
"Aku kemari untuk menemuimu. Aku ingin mengantarmu hingga sampai di tempat parkir."
Dua kalimat sederhana Rajendra menggetarkan hati Ignacia. Ada sesuatu dari laki-laki ini yang membuatnya tersentuh padahal hanya mengutarakan sesuatu yang pasti pernah didengar semua orang.
Ignacia melirik Nesya yang sudah berjalan lebih dahulu. Dia benar-benar ingin memberikan jarak pada sepasang kekasih yang tampak renggang sebelah. Ignacia cepat-cepat mengambil keputusan, mengangguk mengiyakan. Tapi setelahnya, Rajendra akan kembali sibuk.
"Kenapa tidak memakai sepatu?" Tanya Ignacia keheranan. Tidak biasanya Rajendra berjalan tanpa alas kaki.
"Hujan tadi membuat sepatuku basah."
Memang benar hujan datang siang ini. Tapi ada dimana sepatu Rajendra ketika itu? Bukankah dia ada di dalam lab kimia dan sedang melakukan kesibukan? Apa hubungannya dengan hujan? Sudahlah, Ignacia malas memikirkannya.
Tidak ada yang keduanya bicarakan. Rajendra tidak bisa menemukan topik. Karena jujur saja, dia hanya ingin bertemu dengan gadisnya sebelum meninggalkannya sendirian. Tidak ada rasa penyesalan ketika membiarkan Ignacia juga sibuk dengan dunianya sendiri. Dianggapnya semua yang Rajendra lakukan sekarang ini hanya untuk masa depannya.
Di samping itu, Ignacia tidak bisa bertanya apapun. Tidak ada sesuatu yang diketahui Ignacia tentang Rajendra saat ini. Seperti bertemu dengan orang asing untuk pertama kalinya. Seperti baru beberapa hari menjalin hubungan dengan seseorang yang menyukaimu lebih dulu.
Tangan keduanya tengah lenggang. Ada rasa ingin bertaut jika saja ini bukan area sekolahan. Tapi sepertinya hanya Ignacia yang berpikir demikian. Rajendra malah mengambil kesempatan untuk hanya sekedar menyentuh gadisnya barang sedetik saja. Entah apa yang laki-laki ini pikirkan.
"Kapan kamu akan pulang?"
"Mungkin sebelum gelap."
"Apa yang kamu lakukan selama itu?"
"Kesibukanku."
Sebegitu pentingnya rahasia bagi Rajendra?
Ignacia mengangguk-angguk saja tanpa banyak protes. Dia tidak ingin dianggap terlalu ikut campur dan mengganggu kehidupan Rajendra. Jika selama ini Ignacia tetap diam meskipun tidak diberitahu banyak soal Rajendra, seharusnya seterusnya gadis ini juga tetap pura-pura tidak tahu.
"Ignacia, aku mengirimkan pesan padamu. Tapi kenapa kamu tidak membalasnya?" Rajendra berbisik. Sedikit mendekatkan diri pada Ignacia.
"Wifi sekolah tidak berkerja dengan baik. Jadi aku tidak membuka ponsel. Maafkan aku. Aku tidak tahu jika kamu menghubungi." Ignacia tidak sepenuhnya berbohong. Tapi sejak pagi Ignacia memang tidak memakai ponsel untuk memulihkan energi diri. Novel online saja dia baca offline tadi.
"Benarkah? Padahal WiFi di sekolah lab kimia baik-baik saja."
Tempat parkir tengah sepi. Orang-orang sudah pulang kecuali mereka yang masih memiliki hal penting di sekolah. Ignacia sudah menemukan letak sepeda motornya, Rajendra sudah bisa pergi meninggalkannya disana.
"Terima kasih sudah mengantarku sampai disini. Kembalilah, semoga harimu berjalan dengan baik."
Tersenyum untuk sesuatu yang tidak membuatmu bahagia bukanlah hal mudah. Ignacia memaksanya agar tidak terlihat kecewa. Demi hubungan yang tahan lama dan tenang tanpa pertengkaran. Yang terpenting adalah Rajendra semoga segera sadar jika dia sudah meninggalkqn Ignacia sendiri.
"Tentu. Sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan."
...*****...
Bukan sekali saja Rajendra muncul ketika Ignacia bersama dengan Nesya ketika sudah waktunya pulang sekolah. Tiga empat hari berlalu dengan sedikit 'kemunculan' Rajendra di tengah-tengah Ignacia dan teman-temannya. Bahkan ketika di sekitar Ignacia masih ada banyak teman, Rajendra hadir.
Yang paling menganggu Ignacia adalah saat dia kemarin berjalan bersama beberapa orang teman, keluar dari dalam kelas melewati taman baru. Rajendra ada di taman baru dengan dua orang gadis, teman-teman pasti. Entah membahas apa, tapi Ignacia pasti tidak diberitahu.
Melihat Ignacia yang berjalan melewati taman membuat Rajendra kemudian bangkit. Dikiranya Rajendra akan menemui teman laki-laki yang sering mengganggu Ignacia itu. Laki-laki berkacamata yang juga adalah anggota MPK di masa lalu. Haha Ignacia selalu puas jika membahas soal MPK di masa lalu.
Tapi rupanya tidak. Benar apa yang Nesya serukan.
"Rajendra akan menemui Ignacia."
Rajendra kemudian mengambil posisi di samping Ignacia, berjalan bersama seperti beberapa hari sebelumnya. Di depan Ignacia ada beberapa temannya, di belakang juga ada. Jadi keduanya berada di tengah kerumunan. Bukan kerumunan, tapi beberapa orang yang dikenal Ignacia.
"Kapan pulang?" Ignacia bertanya.
Sekuat tenaga dia mencoba untuk tidak membahas sesuatu yang terlalu sensitif karena ada dua orang di belakang mereka. Jadi bertanya tentang hal yang biasa saja. Yang lumrah ditanyakan antarpasangan.
"Entahlah. Tapi kuusahakan untuk tidak pulang terlalu malam."
Pembicaraan berhenti, keduanya merasa canggung. Bahkan karenanya Rajendra beberapa kali menoleh ke belakang untuk melihat teman-teman Ignacia. Rasanya risih jika ada yang berjalan di belakangmu. Kemungkinan besar juga mereka mendengar pembicaraan keduanya.
"Kenapa kau menatap kami seperti itu?" Tanya seorang teman di belakang. "Oh kode untuk kami menyingkir? Baiklah kami akan segera mendahului kalian."
Setelah perginya kedua pengganggu itu, Rajendra bisa leluasa bicara dengan Ignacia. "Maaf karena kemarin aku tidak bisa menghubungimu. Saat aku mengirimkan pesan, kamu sudah tidak aktif. Kamu sudah pergi tidur." Bukan itu yang Ignacia inginkan.
"Tidak masalah. Aku tahu jika kamu sibuk. Nikmati saja waktu-waktu sibuk itu sebelum berakhir."
"Jangan meminta maaf jika kamu tidak bisa membuatku merasa lebih baik, Rajendra. Kamu minta maaf tapi tidak memberikan apa yang kamu selali padaku," Ignacia membatin.
...*****...
Sudah seminggu Rajendra melakukan kegiatannya dengan mengantar Ignacia kemudian kembali ke suatu tempat. Sudah seminggu pula kebahagiaan Ignacia memudar bak terkena hujan siang. Rasanya panas dan tidak nyaman. Jika ingin sibuk, ya sibuk saja. Kenapa harus kembali datang?
Hari itu Ignacia ada presentasi penting. Ya katanya sih presentasi, tapi rupanya tugas membuat video presentasi. Setelah selesai dengan kelompoknya, Ignacia pergi ke kelompok Nesya. Sayangnya keduanya tidak satu kelompok karena kelompoknya ditentukan oleh sang guru.
Mereka tidak pernah beruntung jika sudah di situasi seperti itu.
"Jadi Rajendra mengikuti lomba membuat kapal diluar kota?" Tanya seorang teman laki-laki dari kelompok Nesya. Teman laki-laki yang rupanya satu ekstrakurikuler dengan Rajendra di robotik. Mendengar itu Ignacia mengerutkan keningnya, merasa janggal dan aneh.
"Lomba membuat kapal?" Beo Ignacia.
"Oh kau tidak tahu? Sudah berjalan seminggu. Aku tidak tahu kapan mereka akan pergi, karena aku tidak ikut. Bukankah Rajendra akan mengatakan sesuatu padamu sebelum pergi?"
Tidak. Rajendra tidak mengatakan apapun. Tapi Ignacia tidak ingin mengakuinya. "Oh benarkah? Sepertinya aku yang lupa. Benar juga, karena itu dia selalu sibuk akhir-akhir ini. Bahkan aku jarang melihatnya."
...*****...
Ada kesempatan bertemu dengan Rajendra sepulang sekolah hari itu. Ignacia ingin membahas soal pergi keluar kota untuk perlombaan kali ini. Rajendra tidak bisa mengelak saat sudah ditanyai. Air wajah yang tampak senang berubah bingung. Mungkin ada keinginan berbohong tapi tidak dilakukan.
"Aku tidak membahasnya karena aku tidak enak meninggalkan kamu. Sebelum-sebelumnya aku meninggalkan kamu tanpa banyak menghabiskan waktu bersama. Jadi, aku ingin pergi sebentar sebelum kamu mencariku."
"Ini bukan pertama kalinya aku tahu berita tentang kamu tapi bukan langsung darimu, Rajendra." Maaf jika terlalu berlebihan, tapi rasanya Ignacia bukan siapa-siapa jika tidak tahu apapun saol Rajendra. Seperti bukan kekasih biasa.
"Aku minta maaf. Kali ini aku ingin memberitahu jika kami sudah memenangkan penghargaannya. Jika kami berhasil pulang dengan membawa juara. Dengan begitu aku bisa menjelaskan alasan kenapa aku sering sibuk lagi akhir-akhir ini."
"Begitu rupanya." Sudahlah, Ignacia malas membahasnya.
"Omong-omong, Rajendra," Ignacia kembali bicara. Sebelum itu dia melihat ke arah teman-temannya yang ada di hadapan. Teman-teman yang tengah mengobrol seru tanpa melibatkan dia. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Bisakah kamu hanya membiarkan aku pulang dengan teman-teman jika bukan hanya ada aku dan Nesya? Nesya mungkin bisa mengatasinya, tapi jika ada teman-teman yang lain, aku sedikit tidak nyaman."
Semoga ucapan Ignacia tidak menyakitinya. Tapi kelihatannya tidak demikian. Bukannya menjawab, Rajendra justru membuat janji untuk keduanya bertemu besok malam. Ketika Rajendra tidak memiliki kesibukan membuat kapal. Dia akan memberikan jawabannya pada hari itu.
"Maaf jika kamu tersinggung, Rajendra."
"Tidak, bukan begitu maksudnya. Sekarang aku akan segera mengantarkan kamu ke tempat parkir dan segera kembali."
...*****...
Rajendra datang menjemput, membawa gadisnya pergi ke suatu tempat yang katanya akan disukai Ignacia. Sebuah kafe dengan banyak buku di dalamnya. Tidak mungkin Ignacia bisa menutup mata dan pura-pura tidak melihatnya. Barangkali bisa mengubah suasana hati gadis itu.
Ada senyuman kecil yang mengembang ketika melihat Ignacia kagum dengan kafe yang berhasil ditemukan Rajendra. Tapi tentu saja tidak lepas dari rekomendasi Nesya. Seseorang yang paling mengenal kekasihnya.
Rajendra suka ekspresi wajah itu. Ekspresi wajah Ignacia yang tampak seperti anak kecil yang bagus mendapatkan hadiah ulang tahun. Padahal dia yang biasanya mengubah air wajah itu.
"Ignacia," panggil Rajendra. Gadisnya baru saja duduk dengan membawa sebuah buku di tangannya. Pandangan keduanya langsung bertemu. "Maaf karena aku terlalu sibuk dan tidak mengatakan apapun padamu. Maaf karena aku tidak memberi kabar dan membiarkan kamu tahu."
Rajendra mengambil satu tangan Ignacia yang tengah lenggang, menggenggamnya lembut. Ditambah dengan tatapan meneduhkan dan kelihatan sangat berbeda. "Jika aku memberi kabar bahwa aku akan pergi, aku takut melihat reaksimu. Aku takut merusak harimu seperti terakhir kali ketika aku sibuk dan tidak bisa sering dihubungi."
Rajendra tengah menyesal?
"Tapi jika kamu tidak memberitahuku, akan ada seseorang yang memberikan kabar soal kamu. Aku paling tidak suka ketika hal itu terjadi." Ignacia menunduk, menatap tangannya yang berada di dalam genggaman kedua tangan Rajendra. Terlalu malu untuk menatap kedua mata hitam Rajendra.
"Kamu membuatku kesepian, Rajendra. Aku tidak tahu banyak soal kegiatanmu. Bahkan temanmu saja tahu, tapi kenapa aku tidak? Kamu meninggalkan aku sendirian tanpa kabar."
"Maafkan aku."
Hanya kata maaf? Bukan itu yang coba Ignacia dapatkan.
"Aku akan pergi Minggu depan, aku belum siap mengatakannya padamu," tangan Rajendra bergerak untuk mengangkat wajah Ignacia agar menatapnya, "mau pergi ke suatu tempat lagi setelah ini? Aku ingin lebih lama bersamamu. Aku tidak ingin pergi ketika masih merindukanmu."
...*****...
Ignacia tidak banyak bicara saat berada di jok belakang. Dia hanya semakin menguatkan pegangannya pada ujung jaket Rajendra karena merasa kesal. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan apa yang harus dia lakukan jika Rajendra tidak bisa dihubungi. Bagaimana ketika Rajendra harus sangat sibuk dan melupakan dia seharian.
Atau bagaimana jika Rajendra banyak mengambil foto dengan perempuan lagi? Feby sudah menjadi ancaman. Sarah juga. Apa harus ada nama perempuan lain di dalam daftar Ignacia setelah Rajendra kembali dari perlombaan itu?
"Berpegangan itu yang benar," tegur Rajendra dari balik helm ketika berhenti di lampu merah. Bahkan Ignacia tidak sadar jika tangannya di genggam Rajendra untuk memeluk pinggangnya seperti biasa ketika berboncengan.
"Jangan sampai kamu terjatuh karena tidak berpegangan padaku dengan benar."
"I-Iya," gugup Ignacia.
Sepeda motor Rajendra berhenti di bukit. Lagi-lagi tempat yang membuat Ignacia terus mengingat Rajendra. Tempat yang katanya dapat membuat Ignacia sadar jika Rajendra bukanlah segalanya. Tapi kenapa laki-laki ini harus mengatakan itu pada seseorang yang menyukainya?
Seseorang yang mencintainya.
Keduanya duduk di kursi taman kosong. Menatap pemandangan malam kota yang sibuk. Malam Minggu. Tentu saja semua orang akan menikmati hari libur yang paling menyenangkan ini dengan pergi keluar. Berjalan-jalan untuk menghilangkan semua beban pikiran. Rajendra juga melakukan hal yang sama.
"Ignacia," Rajendra membuka suara, "jika kamu ingin menghubungi aku, kirimkan saja pesan. Aku tidak suka sikapmu yang ragu-ragu untuk menghubungi aku. Kenapa kamu harus ragu? Padahal aku juga tidak pernah keberatan jika kamu mengirimkan pesan. Hubungi aku kapan saja."
Ignacia mendengarkan, perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Rajendra. Begitu Rajendra selesai bicara, barulah si gadis yang merespon. "Jika aku menghubungimu ketika kamu sedang sibuk, apa itu tidak menganggu konsentrasimu? Aku tidak suka mengganggu orang lain. Aku merasa bersalah."
"Jangan bicara begitu. Aku tidak suka."
"Kalau begitu aku minta maaf."
Suasana berubah hening. Keduanya diam. Bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Sejujurnya ada kakak kelas laki-laki yang mengajakku pergi malam ini," ucap Rajendra memberitahu. Membuat Ignacia membenarkan posisi duduknya dan menatap Rajendra seolah bertanya, 'lalu kenapa tidak pergi?'
"Tapi aku menolaknya karena ingin pergi denganmu. Kapan lagi aku bisa mengajakmu keluar malam-malam begini? Aku tidak ingin kehilangan apapun."
Ignacia tersenyum tipis, kembali meletakkan kepalanya di bahu Rajendra. "Rajendra, kadang aku berpikir tentang perasaanku padamu. Kita berdua, namun kenapa rasanya aku tetap sendirian? Dan setelah kupikirkan, rupanya karena aku terlalu ragu untuk menghubungi mu dan kamu memiliki dunia yang sibuk. Baru kusadari jika dunia kita berbeda."
"Karena itu," Rajendra menoleh, "kuminta kamu untuk terus menghubungi aku meskipun aku sibuk. Kamu tahu bagaimana gugupnya aku ketika tidak mendapatkan pesan? Aku takut sesuatu yang buruk terja-"
Cup!
Ignacia menghentikan kalimat Rajendra. Mengecup singkat bibir yang dia rindukan. "Jika takut, tidak bisakah kita kembali seperti masa lalu? Ketika aku benar-benar bisa melihatmu di sekitarku."