Beautiful Monster

Beautiful Monster
Pasar Malam



"Wah pasar malam."


"Mau masuk dan bermain?"


Ignacia tidak menolak. Biar saja tempatnya ramai. Ignacia jarang pergi ke pasar malam setelah pindah rumah. Dan mungkin hanya daerah sini saja yang masih mengadakan pasar malam ketika malam Minggu. Daerah yang tidak selalu dilewati Ignacia.


Setelah memarkirkan sepeda, Rajendra menggandeng tangan kekasihnya untuk masuk. Karena ramai, sebaiknya Rajendra tetap mengawasi Ignacia, menjaga mata pada gadis yang sekarang berjalan bersamanya tanpa memperhatikan jalan. Matanya menatap kagum permainan di sekitar.


"Rajendra, aku ingin coba permainan lempar bola. Lihatlah, mereka punya boneka yang lucu." Satu hal yang selalu dilakukan sepasang kekasih ketika pergi ke tempat hiburan semacam ini adalah mendapatkan hadiah untuk kenang-kenangan. Salah satunya adalah mendapatkan boneka dari permainan keberuntungan.


Rajendra menahan Ignacia yang mungkin akan berlari lebih dahulu mendekati stand lempar bola. Disana ramai, ada banyak laki-laki juga. Rajendra harus bekerja ekstra. Ya ada banyak pasangan di tempat ini, tapi sepertinya para gadisnya tidak sesemangat Ignacia.


"Aku akan mencobanya lebih dulu."


Ignacia menukarkan selembar uangnya dengan lima buah bola berbeban. Ignacia tidak punya kemampuan membidik yang bagus. Tapi yang dibutuhkan lebih dari kemampuan adalah keberuntungan. Mungkin bulannya tengah bagus, kelima bola Ignacia berhasil menjatuhkan sebuah menara kaleng tanpa kecurangan.


"Aku ingin boneka burung hantu itu."


Ignacia menunjuk pada boneka berukuran sedang berwarna kombinasi warna oranye pastel dengan pink. Warna mata boneka itu agak aneh bagi Rajendra, ada warna pelangi di bagian yang seharusnya putih namun pupilnya tetap berwarna hitam. Boneka itu memiliki pita yang berwarna sama dengan bulu si burung hantu. Bagian sayap atasnya berwarna biru pastel dan kakinya berwarna coklat terang. Sepadan dengan harganya.


"Rajendra, lucu kan?"


Bukannya melihat ke boneka yang dipeluk Ignacia, Rajendra justru tertarik untuk memperhatikan wajah bahagia gadisnya. Mata berbinar, senyuman merekah, wajah memerah karena semangat. Rajendra mengacak rambut Ignacia lembut, "iya lucu sekali seperti yang baru menenangkannya."


Ignacia terlihat bangga. Akan mengajak Rajendra untuk mencoba permainan keberuntungan lain tapi laki-lakinya menolak. Rajendra ingin mengajak Ignacia berjalan-jalan dan menaiki wahana. Jika gadis ini menang lagi, mungkin sepeda motor Rajendra tidak akan cukup menampung semua bonekanya. Ukuran boneka yang baru Ignacia menangkan saja tidak bisa dikatakan kecil. Ukuran yang nyaman dipeluk.


"Mau membeli beberapa camilan juga?" Tawar Rajendra.


"Boleh? Iya aku mau camilan manis."


Komedi putar, bianglala, dan wahana ombak banyu sudah dinaiki. Malam masih berlangsung, dan sebentar lagi Rajendra harus mengantar kekasihnya pulang. Sebelum itu, Rajendra membawa Ignacia pergi membeli minum. Takus si manis dengan boneka burung hantunya dehidrasi karena bermain lama.


Di sebuah kedai minuman keduanya duduk, menatap pemandangan pasar malam yang makin meriah dengan keberadaan kembang api di cakrawala. Ignacia mendudukkan bonekanya diantara dirinya dan Rajendra. Jadi seperti menjaga adik agar tidak kemana-mana.


"Setelah ini aku antar pulang," ucap Rajendra memberitahu, dia menutup botol minuman dinginnya lalu bangkit dan mengulurkan tangan pada gadisnya. "Adik-adikmu pasti sudah menunggu kakaknya pulang. Ayo," ajaknya.


"Aku masih ingin diluar bersamamu lebih lama. Aku ingin bermain lebih lama." Ignacia meraih tangan Rajendra, "ayo berjalan-jalan lagi. Atau bagaimana jika berkeliling kota lagi? Malam belum terlalu larut. Setelahnya kita pulang."


"Kamu ini, sudah waktunya pulang. Mamamu mengirimkan pesan padaku sebelum kita berangkat tadi. Katanya aku harus memulangkan kamu lebih cepat dari terakhir kali." Rajendra menarik tangan Ignacia lembut, "kita pulang sekarang ya?"


Ignacia sebaiknya menurut saja. Jika Rajendra sudah membawa pesan dari mamanya, kemungkinan besar nanti mamanya akan bertanya kapan Rajendra mengantarkan dirinya pulang. Sebaiknya Ignacia tidak membuat Rajendra terlihat ceroboh di hadapan mamanya karena Ignacia sendiri.


Di perjalanan pulang, Ignacia menggunakan satu tangannya untuk membawa burung hantu barunya sementara tangan lainnya memeluk Rajendra. Ignacia meletakkan dagunya di bahu Rajendra, "Rajendra, apa aku boleh minta sesuatu padamu?"


"Apa itu?" Rajendra menjawab.


"Sebelum kembali ke kos, apa aku boleh bertemu denganmu? Kita tidak akan berada di kereta yang sama, aku ingin bertemu denganmu sebelum kita terpisah lagi." Ignacia mengeratkan pelukannya pada si laki-laki, "berhubungan jarak jauh tidak cocok untukku yang mudah rindu ya?"


Motor Rajendra sudah memasuki area sekitar rumah Ignacia. Sudah tidak ada lagi kendaraan yang berlaku lalang. Rajendra melepaskan tangan kirinya untuk menggenggam tangan kekasihnya sebentar. "Hubungan jarak jauh memang tidak mudah, Ignacia. Tidak apa-apa. Kita bisa bertemu sesekali."


Saat turun dari motor, Ignacia sudah tampak mengantuk. Bahkan ketika Rajendra membantunya untuk melepaskan helm karena tangannya penuh memeluk boneka, Ignacia menutup matanya terlalu lama. Rajendra terkekeh, "begitu katanya kamu mau bermain lebih lama. Kamu sudah mengantuk."


"Iya, aku salah. Hubungi aku ketika sudah sampai di rumah, Rajendra. Terima kasih sudah membawaku pergi jalan-jalan."


...*****...


Sesampainya di rumah, Rajendra mengirimkan pesan pada Ignacia. Kabar bahwa dia sudah sampai di rumah seperti pesan gadisnya. Tidak seperti terakhir kali, Ignacia tidak langsung membalas. Mungkin dia sudah tertidur di kamar dengan boneka baru diperlukannya.


Ruang tamu kosong, ruang keluarga kosong, kondisi yang disukai Rajendra setiap pulang berkencan. Tidak ada orang yang menggodanya atau membuatnya tidak nyaman. Yang ada sekarang hanya kenangan lucunya dengan gadis yang ingin bermain lama namun mengantuk tadi. Rajendra harus memegang tangan Ignacia karena khawatir Ignacia tertidur.


Keesokan harinya, ketika Rajendra mengecek ponselnya, masih belum ada balasan dari Ignacia. Status terakhir dilihatnya juga masih sama seperti kemarin malam. Apa mungkin Ignacia belum bangun? Atau mungkin dia sibuk melakukan sesuatu.


"Rajendra," panggil ibu Rajendra dari luar kamar. Sebagai anak laki-laki yang baik, Rajendra langsung meletakkan ponselnya dan memenuhi panggilan sang ibu di dapur. "Kamu bisa mengantar ibu ke pasar? Ibu harus mengisi ulang bumbu-bumbu dapur dan bahan makanan."


"Tentu. Aku akan bersiap-siap."


Rajendra kira pasar akan seramai seperti setiap kali dia datang. Aneh sekali. Kali ini pasar yang letaknya sedikit jauh dari rumahnya ini lebih lenggang. Padahal biasanya ketika pagi pun pasar ini akan ramai dengan ibu-ibu yang sibuk membeli sayur ataupun daging.


Rajendra mengekor di belakang sang ibu, ikut melihat-lihat bumbu dapur yang akan dibeli. Karena sering ikut dengan ibunya membeli banyak hal di pasar, Rajendra jadi tahu beberapa nama bumbu dapur. Kadang Rajendra juga diberitahu bagaimana cara memilih bahan makanan yang segar.


Sambil menunggu, Rajendra iseng mengecek ponselnya. Melihat apa Ignacia sudah melihat pesannya. Nihil, Ignacia belum membalas bahkan melihat. Kelihatannya Ignacia memang bangun terlambat. Apa mungkin Rajendra memulangkan dia terlalu malam? Rajendra rasa tidak.


"Rajendra, ayo ke tempat sayur." Mendengar itu, Rajendra buru-buru menyimpan ponselnya dan mengikuti sang ibu. Akan diambilnya tas belanja sang ibu namun tidak diperbolehkan, "nanti tolong bawakan sayurannya saja."


"Kamu berkencan kemana dengan Ignacia kemarin?" Ibu Rajendra iseng bertanya. Semalam ibunya sempat mendapati Rajendra tengah tersenyum senang ketika akan masuk ke kamarnya. Saat itu ibunya akan keluar kamar, jadi Rajendra tidak menyadari keberadaan ibunya.


"Awalnya hanya berkendara tanpa tujuan. Lalu ketika melewati daerah barat kota, ternyata ada pasar malam."


"Gaya pacaran kalian seperti di zaman ibu. Pergi ke pasar malam. Lalu kamu berikan apa untuk Ignacia?"


"Kubelikan camilan. Oh ya, Ignacia kemarin mendapatkan keberuntungan, Bu. Dia berhasil memenangkan boneka burung hantu di permainan lempar bola." Rajendra membawa dua kantong plastik di tangannya dengan satu tangan, diraihnya ponsel dengan tangan yang bebas.


Diberikannya ponsel itu pada sang ibu, menunjukkan apa yang ada di layar ponselnya. Itu foto Rajendra dan Ignacia dengan boneka burung hantu. Ibunya tersenyum kecil, "kalian kelihatan senang sekali. Ignacia punya mata yang berbinar ya?"


"Ignacia semakin cantik kan Bu? Aku jadi takut membiarkan dia jauh dariku. Bagaimana jika dia diambil orang?" Rajendra mendapatkan ponselnya kembali. Disimpan ke dalam kantong.


"Kalian tumbuh bersama selama beberapa tahun terakhir. Mana mungkin Ignacia sempat melirik laki-laki lain jika selama ini sudah bersamamu. Percaya saja pada Ignacia."


...*****...


"Ignacia, ayo bangun. Kenapa kamu tidur disini?"


Sang ayah kaget ketika mendapati anak pertamanya tidur di sofa ruang tamu. Masih dengan memakai tas kecil dan baju yang dipakainya untuk berkencan dengan Rajendra. Mamanya yang masuk setelahnya juga kaget. Seharusnya Ignacia membersihkan dirinya sebelum tidur.


"Bagaimana kita membangunkannya?" Ayah Ignacia bertanya pada istrinya. Wanita yang perlahan menutup pintu depan itu berpikir sebentar. Menyarankan suaminya untuk bersih-bersih sebentar lalu kembali membangunkan Ignacia.


Sekitar setengah jam berlalu. Ayah Ignacia kembali mencoba untuk membangunkan anaknya. Namanya di panggil oleh beberapa kali, tubuhnya diguncang sedikit agar bisa menarik kesadaran. Namun rupanya cara ini tidak bisa membuat anaknya terbangun.


"Kamu ini pergi kemana semalam hingga ketiduran disini? Kamu pulang larut?" Gumam ayah Ignacia sambil memperhatikan putrinya dari atas hingga bawah. Memastikan apakah putrinya mungkin terluka hingga tidak bisa langsung pergi ke kamarnya.


"Ignacia tadi mengirimkan pesan, katanya dia keluar dengan teman-temannya ke pasar malam. Mungkin dia pulang terlalu malam. Boneka itu kelihatannya hasil permainan keberuntungan." Mama Ignacia membaca pesan dari Rajendra, jadi alibi yang dibuatnya tidak melenceng dari apa yang benar-benar terjadi.


"Coba ayah gendong saja," saran mamanya.


"Gendong bagaimana? Ignacia sudah dewasa. Bukan anak berumur 2 tahun yang mudah di gendong." Meskipun menyangkal, tidak ada tanda penolakan mutlak. "Bagaimana cara menggendong gadis yang sudah dewasa?" tanyanya pada diri sendiri kemudian.


Boneka burung hantu yang ada di pelukan Ignacia disingkirkan sebentar. Sang ayah memposisikan diri untuk mengendong anak pertamanya. Semoga tubuhnya tidak sakit parah setelah ini. Tubuh Ignacia memang tidak besar, sekarang anaknya sudah lebih kurus daripada saat SMA. Tapi tetap saja. Ignacia bukan anak kecil lagi.


Dengan banyak doa, pria paruh baya bertubuh tinggi dan kurus ini berhasil menggendong Ignacia sampai ke kamarnya. Tidak ada rasa sakit di bagian pinggang atau punggung. Hanya sedikit rasa lelah di bagian tangan karena menggendong Ignacia dengan bridal style.


"Bukti dari kasih sayang ayah pada anaknya," celetuk mama Ignacia yang datang membawa boneka burung hantu anaknya. Begitu mendapatkan kembali boneka burung hantunya, Ignacia langsung memeluknya seolah tengah tersadar. Refleksi tubuhnya pasti bekerja karena tidak merasakan keberadaan bonekanya.


"Lain kali jangan biarkan Ignacia pulang terlalu larut. Bagaimana jika dia tidur di teras karena mengantuk?" Setelah mengatakannya, ayah Ignacia keluar dari kamar. Pergi ke kamarnya sendiri untuk tidur.


Masih di kamar Ignacia, mamanya duduk di tepi tempat tidur putri pertamanya. Anak rambut yang menghalangi wajah Ignacia disingkirkan. Kaus kaki yang masih terpasang dilepas, tas kecil yang masih ada juga dipisahkan, laku jaket yang masih melekat dibuka perlahan.


"Kamu pasti terkejut ketika bangun nanti."


...*****...


Rafka melihat sekitar. Makan siang sudah tersaji di hadapannya, namun ada hal lain yang lebih menarik minatnya. "Apa Kak Ignacia sudah kembali ke asrama? Aku tidak melihat Kak Ignacia pulang sejak kemarin malam."


"Kak Ignacia ada di kamarnya. Masih tidur," mamanya menjawab.


"Coba bangunkan kakakmu." Ayah meminta Rafka yang membangunkan karena dia yang penasaran tadi. Anak laki-laki pertama keluarga ini ingin mengeluh, tapi karena bertemu tatap dengan Athira, jadinya dia urung. Daripada dia mendapatkan omelan karena mengeluh nanti.


Ketika Rafka kembali, Ignacia tidak bersamanya. Anak itu menjelaskan jika kakaknya tidak menjawab ketika pintu kamarnya diketuk cukup lama. Alhasil Rafka menyerah, kembali ke dapur untuk menyantap nasi goreng yang asapnya masih mengepul.


"Padahal tadi malam Ignacia juga sulit dibangunkan," gumam si ayah. Pria itu bangkit, mengambil air di galon. Athira bertukar tatap dengan mamanya selama ayahnya pergi sebentar. Hanya saling tatap saja tanpa menjelaskan apapun.


Di kamar, Ignacia masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Tidak lupa dengan boneka burung hantu yang baru dia dapatkan semalam. Entah apa mimpinya hingga kemudian Ignacia membuka mata. Menatap kosong ke samping ruangan yang terang karena sinar matahari.


Dirinya teruduk, melepaskan boneka di pelukannya lalu melihat sekeliling. Bukankah semalam dia duduk sebentar di sofa karena mengantuk? Bagaimana dia bisa ada di kamar? Ignacia tidak ingat bagaimana dirinya bisa ada atas tempat tidur. Sudah melepaskan kaus kaki, tas, juga jaket.


"Sudah siang," gumam si gadis saat melihat jam dinding.


Perlahan dirinya mendudukkan diri, merenggangkan tubuh lalu pergi meninggalkan kamar. Aroma enak langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Ignacia. Perutnya langsung bereaksi hingga Ignacia berjalan ke arah sumber munculnya bau itu tanpa sadar.


"Putri tidur sudah bangun," celetuk mama Ignacia, "kenapa kamu sangat sulit dibangunkan hm?"


Ignacia tidak bereaksi. Dia berjalan mendekat, duduk di samping Rafka yang berhadapan dengan ayahnya. Segera mamanya mengambilkan sepiring nasi goreng untuk yang baru bangun. Tidak lupa lauk pauk. Anak pertamanya pasti lapar.


Merasa ada yang aneh, Ignacia menatap ke arah seseorang yang sejak tadi menatapnya. Dengan mata sayu Ignacia menatap ayahnya, "kenapa?" tanyanya dengan suara serak khas bangun. Ayahnya bersikap aneh, hanya menatap lalu kembali fokus dengan makan siang.