Beautiful Monster

Beautiful Monster
Teman Lama



Tugas membuat sketsa. Murid-murid diminta untuk membawa buku gambar A3 dan alat tulisnya masing-masing sebelum pertemuan membuat sketsa. Temannya bebas, boleh melihat inspirasi mana saja dan menggambar apa saja. Yang penting harus selesai di hari itu juga.


Ignacia bangkit dari duduknya, menempati kursi kosong yang ada di depan meja Nesya. Dia selalu menyesali keputusan teman sebangku Nesya hingga membuatnya terpisah dengan satu-satunya teman yang Ignacia sukai.


"Ignacia, bagaimana jika menggambar anime? Tapi yang mudah-mudah saja." Nesya langsung memutar ponselnya mengharap ke arah Ignacia yang baru sampai. Menunjukkan gambar seorang gadis dengan ikat rambut yang manis. Ignacia setuju-setuju saja, memberikan ide untuk membuat gambar yang hampir sama seperti couple.


"Couple? Kalau begitu aku akan mencarinya sebentar."


"Ignacia mau duduk bersama Nesya?"


Wow kebetulan sekali teman sebangku Nesya menawarkan sesuatu yang tidak mungkin ditolak oleh Ignacia. Tentu dia langsung mengangguk dan bertukar tempat dengan teman sebangku Nesya. Akhirnya Ignacia dan Nesya bisa mencari gambar couple bersama.


Sambil menatap layar ponsel yang sama, Ignacia melihat sebuah gambar yang menarik.


"Oh yang ini berkacamata."


Jika dengan gambar yang tadi, rasanya sama seperti melihat Ignacia dan Nesya dalam bentuk gambar. Yang satu memakai ikat rambut, yang yang lainnya berkacamata. Cocok sekali.


Mulailah keduanya membuat gambar. Sesekali mencocokkan ukuran agar terlihat benar-benar sama.


"Jika sudah selesai, bagaimana jika berfoto bersama dengan hasil karya kita? Haha kelihatannya akan menyenangkan," cetus Ignacia di tengah fokus menggambarnya.


"Tentu. Itu kedengarannya menarik. Setelah selesai di warnai, kita akan berfoto dengan hasil karya. Bagaimana jika saat wisuda juga? Haha kedengarannya bagus." Ignacia mengangguk-angguk bersemangat.


...*****...


"Sekarang kalian boleh melanjutkan cerkak kalian. Tapi ingat, jangan lupa jika kita akan memiliki ujian di awal bulan depan. Jadi ingatlah untuk tetap belajar."


Ignacia menatap guru bahasa jawa dan ponselnya bergantian. Dia dan Nesya memutuskan untuk duduk sebangku karena teman sebangku Ignacia sedang tidak masuk. Jadi keduanya menemukan posisi pas untuk mengerjakan tugas cerita pendek bahasa Jawa sambil memilih-milih kata yang sesuai untuk mendeskripsikan alur.


"Kenapa kita harus memiliki ujian lagi? Kenapa bukan cerkak ini yang mengisi nilai kita?" Gumam Nesya dengan tatapan lurus ke arah tempat duduk guru bahasa Jawa di depan. Ignacia setuju.


Kenapa tidak disamakan saja?


"Kita tidak pernah melakukan penilaian harian, jadi saya meminta kalian membuat cerkak ini sebagai nilai harian kalian. Dan untuk ujian selanjutnya kan memang sudah ada jadwalnya dari sekolah."


Ignacia mengangguk patuh dan kembali pada cerita singkatnya. Sesekali dia bertanya pada Nesya tentang kata yang dia tidak yakin apa bahasa jawanya. Hah, sudah lama tinggal di pulau Jawa namun tidak bisa berbahasa Jawa dengan benar.


Keduanya tetap fokus mengerjakan tanpa memperdulikan orang-orang yang tengah membuat kegaduhan di sekitar.


"Omong-omong Nesya," Ignacia membuka obrolan namun masih dengan tangan yang sibuk mengetik, "aku pernah meminta Rajendra untuk menemaniku membuat cerkak. Tapi karena hari itu dia sibuk, beberapa hari yang lalu aku mengajaknya lagi. Tapi jawaban yang dia berikan membuatku malas ditemani."


"Apa yang dia katakan?" Nesya juga sama sibuknya.


"Katanya kenapa aku tidak mencari di google saja? Kenapa aku tidak hanya menyalin cerkak dan mengganti nama juga latar ceritanya? Hah, dia membuatku merasa tidak nyaman."


Nesya menunda sebentar kegiatan menulisnya, "dia sepertinya tidak tahu jika musuh terbesar kita adalah karya orisinil dan plagiat. Mungkin di kelas Mipa tidak dijelaskan bahwa jika menyalin dari google nanti karyanya akan dikembalikan dan diminta untuk membuat karya lain."


"Sepertinya begitu. Aku hanya ingin ditemani, tapi dia memberikan saran yang bisa membuatku dalam bahaya. Seharusnya aku tetap di dunia fiksi saja. Mencoba di dunia manusia selalu menyakitkan."


"Benar, benar," ucap Nesya sambil mengangguk-anggukan kepalanya setuju. Kembali pada kegiatan menulis yang masih sampai di paragraf pertama. "Kamu sudah sampai mana? Aku masih baru satu paragraf." Nesya melihat hasil pekerjaan Ignacia yang ada di sampingnya.


"Aku sudah tiga paragraf."


"Wah bagaimana kamu bisa begitu cepat?!"


"Aku membuat cerita dalam bahasa Indonesia dahulu kemudian diartikan ke bahasa Jawa. Jika mengerjakannya langsung dengan bahasa Jawa, aku agak kesulitan."


"Begitukah? Kalau begitu aku akan mencobanya."


Mengobrol dengan Nesya itu menyenangkan. Meksipun berada di tengah-tengah kesibukan, keduanya masih bisa saling memberi solusi dan masukan. Nesya mendapatkan bantuan untuk alur cerita dari Ignacia, sementara Ignacia sendiri mendapatkan bantuan untuk mengartikan dalam bahasa Jawa.


Situasi yang sama-sama menguntungkan dan mendorong keduanya untuk tetap maju. Jujur saja Ignacia masih belum habis pikir dengan saran Rajendra waktu itu. Kenapa dia seperti hanya ingin Ignacia bekerja cerdas alih-alih bekerja keras?


Plagiarisme bukan hal yang bagus.


"Tapi Ignacia, kita beruntung karena mendapatkan tambahan waktu seminggu lagi untuk tugas ini."


"Waktu seminggu itu sudah lebih dari cukup." Bertemu dengan orang yang memiliki satu pemikiran memang menyenangkan. Kadang Ignacia berharap jika Rajendra juga memiliki kesamaan dengan Nesya saat bicara dengannya.


...*****...


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Kamu ada dimana?


^^^Di taman baru |^^^


| Dengan siapa?


^^^Dengan Nesya |^^^


Ignacia meletakkan ponselnya di atas meja, kembali pada obrolan soal masa lalu keduanya dengan Nesya. Gadis yang baru membersihkan kacamatanya itu kembali menemukan topik seru untuk dibahas berdua. Rasanya dunia hanya milik keduanya jika sudah begini. Bahkan tidak ada yang menyadari kedatangan seseorang dari arah belakang Ignacia.


"Ignacia," panggil yang baru datang.


Si empunya nama menoleh, mendapati seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan alis tebal berdiri di dekatnya. "Oh kenapa kamu ada disini? Kukira kamu masih sibuk di kelas untuk melakukan sesuatu. Bagaimana bisa kamu kabur?"


"Aku hanya memastikan apa kamu ada disini. Boleh aku bicara denganmu sebentar?"


Rajendra memberikan kode pada Nesya agar meninggalkan keduanya sebentar. Nesya orang yang peka dengan kode, jadi dia pamit menepi sebentar. Rajendra duduk di samping Ignacia, menatap Nesya yang berjalan menjauh.


"Seharusnya kamu tidak datang saat aku bersama dengan Nesya. Aku ada disini bersama Nesya karena dia hari ini tidak membawa motor dan tengah menunggu mamanya datang. Aku ingin membuatnya santai setelah membuatku ikut menunggu beberapa lama," omel Ignacia dengan nada pelan.


Rajendra menatap dengan tatapan agak tajam. Namun segera menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan diri. Dia tidak suka jika Ignacia harus memisahkan dirinya dengan teman-teman di gadis.


"Memangnya aku akan dengan siapa saja jika tidak bersama Nesya? Orang yang memiliki pemikiran seperti aku hanya Nesya. Orang yang mengerti apapun yang aku katakan pun juga hanya Nesya." Ignacia memutuskan kontak mata dengan Rajendra, menatap ke arah Nesya pergi tadi.


"Tapi setidaknya cobalah mencari teman lain selain Nesya. Kita semua akan lulus tahun depan, dan kamu tidak akan bisa bertahan dengan satu teman."


"Kalau itu akan aku usahakan nanti. Omong-omong kenapa kamu ingin menemuiku?"


Kembali pada alasan kemunculan laki-laki di sampingnya. Rajendra merogoh kantong celananya dan mengambil ponselnya disana. Dia menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan panggilan yang didapatkan Rajendra.


"Kamu harus selalu mengecek ponsel, Ignacia. Mamamu menghubungi aku karena kamu tidak aktif dan tidak segera pulang."


Benar juga. Ignacia lupa belum mengirimkan pesan pada mamanya yang mungkin akan segera berangkat bekerja sekarang. Tidak biasanya mamanya akan menghubungi. Biasanya membiarkan Ignacia pulang jam berapa saja yang penting setelah sekolahnya selesai dia sudah sampai di rumah.


"Aku akan kembali, sampai jumpa. Hati-hati di jalan." Rajendra bangkit, namun sebelum benar-benar pergi, dia mendapatkan pertanyaan dari Ignacia.


"Kenapa kamu tidak pulang? Apa ada kegiatan organisasi lagi? Kamu akan lembur lagi?"


"Kamu yang paling mengenalku, Ignacia. Aku pergi dulu."


...*****...


"Oh kamu sudah datang," Ignacia buru-buru keluar dan membuka pagar.


"Katanya kamu akan datang pukul tujuh. Ini masih belum pukul tujuh." Ignacia bahkan mengecek apa mungkin jam tangannya yang terlambat. Rajendra melepas helmnya dan tersenyum menatap Ignacia.


"Kulihat kamu juga sudah siap meskipun belum pukul tujuh. Aku hanya ingin lebih cepat bertemu denganmu, Ignacia. Aku harus menggunakan kesempatan bertemu denganmu selagi tidak ada Nesya di sekitar sini."


Rajendra menyodorkan helm untuk Ignacia, "kita harus cepat jika ingin menikmati pertunjukkannya."


Hari ini ada acara kuliner besar yang diadakan di alun-alun kota. Tepat di lapangan yang luas dan juga ada pertunjukan musik yang seru disana. Rajendra mendapatkan informasi ini dari teman sekelasnya dan ingin membawa Ignacia pergi. Seperti yang dia katakan tadi. Dia harus menggunakan kesempatan dengan baik selagi Ignacia tidak bersama dengan Nesya.


Ramai.


Itulah hal pertama yang Ignacia lihat begitu sampai di tempat event. Dia mengembalikan helm tadi pada Rajendra dan berjalan bersama menuju bazar. Tidak lupa Rajendra menggandeng tangan Ignacia agar si gadis tidak terpisah dengannya. Ada banyak orang dan tempatnya tidak memungkinkan untuk berpisah barang sebentar.


"Aku ingin makanan yang gurih itu," tunjuk Ignacia pada salah satu stand.


Rajendra mengikuti saja kemauan gadis dengan rambut yang terurai ini. Menghampiri stand itu dan mulai mengantri. Sementara itu Ignacia melihat sekitar. Kelihatannya sebentar lagi acara musiknya akan dimulai.


"Apa nanti kita bisa menemukan tempat duduk?" Si Gadis dengan rambut yang diikat kuncir kuda di samping Rajendra bertanya. Hanya mendapatkan angkatan bahu. Rajendra sendiri agak ragu jika keduanya bisa mendapatkan tempat duduk.


Lihat saja nanti.


Beruntung perkiraan cuaca mengatakan bahwa kota akan mendung hingga sore. Matahari mungkin sedang melakukan liburan sebentar dan hanya ada awan-awan yang melindungi kota dari cahayanya. Semoga benar hanya mendung hingga acaranya selesai. Seperti yang di harapkan semua orang.


Selesai dengan camilan juga minuman, Rajendra masih menggandeng tangan Ignacia menuju sebuah tempat yang pas untuk menonton acara musik. Sebenarnya sudah dimulai sejak keduanya masih berjalan-jalan di sekitar bazar. Sekarang baru mereka duduk dan menikmati pertunjukan.


Ignacia meraih ponselnya, mengambil gambar panggung yang tengah digunakan disana. Senyuman merekah di wajahnya begitu foto yang dia kirimkan sudah dibuka oleh seseorang.


"Kamu sedang apa?" Rajendra bertanya sambil menoleh heran. Di keramaian saja Ignacia masih sempat untuk membuka ponselnya dan tersenyum.


"Nesya," jawab Ignacia singkat.


Setelahnya dia menyimpan kembali ponselnya dan fokus dengan keseruan hari ini. Tapi ada yang tidak dia sadari. Rajendra masih menatapnya. Laki-laki itu hampir beranggapan jika sebenarnya dia sedang bersama dengan kekasih orang lain. Saking seringnya Ignacia fokus dengan Nesya dan perasaan Nesya.


"Aku tidak menyangka jika kamu bisa dekat dengan Nesya di kelas. Memang aku tidak terlalu dekat dengannya di organisasi OSIS, jadi aku tidak tahu bagaimana dia." Rajendra memulai obrolan, sesekali menatap Ignacia dan minumannya bergantian.


"Kami teman masa kecil," respon Ignacia dengan entengnya.


"Oh benarkah? Kamu tidak pernah bercerita padaku sebelumnya."


Dari banyaknya cerita masa lalu yang dimiliki Ignacia, hanya kisah dengan Nesya yang belum sempat dia ceritakan. Ya mau bagaimana lagi? Rajendra begitu sibuk hingga Ignacia tidak bisa mengatakannya.


Mulailah Ignacia bercerita soal pertemanannya dengan Nesya sedari kecil. Keduanya adalah tetangga di rumah lama sebelum Ignacia pindah ke perumahannya yang sekarang. Kedua orang tua mereka saling kenal, berteman juga. Bahkan sampai nenek Nesya saja mengingat Ignacia.


Tapi karena Ignacia harus pindah dari rumah lamanya sebelum masuk ke Taman Kanak-kanak. Mereka terpisah. Nesya pun ikut pindah rumah, namun jaraknya tidak begitu jauh dari rumah lamanya. Mereka sudah terpisah sejak saat itu. Tapi kemudian keduanya bertemu di sekolah yang sama saat SMP.


Ignacia tidak pernah melihat Nesya karena berbeda kelas. Jarak kelas keduanya juga sangat jauh. Tapi kemudian saat di SMA, ayah Ignacia seperti mengenal orang tua Nesya dan rupanya benar mama Nesya. Persahabatan mereka terjalin kembali dan menjadi sangat dekat hingga sekarang.


"Ah begitu rupanya. Karena itu kalian selalu bersama-sama kemanapun. Padahal kamu orang yang sulit untuk berteman, namun bisa dengan mudahnya berteman dengan Nesya."


Ah rupanya ada kisah di balik persahabatan keduanya. Rajendra cukup memahami hubungan mereka sekarang.


"Dunia sangat sempit bagi kalian," tambah Rajendra.


"Iya, benar. Aku saja tidak menyangka jika bisa bertemu dengan teman masa kecilku lagi." Ignacia memutar ingatannya kembali ke masa-masa kecil yang bahagia di rumah lamanya. "Jika aku tidak pernah pindah dari rumah lama, mungkin aku akan berteman dengan Nesya hingga saat ini."


"Kalian akan terlihat seperti saudara nantinya." Rajendra terkekeh sambil menawarkan makanannya pada Ignacia. Gadis yang kebingungan itu refleks saja membuka mulutnya setelah memahami maksud dari Rajendra.


"Mengobrol dengan Nesya itu menyenangkan," ucap si gadis setelah mengunyah makanannya, "aku bisa mengobrol tentang apapun dengannya tanpa merasa gugup."


Rajendra tersenyum kecil, "tidak seperti aku ya? Kita tidak banyak membahas soal apa yang kamu sukai karena aku tidak memiliki pengetahuan dan pandangan yang sama denganmu. Seharusnya kita juga berteman sejak kecil sehingga kita bisa membagi apapun seperti kamu dan Nesya."


Ignacia terkekeh mendengar perkataan Rajendra. "Haruskah kita menjadi teman masa kecil dulu? Jika begitu kamu mungkin akan mengungkapkan perasaan mu lebih cepat, Rajendra."


"Ya mau bagaimana lagi? Saat aku melihatmu, aku sudah sangat suka. Di chat saja kamu tidak keberatan mengobrol denganku. Jadi kukira akan mudah untuk berkencan denganmu."


"Beruntung kita tidak mengenal sejak kecil, Rajendra. Kamu pasti akan membuatku gugup bertahun-tahun."