
Rananta dan Hanasta mengecek arah menuju kafe tempat Dianti bekerja. Jauh beberapa langkah dari keduanya ada Ignacia yang masih menelpon. Kelihatannya dia sedang memberikan tutor karena tangannya seolah mencontohnya membuat sesuatu padahal hanya panggilan suara. Selang beberapa menit, akhirnya temannya selesai.
Sebenarnya mereka sudah sepakat untuk datang terpisah, seharusnya Rananta dan Hanasta pergi lebih dulu alih-alih menunggu Ignacia selesai. Hanya saja mereka terlalu takut terpisah dan khawatir Ignacia tersesat. Setelah hampir sampai di kafe, nanti Ignacia akan mencari letak minimarket dan membeli camilan dan minuman dingin untuk Dianti dan teman-teman.
"Sebenarnya memberikan makanan ke pegawai yang bekerja di tempat makanan bukanlah sesuatu yang tepat. Maksudku mereka bisa mendapatkan keduanya di tempat mereka bekerja. Apa kita sebaiknya memberikan sesuatu yang lain?" Hanasta benar. Padahal dia yang merekomendasikan itu sebelumnya. Lalu sekarang mereka harus memberikan apa?
"Mereka tidak selalu bisa mendapatkan makanan dan minuman di kafe. Tidak apa-apa, kita berikan saja daripada bingung memilih lagi." Ignacia meyakinkan kedua temannya. Lagipula ingin mencari hadiah lain mungkin akan memakan banyak waktu. Jam makan siang akan segera tiba. Ada pegawai yang tidak terlihat nanti.
Jaraknya lebih dari dari jarak ke restoran Rajendra. Sayangnya jalan ke tempat tujuan tidak melewati tempat kekasihnya dahulu bekerja. Untuk melewati tempat itu juga terlalu jauh untuk mengulur waktu. Ignacia melihat minimarket dekat kafe. Ia bisa menunggu disana hingga Rananta menghubungi nanti.
"Rajendra ada di kota ini kan?" Rananta ikut melihat keluar jendela bersama Ignacia yang ada di sebelahnya. Gadis itu terus menatap jalanan yang mereka lalui seolah mencari sesuatu. "Apa dia ada di sekitar sini? Kalian berencana untuk bertemu?" Rananta terlalu penasaran hingga banyak bertanya.
Si gadis memundurkan kepalanya, menyadari keberadaan wajah Rananta berada di dekatnya. Ignacia menggeleng pelan disertai senyuman kecil, "Rajendra punya kesibukan sendiri. Aku hanya senang melihat-lihat. Aku belum pernah melewati jalan ini." Si gadis menyandarkan diri pada kursi bus, menunggu hingga Rananta kembali ke posisinya di sebelah Ignacia.
Kepala Ignacia tertoleh ke samping, masih ingin menatap jalanan. Mereka masih harus menunggu dua halte lagi untuk sampai. Ada waktu bagi Ignacia untuk memikirkan Rajendra. Kehangatan tempat ini selalu berhasil membuat gadis berambut panjang tergerai ini memikirkan kekasihnya. Seolah kota ini sangat khas bagi Rajendra.
Ketiga teman ini hanya perlu berjalan beberapa blok dari halte terdekat. Mereka mulai bertanya-tanya kemana mereka akan pergi setelah makan siang di tempat Dianti. Rananta mengecek media sosial kafe itu dan menemukan banyak makanan yang kelihatannya enak. Meksipun tanpa nasi, Rananta yakin bisa kenyang jika pergi kesana.
"Nanti Dianti akan menjadi kasir, jadi kita pakai topi dan masker sebelum masuk." Mereka sudah menyiapkan penyamaran agar benar-benar jadi kejutan. Rananta percaya diri sekali, yakin jika rencananya akan berhasil. "Bagaimana jika kita pakai sekarang, Hanasta?" Rananta bertanya.
Hanasta sudah memakai topinya sebelum Rananta bertanya. Ia mengangguk sebagai jawaban untuk si teman lalu memakai masker hitam miliknya. "Tunggu!" Hanasta berseru, mengentikan langkah kedua teman di sebelahnya. "Mari kita pakai penyamaran kita lalu berfoto. Setelah mengejutkan Dianti, kita kirimkan pada yang lain."
"Kalau begitu pakai maskermu juga, Ignacia." Buru-buru gadis yang diminta memakai penyamaran itu membuka tas miliknya. Ia pakai penyamarannya lalu bergabung dengan kedua temannya yang sudah siap di depan kamera. "Sudah siap? Ayo kita bersikap seperti perempuan keren."
Ketiganya sengaja memadupadankan warna baju juga topi agar terlihat seperti bagian dari gaya. Mereka mengambil beberapa foto, memilih satu yang terbaik untuk dikirimkan nanti. Sampai di depan kafe, Ignacia berlalu meninggalkan teman-temannya untuk mencari camilan. "Aku akan menemui kalian nanti. Sampai jumpa." Ia melambaikan tangan, melepas topi juga masker agar wajahnya kembali terlihat.
Dewi Fortuna tengah menemani Ignacia hari ini. Ada diskon untuk roti varian baru yang dijual di toko roti samping minimarket. Ignacia ingin menelfon kedua temannya, memberitahu soal penemuannya. Akan tetapi bagaimana jika ia merusak rencana kedua temannya? Sebaiknya Ignacia kirim pesan. Menunggu hingga teman-temannya menjawab.
Uang yang berada di tangannya ini berasal dari delapan temannya, jadi Ignacia tidak bisa langsung memakainya. Teman-temannya tidak mungkin bisa online pada saat yang sama. Ignacia gunakan saja dahulu uang pribadinya. Lagipula Ignacia juga ingin mencoba kue yang terpajang disana. Selain untuk para pegawai, Ignacia akan kembali untuk membeli kue lain bersama kedua temannya.
Di tempat lain pada waktu yang sama, Hanasta dan Rananta sedang mengantri. Tempat ini cukup ramai dengan kedatangan banyak anak muda. Keduanya melihat tinggi bangunan yang seperti memiliki tiga lantai. Pasti melelahkan jika harus naik turun mengantarkan makanan.
Selain memperhatikan gedung, keduanya juga memikirkan soal laki-laki yang bertugas sebagai kasir saat ini. Dianti tidak bilang soal pergantian waktu kerja. Apa mereka datang di waktu yang salah? Mungkin sebaiknya mereka bertanya pada laki-laki itu untuk memastikan. Daripada terus bertanya-tanya hingga barisan manusia di hadapan mereka habis.
Rananta bertanya dengan hati-hati, sebelumnya sempat memeriksa keadaan jika saja temannya ada di sekitar tanpa sepengetahuan. "Apa Dianti ada disini?" Niatnya berhati-hati namun kedengarannya tidak. Rananta dan temannya menetap dengan harap tanpa melepas penyamaran.
"Dianti? Dia ada di toilet. Aku menggantikannya sebentar. Apa kalian teman-temannya?" Laki-laki itu balik bertanya. Keduanya refleks mengangguk pelan, memberikan peringatan agar tidak membocorkan rahasia ini pada gadis yang merasa tanyai keberadaannya tadi. "Baiklah, rahasia kalian aman." Laki-laki ini terlihat menyenangkan dari caranya berkompromi dengan kedua gadis di hadapannya.
Rananta bertanya apa menu yang bisa laki-laki ini rekomendasikan. Karena sudah jauh-jauh kemari, mereka seharusnya bisa menikmati hari dengan makanan enak. Ia merekomendasikan Fish Taco. Salah satu makanan western yang cukup terkenal. Kadang banyak orang datang hanya untuk mencoba menu ini.
Makanan yang memuat tortila, ikan kakap garing yang dibalut dengan tepung, menyatu dengan segarnya tomat, renyahnya kol ungu, dan daun selada yang disiram krim asam diatasnya. Menu yang sehat juga lezat. Rananta langsung setuju untuk memilih makanan yang baru disebutkan. Kedengarannya enak. Lalu untuk makanan lain mereka ingin mencoba Spring rolls, sweet potato fries, dan minuman leci dingin.
Para pengunjung akan mendapatkan panggilan melalui sebuah bel yang diberikan oleh si kasir. Sementara keduanya bisa mencari tempat di lantai atas karena di bawah sini sudah penuh. Sekali lagi Rananta memperingatkan laki-laki di belakang kasir untuk tidak membocorkan rahasia. Sebelum pergi, si gadis tiba-tiba mendapatkan ide.
Hanasta memanfaatkan kesempatan, melihat antrian di belakang mereka yang kosong untuk menetap lebih lama selagi pesanan tadi diproses. Sekalian saja Hanasta bertanya ada berapa pegawai yang ada disini sekarang. Tanpa berpikir macam-macam si lawan bicara langsung mengatakan jumlah pegawai seolah sudah sangat hafal.
Di lantai kedua, semua meja sama penuhnya. Lebih damai disini karena ada banyak anak muda yang sedang bersantai. Mereka tertawa dengan suara keras seolah tidak menyadari keberadaan orang di meja lain. Sungguh anak-anak yang tidak mengetahui tata krama. Terlihat orang-orang yang ada disnsa benar-benar muak dan ingin mengusir mereka.
Lebih baik Rananta dan Hanasta naik ke lantai atas. Beberapa orang barusan turun melalu tangga di samping keduanya. Rananta bertanya pada mereka apa ada meja yang tersisa lalu dijawab ramah oleh mereka. Memang benar ada meja yang kosong, namun masih belum dibersihkan. Sampahnya memag harus dibuang oleh pengunjung sendiri di tempat yang tersedia, hanya saja masih tersisa beberapa tetes cairan dan saus yang tertinggal di meja.
Keduanya beruntung bisa mendapatkan meja dekat jendela. Pemandangan kota terlihat lebih baik daripada lantai sebelumnya. Pemandangan area belakang gedung yang berlantai dua di hadapan kafe ini terlihat jelas. Ada banyak jajaran gedung lain dengan beragam kepentingan berdiri gagah. Ketika malam pasti terlihat berbeda namun cantik.
Pemandangan diluar serta pendingin ruangan disini membuat keduanya betah. Ketika sebuah suara terdengar menarik, barulah keduanya menyadari sesuatu. Rupanya makanan diantarkan dengan sebuah lift khusus. Jadi tidak ada yang perlu membawa makanan secara manual. Nantinya lift yang kosong akan ditukar dengan bel yang tadi diberikan. Pintar sekali.
Hanya pegawai yang bertugas membersihkan meja yang akan berkeliling membersihkan meja yang dirasa kotor. Kebetulan sekali seseorang yang akan melakukan tugasnya datang. Rananta dan Hanasta buru-buru memperbaiki penyamaran mereka, mencegah dia yang baru datang menyadarinya.
"Permisi, saya akan membersihkan mejanya sebentar." Pengelihatan wanita ini tajam sekali hingga bisa menyadari keberadaan noda di meja kedua gadis disini. Hening, hanya ada suara gesekan kain dari atas meja. "Maaf atas gangguan kecilnya. Selamat menikmati kunjungan kalian."
Rananta buru-buru bicara sebelum wanita itu pergi. "Kau kejam sekali pada kami!" Nada bicara tajam yang membuat seseorang yang sudah berbalik itu berhenti. Menoleh perlahan dengan perasaan takut. "Kenapa kau bisa kejam begitu hah?" Hanasta tidak tahu jika Rananta akan menggunakan nada marah serta tatapan tajam. Dia jadi merinding.
"Maaf sebelumnya, apakah ada yang salah?" Dianti bertanya takut-takut. Dia sudah menyiapkan ungkapan penyesalan agar masalah yang tidak dia ketahui ini cepat selesai. Segala kemungkinan mulai bermunculan di kepala Diantim Sepertinya dia tadi sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Memang seharusnya tadi dia tidak rela bertukar peran dengan laki-laki di belakang kasir tadi.
"Kau lupa padaku? Kenapa kau tidak menyapaku?" Rananta melepas penyamarannya disertai senyuman usil. Hanasta ikut melakukan apa yang temannya lakukan. Tak lupa mengeluarkan ponsel yang tadi dia gunakan untuk merekam wajah takut-takut Dianti. Rananta keluar dari meja, memeluk Dianti yang masih membeku di tempat. "Kelihatannya aku cocok menjadi aktris. Bagaimana menurutmu?" Tanyanya.
Hanasta menyudahi aksi merekamnya, berganti memeluk Dianti. Teman yang mendapatkan kejutan dengan cara yang tidak disangka-sangka ini tentu merasa kesal. Wajahnya tidak bisa memasang satu ekspresi kesal karena kedua temannya tertawa. Dianti memukul lengan kedua temannya sebagai balasan. "Kalian membuatku takut. Aku tidak suka mendapatkan kalimat menyakitkan, kalian tau?"
Keduanya meminta maaf, kembali memeluk Dianti karena sedikit menyesal. Dianti berterimakasih sekali karena kedua temannya yang datang. Masih tidak sadar jika teman di lantai pertama ikut dalam acara kejutan ini. Mereka mengobrol singkat hingga suara menarik terdengar lagi. Dianti menawarkan diri untuk mengambil pesanan yang membuat bel milik kedua temannya berbunyi.
"Aku tidak bisa berlama-lama disini, jadi kalian nikmati dana kunjungan disini. Sampai jumpa lagi." Dianti terlihat lebih senang dari sebelumnya. Tubuhnya yang menegang kini sudah santai kembali. Buru-buru menuruni tangga sekalian mencari meja lain yang perlu dibersihkan agar bisa segera mengambil pekerjaannya kembali.
Kembali ke lantai pertama. Rupanya ada seseorang yang akan mengantri. Dianti buru-buru memberikan kain lap juga pembersih meja pada si teman, langsung merebut posisi di belakang kasir tanpa basa-basi. "Halo selamat datang, silahkan ingin pesan apa?" Dianti mengembangkan senyuman dua kali lebih lebar.
Pengunjung ini menatap menu beberapa saat. Diluar kelihatannya panas, ada banyak pengunjung yang menggunakan topi. Salah satunya tengah berdiri di hadapan Dianti. Rambut gadis ini menutupi sekitar wajahnya, jadi hanya bisa dilihat dari depan. Sayangnya menu yang ia tatap ada di meja, wajahnya tertutup sempurna.
Pesanan dicatat, masih dengan si pengunjung yang menunduk. Dianti memberikan bel pemanggil, masih tidak bisa melihat wajah orang di hadapannya. Hanya bagian mulutnya saja yang terlihat, bersama suara yang terdengar rendah. "Saya terima uangnya ya. Bel tersebut akan berbunyi jika makanan anda sudah siap. Silahkan menikmati kunjungan anda."
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" Pengunjung di depan Dianti ini bersuara. "Apa aku boleh menitipkan sesuatu?"
Dianti bingung harus menjawab apa. Tidak ada orang yang pernah mengatakan itu disini. Dia baru menyadari kantong plastik yang dibawa pengunjung ini setelah di letakkan di atas meja. "Apa kalian bisa menerimanya?" Tindakan pengunjung ini saling menyeramkan saja.
"Ten-tu. Kami bisa menjaganya untuk anda. Jika boleh tahu, apa yang anda titipkan ini?" Aroma yang keluar dari kantong ini mirip roti yang baru keluar dari oven. Dianti harus memastikan pelanggannya ini bersikap jujur demi meyakinkan diri sendiri. Jantungnya mulai berdetak tak karuan karena tangan si pemilik bingkisan ini nampak bergetar.
"Oleh-oleh dariku. Tidak kusangka aku bisa mengelabui dirimu, Dianti." Topi yang dipakai pengunjungnya ini akhirnya dilepas, menunjukkan dengan jelas wajah cantik yang pasti Dianti ingat. "Aku membelinya di toko kue beberapa blok darisini. Terima kasih untuk kerja kerasmu."
Entah akan ada berapa orang yang membuat jantungnya seolah ingin keluar dari dalam tubuh. Dianti keluar dari tempat kasir lalu memeluk Ignacia. Gadis itu mengingkirkan rambut di sampingnya, menerima pelukan yang temannya berikan. "Kalian membuatku tegang hari ini. Bagaimana kalian bisa berakting menyeramkan begitu?"