Beautiful Monster

Beautiful Monster
Teman Baru



"Lagipula aku juga tidak datang tepat waktu tadi," tambah Ignacia, "jadi, bagaimana jika kita memesan makanan sekarang? Sepertinya aku sudah mulai lapar."


Temannya terkekeh kecil, mengajukan diri untuk pergi memesan setelah berdiskusi dengan Ignacia tentang makanan yang akan dipesan. Sambil menunggu, Ignacia memulai obrolan tentang ajakan Danita untuk bertemu dengan Nesya.


"Seseorang yang kamu temui di kota ini? Bagaimana kalian bisa begitu dekat? Rasanya aneh karena-" temannya tidak bisa melanjutkan. Takut menyinggung perasaan yang tengah bertanya soal pendapatnya barusan.


Ignacia menunduk, "aku juga ingin tahu kenapa bisa dekat dengannya begitu cepat. Dia banyak terbuka padaku saat pertama bertemu seperti tidak khawatir tentang apapun. Dia bersikap seolah aku bukan ancaman baginya." Kepalanya diangkat perlahan, menunjukkan senyum.


"Apa itu artinya aku mulai pandai bergaul?"


Teman di depannya terkekeh geli, "kamu sedang menyombongkan diri sekarang? Danita yang lebih dahulu mengajakmu bicara. Itu tidak membuktikan apapun. Tapi aku merasa aneh dengannya."


"Aneh bagaimana?" Ignacia mendekatkan dirinya. Tidak sabar menunggu jawaban si teman.


"Aku pernah melihatnya ketika berada di kantin denganmu. Aku merasa auranya seperti memiliki sesuatu yang dekat denganmu. Apa mungkin dia teman lamamu juga? Atau mungkin tetanggamu sebelum pindah?" Temannya kini menatap menyelidik. Perasannya begitu kuat.


"Entahlah. Jika aku pernah bertemu dengannya, seharusnya dia mengatakannya padaku. Dia bahkan ingat jika aku memiliki Rajendra." Badan Ignacia di tarik mundur, atensinya beralih pada nampan makanan yang tengah dibawakan seorang pelayan ke meja keduanya. "Bagaimana jika makan dulu?"


...*****...


"Double date? Tidakkah kamu terlalu terburu-buru, Ta? Kamu baru mengenal perempuan ini. Kekasihnya juga tidak berada di kota ini, katanya. Tidakkah kamu membutuhkan lebih banyak waktu sebelum mengajaknya?"


Danita menoleh pada kekasihnya. Meletakkan minuman dingin di depannya. "Ignacia ini orangnya baik dan dapat diandalkan. Kamu akan terkejut setelah bertemu dengannya. Dia mungkin terlihat pendiam, tapi sejujurnya dia teman yang baik."


Kekasihnya menghembuskan nafas panjang. "Kamu selalu menganggap orang-orang baik, Tata. Tapi karena kamu sudah terlanjur mengajaknya, kita tunggu saja mereka. Jika mereka tetap tidak bisa, kamu tidak boleh memaksa."


"Tunggu saja. Ini akan sangat menarik." Danita bersandar pada bahu kekasihnya sambil memakan permen lain dari atas meja. Kembali menonton film yang ada di laptopnya. "Lagipula aku merasakan sesuatu pada Ignacia itu."


"Apa maksudmu?" Bingung kekasihnya.


"Aku merasa aku harus menjaganya."


...*****...


"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan?" Ignacia bertanya. Keduanya sudah ada di depan tempat makan yang mereka kunjungi tadi. Sudah waktunya untuk pulang.


"Aku akan pergi membeli beberapa barang. Bagaimana denganmu, Ignacia? Ada rencana setelah ini?"


"Tidak."


"Tidak berkirim pesan dengan Rajendra?"


"Rajendra punya kesibukan lain, jadi aku juga akan menyibukkan diriku sendiri. Aku pergi dulu ya, sampai jumpa," pamit Ignacia.


Si gadis menunggu di dekat zebra cross, lampunya berubah hijau untuk pejalan kaki selang beberapa saat. Sementara itu temannya akan pergi ke arah lain. Duduk di halte dan menunggu bis selanjutnya datang. Gadis berkacamata itu menghela nafas panjang, bersandar ke dinding halte.


"Apa lagi yang terjadi pada kehidupan mereka? Apa aku seharusnya tadi tidak bertanya? Ignacia tampak tidak senang. Hah, aku harus memberikan banyak privasi untuknya."


Mata Nesya terpejam beberapa detik, "kuharap mereka baik-baik saja. Kuharap aku tidak membuat mereka menjauh karena keberadaanku."


Ignacia mengecek ponselnya sambil berjalan. Berbahaya, namun dia punya alasan untuk itu. Ada beberapa panggilan tidak terjawab dari mamanya hari ini. Bukan pertama kalinya Ignacia tidak mengetahui pesan yang dikirimkan atau panggilan yang ingin dilakukan mamanya.


Sudah sering, dan itu kadang membuatnya merasa bersalah.


"Apa aku harus mengaktifkan mode getar di ponselku? Tapi aku tidak ingin mendengar suara apapun." Bisiknya.


...*****...


Hari berganti. Masih tidak ada tanda-tanda pesan apapun dari Rajendra. Setelah bersenang-senang dengan teman-temannya, laki-laki itu mungkin kelelahan dan akhirnya tidur tanpa berniat mengirimkan pesan. Bahkan hingga siang pun Ignacia belum dapat kabar apapun darinya.


"Hei," tegur Danita. Sejak tadi dia memperhatikan temannya yang sedang merasa kecewa itu. Tatapan matanya terasa kosong, gerakannya lamban, tidak ada suara apapun dari mulutnya. "Kau baik-baik saja?" Tanya di gadis berambut pendek dengan berbisik.


"Ya, aku baik-baik saja."


"Kebohongan kecil dapat membawa kebohongan lainnya, Ignacia. Tidak apa-apa jika kau tidak ingin menceritakannya. Tapi jika butuh seseorang untuk mendengar, kau bisa mengandalkan aku. Kenapa? Karena kita teman." Danita tersenyum cerah, membuat yang melihatnya ikut tersenyum.


"Terima kasih."


...*****...


Danita berjalan dengan bahagia, di depan asramanya sudah berdiri seseorang yang akan membawanya berjalan-jalan malam ini. Yang tengah menunggu--seseorang dengan jaket denim mengulurkan tangannya, menyambut Danita dengan genggaman tangan hangat.


"Kamu terlihat cantik," puji si laki-laki. Matanya memandang takjub wanita yang tersenyum malu-malu itu. "Kenapa kamu selalu mengutukku dengan kecantikanmu, Tata? Tapi aku juga tidak ingin lepas dari kutukanmu."


Danita memukul lengan kekasihnya pelan, "berhentilah bicara omong kosong. Apa yang membuatmu bicara begitu?"


Keduanya berjalan berdampingan. Pergi ke sepeda motor yang sudah terparkir di dekat dinding. Si laki-laki memakaikan helm pada sang kekasih, menatap manik mata yang selalu membuatnya terpesona. Danita selalu saja dibuat malu-malu jika sudah berhadapan dengannya.


"Kenapa kamu turun lebih lama dari biasanya?" Si laki-laki bertanya. Tangannya sudah akan memasukkan kunci motor ke lubangnya. Menyalakan mesin motor dan menurunkan pijakan kaki agar Danita bisa langsung naik.


"Aku menemui Ignacia tadi. Aku bertanya apa mungkin dia butuh sesuatu karena kita akan pergi keluar. Tapi katanya dia sudah punya semuanya." Danita berpegangan pada kekasihnya ketika motor sudah melaju kembali ke jalanan yang ramai.


"Kamu sangat dekat dengan teman barumu." Ada senyuman kecil di sudut bibir laki-laki ini. Namun Danita tidak akan melihatnya karena tertutup helm full face.


...*****...


Ignacia masih ada di tempat tidurnya. Jam sudah menunjukkan waktu dimana seharusnya dia sudah bersiap-siap untuk kuliah jika tidak ingin terlambat. Emosi labil mungkin terlalu menutupi gerak gerik si gadis sampai-sampai tidak ingin melakukan apapun.


Dicobanya untuk duduk. Kepalanya seketika menjadi sangat pusing. "Tidak mungkin aku sedang sakit. Aku harus pergi ke kelas." Ignacia memijat bagian tengah alisnya perlahan. Bermaksud menghilangkan rasa tidak nyaman di kepala.


Oh rupanya pesan itu dari temannya. Bukan pesan yang diharapkan Ignacia datang dari seseorang yang ditunggunya hingga tertidur. Ignacia meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Berniat melanjutkan kegiatan pagi.


Seseorang akan datang ke tempatnya untuk membawa sarapan. Sebaiknya dia tidak melihat Ignacia masih dengan wajah bantal dan tidak segera bersiap-siap. Disambarnya handuk sebelum masuk ke kamar mandi. Menatap kaca sekilas dan melihat wajah seseorang yang tampak masih mengantuk.


Suara ketukan datang. Ignacia buru-buru membukanya meskipun belum sempat merapikan rambut. "Oh ya masuklah. Aku sudah menyiapkan mejanya." Si teman perlahan membuka pintu, masuk ke dalam sesuai izin di pemilik.


"Bersiap-siap saja, aku akan menata mejanya," tawar si teman.


"Terima kasih. Aku akan segera selesai."


"Tidak perlu terburu-buru. Kudengar kelasmu ditunda karena dosennya sedang mengantarkan istrinya ke dokter. Dengan kata lain, kelas pagimu akan digeser setelah jam makan siang." Ucapan temannya menghentikan Ignacia yang akan meraih ikat rambut di meja belajarnya. Dia tertegun sejenak.


"Benarkah? Aku belum melihat grup hari ini."


"Sesuatu menganggumu, Ignacia?" Temannya menatap. Sudah selesai menata meja. "Jika belum siap bercerita, tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Seseorang menitipkan mu padaku. Jadi aku harus menjagamu."


Ignacia terkekeh, lanjut meraih ikat rambutnya. Diikatnya asal karena kelasnya ditunda. "Aku baik-baik saja. Lagipula aku hanya terkejut karena kelas ditunda. Memangnya apa yang mungkin terjadi padaku hm?" Ada senyum kecut yang tidak disadari teman di hadapan Ignacia.


"Juga aku-"


Suara ketukan menghentikan ucapan Ignacia. Buru-buru pemilik kamar bangkit untuk melihat siapa yang datang. Begitu dibuka, rupanya ada yang datang membawa makanan lain. "Halo, aku baru saja kembali dari luar dan melihat makanan enak. Aku ingin membaginya denganmu," ucap Danita bersemangat.


Ignacia membeku sebentar. Belum pernah dia berada di situasi semacam ini. Dia bisa saja meminta Danita masuk dan berkenalan dengan temannya di dalam. Tapi apa temannya akan merasa nyaman? Lalu untuk Danita sendiri, apa dia tidak masalah jika ada pertemuan mendadak?


"Ignacia, kenapa tidak suruh temanmu masuk?" Temannya bangkit, muncul untuk menyapa Danita yang masih berada di depan pintu. "Halo, kau pasti Danita. Aku sudah dengar tentangmu dari Ignacia. Katanya kamu orang yang memiliki aura positif. Dan Kelihatannya itu benar."


Danita tersenyum geli, "begitukah? Ya harus kuakui jika penilaian Ignacia itu benar." Danita mengulurkan tangannya niat berkenalan. "Halo, aku Danita. Panggil saja aku Tata. Senang bertemu denganmu." Baru menyentuh tangannya saja si teman sudah bisa merasakan kehangatan.


"Namaku Nesya, salam kenal." Di gadis berkacamata ini tersenyum cerah. Masih dengan tangannya yang masih berada di genggaman Danita.


Sejujurnya Ignacia merasa dunianya semakin mengecil. Nesya kebetulan diterima di kampus yang sama dengannya meskipun beda jurusan. Lalu di sisi lain ada Danita alias Tata yang Ignacia temui di hari penandatanganan buku. Sebuah keajaiban Ignacia bisa bertemu dengan orang-orang ini lagi di tempat yang belum pernah dia bayangkan.


Ketiganya sekarang duduk melingkar di meja yang sudah ditata Nesya. Makanan yang dibawa Danita ditambahkan. Jadinya sarapan ketiganya menjadi lebih berwarna. Ada banyak cerita yang dibawa Danita juga Nesya. Mereka saling berbagi karena rasa nyaman yang tiba-tiba muncul di pertemuan pertama.


"Jadi kalian sudah berteman sejak kecil? Wah pertemuan kalian hingga saat ini pasti memiliki banyak cerita." Danita meletakkan kedua tangannya di atas meja, ucapannya terdengar kagum dengan rencana Tuhan yang luar biasa ini.


"Tentu saja. Pertemuannya juga sedikit kebetulan sama seperti kau dan Ignacia yang bertemu di acara penandatanganan buku itu. Siapa sangka kalian bisa menjadi tetangga di asrama juga."


Ignacia lebih banyak mendengarkan daripada bicara. Dia juga bingung harus bicara apa di tengah keseruan kedua temannya. Dia terlalu ingin mengecek ponsel apakah ada pesan dari kekasihnya atau tidak. Laki-laki itu semakin sibuk seolah tidak mengingat keberadaan Ignacia lagi.


"Pertemuan kita saat ini juga kebetulan," tambah Nesya.


"Kurasa ada banyak kebetulan di sekitar Ignacia," Danita terkekeh mendengar ucapannya sendiri, "di kelas, dia banyak menjawab kuis dengan benar. Dia bilang itu karena kebetulan, padahal dia sendiri belajar hingga larut malam untuk kuis itu."


"Tapi ada cerita yang benar-benar kebetulan." Nesya tertawa lebih dahulu sebelum bercerita. "Saat kami masih SMA, ada kuis ekonomi. Ignacia tidak mencatat rumus pokok, jadinya dia akan menyalin milikku." Kembali Nesya terkekeh.


"Lalu ketika Ignacia sudah membuat kolom rumus pokok, tiba-tiba namanya di panggil oleh guru. Jadi dipanggil secara acak untuk mengerjakan soal di depan. Bagusnya Ignacia bisa menjawab soalnya dengan mudah meskipun tidak mencatat rumus pokok. Dan dia mendapatkan nilai."


Danita tertawa, "wah itu kebetulan yang diluar nalar. Aku bisa bayangkan wajah terkejut Ignacia saat mendengar namanya di panggil. Karena sebelumnya dia pernah melakukan hal yang sama. Dia sedang mencatat kemudian namanya di panggil untuk menjelaskan."


Kenapa sekarang arahnya jadi membicarakan Ignacia?


"Hei kenapa kalian malah membahasku?" Tentu saja Ignacia merasa malu. Wajahnya agak memerah tapi bangga dengan pencapaiannya sendiri.


Flashback On


"Saya akan memanggil nama kalian secara acak untuk menjelaskan materi kita sebelumnya seperti biasa. Saya harap kalian bisa melakukannya dengan baik."


Ignacia membuka kembali catatan mata kuliahnya. Bab kemarin belum dia catat rangkumannya. Mungkin mencatatnya dengan sisa-sisa ingatan akan membantu. Tapi semoga saja bukan dia yang di panggil pertama kali.


"Ignacia Maheswari."


Mata si empunya nama hampir membulat sempurna. Buru-buru di netralkannya raut wajah sebelum bangkit dari tempat duduk dan mengambil tempat di depan kelas. Wah sungguh hari yang tidak menguntungkan baginya.


Flashback Off


...*****...


"Kamu beruntung karena bertemu dengan seseorang yang memiliki aura sepositif dia, Ignacia." Nesya menepuk bahu si teman di sampingnya. Taman kampus adalah tempat yang bagus untuk mengobrol selain di kantin saat jam makan siang.


"Kenapa begitu?" Ignacia meneguk minuman kalengnya setelah bicara. Matanya masih tertuju pada para mahasiswa jurusan lain yang sepertinya baru kembali dari luar universitas.


"Danita Kelihatannya tipe orang yang dapat membuat orang-orang di sekitarnya bahagia. Kamu tau? Semacam penyemangat yang sederhana yang hangat. Aura positif yang dia berikan itu bisa membuatmu lebih bersinar juga."


Ignacia tahu maksud temannya. Dia meletakkan minuman kalengnya dan bersandar dengan kedua tangan ke belakang. Dia tersenyum tipis kemudian bicara, "dia seperti tidak punya kekhawatiran apapun karena auranya."


"Ignacia, aku senang kamu berteman dengan Danita. Dia akan memberikan banyak perhatian yang kamu butuhkan."


"Kamu seakan tahu segalanya, Nesya." Ignacia menoleh. Mendapati Nesya meneguk minumannya hingga habis.


"Kamu pikir aku tidak tahu jika kamu terlihat lemas akhir-akhir ini? Aku memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku bisa melihat sesuatu yang berbeda darimu." Neysa melempar kaleng kosongnya ke tempat sampah terdekat.


"Apa seharusnya aku mengambil kelas peran agar kamu tidak membacaku dengan mudah?" Balas Ignacia dengan senyuman kecut. Terdengar kekehan pelan setelahnya.