini."
Seminggu sebelum tahun ajaran baru datang, Danita menghubungi Ignacia. Bertanya apakah mereka bisa pergi tahun ini. Danita tidak bermaksud membuat temannya tertekan. Katanya dia juga ingin mengobrol dengan Ignacia karena sekarang dirinya beristirahat sebagai relawan. Rekan-rekan relawan Danita berkata jika Danita berhak mendapatkan liburan panjang. "Karena itu aku ingin pergi liburan."
Siapa yang tidak ingin liburan ketika ada hari libur panjang di hadapan. Ignacia menghentikan aktivitas membacanya sebentar. Memberi perhatian pada panggilan suara dengan Danita. "Jika boleh, aku ingin pergi liburan bulan depan. Ada hari spesial untukmu di bulan itu." Mungkin akan ada harapan jika Ignacia memberitahu Danita.
Apa saja bisa terjadi jika Ignacia memberitahu seseorang soal rencananya. Langsung saja Danita setuju. Tidak ada rencana apapun baik darinya maupun Bahri. Soal Nesya dan Farhan jadwalnya tentu sama dengan Ignacia. "Nanti akan aku sampaikan pada yang lainnya soal masukanmu, Ignacia. Kamu berhak mendapatkan hari libur yang menyenangkan di hari spesialmu. Soal rincian harinya bisa kita bicarakan lagi."
Sebuah pesan masuk, menginterupsi panggilan suara yang dilakukan Ignacia dengan temannya. Si gadis melihat siapa pengirimnya. Senyuman terbit di sudut bibirnya. Orang yang harus bergabung dengan hati spesial Ignacia mengirimkan pesan. Rajendra bilang besok ia akan pulang dan mereka bisa kembali bertemu. Ignacia tidak sabar memberitahu Rajendra soal penetapan hari liburan baru ini.
Athira lagi-lagi datang ke kamar kakaknya. Dirinya bosan melukis, jadi sekarang tengah berjalan-jalan di rumah dan memperhatikan anggota keluarga lain melakukan kegiatan masing-masing. "Apa yang kakak lakukan?" Ia duduk di samping kakaknya. Ketika dilihat buku yang sempat dibaca kakaknya tadi. Kakaknya masih sibuk, nanti saja dia mengganggunya.
Buku itu Athira ambil, berpindah duduk di meja belajar kakaknya. Berada di kamar kakaknya selalu lebih tenang daripada di tempat kedua adik laki-lakinya. Dia baru masuk saja sudah disuguhi pertengkaran soal mainan dan batas wilayah. Memang yang terbaik adalah mengabiskan waktu disini.
"Ada apa?" Ignacia selesai mengobrol dengan Danita. Ia menatap Athira yang membawa bukunya menjauh. Si adik mendekati kakaknya. Mengembalikan buku yang tadi ia baca sebentar. "Ada sesuatu yang kau butuhkan?" Athira menggeleng, dia tidak ingin melakukan apapun disini. Semua orang sudah ia datangi kecuali kakaknya.
"Kakak membahas soal liburan lagi. Apa sekarang sudah ada jadwal terbaru lagi?"
Kakaknya memperbaiki posisi duduk, dengan sangat bahagia berkata jika kemungkinan besar mereka bisa pergi ketika hari jadi yang kesepuluh. "Aku bisa membayangkan matahari terbit bersama Rajendra dan mendengar suara ombak yang tenang. Juga matahari terbenam dengan banyak semburat jingga dan merah. Bukankah itu romantis?"
"Semuanya romantis jika kakak menghabiskan waktu dengan Kak Rajendra. Lalu apa Kak Rajendra sudah diberitahu? Kak Rajendra bisa pergi juga?" Ignacia menggeleng. Dia punya rencana sendiri. Ignacia yakin Rajendra pasti bisa. Bukankah sudah cukup penundaan selama ini?
Rajendra juga sudah berjanji jika dirinya bisa memberikan waktunya untuk berlibur bersama Ignacia.
...*****...
"Bulan depan? Tentu kami senggang." Nesya menggeser ponselnya disetel panggilan dengan Danita dalam mode load speaker untuk didengarkan berdua. "Kurasa aku tahu kenapa Ignacia minta bulan itu. Itu hari anniversary Ignacia dengan Rajendra." Farhan melirik kekasihnya, tidak tahu jika Nesya mengingat tanggal penting temannya.
"Kuharap kali ini mereka bisa menikmati waktu bersama. Maksudku pasangan kekasih ini tidak pernah bisa bertemu tepat di hari jadi selain ketika berada di sekolah." Sesekali Nesya ingin memberikan kesempatan untuk temannya. "Oh ya akan aku cari informasi menarik dan ide bagus lain untuk kita nanti. Akan aku kirimkan pada kalian secepatnya."
Panggilan berakhir. Nesya kembali menatap ke arah pria di hadapannya. "Aku dan Ignacia sudah berteman sangat lama sebelumnya. Sesekali aku ingin Ignacia menikmati momennya bersama Rajendra di acara yang tidak hanya berisi keduanya. Dia selalu tampak canggung jika aku ada di sekitar. Menurut kamu apa yang harus kulakukan untuknya?"
Farhan mengangkat bahu tidak tahu. Sampai saat ini yang ia tahu tentang Ignacia hanya sebatas apa yang Nesya katakan. Menurutnya membiarkan mereka berduaan sudah cukup. Jika itu hari jadi keduanya, mereka seharusnya dibiarkan sendiri. Farhan senang melihat Nesya sangat menjaga temannya. Berbeda sekali dengan masa lalunya.
"Oh ya kita harus membawa apa saja untuk liburan itu? Kita bisa menyiapkannya jauh-jauh hari agar tidak ada yang tertinggal." Nesya membuka catatannya, ia bacakan untuk Farhan yang bertanya. Lucu sekali melihat Nesya menjelaskan kenapa mereka harus membawa benda-benda ini. Kekasihnya ini orang yang selalu menyiapkan semuanya.
Farhan mendengarkan sambil memandangi wajah cerah kekasihnya. Kacamata yang ia pakai menambah warna untuk auranya. Ia sangga kepalanya dengan satu tangan, beberapa kali senyuman mengembang padahal tidak ada hal lucu yang Nesya katakan. "Kalau begitu setelah ini kau bantu aku untuk menyiapkannya? Takutnya ada yang kulupakan."
"Tentu saja. Dengan senang hati."
Di waktu yang bersamaan, Danita juga tengah mengabiskan waktu dengan Bahri. Keduanya makan camilan di halaman rumah si gadis sambil mengobrol. Bahri tentu tahu obrolan gadisnya dengan dua temannya beberapa saat lalu. "Aku tidak tahu jika kalian bisa merencanakan ini. Kamu sudah berencana memberitahu teman-teman soal rencana akhir bulan ini."
"Kenapa? Aku selalu senang melihat Ignacia menikmati waktu bersama kami. Tidak ada salahnya memberikan apa yang Ignacia inginkan. Aku senang bisa menjaganya dengan cara yang berbeda." Danita masih merasakan perasaan yang sama dengan gadis itu. Dia akan berusaha untuk mendapatkan jawabannya segera. Pasti ada alasannya.
Bahri mendudukkan diri, bisa ia lihat tatapan mata polos kekasihnya. Danita mengurungkan niat untuk memberitahu kedua temannya karena permintaan Ignacia. Siapa sangka kedua gadis ini rela menunda lagi rencana hanya untuk Ignacia. Semoga saja Rajendra bisa. Akan sangat disayangkan jika ternyata ada penundaan lagi.