Beautiful Monster

Beautiful Monster
Kakak Pulang



LULUS


Satu kata yang mampu membuat Ignacia dan Danita refleks berpelukan tanda bahagia. Keduanya berhasil lulus tepat waktu. Akhirnya keduanya akan sampai di dunia mencari pekerjaan. Disana keduanya menangis, orang-orang yang menatap keduanya penasaran jadi agak takut. Jika dilihat dari keberadaan laptop keduanya yang menunjukkan sebuah file kiriman dari sebuah universitas, mereka pasti tengah bahagia karena sesuatu.


Ignacia bisa pulang dengan tenang jika hasilnya positif begini. Tidak perlu khawatir ditanya macam-macam dan sulit menjawab. Ignacia akan dengan bangganya menunjukkan hasil kelulusannya dan menunggu waktu wisuda. Seperti pesan ayahnya, Ignacia akan pulang. Mereka akan makan makanan enak dan merayakan kelulusannya.


Danita dijemput Bahri, ada rencana menghabiskan waktu bersama setelah melihat hasil sidang. Di depan kafe, Ignacia berpisah dengan temannya. Diam-diam Bahri mengacungkan jempol karena Ignacia berhasil. "Hati-hati dijalan jalan, Ignacia. Hubungi aku jika kamu sudah sampai di stasiun."


"Oh kau pulang hari ini?"


Yang ditanyai menganggu, "Aku akan kembali ke asrama sebentar lalu ke stasiun. Sampai jumpa." Ia pergi lebih dahulu meninggalkan sepasang kekasih yang akan pergi ke arah berlawanan. Dilihatnya jam, memastikan masih ada waktu untuk membereskan barang-barang yang belum sempat dibawa. Masih ada sekitar dua jam, lebih dari cukup.


Hari ini Rajendra sibuk, jadi pesan yang Ignacia kirimkan sejak pagi belum dibaca. Ignacia menyimpan ponselnya, terus berjalan kembali ke asrama. Nanti saja mengirimkan pesan ketika sudah di kereta. Yang Rajendra minta juga kabar apakah Ignacia sampai di stasiun dengan selamat. Semoha Rajendra sempat membaca pesan Ignacia nanti.


Ignacia tidak akan pulang malam lagi, sesuai keinginan keluarganya. Makan malam nanti akan jadi spesial, sebaiknya Ignacia cepat sampai di rumah dan melakukan ritual sore. Sesampainya di depan kamar, Ignacia menarik nafas dalam-dalam. Setelah ini ia tidak akan berhadapan dengan kamar ini lagi begitu memakai toga.


Perjalanan ke stasiun terasa cepat karena tidak perlu menghadapi kepadatan yang diakibatkan oleh waktu pulang karyawan kantor. Di kereta juga lebih lenggang. Bahkan terasa hampir kosong karena hanya ada lima orang di gerbong yang sama dengan Ignacia. Sementara kereta melaju, Ignacia mengetikkan pesan pada kekasihnya. Informasi bahwa dirinya sudah dalam perjalanan menuju rumah.


Masih belom ada balasan, mungkin nanti malam Rajendra bisa lenggang dan membalas pesannya. Si gadis menyandarkan kepalanya di jendela, memutar lagu Beautiful Monster sebagai lagu pembuka yang menemani perjalanan pulangnya sendirian. Mungkin Rajendra bisa hadir dalam bentuk virtual jika lagu ini Ignacia dengarkan sekali lagi.


"Love is ooh ooh ooh."


...*****...


"Aku tidak percaya kita akan bersembunyi sambil membawa balon lagi," gumam Athira. Tangannya sibuk menahan dua balon berisi helium agar tidak menggagalkan kejutan. Di samping itu ia juga membawa party pooper yang siap diledakkan seperti pesta sebelumnya. Kali ini pesta penyambutannya akan lebih meriah. Ayahnya menyiapkan banyak hal untuk ini.


Di samping Athira, ada dua adik laki-lakinya yang duduk sambil menahan dua balon juga. Mereka mengobrol soal sesuatu yang tidak menarik minat Athira. Beberapa kali terdengar keluhan karena keduanya lelah bersembunyi. "Apa kita tidak bisa menunggu di tempat lain? Tempat gelap ini membuat kita dikerubungi nyamuk," protes Rafka.


"Jika kalian pergi, bagaimana jika Kak Ignacia datang? Rencananya bisa berantakan. Ayah sudah berusaha payah mencari balon dan buket bunga, kalian tahu?" Sang ayah juga ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Bersembunyi di halaman belakang memang bukan ide bagus. Apalagi jika dilakukan di sore hari yang semakin gelap.


Ignacia bilang ada pemangkasan pohon di jalan hingga ada sedikit kemacetan. Rencana pulang sore harus tertunda hingga matahari hampir pergi istirahat. Tidak perlu mengawasi Ignacia sudah sampai di depan atau belum. Sang mama meminta bantuan pada tetangga depan rumah yang cctv-nya menghadap ke jalan depan rumah. "Jika Ignacia datang, hubungi saya," begitu.


Mama Ignacia menatap ponsel beberapa lama, menunggu pesan. Mencegah persiapan gagal. Kejutannya ada di dapur, jadi jika Ignacia sudah muncul, mereka akan menunjukkan diri. Balon-balon akan dibiarkan melayang, party pooper diledakkan ke arah langit-langit, lalu sang mama akan memberikan buket bunga kecil dengan tambahan boneka beruang kecil di tengahnya sebagai hadiah.


Lima menit berlalu, ponsel mama mendapatkan pesan baru. Ignacia sudah sampai di depan rumah. Kini tengah membuka pagar. Keadaan rumah yang gelap gulita membuat yang baru datang bertanya-tanya. Katanya akan ada acara makan di rumah namun kenapa semua lampu mati? Mobil masih ada di garasi, sepeda motor juga ada. Lantas kemana penghuni rumahnya pergi?


Si gadis sampai di depan pintu, ragu untuk masuk. Bayangan soal kegelapan membuatnya agak takut. Dia nyalakan lampu di ponsel sebelum memutuskan untuk masuk. Begitu pintu terbuka, suasana hening nan sepi tampak menakutkan. Oh Ignacia melihat beberapa lilin di atas meja dan nakas. Kesannya seperti sedang mati lampu. Hanya saja rumah lain menyala kecuali miliknya.


"Aku pulang!" teriak Ignacia, berniat memanggil penghuni rumah agar datang padanya. Mungkin dengan kegelapan ini mereka akan datang dan menjelaskan situasinya. Sekitar satu menit berlalu, Ignacia tidak kunjung mendapatkan balasan apapun. Hanya keheningan yang terus mengerubungi.


Langit semakin gelap, Ignacia langsung mencari tombol lampu. Wah ada apa dengan rumahnya? Listrik seolah tidak tersalurkan kemari. Alhasil Ignacia masuk tanpa menutup pintu. Membiarkan lampu jalan menerangi jalannya. Si gadis melangkah memasuki semua kamar tanpa menemukan siapapun disana. Berlanjut ke dapur. "Semoga mereka ada disana."


Ada lebih banyak lilin ketika Ignacia sampai di dapur. Lampu belakang terbuka lebar, membiarkan lampu disana menerangi sebagian dapur. Orang-orang juga tidak ada disini. Meja makan janya diisi lilin tanpa adanya tanda-tanda makanan. Apa keluarganya sengaja menghilang padahal-


"Kakak selamat datang!" Seruan hebat muncul dari dinding samping pintu dapur. Semuanya sama seperti rencana sang ayah. Anak pertamanya terkejut, bahagia meskipun ponselnya tadi hampir dia lempar karena mengira ada kejahatan. Buket bunga diterima, lampu dinyalakan lalu sesi foto.


Ignacia hampir menangis karena putus asa tidak bisa menemukan keberadaan keluarganya tadi. Ditambah dengan penyambutan yang tak biasa ini, Ignacia menangis sambil tersenyum. Di foto saja matanya tampak masih berkaca-kaca. Ia memeluk mamanya, tangisannya pecah di rengkuhan wanita yang sepanjang hidup ia panggil mama ini.


Padahal anak pertamanya masih sesenggukan, ayahnya malah memintanya untuk mandi. Tapi memang itu yang Ignacia butuhkan setelah perjalanan. Mandi, membersihkan diri, lalu menyimpan buket bunga cantik yang baru ia dapatkan. Ignacia sebaiknya berfoto dengan buket ini setelah mandi untuk dikirimkan pada Rajendra.


Makanan datang tepat setelah Ignacia baru akan mengeringkan rambutnya. Belum juga berfoto untuk Rajendra, dirinya sudah dipanggil untuk makan. Aroma ikan bakar dan sambal mengisi rumah, menarik perhatian siapa saja yang menciumnya. Ignacia yang baru keluar dari kamar saja langsung tertarik, apalagi adik-adik dan ayahnya yang mengikuti sang mama ketika membawa makanan di dapur.


Semuanya sudah disiapkan ketika Ignacia datang. Piring-piring disusun melingkar, ada tiga ikan Gurami bakar besar yang dipindahkan ke piring saji tak lupa dengan hiasan selada. Lalu di sana juga ada sambal yang sudah disiapkan dalam sebuah wadah kecil. Balon-balon yang tadi dibawa oleh kelima orang di dapur disimpan di sudut dapur, seperti ada pesta ulang tahun jadinya.


Ignacia menarik kursi di samping Athira, "Katanya kalian menyiapkan makanan. Rupanya memesan makanan."


"Itu nanti, sekarang kita makan ini. Kakak makanlah yang banyak, kakak tampak kurus setelah mengerjakan skripsi." Athira tidak berniat meledek, namun nadanya terdengar demikian. Apalagi ditambah dengan kekehan sang mama di hadapannya. Seolah setuju jika kakaknya sudah semakin kurus.


Acara makan-makan berlangsung lancar. Arvin dan Rafka bercerita soal sekolah dan hal-hal menarik di sekitar rumah beberapa hari belakangan. Ada banyak hal terjadi ketika Ignacia melewatkan waktu pulang beberapa waktu ketika baru mengerjakan skripsi.


Sambil mengobrol, satu persatu ikan gurami kehilangan dagingnya. Puas sekali bisa makan tiga dalam sekali makan. Perayaan yang mungkin berlebihan tapi jika itu demi membangkitkan semangat anak muda yang tubuhnya selalu kurus setelah kembali ke asrama, tidakkah sepadan? Semuanya demi anak perempuan pertama mereka yang harus menghadapi beratnya kehidupan mahasiswa.


Athira mendatangi kamar kakaknya, bertanya apa yang harus ia lakukan sebagai mahasiswa baru. Karena Ignacia terlalu sibuk, ia sampai lupa jika sebentar lagi Athira akan masuk ke universitas. Ada satu universitas seni yang berhasil ia masuki, sekarang tinggal persiapannya saja. Ignacia tidak tahu banyak soal itu, jadinya hanya bisa membantu dalam beberapa hal seperti pakaian dan peraturan yang ia tahu dari kampusnya sendiri.


Ignacia mengalihkan perhatian yang lebih muda, anak itu sibuk berguling-guling di atas kasur kakaknya sementara si empunya kamar sedang bersiap untuk berfoto dengan buket bunga. Berhubung bunga yang ia dapatkan bukan bunga hidup, Ignacia tidak perlu khawatir jika layu. Ignacia sangat menyukai boneka beruang berwarna putih itu. Manis sekali.


Yang di atas kasur menatap kakaknya hingga foto berhasil di kirim entah pada siapa. Tebakannya bilang jika Ignacia pasti tengah memberikan kabar pada sang kekasih. Butuh beberapa detik hingga Ignacia menyadari tatapan Athira padanya. "Kenapa kau menatapku begitu?" Ignacia bertanya.


Athira tidak percaya saja jika sebentar lagi ia akan melihat kakaknya yang suka bermain dengan imajinasi dalam novel ini akan segera menikah dua tiga tahun mendatang. Mendengar pernyataan Athira, Ignacia jadi tersipu. Jika ia beruntung, pernyataan adiknya bisa jadi kenyataan. Sebelum itu sebaiknya Ignacia menyiapkan segala, benar?


"Kau sudah menyukai laki-laki baik?" Ignacia duduk di tepi tempat tidur, masih membawa ponsel dan buket di tangannya. Memamg sedari lama Athira belum pernah jatuh cinta pada laki-laki. Ia bilang orang-orang di sekolahnya selama ini tidak ada yang benar-benar baik. Jadi ia menahan semua perasaan yang mungkin muncul dari gadis muda pada laki-laki.


"Kurasa aku akan menemukan laki-laki sempurna setelah masuk universitas. Kakak mau mengantarku ke kos Minggu depan? Ayah bilang sebaiknya aku kos saja daripada harus pulang pergi dengan jarak yang tidak dekat. Aku harus segera menyelesaikan administrasi dan semacamnya disana."


Ignacia tidak bisa berjanji, akan dia usahakan. Dia tidak tahu kejadian apa yang bisa membuatnya urung menemani Athira. Ia juga ingin melihat kos seperti apa yang akan menjadi tempat tinggal kedua bagi adiknya. Memastikan tidak ada yang akan membuat Athira tidak nyaman.


Di tengah obrolan adik kakak, sebuah suara memanggil keduanya untuk segera datang ke dapur. Suara sang ayah terdengar semakin dekat. Ignacia membuka daun pintu kamar, mendapati ayahnya berdiri disana. "Ayo cepat datang sebelum kehabisan tempat," ucap pria di hadapan Ignacia lalu berlalu pergi.


Sang adik mendahului keluar kamar, buru-buru mengambil boneka untuknya dan dan sang kakak. Dia mengulang ucapan terakhir ayahnya sebelum berlari kecil menuju dapur. Beberapa lampu sudah matikan. Lampu ruang tamu, semua kamar kecuali milik Ignacia, lalu lampu di dapur kelihatannya tidak dinyalakan.


Kini aroma makanan gurih yang menyapa hidung Ignacia. Dapur yang tadinya diisi oleh meja dan kursi gini berganti mirip ruang keluarga. Sofa di depan berpindah kemari, beberapa bantal juga disiapkan di atas karpet empuk. Lalu di dinding terdapat layar yang biasa digunakan untuk presentasi, lengkap dengan proyektor dan laptop milik Athira. Pasti ini yang disiapkan oleh ayahnya. Acara menonton film sambil makan popcorn.


"Silahkan memilih tempat duduk sebelum filmnya dimulai." Ayah Ignacia memakai pakaian serba hitam seperti para pegawai di bioskop yang Ignacia tahu. Mempersilahkan para anggota keluarga lain dengan sangat sopan dan lembut. Arvin dan Rafka sampai terheran-heran melihat perubahan ayahnya. Tidak seperti Ignacia dan Athira, keduanya malah merinding.


Sang mama mengoper popcorn pada semua anaknya ketika film dimulai. Diperingatkan lebih dahulu agar menyimpan popcornnya hingga film selesai agar lebih seru. Mungkin hal semacam itu tidak akan berlaku pada adik kakak bergender laki-laki di keluarga ini. Mereka bisa kelewat dennah mendapatkan camilan hingga bisa habis sebelum setengah film.


Ignacia duduk di hadapan mamanya yang ada di sofa. Lebih memilih duduk bersandar pada bantal besar di samping Athira. Diam-diam ia melihat layar ponselnya, mengecek apakah Rajendra sudah melihat foto yang ia kirimkan. Rajendra belum melihat pesan-pesannya sedari tadi. Dia pasti sangat sibuk.


"Kakak simpan dulu ponselnya. Ayah sudah mencari film yang bagus selama tiga hari. Ayo menonton dengan tenang," Athira berbisik. Mendengar itu, Ignacia pun menyimpan ponselnya seperti saran sang adik. Sebagai bentuk menghargai ayahnya yang sulit mencari film segala usia.


Di samping sang istri, ayah Ignacia tersenyum senang. Keluarganya berkumpul di dapur hangat, menonton film bersama bersama camilan yang disukai semuanya. Anaknya berhasil lulus tepat waktu, adiknya mampu masuk ke universitas incarannya, lalu kedua adik lainnya juga berprestasi di sekolah. Bagaimana seorang ayah tidak semakin bangga?