Beautiful Monster

Beautiful Monster
Bulan Sibuk



Bulan-bulan sibuk dimulai. Kelas 12 mulai diserang oleh berbagai macam metode penilaian. Presentasi tugas selalu datang hampir setiap Minggu. Ujian beberapa Minggu. Pembahasan soal hingga pulang di sore hari lagi. Tapi itu masih bisa dibilang mudah jika tidak memasukkan daftar ujian praktek individu dan kelompok.


Semakin sulit untuk melihat Rajendra. Laki-laki itu menjadi siswa yang sibuk. Hanya beberapa kali saja Ignacia mendapati Rajendra pergi dengan jas laboratorium ke lab kimia. Jika tidak begitu, mungkin ke kantin di jam istirahat.


"Jangan lemas begitu. Ayo habiskan makananmu dan segera menyelesaikan tugasnya sebelum jam pelajaran selanjutnya." Nesya menegur Ignacia, menatap tajam gadis yang tampak seperti rumput yang sudah diinjak. Layu dan sudah tidak ada semangat hidupnya.


"Aku lelah. Tidak bisakah makanan itu berpindah langsung ke dalam perutku?" Untuk mengunyah saja dia lelah.


Nesya seperti mengasuh bayi.


"Kamu ini ada-ada saja. Ayo cepat habiskan dan kerjakan tugas selanjutnya. Kita juga belum belajar materi hari ini. Kamu berjanji untuk belajar bersama. Cepatlah atau kita akan terlambat belajar."


Setiap malam setelah mengerjakan tugas yang seperti tidak akan berakhir, Ignacia selalu mengirimkan pesan singkat pada Rajendra. Tidak peduli apakah pesannya akan dibaca atau tidak. Entah pesannya menganggu atau tidak. Toh Rajendra pernah bilang jika dirinya tidak masalah dengan pesan-pesan dari Ignacia.


"Kak, makan malam siap," panggil Athira dari balik pintu kamar sang kakak.


Ignacia menoleh ke arah pintu yang baru saja diketuk. Beralih menatap jam dinding yang sudah menunjukkan waktu makan malam. Kenapa waktu berjalan begitu cepat? Apa karena Ignacia terlalu fokus pada tugasnya agar cepat selesai?


"Kak, apa ingin kubawakan makanannya ke kamar?" Athira masih menunggu rupanya.


Ignacia buru-buru keluar. Mematikan lampu meja belajar, mengisi daya ponsel, dan menutup buku-buku yang ada di atas mejanya. Didapatinya Athira masih berada di sekitar pintu. Keduanya bertemu tatap kemudian bersama-sama pergi ke dapur untuk makan.


"Kenapa kakak terlihat lemas? Sesuatu terjadi? Kakak bisa menceritakannya padaku," Athira menatapnya dengan tangan yang sibuk memutar-mutar garpu ke dalam mangkuk mie, "kakak bisa mengatakan apapun yang membuat kakak merasa lelah. Aku disini bukan hanya sebagai penghuni rumah."


"Aku lelah dengan semua tekanan kelas terakhir. Aku ingin segera lulus tanpa perlu ujian."


"Kalau begitu kakak butuh keajaiban. Oh ya, aku membeli ini tadi," Athira mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya, meletakkannya di atas meja, "kukira kakak butuh banyak cemilan karena terus mengerjakan tugas di kamar. Pasti membosankan jika tidak makan camilan."


Fitbar. Kesukaan Ignacia.


"Terima kasih."


"Omong-omong aku tidak melihat kakak pergi berdua lagi dengan Kak Rajendra. Kalian sengaja menyibukkan diri sendiri dan tidak bertemu lagi?" Athira hanya penasaran. Kakaknya biasanya akan bertemu dengan Rajendra kan?


"Kami sudah ada di kelas 12, Athira. Kami bersiap-siap untuk masa depan yang cerah."


Athira hanya ber-oh ria mendengar jawaban kakaknya. Tugas Athira hanya untuk memastikan kakaknya baik-baik saja sebelum rencana perantauannya setelah lulus. Setidaknya dia tidak akan menyesal karena tidak membuat kakaknya baik-baik saja selama di rumah.


"Setidaknya aku tidak ingin kehilangan kesempatan menjadi adik yang baik," Athira bergumam.


...*****...


"Selamat pagi," sapa seorang teman yang duduk di depan Ignacia. Seorang teman berkacamata bingkai hitam. Ignacia mengangguk dan melambaikan tangan. Mulutnya tidak mampu untuk mengeluarkan suara.


Saat mendekati meja, ada sesuatu disana. Susu rasa vanilla dan Fitbar rasa kesukaan Ignacia. "Siapa yang meletakan ini disini? Ada orang yang duduk disini sebelum aku datang?" Ignacia bicara dengan suara kecil. Suasana kelas yang sepi membuat teman berkacamatanya bisa mendengar suaranya dengan baik.


"Saat aku datang, itu sudah ada disana."


Ada catatan kecil di bawah susu vanilla. Secarik kertas yang dilipat kecil. Tampak familier seperti Ignacia pernah mendapatkan kertas yang sama. Tulisannya juga tidak begitu asing. Ketika di buka, rupanya tulisan yang ada disana memang seperti apa yang dipikirkan Ignacia.


...{Aku menyayangimu}...


...{Semoga harimu menyenangkan}...


Ignacia tersenyum kecil membaca catatan kecil disana. Dia menyimpan kertas itu ke belakang case ponsel dan duduk di tempatnya. Hari masih pagi, dan sebuah kejutan manis datang menghampiri. Ignacia senang bisa datang setelah orang itu menyiapkan hadiah kecil ini.


"Kamu manis sekali," batin Ignacia senang. Ignacia akan membuka ponselnya untuk berterima kasih pada yang memberikan hadiah ini.


"Jika aku berterima kasih sekarang, aku tidak akan merusak kejutannya kan? Apa aku harus menundanya sampai bisa bertemu dengannya secara langsung?"


Keesokan harinya Ignacia juga mendapatkan kepadatan yang sama. Sekolah, pulang sore karena kelas tambahan, dan mengerjakan tugas di malam hari sebelum pergi tidur. Setelah kemarin, susu vanilla dan Fitbar kembali datang tepat sebelum Ignacia memasuki kelas.


Mejanya memang ada di bagian paling belakang, namun warna kotak susu vanilla yang khas membuatnya mudah terlihat meksipun jaraknya agak jauh. Tentu dengan isi catatan kecil yang berbeda.


...{Kamu tahu kan?}...


...{Betapa aku sangat menyayangimu}...


Hari-hari berlalu, camilan terus datang ke mejanya hampir setiap pagi. Ignacia sudah datang lebih pagi untuk melihat seseorang yang meletakkan camilan di mejanya. Tapi Ignacia selalu melewatkannya. Camilan itu datang lebih cepat.


Di hari ketujuh, Ignacia tidak langsung berbelok ke kelasnya. Ada suatu tempat yang ingin dia kunjungi sebelum hari membosankannya dimulai. Tapi sebaiknya dia meletakkan tas beratnya di kelas. Daripada tubuhnya menyusut nanti.


Perlahan kakinya melangkah, mengendap-endap agar tidak menganggu yang ada di dalam. Tangan Ignacia menyentuh bingkai pintu, memastikan dirinya tidak ketahuan.


"Aku penasaran apa yang kamu lakukan sepagi ini," batin si gadis. Ignacia mulai mengintip, menemukan seseorang duduk di kursi yang pernah dia tempati sebelumnya.


"Rajendra," sapa Ignacia pada orang itu. Dia keluar dari tempat persembunyian, membuat yang tengah duduk di depan laptop terkejut. Tapi air wajahnya seketika berubah senang. "Kamu datang lebih pagi dan memberikan aku camilan selama tujuh hari terakhir. Aku penasaran apa yang kamu lakukan sepagi ini."


Ignacia mengambil tempat di sebelah Rajendra. Kelas laki-laki itu masih sepi. Teman-temannya mungkin masih dalam perjalanan. Ignacia jadi tidak perlu ragu-ragu mendatangi kekasihnya yang- ah rupanya dia sibuk mengerjakan tugas kelompok. Dia sedang membuat powerpoint sekarang.


"Apa aku menganggumu?" Tanya Ignacia menyesal.


Rajendra menggeleng, "aku justru senang kamu datang. Jadi ada yang menemani aku disini."


"Apa tugasnya masih menumpuk? Mau kubantu melakukan sesuatu? Mungkin aku bisa meringankan."


Laki-laki di sampingnya berhenti sebentar. Menunggu ponselnya yang memuat sesuatu. Tatapannya dilayangkan pada Ignacia dengan tatapan berbinar. "Bisa bantu temani aku sebentar disini? Rasanya tidak enak jika mengerjakan tugas sendirian."


Ignacia mengangguk-angguk setuju, memutuskan kontak mata tiba-tiba. "Aku akan kembali setelah teman-temanmu banyak yang datang. Omong-omong kenapa kamu membelikan aku camilan? Maksudku kenapa masih sempat? Kamu saja sibuk mengerjakan sesuatu disini."


Gadis di sampingnya meletakkan kedua tangannya di atas meja, melipatnya sebagai tumpuan kepala. "Kenapa tidak kirim pesan saja? Aku sudah senang jika kamu membalas pesanku meskipun hanya jawaban singkat. Aku kadang membuka pesan-pesan lama kita ketika kamu tidak ada, Rajendra."


"Rasanya kurang saja jika hanya berkirim pesan. Ignacia, sore ini aku ada kerja kelompok. Maaf jika tidak bisa mengirimkan pesan nanti. Aku juga belum membuka ponselku pagi ini. Ada yang ingin kamu ceritakan padaku?"


Ignacia mengingat-ingat sebentar. "Oh ya, aku sudah sebulan tidak membaca buku. Kurasa aku terlalu lelah hingga tidak bisa lagi membaca. Juga aku ingin tahu bagaimana kamu bisa membelikan aku Fitbar. Aku tidak pernah bilang jika aku menyukai Fitbar sebelumnya."


"Aku mendapatkan bantuan." Rajendra menahan senyum, menatap Ignacia sekilas kemudian kembali pada laptop.


Ignacia tersenyum, "pasti Athira yang membocorkan hal ini. Hah, padahal aku bahkan tidak mengatakannya pada Nesya." Gadis itu menutup matanya perlahan. Posisi dsn suasananya sangat nyaman untuk tidur.


Satu tangan Rajendra bergerak untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Ignacia. "Jangan sampai tertidur, Ignacia. Kamu tidak sedang di rumah." Tangan Rajendra masih ada di udara, tatapan dia arahkan pada kedua manik mata gadis kesayangannya.


"Ingatlah jika ini juga masih ada di sekolah, Rajendra. Kamu tidak bisa terus menatapku seperti itu," Ignacia berbisik.


Sudut mata Ignacia menangkap sosok teman Rajendra yang menoleh untuk masuk ke kelas setelah melihat keduanya. Ada seorang teman yang urung masuk ke kelas karena ulah teman yang ada di dalam kelas. Meksipun begitu, Ignacia sudah tidak takut dengan pandangan orang lain padanya dan Rajendra.


...*****...


Hari berganti, masih dengan kesibukan yang sama.


Ignacia tidak ingin diam saja ketika Rajendra menyiapkan camilan setiap pagi. Gadis itu berusaha menyelinap ke dalam kelas kekasihnya untuk meletakkan hadiah yang sama di atas meja ketika pemiliknya tengah pergi ke kantin.


Ignacia juga harus membalas kebaikan kekasihnya.


Beruntungnya kelas Rajendra kosong ketika jam istirahat. Orang-orang sibuk pergi membeli makanan untuk mengganjal perut akibat kelas sore. Ada sih yang membawa bekal, mereka berkumpul dan memakannya di belakang kelas tanpa tahu jika Ignacia beberapa kali datang ke meja Rajendra.


Ignacia juga membuat catatan yang sama. Mengambil beberapa kata yang dia dapatkan dari buku yang dibacanya. Dan ada juga yang hanya curhatan kecil yang mungkin tidak sempat dibaca Rajendra di ponselnya.


Kadang ada yang menyadari keberadaan Ignacia di kelas Rajendra. Tapi teman kekasihnya ini terlalu malas untuk menganggu keduanya. Biarkan saja pasangan yang konon katanya belum pernah pergi berkencan ini menikmati hari-hari sibuk yang manis di tahun terakhir sekolah.


"Ignacia," seseorang menegur gadis yang keluar dengan diam-diam dari kelas Rajendra. Ignacia terkejut dan hanya bisa melempar senyuman kaku pada yang menegurnya. "Terima kasih karena sudah memberikan camilan padaku akhir-akhir ini."


Orang itu melangkah mendekat, penepuk puncak kepala Ignacia lembut. "Kamu selalu datang ke kelasku seperti ini hm? Aku tidak percaya jika orang-orang tidak menangkapmu ketika masuk diam-diam dan langsung pergi begitu saja."


Ignacia membeku, rasanya perutnya memproduksi kupu-kupu.


Nesya pura-pura tidak tahu saat Ignacia menyelinap pergi keluar kelas untuk memberikan sesuatu pada Rajendra. Menurutnya Ignacia bisa melakukan apapun selama itu baik. Gadis itu terlihat semakin kurus karena merasa stress dengan segala kegiatan di sekolah.


Jadi sebaiknya dia kembali menemukan kebahagiaannya di tengah gempuran akhir semester.


"Rajendra menemukanku ketika keluar dari kelas," jelas Ignacia dengan senyuman malu pada si teman baik.


"Tidak apa-apa. Kamu berhasil memberikannya pada ketahuan selama sebulan terakhir. Kalian berbagi camilan tapi tidak saling bertemu dan belum pernah ketahuan sebelumnya." Nesya membuka ponselnya sambil bicara, mengetikkan sesuatu di ponsel dan bersiap membaca komik.


"Hari ini aku ketahuan. Padahal seharusnya kejutan itu benar-benar menjadi kejutan."


...*****...


Di rumah, Ignacia tidak tahu harus berbuat apa. Dia terlalu lelah untuk membaca, terlalu takut untuk mengirimkan pesan pada kekasihnya yang memiliki jam terbang tinggi. Pesan Ignacia yang kemarin saja belum dibacanya padahal tertera kata online di akunnya. Rajendra sesibuk itu ya?


"Kak, makan malam," Athira memanggil.


"Aku tidak lapar."


Ini sudah yang kelima kalinya Ignacia menolak makan malam. Alasannya jika bukan karena kelelahan, sibuk, pasti karena ingin melampiaskan kekesalannya karena Rajendra. Seseorang yang sedang dalam emosi buruk kadang melakukan hal-hal tidak penting sesekali.


"Ayolah Kak. Apa kakak tidak takut ketika ayah sangat marah karena kakak tidak ingin makan? Kakak sudah berada di bulan sibuk sebelum ujian terakhir. Kakak membutuhkan banyak energi untuk belajar dan ujian." Athira mengomel. Dia sendiri kesal dengan tingkah kakaknya.


"Akan kumakan nanti."


"Mau kuambilkan?"


"Kalau begitu aku tidak ingin makan."


"Baiklah aku akan pergi. Tapi kakak harus tetap makan malam ini. Jika tidak, ayah akan sangat marah."


Ignacia dapat mendengar suara langkah kaki yang perlahan menjauhi pintu kamarnya. Dengan dia yang terduduk di atas lantai, memeluk lutut, dan menahan rasa sesak luar biasa di dalam hatinya, Ignacia masih tetap mematung.


"Apa karena Rajendra sudah jarang hadir? Aku jadi agak merindukannya," Ignacia bergumam.


Bulan sudah berganti. Rajendra tidak bisa lagi mengirimkan camilan seperti yang masih dilakukan Ignacia di jam istirahat. Pesan sudah berhenti. Rasanya kembali pada masa dimana laki-laki itu menjadi ketua MPK. Hari-hari yang dibenci Ignacia sampai kapanpun ketika dia merasa kesepian.


"Jika aku menganggunya, apa dia akan memaafkan aku?"


Kepala Ignacia bergerak. Menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan ponselnya. Ponselnya ada di atas nakas di seberang tempat tidur. Cukup jauh dari jangkauan Ignacia.


"Meskipun aku menganggunya, dia tetap tidak akan membaca pesanku."


Ignacia mengedarkan pandangan ke arah meja belajarnya yang berantakan akibat tugas yang coba dia kerjakan sendirian. Dia kelelahan dan memutuskan untuk duduk di lantai yang dingin untuk menenangkan diri. Dia merasa cukup tertekan dengan semuanya. Masalah sekolah juga laki-laki yang disukainya.


"Yang kulakukan hanya terus menunggunya. Selama bertahun-tahun lamanya. Yang kulakukan hanya menunggu hingga dia selesai. Menunggu hingga dia meluangkan waktu untukku. Apa ini adil?"


Gadis di lantai itu meluruskan kakinya. Pandangannya menatap kosong ke depan. "Kapan aku bisa berhenti memikirkannya seperti dia berhenti memikirkan aku? Rasanya sangat tidak adil bagiku."


Ignacia tersenyum kecil. Merasa bodoh dengan perasannya.


"Kenapa aku harus terus menunggunya seperti orang bodoh di tengah kesibukanku sendiri?"