Beautiful Monster

Beautiful Monster
Perubahan Jadwal



"Kak, bangun kak." Merasa tubuhnya diguncang oleh seseorang, kedua mata Ignacia lalu terbuka. Dua siluet anak laki-laki yang mirip dengannya muncul tepat di depan wajah. "Kakak selalu bangun terlambat di hari pertama pulang. Kakak semalam pulang jam berapa memangnya?"


Perlahan kesadaran Ignacia terkumpul. Ia bergerak mendudukkan diri agar bisa segera bangun. Rafka dan Arvin masih menatap kakaknya. Mereka menyadari jika kakaknya tampak selalu lelah di hari pertama pulang. Sejujurnya mereka tidak datang karena alasan itu. Keduanya datang untuk melaksanakan perintah sang ayah untuk mengajak putri pertamanya makan siang.


"Makan siang?" beo Ignacia. Ditatapnya jam dinding dalam ruangan, rupanya ia sudah tidur cukup lama hingga melewatkan sarapan. Pantas saja sekarang perutnya keroncongan. "Kalian pergi saja dahulu. Nanti aku akan menyusul." Awalnya Arvin tampak enggan pergi, ingin mengamati kakaknya lebih dekat. Seolah mencari tahu bagaimana bisa kakaknya tidur begitu lama. Ajakan Rafka yang membuatnya kemudian pergi.


Jika tidak salah, semalam Ignacia dan Rajendra sampai di rumah lewat tengah malam. Karenanya ayah Ignacia yang sudah menunggu anaknya pulang jadi tertidur di ruang tamu bersama sang istri. Tidur keduanya yang kurang nyaman di ganggu oleh suara ketukan nyaring dari pagar rumah. Begitu suara Ignacia berhasil membangunkan keduanya, barulah ia bisa beristirahat.


"Kenapa kamu pulang sangat malam?" Ayahnya bertanya sambil menguap lebar. Pasti sudah sangat mengantuk karena baru saja pulang bekerja malam. Belum juga mendapatkan jawaban pria yang mengantuk itu melangkah ke arah kamar. Tubuhnya sangat lelah dan membutuhkan banyak tidur.


Berbeda dengan mamanya, wanita itu jelas tampak mengantuk karena matanya tidak bisa terbuka sempurna. Sebuah pelukan diberikan untuk menyambut kedatangan putrinya. "Mama mendapatkan pesan dari Rajendra jika kalian pulang sedikit terlambat. Mama bertanya padanya karena kamu tidak bisa dihubungi. Kamu tadi diantar Rajendra?"


Terpaksa begitu karena ternyata ayahnya tidak bisa pergi ke stasiun. Pekerjaan malam ini melelahkan hingga membawa motor ketika pulang tadi saja agak menyiksa. Ignacia mengangguki pertanyaan terakhir mamanya. Meskipun tidak melihat secara langsung, mamanya tahu jika Ignacia membenarkan pertanyannya barusan.


"Mama senang kalian masih berhubungan baik. Setelah ini kamu harus pastikan Rajendra sampai di rumah dengan selamat. Kalian harus selalu menjaga hubungan kalian hingga menikah. Sebentar lagi kalian sudah cukup umur untuk menjalin hubungan yang lebih serius."


Ignacia mengangguk lagi, membalas pelukan mamanya singkat. Begitu acara sambutan berakhir, mamanya menyusul sang suami ke kamar. Sudah waktunya untuk tidur. Senyuman muncul di sudut wajah Ignacia, senang mendapatkan sambutan hangat meksipun dirinya pulang begitu larut.


Si gadis berambut panjang itu selesai mengumpulkan kesadaran. Dirinya bangkit, menyisir rambutnya sedikit dengan tangan lalu meninggalkan kamar. Ruang tamu kosong, semua orang pasti berkumpul di dapur. Bau harum menyambut kehadiran Ignacia, perutnya semakin meronta-ronta ingin diberi makan.


"Jika tidak dibangunkan, kakak pasti akan tidur seharian," celetuk Athira yang pertama menyadari keberadaan kakaknya. Langsung ia sodorkan segelas air untuk dia yang baru bangun. "Lain kali bagaimana jika kakak pulang di sore hari agar bisa tidur malam? Daripada tidur sampai siang."


Baru saja bangun sudah mendapatkan omelan saja. Padahal kedua orang tuanya saja tidak menuntut hal demikian. Sama-sama berpikir jika Ignacia pasti punya alasan rahasia jika sampai tidak memberitahu. Diam-diam sang ayah melirik istrinya, begitu pula sebaliknya. Seolah memiliki satu pikiran yang sama.


Makan siang dioper ke hadapan Ignacia. Gadis berwajah lesu itu harus mengisi kembali energi. Dia tidak terbiasa tidur lewat tengah malam, akibatnya sekarang ingin bangun saja rasanya enggan. "Nanti malam tidurlah lebih awal, Ignacia," saran mamanya ramah.


Selepas sarapan, Ignacia kembali ke kamar. Berniat membersihkan diri. Ketika si gadis baru saja melihat dirinya di cermin, layar ponsel di mejanya menyala. Sebuah pesan dari seseorang yang mengantar Ignacia pulang tadi pagi. Laki-laki itu mengajak si gadis untuk berkencan malam ini. Ada perubahan rencana katanya.


Ignacia tidak akan menolak jika di ajak bertemu. Tidur sedikit terlambat tidak akan membuat seluruh liburannya hancur kan? Jika diingat-ingat, tatapan Rajendra semalam tampak aneh. Seperti ada mengganjal yang tidak dimengerti Ignacia. Apa pertemuan keduanya malam ini akan menjawab pertanyaan yang muncul di benak Ignacia?


"Kak, mau menonton film denganku?" Athira muncul dari balik daum pintu yang tidak ditutup sempurna. "Kurasa aku ingin menonton film. Jika kakak bersedia, datang saja ke kamarku." Tanpa menunggu respon sang kakak, anak kedua dari ayah dan mama Ignacia itu pun melenggang pergi.


Si kakak masih berdiri di tempatnya, memilih untuk mengisi daya dan menyegerakan ritual pagi yang terlambat sebelum mendatangi kamar adiknya. Begitu dirinya sudah akan mengetuk pintu, rupanya daunnya tidak ditutup sempurna hingga Athira bisa melihat kakaknya lebih dahulu. "Masuk saja. Aku akan mengeluarkan bonekanya."


Ignacia kali ini mendapatkan boneka beruang besar Athira tanpa lemparan seperti terakhir kali. Si pemilik kamar masih dalam proses membawa laptop kesayangannya ke atas tempat tidur. Acara menonton kali ini juga ada camilan, rupanya Athira sudah menyiapkannya tepat sebelum kakaknya bangun.


Si gadis yang memeluk boneka beruang itu kira keduanya akan menonton film tanpa air mata. Rupa-rupanya Athira membawa film yang mampu membuat penontonnya menangis tersedu-sedu. Film tentang seorang pria berkebutuhan khusus yang dituduh melakukan sebuah kejahatan hingga harus dipenjara. Anak perempuannya yang kala itu masih kecil pun berusaha agar ayahnya bisa bebas dan sekaligus membersihkan namanya atas tuduhan tidak benar.


Rafka kebetulan datang ke kamar Athira untuk meminjam rautan pensil, melihat kedua kakaknya yang menangis dalam diam jadi urung masuk. Sebelum pergi, anak laki-laki itu diminta untuk mengambilkan tissue dari ruang tamu. Filmnya terlalu menyedihkan dan menyayat hati.


"Kenapa kita menonton film sedih?" lirih Ignacia menahan tangis. "Kenapa bukan film komedi saja?"


"Karena filmnya bagus." Athira sudah lelah menangis. Ingij ditahan namun rasanya tidak mungkin. Ignacia akui filmnya bagus, bahkan mampu melegakan perasaan.


Selanjutnya sang mama yang datang, butuh bantuan untuk mengedit sebuah foto agar memiliki kualitas yang lebih baik. Wanita itu sama terkejut dan terheran-heran seperti saat Rafka datang tadi. Sama-sama urung masuk juga tanpa diminta untuk melakukan apapun sebelum pergi.


Film sedih keduanya berakhir. Camilan yang biasanya sudah habis di pertengahan film sekarang masih tersisa setengah. Ignacia mencoba untuk tetap makan, mengganti energi yanh dikeluarkan akibat menangis tadi. "Mau menonton film lainnya? Yang kali ini akan lebih menegangkan. Tentang kapal selam," tawar Athira. Ia bahkan menunjukkan poster film yang akan keduanya lihat selanjutnya.


Sang mama kembali lagi, tetap meminta bantuan. "Kenapa kalian melihat film hingga menangis begitu? Lihatlah berapa banyak tissue yang kalian habiskan untuk satu film." Sebaiknya Ignacia segera membantu mamanya sebelum melewatkan film yang sedang dijeda Athira. Sementara pemilik kamarnya juga melakukan sesuatu di kamar mandi.


Karena sepi, mama Ignacia bertanya bagaimana kelangsungan hubungan sang anak dan kekasihnya. Tidak lupa bertanya apakah mereka akan berkencan dalam waktu dekat. Ignacia hampir lupa meminta izin untuk pergi malam ini jika saja mamanya tidak bertanya. Katanya akan ada perubahan jadwal jadi dia akan berkencan malam nanti.


Ignacia tidak akan menolak jika ditawari. Ia mengangguk dan menunggu adiknya kembali. Samar-samar sebuah suara terdengar dari bawah boneka yang sedang ia peluk. Rupanya ada panggilan dari Rajendra. Mungkin sebaiknya Ignacia menyalakan mode dering agar suara ponselnya lebih terdengar. Kekasihnya sudah menghubungi sebanyak empat kali tanpa ia tahu.


Kali ini Rajendra ingin menyampaikan berita lain. Mungkin sebaiknya mereka pergi sebelum jam makan malam agar bisa sekalian makan berdua. Ia mengingatkan agar Ignacia memakai pakaian yang agak tebal karena perkiraan cuaca memprediksi angin yang lebih dingin dari sebelumnya.


Sebelum mengakhiri panggilan, Rajendra bertanya apa mungkin Ignacia keberatan dengan rencana malam ini. Perubahan jadwalnya terjadi mendadak seolah tidak bisa menunggu lusa seperti yang si gadis inginkan. Mana mungkin Ignacia keberatan jika bonusnya bisa bertemu lagi dengan Rajendra.


"Aku akan menunggumu di rumah."


"Kak, aku membuat es teh." Athira kembali membawa satu teko penuh es teh beserta dua gelas yang dibantu Arvin membawanya. Tentu sambil mengharap mendapatkan es teh dari kakaknya sebelum pergi. "Karena ada lemon di kulkas, jadi aku menggunakannya juga. Rasanya enak sekali."


Sore harinya Ignacia dibantu Athira menentukan pakaian yang cocok untuk berkencan. Kali ini ia ingin rambutnya hanya dikepang satu, mengenakan kaos putih dan cuff jeans lalu ditambah jaket denim untuk mencegah masuk angin. Dengan tambahan sneakers, kini Ignacia siap untuk pergi.


Di ruang tamu, ada sang ayah yang tengah membantu Rafka dan Arvin mengerjakan tugas sekolah. Dengan hati gemetar Ignacia minta izin pergi dengan seorang teman dan pulang sebelum jam malamnya habis. Ayahnya mengangguk saja, yang penting tidak pulang larut. Hati-hati katanya.


Begitu mendengar suara motor, Ignacia buru-buru menutup pintu. Berlari kecil menuju pagar tak lupa membawa helm. Seseorang yang sudah sampai di depan melihat dengan jelas keberadaan kekasihnya dari cela pagar. Si gadis keluar dengan senyuman yang mengembang, menghampiri sang kekasih tanpa berkedip. "Terima kasih sudah datang."


Rajendra membuka kaca helmnya, "Terima kasih juga karena sudah mau mengubah jadwal kencan. Ayo naik, kita akan mulai perjalanan menjadi makan malam." Mesin motor kembali menyala, beberapa detik setelahnya keduanya sudah pergi dari halaman rumah si gadis menuju daerah tengah kota.


Ignacia bertanya kenapa tujuan mereka malam ini, takut-takut jika pakaiannya nanti tidak sesuai. Padahal Ignacia butuh pertimbangan tinggi sebelum memilih bersama Athira. Perimbangan tanpa tahu kemana mereka akan pergi. Rajendra bilang jika ia akan merahasiakan hingga keduanya sampai.


Jalanan malam ini lumayan padat, menambah waktu kebersamaan Ignacia dengan si laki-laki kesayangan. Tangan si gadis melingkar di pinggang seseorang yang sedang mengemudi, mendengarkan cerita lucu sebelum Rajendra berangkat menjemput Ignacia. Bahkan jika harus macet, kelihatannya Ignacia akan menyukai kondisi ini.


Saking serunya mengobrol, Ignacia sampai tidak sadar jika sekarang sudah ada di kaki bukit. Ignacia buru-buru melepas helm. Melihat pantulan dirinya sendiri lewat spion motor Rajendra, mengecek apa rambutnya masih rapi. Ia lupa jika seharusnya Athira lebih mengencangkan kepangan ini agar tetap rapi meskipun sedang memakai helm.


Rajendra memperhatikan gadisnya dalam diam. "Bagaimana? Apa rambutku sudah terlihat rapi?" Ignacia berbalik, matanya langsung bertatapan dengan manik mata Rajendra. Ada sesuatu di mata laki-laki itu yang kurang bisa dimengerti Ignacia. Kenapa Rajendra menatap dirinya begitu dalam?


"Kenapa? Apa aku terlihat aneh?" Ignacia gugup, merasa sedikit tidak percaya diri dengan penampilannya. Kekasihnya menggeleng, ia raih salah satu tangan Ignacia untuk di bawa masuk ke tempat makan. Pertanyaan di kepala Ignacia semakin banyak, berputar-putar seperti kincir air.


Ignacia baru menyadari sesuatu. Tangan kekasihnya terasa dingin. Apa karena angin malam? Keduanya berhenti di antrian, Rajendra mengajaknya untuk melihat papan menu. "Kamu ingin pesan yang mana? Semuanya tampak enak untukku. Nanti kita makan di lantai atas, agar pemandangan kotanya terlihat."


Mata Rajendra teralihkan dari papan menu ke gadis yang ada di sampingnya. Pasalnya kini tangannya tengah di genggam dengan dua tangan, seolah ingin di hangatkan. Masih dengan kegiatannya sendiri, Ignacia melepaskan satu tangannya lalu memasukkan tangan Rajendra ke dalam saku jaket yang ia kenakan. Dengan polosnya Ignacia menatap Rajendra, tidak sadar jika tadi sedang di ajak bicara.


"Kenapa?" tanya si gadis.


Rajendra mengulang pertanyaannya dengan sabar, membiarkan tangannya masih di saku jaket si gadis. Ignacia mengangguk saja, mengikuti Rajendra dengan senang hati. Ketika sampai di tangga, tangan yang disimpan oleh Ignacia diambil alih oleh pemiliknya. Biar Rajendra yang menuntun gadisnya dan bukan sebaliknya.


Ada waktu lima menit sebelum pesanan keduanya datang. Ignacia ingin bertanya kenapa Rajendra menatap dirinya dengan tatapan berbeda, penasaran saja. Memastikan dirinya tidak merusak kencan malam ini. Tapi jika bertanya, apa Rajendra akan menjawab pertanyaan Ignacia dengan jujur?


"Kenapa kamu menyimpan tanganku di sakumu?" Rajendra lebih dahulu bertanya. Ia lipat kedua tangan di atas meja, menyondongkan tubuh ke arah Ignacia yang duduk di hadapannya. Kini tatapan yang ia berikan sudah berbeda dari saat awal masuk.


Ignacia ikut memposisikan diri seperti Rajendra, menjawab jujur bahwa ia ingin menghangatkan tangan kekasihnya yang terasa dingin. Takutnya Rajendra kena masuk angin atau apapun itu. Ignacia akan merasa bersalah jika kekasihnya sakit akibat keluar malam-malam dengannya.


"Rajendra, apa aku melakukan kesalahan? Tadi kamu menatapku berbeda. Aku jadi agak gugup." Ignacia mengaku, mungkin tidak ada salahnya bertanya. Bukannya jawaban jelas, Rajendra malah meraih tangan Ignacia. Ia genggam masih dengan menjaga kontak mata.


"Rajendra," panggil Ignacia pelan, "Kenapa kamu tidak menjawab? Apa aku berbuat salah lagi?"


"Aku hanya ingin menatapmu. Aku merindukanmu. Kamu tidak melakukan kesalahan sama sekali."