Beautiful Monster

Beautiful Monster
Kenapa Begini?



Athira bertindak seperti penata rambut profesional. Bagaimana tidak? Ia benar-benar fokus agar kakaknya bisa tampak lebih cantik dari biasanya. Pilihan kakaknya yang kembali pada mode coklat membuatnya bingung pada awalnya. "Kakak tidak bosan terus memakai pakaian ini? Maksudku kakak cocok dengan warna apa saja karena kulit kakak lebih terang."


Apa yang bisa membuat Ignacia bosan jika ujungnya ia bisa membuat Rajendra terus menatapnya? Jujur saja Ignacia sangat menyukai tatapan kekasihnya itu seiring waktu. Menjadi pusat perhatian seseorang yang dicintai selama bertahun-tahun adalah sesuatu yang membahagiakan. Seolah laki-lakinya tidak bosan terus bersamanya hingga saat ini.


Bisa Athira lihat wajah berseri-seri kakaknya. Ada yang akan pergi keluar kota dan makan siang dengan kekasihnya. Athira menawarkan diri untuk mengantar kakaknya ke stasiun sebentar lagi. Adiknya ikut senang melihat kakaknya bahagia. Ignacia diperingatkan untuk tetap fokus pada sekitar meskipun dia sudah merasa aman oleh mamanya.


Wanita paruh baya itu bersandar pada bingkai pintu, menatap kebersamaan kedua anaknya. "Minta Rajendra untuk menjemput di stasiun nanti, Ignacia. Agar kamu tidak lelah naik transportasi umum." Ignacia sudah membuat janji bersama Rajendra di tempat Dianti. Jadinya dia tidak bisa mengindahkan permintaan mamanya barusan.


Ignacia menatap dirinya dari atas sampai bawah. Dirinya dalam balutan dress panjang selutut serta rambut yang dibuat sedikit bergelombang tampak cantik. Tak lupa riasan tipis yang menambah kesan hidup, bibirnya tampak lebih merah dan sudut matanya menajam. Padahal dia hanya akan pergi berkencan, kenapa Athira dan mamanya harus menatapnya cukup lama?


Gadis ini akan kembali malam nanti bersama Rajendra. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Sebelum pergi, Ignacia berpamitan dengan ayahnya juga. "Aku akan pergi ke tempat Dianti. Aku sudah membua janji temu dengannya di tempatnya bekerja." Ignacia tidak akan sepenuhnya jujur. Dirinya takut mendapatkan pertanyaan macam-macam lagi.


Ayahnya mengamati kedua anaknya berangkat dengan sepeda motor. Mereka diingatkan untuk tetap berhati-hati hingga kembali ke rumah. Ignacia memakai helm perlahan. Bisa ia rasakan tatapan dari ayahnya sedari tadi dengan secangkir kopi di tangannya. Padahal ayahnya bisa saja tetap duduk di ruang tamu dan membiarkan keduanya pergi.


Begitu meninggalkan rumah, Ignacia berbisik pada Athira apakah adiknya juga merasakan tatapan ayahnya. Adiknya tentu ikut merasakan dan ingin memberitahu kakaknya namun kakaknya sudah membahas lebih dulu. Athira menebak jika ayahnya bisa tahu jika Ignacia berbohong. Mungkin firasat ayahnya lebih kuat karena apa yang Rafka katakan waktu itu.


Ignacia merasa payah karena sudah membohongi ayahnya sendiri. Dia memang sudah membuat janji temu di tempat Dianti, tapi bukan gadis itu yang ingin ia kunjungi. Tempat kerja temannya berada di dekat jalan yang aksesnya mudah. Jadi sekalian saja mempromosikan tempat kerja temannya pada kekasihnya.


Sebelum membiarkan kakaknya pergi, Athira sekali lagi mengecek rambut kakaknya. Gelombang yang ia berikan bukan berada di rambut bagian atas, tapi jika atasnya berantakan, yang bawah juga akan tampak kacau. Ignacia diminta untuk mengecek rambutnya lagi nanti. Agar kakaknya tetap terlihat rapi dan cantik sebelum bertemu Rajendra.


"Sejujurnya aku setuju dengan mama agar Kak Rajendra menjemput kakak di stasiun. Tidak tahu kenapa aku setuju saja. Itu juga lebih romantis daripada menunggu di tempat janjian." Ignacia menganggukkan kepalanya paham. Lihat nanti saja apa yang akan terjadi. "Berhati-hatilah kak." Semua orang meminta Ignacia berhati-hati sejak tadi.


Seperti ada yang akan terjadi saja.


Di kereta, Ignacia mengecek ponselnya apakah ada pesan dari Rajendra. Tidak ada apapun. Si gadis menyimpan ponselnya hingga hampir sampai ke stasiun tujuan. Pandangannya terus tertuju pada jendela kereta. Gerbong disini tengah lenggang, Ignacia tidak merasa harus berhati-hati. Tidak ada orang di sekitarnya, jadi rasanya aman.


Ignacia menyalakan musik sebagai teman. Lagu Beautiful Monster yang mungkin bisa mendatangkan keajaiban. Semoga saja tidak berakhir seperti terakhir kali Ignacia mendengarkan lagu ini berulang kali. Mungkin sebaiknya didengarkan sekali saja agar keajaibannya tetap ada.


Ignacia mengecek ponselnya lagi, Rajendra tidak mengirimkan pesan bahwa dia sudah sampai di tempat mereka akan bertemu. Ingin rasanya bertanya pada Dianti apakah kekasihnya sudah sampai. Temannya mungkin lebih bisa cepat dihubungi daripada Rajendra. Laki-laki itu bilang punya kesibukan tiga bulan terakhir. Jadinya sekarang baru selesai tiga bulan.


Stasiun mendadak sangat padat. Banyak yang baik dari stasiun ini untuk sampai di suatu tempat. Karenanya Ignacia mengeratkan pelukan pada tas selempang yang ia gunakan agar tidak terjatuh. Berdesakan dengan orang tidak termasuk dalam rencana. Tidak apa-apa, hanya sebentar saja.


Tidak ada pesan apapun dari Rajendra. Laki-laki itu tidak lupa jika hari ini ada janji kan? Ignacia berhasil keluar dari stasiun. Ia meraih ponsel di dalam tas lalu mencoba untuk menghubungi Dianti. "Oh hei apa aku menganggu waktu kerjamu? Aku hanya ingin tahu apakah Rajendra sudah sampai disana. Dia tidak menghubungi aku sama sekali, jadi aku agak khawatir."


Ucapan Dianti menenangkan Ignacia. Baru saja laki-laki yang ia tunggu berdiri di depan kafe sambil mengecek apakah ia datang ke tempat yang benar. Dianti buru-buru mematikan panggilan agar kekasih temannya tidak curiga. Ignacia menyimpan ponselnya dengan hati gembira. Ah tapi jika begini, dia akan membuat Rajendra menunggu.


Si gadis berganti menghubungi kekasihnya. Ignacia mungkin akan terlambat sampai di kafe, jadi ia ingin mengatakannya pada Rajendra. "Kamu sudah sampai di kafenya? Sekarang aku baru keluar dari stasiun." Ignacia melihat sekitar, mencari apakah ada taksi yang akan lewat. Taksi lebih mudah dan cepat sampai di tempat tujuan alih-alih bus.


"Aku baru saja sampai di depan kafenya. Kamu ingin aku mendatangi kamu? Kita bisa menghabiskan waktu lebih awal nantinya." Rajendra kedengarannya juga tidak sabar sampai menawarkan diri. Ignacia menolak, dia akan mendapatkan taksi tak lama lagi. "Baiklah kalau begitu aku-" ada sebuah suara asing yang membuat ucapan Rajendra tercegat.


Ignacia menajamkan pendengaran, mencoba untuk mencaritahu apa yang terjadi. Seperti ada yang terjatuh di dekat kekasihnya. Suara yang muncul jadi samar-samar, ada suara yang mirip dengan suara perempuan dan laki-laki tanpa dialog yang jelas. Ignacia memanggil-manggil kekasihnya Tidak ada jawaban hingga akhirnya Ignacia berhasil mendapatkan taksi.


Rajendra bisa dihubungi kembali setelah dua menit suara-suara tidak jelas terdengar dari ujung panggilan. "Maaf tadi ada sedikit masalah. Kamu sudah dalam perjalanan kemari? Aku akan menunggumu disini." Ignacia mulai khawatir. Suara ribut apa yang ada di sekitar kekasihnya? Rajendra terdengar baik-baik saja,


Begitu Ignacia sampai, ia melihat Rajendra berdiri di sisi jalan seolah menunggu kekasihnya datang. Ignacia langsung saja berlari kecil ke arah laki-laki yang tengah tidak menatap ke arahnya. Pasti sulit baginya menemukan kekasihnya dari banyaknya orang di trotoar. Tubuh Rajendra hampir terhuyung ke belakang jika saja tidak segera menahan diri.


"Maaf membuatmu menunggu. Seharusnya kamu menunggu di dalam saja." Perlahan Ignacia mendongak, menatap ke arah kekasihnya. Tapi jujur saja ia senang Rajendra menunggunya disini. "Kamu terlihat lebih tampan sekarang. Apa kamu baik-baik saja selama aku tidak ada?"


Kekasihnya terkekeh, mengeratkan pelukannya lalu menggandeng tangan Ignacia yang ada di pinggangnya. Mana Mungkin Rajendra tidak baik-baik saja. Rajendra senang bisa melihat Ignacia lagi. Pasti itu alasan mengapa ia terlihat semakin tampan. Auranya berubah karena bahagia.


Keduanya masuk ke dalam kafe bersama-sama, bergandengan tangan seperti pasangan kekasih bahagia pada umumnya. Dianti masih berada di posnya ketika keduanya masuk. Ignacia tidak bisa menahan senyum begitu bertemu mata dengan temannya itu. Rajendra sepertinya masih belum sadar, jadinya ia memesan tanpa mengetahui tatapan mata si kasir dengan kekasihnya.


Mereka pergi ke lantai ketiga sesuai rekomendasi Ignacia. Dianti memberikan tatapan mata menggoda pada Ignacia sebelum mereka menghilang di tangga. Rasanya menyenangkan bisa berada disini bersama Rajendra. Lantai ketiga cukup lenggang. Makan siang mereka akan menyenangkan disini.


"Apa yang terjadi ketika panggilan suara tadi? Apa sesuatu terjadi?" Ignacia terus menatap lurus ke arah kekasihnya. Meskipun Rajendra tadi menunggu dengan santai, suara aneh yang Ignacia dengar tadi masih menjadi pertanyaan besar. "Tidak apa, kamu bisa mengatakannya padaku. Aku dengar suara orang lain juga disana."


Rajendra tampak memikirkan jawaban yang bagus. "Aku berbalik untuk menatap kafe ini, lalu ada seseorang yang seperti menarik tasku dari belakang. Ketika kulihat, ada seorang perempuan yang berpegangan pada tasku lalu terjatuh. Dia tampak sangat kesakitan jadi aku memanggil taksi untuknya pergi ke rumah sakit. Aku tidak mengenalnya."


Tatapan Ignacia mengarah pada tas ransel yang kekasihnya pakai. Pasti itu tas yang Rajendra gunakan untuk melakukan kesibukan hari ini. Ignacia tidak akan bertanya apapun jika saja ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan di tas itu. "Apa kamu yakin perempuan itu hanya berpegangan pada tasmu? Kamu yakin tidak ada yang perempuan itu ambil darimu?"


Buru-buru laki-laki di hadapan Ignacia memeriksa tasnya. Benar saja, ada sesuatu yang hilang disana. Padahal baru saja Rajendra mendapatkan benda itu kembali dari tangan Ignacia. Sekarang seseorang mengambilnya kembali. Buru-buru laki-laki itu bangkit untuk memeriksa apakah gantungan kuncinya masih ada di depan kafe. Seseorang tidak boleh mengambilnya!


Ignacia ingin mengikuti kekasihnya namun langkahnya tertinggal jauh. Bisa ia lihat Rajendra tampak gusar ketika memperhatikan trotoar. Ignacia dapat melihat semua gerak-gerik kekasihnya dari atas sana. Lewat jendela di samping kursi keduanya. Padahal Ignacia sudah sangat senang, kenapa sekarang Rajendra gusar?


Pesanan keduanya sampai. Ignacia buru-buru mengambil dari lift makanan lalu menyusul Rajendra. Yang penting meja mereka sudah dipasangi tanda. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa menemukannya," gumam laki-laki itu ketika Ignacia sampai. Gadis di belakangnya itu sama paniknya. Ia belum pernah melihat Rajendra setertekan ini.


"Kamu belum menemukannya?" Ignacia bertanya. Dia akan mendekat namun langkahnya terhenti karena tatapan dari si pemilik alis tebal. Rajendra menatapnya lalu menggeleng pelan. "Hei jangan sedih begitu, kita bisa mencari yang serupa jika kamu sangat menyukainya. Akan kuberikan sebagai hadiah lagi nanti. Tidak apa-apa, Rajendra."


"Tapi itu pemberianmu." Rajendra seolah kehilangan semangat. Terakhir kali ia sudah merasa sangat bersalah dan menggunakan topeng konyol untuk menutupi perasannya sendiri. "Maaf aku tidak sengaja menghilangkannya lagi." Siapapun yang mengambil benda berharga Rajendra, tolong kembalikan.


Keduanya menduga perempuan yang sudah mengalihkan Rajendra dari panggilan suara dengan kekasihnya pasti merusak rantai gantungan kunci itu hingga burung hantunya menghilang. Mungkin seseorang mengambilnya tanpa tahu jika pemiliknya amat sedih ketika kehilangan. Energi Rajendra sekaan terbang.


Dianti menyaksikan sepasang kekasih ini dari balik meja kasih. Ignacia meminta kekasihnya naik lebih dulu sementara ia meminta tolong pada Dianti jika saja dia melihat gantungan kunci berbentuk burung hantu di depan. "Benda itu sangat berharga bagi Rajendra, jadi kuharap itu bisa segera kembali. Dia merasa buruk karena benda itu hilang."


Temannya tidak pernah menduga ini. Seorang Rajendra yang ia kenal rasanya tidak mungkin menangisi benda yang hilang. Rajendra terlihat jauh berbeda. Tapi jika benda ini berasal dari gadis yang berbicara dengannya beberapa detik lalu. Jalan di depan kafe selalu ramai. Semua orang bisa saja mengambilnya tanpa diketahui siapapun.


Di atas, Rajendra mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Dia tersenyum, menarima ucapan Ignacia bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ignacia akan membawa Rajendra membeli gantungan kunci lain setelah makan disini. Keduanya mulai makan, sebaiknya mereka segera mengisi perut agar bisa berjalan-jalan sepuasnya.


"Maaf aku mengecewakan kamu." Rajendra menatap Ignacia takut-takut. Ignacia bisa mengerti. Laki-laki ini bilang jika dia menyukai pemberiannya itu. Ignacia juga akan kecewa pada dirinya sendiri jika ia sampai menghilangkan sesuatu yang Rajendra berikan padanya. Apalagi jika benda itu sudah menemaninya selama hubungan jarak jauh ini.


Ignacia mengambil tangan kekasihnya yang ada di atas paha, ia genggam lembut. Mencoba menyalurkan energi positif dan ketenangan. Sangat di sayangkan, padahal Ignacia memakai gantungan kunci burung hantu miliknya untuk menemaninya menemui pasangan gantungan kunci ini. Mungkin lain kali Ignacia bisa mempertemukan keduanya suatu hari nanti.


Sesuatu terasa bergetar dari dalam tas Ignacia. Ada panggilan dari seseorang. Rajendra tidak keberatan dan membiarkan kekasihnya mengangkat panggilan dari siapapun itu. Si gadis menggeser tombol hijau di layar ponsel, "Oh Feby ada apa?" Siapa sangka rekan kerjanya akan menelpon.


"Aku ingin tahu dimana aku bisa menemui Rajendra. Ada sesuatu yang harus kuberikan padanya."


Otomatis si gadis menatap kekasihnya yang asik makan. Apa yang Feby inginkan? "Kenapa mencari Rajendra? Ada yang ingin kau sampai? Dia sekarang sedang bersamaku." Si empunya nama menoleh, bingung kenapa dirinya berada dalam obrolan Ignacia dengan seseorang.


"Kalian ada dimana? Ada yang ingin kuberikan."