Beautiful Monster

Beautiful Monster
Percaya Padaku



"Ignacia itu kekasihku, kenapa kau yang memesan?" Rajendra berbisik dengan dingin. Bukankah sudah tugasnya untuk memberikan apa yang dibutuhkan gadisnya? Sepertinya wajar jika Rajendra kesal jika ada orang lain yang ikut ambil bagian dalam perannya.


"Kau masih takut jika Ignacia berpaling darimu? Tidakkah selama ini kalian sudah menjalani hubungan yang panjang? Tidak bisakah kau percaya pada Ignacia?"


Rajendra terkekeh geram, "aku percaya padanya. Tapi jika kau terus mengusik peranku, apa aku harus diam saja?"


...*****...


Setelah kencan ganda selesai, Ignacia tidak langsung pulang. Dia ingin bicara dengan Rajendra sebentar. Rajendra membawa Ignacia ke tempat makan yang tidak jauh dari asrama Ignacia untuk makan malam. Dia harus segera mendinginkan diri dengan menikmati sisa hari dengan yang terkasih.


"Ignacia, aku ingin pergi ke toilet sebentar. Apa aku boleh menitipkan barangku padamu?" Rajendra bangkit setelah mendapatkan anggukan dari Ignacia.


Rajendra menuntaskan panggilan alamnya, mencuci tangan, dan menatap dirinya di cermin. Apa wajah datar ini yang dilihat Ignacia seharian? Dirinya pasti terlalu kekanak-kanakan karena menunjukkan rasa tidak tertariknya pada acara yang dibuat Ignacia dengan temannya.


Ketika akan keluar, langkah Rajendra terhenti. Melihat Ignacia yang tengah sendiri di tengah ramainya tempat makan. Gadisnya hanya menatap makanan mereka yang sudah datang tanpa menyentuh ponsel. Tangannya disimpan di bawah meja. Terlihat sekali jika Ignacia menunggu dirinya dengan sabar.


"Tidak bisakah kau percaya pada Ignacia?"


Rajendra bukannya tidak percaya pada kekasihnya. Sejak dulu yang Rajendra rasakan hanya perasaan takut. Rajendra tentu percaya pada Ignacia jika gadis itu tidak akan berpaling, tidak akan mencari tambatan hati lain di belakangnya. Namun rasa takut selalu saja datang. Takut Ignacia tidak bisa lagi bersamanya karena kelalaian yang dilakukannya.


Si laki-laki beralis tebal itu menghembuskan nafas panjang, menenangkan diri, mencoba untuk tersenyum. Melihat Rajendra berjalan mendekat, Ignacia langsung menatapnya dan tersenyum lebar. Matanya seolah berkata, 'akhirnya kamu datang juga'. Tatapan mata yang menyambut kedatangan Rajendra.


"Kau masih takut jika Ignacia berpaling darimu?"


Melihat tatapan Ignacia yang jujur, Rajendra tidak bisa menjawab pertanyaan Bahri lagi.


Ignacia menceritakan soal perasannya ketika me dengarkan lagu Car Crash yang diputar di radio siang tadi. Dengan sangat jujur berkata jika dirinya ingat tentang apa yang dilakukan Rajendra di malam puncak. Ignacia menatap Rajendra sekilas lalu kembali pada makanannya, lanjut bercerita dengan bahagia.


"Mungkin terkesan remeh, tapi aku selalu mengingatnya. Terima kasih karena sudah melindungiku malam itu, Rajendra. Aku sangat menghargainya."


...*****...


"Kau tahu, Ignacia itu tipe orang yang jatuh cinta dengan hal-hal kecil yang dilakukan oleh orang yang disukainya. Dan jika dia sudah jatuh cinta, dia kemungkinan besar tidak akan pernah pergi." Bahri mengambil minumannya juga milik Danita, membiarkan sisanya Rajendra yang membawa.


"Tidakkah kau merasa bahwa kau tahu terlalu banyak tentang teman lamamu meskipun sudah memiliki kekasih?" sinis Rajendra. Keduanya berjalan bersama mendekati kedua gadis yang sudah menunggu disana.


"Menurutmu apa saja yang sudah kulalui hingga bisa sampai di titik ini? Dengan Danita." Bahri membalasnya tidak kalah sinis. Bahkan sorot matanya menunjukkan ketegasan.


...*****...


Rajendra membukakan pintu untuk Ignacia, membiarkan gadisnya keluar lebih dahulu dari tempat makan. Tidak lupa Ignacia mengucapkan terima kasih kemudian menunggu Rajendra mengikutinya. Diulurkan tangan niat bergandengan.


"Maaf karena hari ini aku membuat kamu kesal, Rajendra. Aku dan Danita merahasiakan siapa kekasih kami masing-masing hingga bertemu saat double date. Aku tidak pernah tahu jika kekasih Danita adalah Bahri. Seseorang yang pernah tidak kamu sukai dulu."


Ignacia tidak berani menoleh, dia sedikit menunduk untuk menyembunyikan rasa takutnya. Rajendra bisa saja menunjukkan perasaan kesalnya saat itu juga karena Ignacia mengungkit sesuatu yang buruk. Pertemuan pertama yang sangat tidak disukai Rajendra.


"Aku ingin mencoba melakukan kencan ganda karena...," Ignacia melanjutkan ucapannya karena tidak kunjung mendapatkan respon apapun dari Rajendra, "...aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya saat aku bisa berkencan denganmu tanpa merasa tidak enak. Satu teman dekatku yang memiliki kekasih tidak bisa kuusik karena dia bahkan tidak pernah mengatakan apapun pada teman-teman lain."


Si gadis berambut panjang ini melangkah dengan kecepatan normal, menjaga kecepatannya agar bisa tetap selaras dengan Rajendra. "Tapi setelah kucoba hari ini, rasanya tidak seperti yang kubarapkan. Aku tidak kecewa, tidak apa-apa. Mungkin aku terlalu senang bisa memiliki teman seperti Danita tanpa melihat sekitar. Tanpa tahu sebuah rahasia."


Rajendra masih saja diam, menatap Ignacia tanpa berniat menginterupsi segala ungkapan isi hati si gadis. Dengan begitu Ignacia bisa terus terbuka. Apa Ignacia menyadarinya? Nada bicaranya terdengar semakin sedih.


"Aku merusak kunjunganmu, aku sangat... minta maaf." Isakan kecil muncul dari Ignacia. Buru-buru Rajendra berhenti dan mengecek keadaan gadisnya. Dilihatnya mata Ignacia yang berkaca-kaca dengan bibir yang agak bergetar. Apa Rajendra membuat gadisnya menangis lagi?


"Aku sungguh minta maaf." Dalam satu kedipan mata, pertahanan yang dibangun Ignacia akhirnya runtuh. Wajahnya basah akibat butiran bening yang turun begitu derasnya. Ignacia menunduk, malu pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol emosi.


"Tidak, tidak," ucap Rajendra menenangkan, "kamu tidak salah. Tidak ada yang salah disini." Dibawanya si gadis kedalam rengkuhannya, menepuk-nepuk punggung Ignacia lembut untuk membuatnya berhenti. Sekali lagi Rajendra gagal menjadi seseorang yang seharusnya mampu menjaga Ignacia.


Ignacia terisak, mencoba menahan suara namun tetap saja ada isakan kecil yang terdengar. "Aku takut kamu marah padaku karena Bahri muncul," jujur Ignacia, "aku takut kita akan kembali bertengkar seperti dulu. Aku takut kamu kesal lalu menyerah padaku."


Rajendra mengeratkan pelukannya, dia sepertinya sudah menaruh trauma pada gadis kesayangannya. Kemarahannya hari itu pasti sangat membekas hingga Ignacia menangis. "Mana mungkin aku menyerah padamu, Ignacia. Malah karena ada keberadaan orang seperti Bahri membuatku sangat ingin terus bersamamu untuk mematikan bahwa kita masih baik-baik saja."


Malam semakin larut, jalanan tempat keduanya saling mencurahkan isi hati jadi semakin sepi. Udaranya kian mendingin. Rajendra melepaskan pelukannya perlahan, melihat wajah Ignacia yang sudah sangat basah dan memerah. Digenggamnya kedua tangan si gadis untuk menghangatkan.


"Aku akan mengantarmu pulang. Apa kamu sudah merasa lebih baik?" Ditatapnya kedua manik mata Ignacia. Lihatlah hasil perbuatan Rajendra. Mata cantik si gadis terhalang perasaan sedih. "Jika masih kurang, aku akan memelukmu lagi. Hingga kamu merasa baikan."


Ignacia sudah akan berhenti menangis, namun ucapan Rajendra membatalkan niatnya. Ignacia kembali menangis, entah apa yang ada di pikirannya, perasannya bahkan terasa campur aduk. Jadinta Ignacia langsung memeluk Rajendra tanpa permisi, melanjutkan menangis namun tanpa isakan.


"Aku pasti sangat menakutkan ketika marah hingga kamu tidak bisa melupakannya. Aku minta maaf karena membuatmu khawatir, Ignacia. Maaf karena aku tidak bisa membuatmu merasa aman saat bersamamu," batin Rajendra.


...*****...


Di perjalanan pulang setelah mengembalikan mobil, Bahri rencananya langsung mengantar Danita kembali ke asrama. Tapi ada perubahan rencana hingga sekarang keduanya bisa ada di minimarket untuk makan camilan. Tebak siapa yang masih tidak ingin pulang dan menghabiskan waktu bersama. Tidak ada bosan-bosannya Danita bertemu Bahri.


"Katanya ingin menghabiskan waktu denganku. Tapi kamu malah bermain ponsel," tegur Bahri.


"Maafkan aku. Aku mengirimkan pesan pada Ignacia, bertanya apa dia sudah sampai di asrama." Danita memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana, mengambil keripik kentang kemudian memakannya.


"Kamu sangat perhatian padanya."


"Apa kamu sudah tahu kenapa aku ingin menjaga Ignacia?" Danita menoleh, melihat Bahri menggeleng. "Ignacia itu tidak banyak bicara, aku melihatnya sebagai seseorang yang cukup tertutup. Alasan seperti itu yang membuatku ingin terus memberikan perhatian padanya."


Bahri meneguk minumannya sedikit, melihat Danita dengan tatapan aneh. Dia masih tidak mengerti kenapa Danita ingin memastikan Ignacia baik-baik saja padahal Rajendra ada di kota ini. Rajendra pasti sudah memastikan gadisnya pulang dengan selamat sampai tujuan.


Hening, keduanya tenggelam dalam emosi masing-masing. Bahri sibuk memikirkan bagaimana nasib Ignacia setelah apa yang dia katakan pada Rajendra ketika di bioskop. Apakah Ignacia tidak lagi menangis karena laki-laki yang disukainya.


Lalu Danita memikirkan apa rencana kencan gandanya berhasil atau tidak. Apa semua orang menikmatinya atau tidak. Bisakah dia melakukan kencan ganda lagi jika Ignacia berkenan? Mungkin mengajak Nesya juga jika dia sudah memiliki kekasih.


Danita merasakan sesuatu yang bergetar di dalam saku. Ketika di cek, ternyata ada yang menelfon. "Ibuku menelfon, tunggu sebentar ya." Si gadis bangkit, mengambil jarak beberapa langkah sebelum menyambungkan panggilan.


Bahri tentu tidak akan mencob untuk mendengarkan. Dia mengangkat kripik kentang di atas meja, mengecek apa dia harus membuka gang lainnya nanti. Tidak apa-apa makan banyak camilan setelah hari yang panjang. Lagipula sedang ada promo setengah harga untuk camilan ini.


Ada momen dimana Danita membalikan badannya sebentar, menatap Bahri sambil tersenyum sambil mengatakan sesuatu di telfon. Setelahnya dia akan kembali pada posisi semula hingga membuat yang ditatap merasa agak aneh.


Setelah panggilan dimatikan, Danita kembali duduk di samping kekasihnya. Dia mengadu jika ibunya tidak percaya dengan perasaannya tentang Ignacia. Padahal Danita pernah menjelaskan, namun kata ibunya perasaan Danita itu omong kosong. Danita kecewa, namun tidak begitu kecewa.


"Tidak apa-apa, aku percaya padamu."


"Memang hanya kamu yang percaya padaku, Bahri."


...*****...


Akhirnya sampai di depan asrama. Ignacia melepaskan tangannya dari lengan Rajendra, berdiri di depan si laki-laki. Ditatapnya manik mata hitam Rajendra tegas. "Apa kamu benar tidak akan menyerah padaku setelah apa yang terjadi hari ini? Kamu benar-benar tidak akan pergi meninggalkan aku?" tanya Ignacia memastikan.


Rajendra yang ditatap begitu pun terkekeh gemas. Dia mengacak rambut panjang Ignacia yang terurai lembut. "Mana mungkin aku bisa menyerah padamu, Ignacia? Semakin lama, aku semakin tidak bisa pergi darimu. Jangan berpikiran buruk. Aku akan tetap bersamamu."


"Dan kamu percaya jika aku tidak akan menyerah? Apa kamu percaya jika aku tidak akan mengkhianatimu?"


Rajendra mengangguk pelan.


Ignacia tersenyum, perasannya sudah lega. Dia bisa melihat ketulusan dari mata kekasihnya. Ignacia melangkah mendekat, berjinjit agar bisa mencium pipi Rajendra kemudian mengucapkan selamat tinggal.


Di depan gerbang asrama, senyuman Rajendra yang ditujukan untuk kekasihnya kian menghilang bersamaan dengan hilangnya Ignacia dari pandangannya.


Sekarang bagaimana? Ignacia tidak sendirian di kota ini. Ada Bahri yang ternyata juga tinggal di dekat sini. Apakah Ignacia akan kembali dekat dengan teman lamanya? Peran Rajendra tidak akan tergeser hanya karena keduanya tidak berada di tempat yang sama kan?


Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, Rajendra berpikir bagaimana caranya dia bisa tetap mengambil hati Ignacia tanpa takut tersaingi. Rajendra sangat percaya pada Ignacia, sangat. Tapi tetap saja. Rajendra menyimpan sedikit rasa takut.


...*****...


Terdengar suara gemuruh dari ujung panggilan. Suara angin ketika Athira membawa ponsel mamanya yang tadinya diisi daya ke pemiliknya yang baru selesai makan malam. Samar-samar Ignacia dapat mendengar suara ayah dan kedua adik laki-lakinya bergurau soal kejadian di sekolah Arvin.


Rumah pasti tidak sepi meksipun Ignacia pergi jauh.


"Ignacia," sapa sang mama, "kemana saja seharian ini? Tkdak mengabari orang rumah."


Ignacia tidak membicarakan soal kegiatannya dengan Danita karena takut mamanya berpikiran macam-macam. Mamanya bahkan memberikan banyak nasehat dalam berteman ketika kuliah dan hal-hal apa saja yang sebaiknya tidak dibagikan dengan sembarang orang. Sangat panjang daftarnya hingga Ignacia sendiri hanya mengingat satu dua.


Perasaan si anak pertama ini tengah senang, jadinya dia bercerita jika Rajendra berkunjung ke kotanya dan mereka baru saja selesai berkencan. Ke Kebun Raya untuk piknik, menonton film bagus di bioskop, lalu makan malam tadi. Pokoknya Ignacia tidak menambah unsur Danita ataupun kencan ganda di dalam ceritanya. Juga soal dirinya yang menangis tadi.


"Kebun Raya?" Beo mamanya, "Kebun Raya yang ada di kotamu? Benar Kebun Raya yang itu?"


"I-Iya, kenapa?" Ignacia dibuat gugup dengan pertanyaan menajam sang mama. Sepertinya mamanya tengah berpindah tempat, terdengar suara langkah kakimu buru-buru yang masuk ke panggilan.


"Apa kamu tidak tahu jika ada mitos di Kebun Raya itu? Katanya jika ada pasangan yang datang kesana, hubungan mereka bisa berakhir. Kalian tidak bertengkar kan? Ignacia, mama ingatkan agar kamu tidak putus dengan Rajendra. Kalian sudah membangun hubungan dari lama. Sayang jika tiba-tiba kandas di tengah jalan."


Apa yang sedang mamanya katakan? Mitos? Ignacia tidak pernah percaya tentang hal semacam itu. Mana mungkin ada yang putus setelah bersenang-senang di kebun raya yang sejuk dan memiliki udara segar.


"Tidak, kami baik-baik saja. Mama tenang saja, aku tidak akan membiarkan Rajendra pergi seperti yang mama inginkan. Percaya saja padaku." Ignacia berbicara dengan sangat percaya diri. Ya kenapa juga harus putus jika Rajendra juga bilang jika dia tidak akan menyerah?


Tapi soal perasannya yang kalut karena mengira Rajendra akan pergi membuat senyuman bangga Ignacia menghilang. Mitos itu tidak akan pernah menjadi kenyataan kan? Mitos seperti itu hanya dibuat untuk menakut-nakuti kan? Mana ada yang putus setelah menikmati waktu bersama.


"Oh ya, bagaimana kabar mama?"