
Berkat kedekatan dengan ayahnya, Amira berhasil bertemu dengan Qabil. Suami paling sempurna di mata wanita ini. Lihatlah sekarang ayah muda ini tengah mengambil alih tugasnya menyetrika pakaian hanya karena si istri merasa lelah setelah menjemput Maaz kembali dari sekolah. Anak laki-lakinya akan mengikuti acara di sekolah, jadi hari ini ada latihan.
"Kalau begitu katakan padaku baju mana yang harus aku setrika. Biar aku yang menggantikan kamu melakukannya."
Amira mendekati suaminya, memeluk prianya dengan lembut. Ia ucapkan terima kasih karena Qabil menawarkan diri tanpa diminta. Qabil meletakkan setrika panasnya dalam posisi berdiri agar tangannya bisa bebas sebentar. "Istirahatlah jika kamu lelah, Ira. Nanti kita makan diluar saja jika kamu masih lelah. Atau mau aku bantu memasak makan malam?"
Peran baik ayahnya membuat Amira mampu mendapatkan Qabil. Amira tidak pernah menyesali keputusannya untuk terus bersama ayahnya semasa kecil. Tidak ada laki-laki penasaran yang mampu menarik perhatian Amira hingga takdir mempertemukan dirinya dengan Qabil.
Amira menolak istirahat tanpa suaminya. Katanya ia merasa lebih bersemangat jika memeluk suaminya. Qabil terkekeh kecil, tidak keberatan mendapatkan pelukan hangat. Energi keduanya juga seakan kembali ke seratus persen jika terus berada di posisi ini. Nyaman untuk Amira, dan lucu bagi Qabil.
"Kamu tahu, ketika aku menunggu Maaz selesai tadi aku tiba-tiba ingat semua perlakuan burukku pada ibu. Aku masih kesal, tapi juga kecewa karena tidak sebaik Rajendra. Apa menurutmu kini ibu sudah memaafkan aku?" Amira melonggarkan pelukannya sebentar, membiarkan Qabil berbalik menatap dirinya.
Selain membuat Amira berhasil pergi sejauh mungkin dari rumah orang tuanya, Qabil juga membantu istrinya untuk kuat kembali mampir ke rumah pertamanya. Qabil membujuk, memberikan dukungan juga pengertian pada Amira jika ibunya tidak akan menyimpan dendam. Apalagi untuk anak pertama yang beliau lahirkan dengan begitu keras. Ibunya pasti sudah melupakan masa-masa itu. Amira tidak perlu khawatir.
Lagipula Qabil tahu makna dari senyuman yang selalu mertuanya berikan pada istrinya ini. Jelas menunjukkan wajah bahagia orang tua atas kehadiran anaknya yang seolah menghilang setelah menikah. Pelukan mertuanya pada Amira juga membuktikan jika hati wanita itu selapang samudra.
Amira mampu mendekat sedikit dengan ibunya akhir-akhir ini juga karena Qabil. Ia ingin Maaz melihat ibu dan neneknya dekat. Menurutnya melihat anggota keluarga yang rukun dan dekat pasti sebuah pelajaran untuk terus menjaga tali silaturahmi. Menjaga tali persaudaraan yang sangat penting dalam kehidupan berkeluarga.
Qabil berbalik, menghadap Amira dan membalas pelukan istrinya tak kala hangat. "Kamu sudah pernah minta maaf pada ibu kan? Ibu sudah memaafkan kamu. Jadi kamu bisa melupakan kenangan buruk di kepalamu, Amira." Amira mengangguk pelan, ia eratkan pelukan seolah mencari sebuah titik penegasan. Bukti seperti Qabil serius meminta kekasihnya melupakan masa lalu.
Qabil lalu melihat Maaz di dekat pintu. Anak laki-lakinya berhenti tepat setelah melihat kedua orangtuanya tengah berpelukan. Dia membawa segelas minuman berisi beberapa es batu. Qabil bertanya tanpa suara, apakah minuman itu akan Maaz berikan pada ibunya. Maaz mengangguk kecil. Anaknya juga tampak malu-malu melihat posisi ayah dan ibunya.
Si suami akan mengalah. Ia melepaskan pelukan pada istrinya lalu memberitahu jika Maaz menyiapkan sesuatu untuknya. Amira merasa tersentuh. Maaz menyiapkan ini agar mamanya tidak lelah lagi. Dirinya bisa kembali segar setelah meminum minuman dingin, jadi ia pikir ibunya juga akan bersemangat lagi setelah minum ini. "Terima kasih banyak."
Maaz mengangguk lalu meninggalkan ruang setrika. Mungkin ia ingin membiarkan orang tuanya kembali dekat. Biasanya Maaz yang memeluk ibunya. Tidak ada salahnya jika bergantian dengan ayahnya. Biar ayahnya juga merasa nyaman seteleh memeluk ibunya.
"Karena ibu sudah memaafkan kamu, sekarang kita jadi punya anak yang sangat pandai dan baik." Ucapan Qabil ada benarnya. Pasti ada doa dari orang tua keduanya agar Maaz bisa tumbuh menjadi anak laki-laki yang sebaik ayahnya.
Baik Amira maupun Rajendra, kakak beradik ini sudah menemukan kebahagiaan masing-masing. Berhasil lupa sedikit tentang masa lalu yang penuh emosi tidak stabil. Rajendra juga memetik pelajaran berharga ketika dekat dengan ibunya. Rajendra tidak mudah mengakhiri hubungan di usianya yang masih muda dulu. Hingga sekarang waktunya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Rajendra sedang ada di kota, memenuhi permintaan sang ibu untuk membeli beberapa barang. Di jalan pulang, ia melewati kedai Thai Tea yang disukai kekasihnya. Mampir sebentar untuk membelikan Ignacia minuman kesukaannya di masa lalu mungkin bisa menjadi alasan bagus. Rajendra bisa melihat kekasihnya sekali lagi setelah berkencan kemarin.
Sepanjang perjalanan Rajendra tidak henti-hentinya memikirkan gadisnya. Memikirkan bagaimana bahagianya Ignacia ketika mendapatkan sesuatu dari Rajendra selalu membuatnya kembali bersemangat. Ignacia mungkin menganggap ekspresinya kurang tulus. Tapi bagi kekasihnya, semuanya sudah sempurna.
Sebelum memanggil gadisnya keluar, Rajendra bertanya apakah ayah Ignacia ada di rumah. Ia harus memastikan gadisnya tidak terkena masalah. Rajendra beruntung meskipun datang tanpa memberitahu si pemilik rumah. Keluarga Ignacia pergi ke kosan Athira dan akan kembali sore nanti. Ignacia sengaja tidak ikut karena sedang malas saja. Ia katanya akan mendatangi adik pertamanya lain kali dan menghabiskan waktu berdua.
"Terima kasih untuk Thai Teanya. Mau mengobrol sebentar di dalam? Ayo masuklah."
Rajendra dibawa masuk ke dalam rumah. Tidak mungkin Ignacia akan membiarkan Rajendra langsung pulang. Setidaknya mengobrol sebentar dan minum sesuatu. Lagipula orang tuanya masih lama kembalinya. Ignacia menerima pemberian kekasihnya dengan senang hati. Jika diingat-ingat ia memang sudah lama tidak minum Thai Tea. Ignacia lebih menikmati es krim karena bisa dimakan bersama Rajendra.
"Kamu ingin minum apa?" Ignacia bertanya setelah mempersilahkan kekasihnya duduk. "Kami punya beberapa jambu merah. Mau kubuatkan jus?" Rajendra tidak akan menolak. Apalagi jika buatan Ignacia.
Si gadis membawa kekasihnya ikut ke dapur agar tidak sendirian di ruang tamu. Pintu halaman belakang dibuka untuk membawa angin dari luar. Angin sepoi-sepoi yang membuat mengantuk. Rajendra enggan duduk dan menunggu kekasihnya selesai. Kedatangan dirinya kemari adalah untuk bertemu dan bukannya merepotkan. Jadi ia membantu Ignacia mengeluarkan beberapa jambu lalu ikut mengupas.
"Duduk saja, biar aku yang melakukannya. Kamu itu tamuku," ucap Ignacia beberapa kali namun seolah tidak didengarkan oleh kekasihnya. "Tamu seharusnya duduk dan menunggu tuan rumahnya menyajikan sesuatu," tambah si gadis. Omong-omong sikap Rajendra yang tenang ketika mengupas kulit jambu kenapa tampak sangat keren? Apa karena fokus Rajendra ada pada jambu di tangannya? Ekspresi Rajendra serius dan fokus sangat tampan.
Hasil kupasan Rajendra sama bagusnya dengan Ignacia. Si gadis beralih mengambil blender dari rak atas. "Oh ya aku ingin tahu kenapa kamu tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Aku tidak menyiapkan apapun sekarang." Si gadis menoleh, mendapati kekasihnya sudah selesai dengan jambu-jambu itu. Rajendra mencuci tangannya sebentar sebelum menjawab.
"Jadi kamu hanya menemui aku jika kebetulan sedang rindu? Jika tidak, kamu tidak akan datang kemari?" Ignacia memasukkan jambunya ke dalam blender setelah dipotong jadi beberapa bagian. Rajendra membantu dengan mengambilkan air sembari terkekeh. Jujur saja Rajendra selalu merindukan gadisnya tanpa bisa disebut kebetulan.
Rajendra sudah terlanjur nyaman berada di dapur kekasihnya. Udara terbuka di ruangan ini lebih sejuk daripada ruang tamu. Pasti karena keberadaan tanaman dan pohon di samping rumah keluarga ini. Juga jika mengobrol di dapur, Rajendra jadi ingat dengan masa-masa mengobrol dengan sang ibu. Mereka sering membahas soal Ignacia disana. Tidak, Rajendra tidak tengah membandingkan gadisnya dengan sang ibu. Ia hanya mengaitkannya tanpa sengaja.
Gadis yang sering mereka bicarakan kini bisa duduk di dapur bersamanya. Ini bukan pertama kalinya mereka ada di dapur rumah si gadis atau ketika acara makan malam di rumahnya waktu itu. Tetap saja pikiran Rajendra selalu terbang ke arah sana. Dapur menyimpan keajaiban bagi Rajendra selain tempat datangnya makanan enak.
Omong-omong Ignacia tampak berbeda dengan baju rumahan. Tentu tidak ada waktu untuk berganti pakaian karena Rajendra sudah tepat berada di depan rumahnya. Jadilah Ignacia muncul di hadapan kekasihnya menggunakan kaus berwarna biru di bagian lengan dan bagian tubuhnya berwarna putih. Dan ciri khas gadisnya tetap tidak berubah. Rambutnya dibiarkan tergerai seolah tidak bisa merasakan panas.
Rajendra tidak jauh berbeda. Ia hanya memakai kaus berwarna merah dan celana pendey. Karena tujuan awalnya memang hanya untuk memenuhi permintaan sang ibu. Rajendra sudah menghubungi ibunya bahwa dirinya akan pulang sedikit lebih lama. Lagipula barang-barang yang diminta ini tidak akan digunakan segera. Jadinya Rajendra mendapatkan izin.
"Bagaimana rasanya? Apa kita perlu menambahkan gula lagi?" Ignacia membiarkan kekasihnya mencoba jus buatannya. Ia merasa jusnya sudah manis, entah bagaimana dengan Rajendra. Melihat laki-laki itu mengangguk, berarti rasanya sudah pas.
Ignacia membawa obrolan kecil, mengisi kekosongan ruangan. Ada sedikit cerita dari buku yang Gadisnya tengah selesaikan hari ini. Katanya kurang beberapa halaman lagi dan Ignacia bisa mengetahui keseluruhan cerita. Rajendra mendengarkan, sesekali senyuman mengembang. Gadisnya tampak lebih cantik ketika bercerita.
Rajendra tidak yakin apakah dia bisa pulang sebelum ibunya menelfon. Ia ingin menetap lebih lama, menatap kekasihnya hingga rindunya sirna. Rajendra senang masih punya kesempatan untuk menemui Ignacia diluar rencana dan membuat gadis ini tetap bersamanya hingga saat ini. Sebuah kebanggaan tersendiri ketika merasa berhasil mempertahankan hubungan dengan dua arah.
"Oh ya kemarin Rafka melihat kita keluar dari kedai es krim. Dia bercerita pada ayah." Ignacia meminum jus miliknya. Tenggorokannya terasa kering karena banyaknya cerita yang ia sampaikan. Bahkan ia hampir tidak sadar jika sedari tadi Rajendra hanya bisa merespon singkat. Laki-laki ini juga tampak tidak bosan mendengarkan.
Kali ini reaksinya berbeda. Rajendra lebih tertarik dari sebelumnya. Rasa penasarannya soal bagaimana Rafka tahu jika mereka ada di kedai es krim sama seperti Ignacia. Jadilah gadis itu katakan alasannya. "Lalu bagaimana reaksi ayahmu?" Pertanyaan ini membuat Ignacia harus menyembunyikan fakta. Ia berencana sedikit-sedikit memberikan kode.
"Ayah hanya mengatakan soal apa yang Rafka lakukan dan memberikan aku jus jambu." Ignacia meneguk minumannya sekali lagi. melihat wajah tegang Rajendra dari balik gelas cukup menghibur. Wajah itu pasti mirip dengan Ignacia ketika berhadapan dengan ayahnya kemarin.
Rajendra bersyukur gadisnya tidak kena marah oleh ayahnya karena melanggar peraturan. Selama ini Rajendra selalu khawatir hubungannya akan retak setelah ayah Ignacia mengetahui jika anaknya berkencan dengan seseorang. Diam-diam Rajendra selalu memikirkan itu kala membawa gadisnya pergi keluar.
Jika ayah Ignacia tidak bereaksi apa-apa setelah tahu anaknya berkencan, apakah itu berarti Rajendra bisa mengutarakan soal rencananya melamar Ignacia suatu hari nanti begitu semua perusahannya selesai? Rajendra akan menunggu semuanya siap. Ia hanya perlu memprediksi perasaan siap Ignacia.
Hari sudah akan sore, sebaiknya Rajendra segera pergi sebelum keluarga kekasihnya kembali. Si laki-laki memeluk gadisnya sebelum melangkah keluar rumah. Rajendra tidak tahu apakah ia akan tahan berpisah dengan gadisnya lagi. "Aku akan merindukanmu jika sudah kembali ke perantauan, Ignacia. Teruslah hubungi aku, mengerti?"
Satu hal yang perlu Rajendra tahu. Mana mungkin Ignacia tahan tidak menghubungi kekasihnya. Yang seharusnya diperingatkan itu Rajendra. "Dan kamu, sisihkan waktu sebentar untuk membalas pesanku. Aku yakin tidak ada satu bab novel yang harus kamu baca ketika aku mengirimkan pesan." Ignacia berhasil membuat kekasihnya terkekeh.
Iya, Rajendra akan berusaha memberikan waktunya. Sekarang yang menjadi tujuannya bukan hanya soal urusan di kota perantauan. Gadis ini juga adalah masa depan yang akan menemaninya hingg akhir hayat. Harap-harap Rajendra bisa segera melangkah ke tempat ini bersama orang tuanya.
Ignacia menunggu hingga Rajendra meninggalkan halaman rumahnya. Ketika suara motor kekasihnya sudah menghilang, barulah gadis ini masuk. Ia bertanya-tanya apakah Rajendra memikirkan sesuatu setelah cerita soal Rafka. Ignacia langsung menuju kamar, ia mengecek apakah ada surel balasan dari sekolah yang ia kirimi surat lamaran pekerjaan.
Belum saatnya Rajendra tahu soal rahasia yang satu ini. Jika sudah berhasil mendapatkannya, Ignacia berencana bertemu dengan kekasihnya dan memberitahu. Kira-kira bagaimana reaksi Rajendra nantinya? Apakah nanti ia akan mendapatkan kejelasan soal pendidikan Rajendra juga wisuda yang ingin Ignacia datangi?
Sementara Ignacia menebak-nebak, Rajendra sudah sampai di rumah. Ibunya duduk di teras, menunggu kepulangan anaknya. Senyumna cerah Rajendra sudah menjelaskan semuanya. "Jadi pertemuan mendadak ini berhasil?" Rajendra jelas mengangguk. Ia bawa barang pesanan ibunya ke dalam. Disusul oleh wanita yang tadi menunggunya.
"Bagaimana bisa kamu tiba-tiba ingin menemui Ignacia ketika dimintai tolong membeli sesuatu hm?" Ibunya mengecek sisi belanjaan, mencegah ada sesuatu yang terlewat.
"Ignacia dulu menyukai Thai Tea. Jadi aku belikan untuknya ketika melewati kedainya."
Jawaban Rajendra tanpa sengaja terdengar oleh ayahnya. Beliau menghampiri anaknya dan berkata, "Anak ini sudah sangat menyukai Ignacia rupanya. Lihatlah bagaimana dia langsung membeli minuman kesukaan gadis itu tanpa rencana." Sesuatu terlintas di benak Rajendra setelah melihat reaksi kedua orang tuanya barusan.
Jika orang tua Ignacia tidak keberatan dengan hubungannya dengan Rajendra, gadis itu pasti tidak akan perlu bersembunyi lagi dan merasakan serunya mendapatkan dukungan dari kedua orangtuanya.