Beautiful Monster

Beautiful Monster
20. Ingin Melindungi



Bulan purnama sudah kelihatan semakin jelas di atas langit. Meski begitu, tak ada yang mempedulikan keindahan langit malam itu karena semuanya sibuk menyelamatkan diri dari serangan makhluk yang mengobrak-abrik setiap rumah bahkan menghabisi beberapa warga.


Nenek Kawa hanya terduduk di depan sebuah meja sambil menikmati teh hangat. Di depannya ada sepuntung bunga higanbana merah yang sudah dia temukan dan petik sebelumnya.


Brakkk!


Suara keras dari pintu yang didobrak dengan keras sampai lepas terdengar. Yujiro dalam wujud manusia serigalanya yang tak bisa mengontrol diri, kini berlari dengan cepat menuju Nenek Kawa. Kakinya melompat menginjak meja dan bungs higanbana merah itu yang membuat Nenek Kawa tersenyum kecil dengan perasaan lega.


"Maafkan aku. Ini cara agar menghilangkan kesengsaraanmu sekarang. Yujiro..."


Srettt!


Darah mulai bercucuran juga menciprati lantai sampai dinding. Malam itu Nenek Kawa sudah berhasil dihabisi oleh Yujiro tanpa dirinya bisa kendalikan.


Amukan terus berlanjut, seakan hatinya akan terus merasa gelisah dan tersiksa. Malam itu, bulan purnama yang menjadi pemicu bangkitnya Yujiro sebagai makhluk mengerikan dan ditakuti semua orang.


Tak jauh dari tempatnya mengobrak-abrik rumah, beberapa mulai menepi. Senzo turun dari mobil itu bersama bawahannya yang lain. Netranya bergerak mengamati keadaan desa yang sudah kacau. Beberapa rumah terbakar, terombang-ambing, hingga beberapa orang tergeletak tewas mengenaskan di tanah.


"Kita harus segera menangkapnya dalam wujud itu," tekad Senzo tersenyum puas.


Mereka membawa banyak senjata. Bahkan sudah ada sebuah alat seperti untuk menembakkan meriam yang siap digunakan saat ini juga. Mereka menyebar di beberapa tempat, mencoba mengepung Yujiro yang mengobrak-abrik bangunan runtuh.


"HEI!" teriak Senzo dengan sengaja sehingga Yujiro menoleh. "KEMARILAH! KAU TAK AKAN BISA MENGAMUK LAGI SETELAH INI. KAU MONSTER GILA MENAKUTKAN YANG HARUS KAMI BERANTAS. KEMARI!"


Tantangan itu membuat Yujiro bangkit. Matanya menyala merah, sejalan dengan nafsu membara untuk membunuh manusia. Mengoyaknya tanpa kasihan.


Slung!


Satu per satu mesin meriam itu dinyalakan sehingga Yujiro beberapa kali terkena benda bulat yang pecah membasahi tubuhnya.


"BAGAIMANA RASANYA? KAU SUDAH MULAI MERASA TAK BISA MELAWAN?" ejek Senzo.


Yujiro berjalan, perlahan terhuyung ketika hendak menghampiri Senzo, hingga akhirnya jatuh lemah di depannya. Hal itu membuat Senzo tertawa terbahak-bahak setelah melihat rencana melumpuhkan Yujiro sukses.


"Ikat saja monster ini. Dibawa dalam keadaan hidup itu lebih baik. Aku bisa menjualnya seperti binatang sirkus!" titah Senzo pada beberaap bawahannya di sana yang langsung patuh untuk mengikat tubuh Yujiro.


Mata Yujiro kembali terbuka dengan geraman keras dari tenggorokannya. Dia bangkit, melolong keras sambil merentangkan kedua sayap yang menghempaskan orang-orang itu.


Yujiro semakin mengamuk, melempar satu per satu manusia yang dilihatnya. Semua pemandangan menjadi warna merah dari matanya.


Cairan yang dibuat dari bunga Wolfsbane itu memang melemahkannya, tapi Yujiro bertahan sebisa mungkin.


Melihat monster di depannya masih mengamuk, Senzo mulai membidiknya dengan senjata.


Dorrr!


Satu peluru perak yang sudah disiapkannya pun tertembak hingga menembus bagian bahu Yujiro. Dia berteriak, merasakan kesakitan yang begitu berbeda saat tubuhnya kini merasa terbakar.


Dengan susah payah, Yujiro mengepakkan sayap, membawa tubuhnya sendiri untuk terbang lalu pergi dari sana.


"KELUARKAN SEMUA ANJING UNTUK MENEMUKANNYA!" titah Senzo.


Bawahannya pun mulai membuka kandang yang mereka bawa hingga beberapa anjing galak yang menggonggong pun keluar. Mereka berlari pergi mencari Yujiro melalui aroma yang diciptakannya.


Senzo mengulas seringai. Dia berpikir tak akan ada yang bisa lari darinya, termasuk Yujiro.


...****************...


Miho berjalan melewati beberapa pohon sambil mengikuti serigala yang berjalan sempoyongan di depannya. Dia merasa kasihan dengan serigala itu karena lukanya terlihat semakin parah dan berdarah yang membuatnya lemah.


"Hei, mungkin kau tidak perlu menuntunku lagi pada Yujiro. Aku akan mencarinya sendiri," tawar Miho.


Serigala itu merengek kecil lalu jatuh ketika empat kakinya sudah tak kuasa lagi bergerak. Ia melolong kecil seakan tengah memberitahu sesuatu pada alam.


"Jangan memaksakan dirimu," kata Miho lantas mengangkat serigala itu yang ia gendong ke pelukannya.


Perjalananannya kembali berlanjut. Tanpa penciuman serigala yang dibawanya, Miho hanya mengandalkan insting untuk setiap langkahnya saat ini. Malam juga sudah semakin larut dengan bulan purnama yang masih terlihat sempurna di atas sana.


Krakkk!


Suara itu membuat kedua mata serigala itu terbuka penuh kewaspadaan. Ia turun dari gendongan Miho lalu menggeram ke arah sesuatu yang datang di depannya.


Guk! Guk! Guk!


Melihat satu anjing mulai bergerak, serigala itu berusaha melawan untuk melindungi Miho. Tubuhnya yang lemah terkena gigitan dan hempasan keras.


Miho pun menggunakan belati untuk mengancam anjing-anjing itu bahkan saking paniknya, ia tak sengaja menusuk salah satunya hingga tumbang.


"DIA DI SINI!" teriak seseorang yang menemukan Miho.


"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Miho kembali membawa serigala itu untuk kabur dari sana.


Dorrr!


"Argh!" erang Miho jatuh karena sebelah kakiny tertembak. Ia berusaha menahan sakit, menyeret diri untuk melindungi serigala yang sudah berderu kelelahan dengan kondisi lemahnya.


"Di mana monster itu?" tanya Senzo yant menginjak luka di kaki Miho dengan sengaja.


Miho berteriak kesakitan, menitikan air mata karena injakan keras itu. Tangannya gemetar memegangi kaki Senzo agar lepas darinya.


"Jika kau tak bisa bicara, dengan terpaksa..."


Dorrr!


Satu tembakan ia berikan pada serigala yang sudah melolong keras di sana hingga akhirnya mati.


"TIDAAAK!!!" Miho menangis, memukul-mukul kaki Senzo yang sudah jahat menembak serigalanya.


Pada akhirnya, Miho diseret pergi dari sana oleh mereka yang kembali berjalan mencari Yujiro. Tak ada kelembutan yang tercipta meski Miho adalah perempuan yang tengah kesakitan. Mereka menawannya.


Tak lama kemudian, anjing-anjing mereka berlari cepat menuju ke arah sesuatu yang mereka temukan. Tepat di ujung tebing, terlihat sosok Yujiro yang sedang bergelung menggunakan sayapnya dengan nafas berderu keras. Tanduk rusa di kepalanya itu terlihat mulai meredup, berkaitan dengan kondisi lemahnya saat ini.


"Ketemu kau!" Senzo menyeringai. Dia menyeret Miho lalu mendorongnya keras hingga jatuh tak jauh di hadapan Yujiro.


"Kalian berdua akan segera mati di tanganku. Namun sebelum itu, aku akan memberi waktu untuk kalian berdua memberikan kalimat perpisahan," tutur Senzo.


Miho perlahan-lahan mengalihkan perhatiannya pada Yujiro yang mengerang dengan mata merahnya. Dia sudah bukan Yujiro lagi, melainkan makhluk mengerikan yang sudah mengambil alih kesadaran.


"Yujiro, pergilah sekarang juga. Tetaplah hidup. Jangan pedulikan aku..." kata Miho dengan berlinang air mata.


Makhluk itu melihatnya. Cairan yang keluar dari mata manusia membuat sedikit hatinya terketuk ingat sesuatu. Yujiro bangun perlahan sambil terus menatap Miho yang menangis. Kakinya berjalan sedikit demi sedikit mendekat, mengulurkan tangan untuk menggapai wajah Miho.


"TEMBAK MEREKA!" titah Senzo sehingga anak buahnya mulai menembak.


Yujiro pun memeluk tubuh Miho dengan secepat kilat, menggunakan kedua sayap untuk melindungi tubuh mereka berdua. Tembakan demi tembakan berhasil melukai tubuhnya, tapi Yujiro terus bertahan.


Hingga akhirnya terdengar suara langkah kuda berlari menghampiri mereka. Beberapa orang mulai menghunuskan panah yang berhasil melumpuhkan para bawahan Senzo.


Yosuke dan Hisashi turun dari kudanya, bertarung bersama orang-orang di sana termasuk Senzo. Sementara itu, Miho menoleh ke arah Yujiro yang dekat masih melindungi dirinya dari belakang.


"Kenapa kau tidak pergi? Aku bilang kau harus tetap hidup," kata Miho.


Yujiro tak menjawab apapun karena dirinya sudah tak mengerti bahasa manusia lagi. Bentuk perlindungannya sekarang adalah gerakan refleks dari tubuhnya yang seakan menyuruh agar dirinya tak membuat Miho dalam bahaya.


Di tengah pertarungan, Senzo berdiri sambil mengarahkan senjatanya pada kepala Yujiro dari belakang.


Slang!


Senjata itu terlepas saat sebuah pedang melukai tangannya. Saat dilihat, itu adalah perbuatan Rin yang kini menempelkan sisi pedang tajamnya pada leher Senzo.


"Rin, kau...!"


"Berhentilah, Papa. Jangan menyakiti siapapun lagi. Jangan membuat hidup orang lain menderita hanya untuk kesenanganmu."


"Kau seharusnya kukurung dalam penjara bawah tanah!" geram Senzo. "Anak tidak tahu diuntung! Selama ini yang kulakukan karena aku menyayangimu. Aku berusaha menjauhkanmu dari bahaya seperti ini."


"Kau adalah monster yang sebenarnya," cetus Rin. "Kau tidak lihat mereka berdua? Jika kau tidak berbuat ulah, tak akan ada yang namanya monster dan pertikaian seperti ini."


Senzo berusaha menyerang Rin, putrinya sendiri, tapi seseorang dengan cepat memukul kepalanya dari belakang hingga tak sadarkan diri.


"Maafkan aku. Ini terpaksa," kata Yosuke pada Rin.


Yujiro bangkit sambil menuntun Miho agar ikut dengannya menuju ke tepi tebing. Mereka akan terbang pergi dari sana menuju ke kehidupan yang hany ada mereka berdua.


Namun sebelum itu terjadi...