
"Aku akan mengurusnya," ucap Rajendra dengan senyuman di ujung bibirnya, "aku akan membuat Ignacia memaafkan kalian, jadi kalian tidak perlu merasa bersalah. Ignacia bukan orang yang pendendam. Dia hanya merasa risih."
Senyuman Rajendra itu menambah rasa tidak enak pada diri ketiganya. Ya bagaimana lagi? Mereka juga melihat bagaimana wajah tidak senang Ignacia ketika ketiganya datang. Apalagi tadi Ignacia sempat terlihat memaki dengan tatapan matanya.
"Rajendra, kami sungguh minta maaf," sesal ketiganya bergantian, "kami hanya bercanda. Kami tidak bermaksud untuk menyudutkan kalian. Kami sudah keterlaluan. Maaf."
"Aku mengerti. Sekarang kalian bisa melakukan aktivitas kalian. Biar aku yang mengurusnya." Rajendra tidak akan bisa marah terlalu lama pada teman-teman dekatnya. Tanggungannya sekarang hanya membuat Ignacia melupakan mereka.
Pesanan Rajendra dan Ignacia datang. Menginterupsi percakapan keempat teman ini. Yang baru datang tadi memilih untuk mencari restoran lain. Harus cepat-cepat sebelum Ignacia kembali. Rajendra masih menunggu, tidak menyentuh makanan hingga Ignacia akhirnya menampakkan dirinya.
"Tidak perlu pikiran yang lain. Kita fokus dengan kencan kita saja, ya?" Rajendra tersenyum, menyiapkan sumpit untuk kekasihnya sebelum Ignacia sempat menyentuhnya, "jika bertemu dengan mereka lagi, kamu tidak harus menyapa. Jika itu membuatmu lebih baik."
"Aku tidak peduli." Ignacia mengambil sumpit yang disodorkan, "aku tidak peduli akan ada badai apa lagi nanti. Yang kutahu, kamu tidak boleh macam-macam setelah orang-orang tahu tentang apa yang kita lakukan. Jangan tinggalkan aku."
"Tentu saja. Tidak akan." Rajendra masih saja tersenyum, menunggu Ignacia makan lebih dahulu sebelum dia mulai.
...*****...
"Aku ingin mencari buku."
Ignacia menarik lengan Rajendra yang sedari tadi dia genggam, masuk ke dalam toko buku di dalam mall. Keduanya ada di gedung yang berbeda, namun masih satu lantai dengan tempat keduanya makan tadi. Rajendra mengikuti saja. Misinya adalah membuat Ignacia lupa dengan teman-temannya tadi.
"Genre drama kehidupan lagi?"
Ignacia mengangguki pertanyaan Rajendra. Perlahan dia melepaskan genggaman pada lengan si laki-laki dan berjalan mendekati rak buku perlahan. Matanya hanya fokus mencari sebuah buku yang dia inginkan sekarang. Melihat cover yang bagus kemudian ke bagian blurb.
"Bukunya bagus?" Rajendra bertanya.
Ignacia menggeleng pelan, "aku akan berkeliling lagi. Kamu tidak mencari sesuatu juga? Aku mungkin akan memakan waktu lama disini."
"Tidak, aku akan menemanimu."
Beralih ke rak buku selanjutnya. Masih dengan genre yang sama, Ignacia terus membaca blurb yang ada hingga merasa cocok. Tapi ya dia harus memutuskan buku mana yang akan dia bawa pulang. Mamanya mewanti-wanti agar Ignacia tidak terlalu boros dalam membeli buku. Karena sebentar lagi dia akan menjadi mahasiswa dan sebaiknya banyak menabung untuk tambahan uang saku nantinya.
Rajendra yang tadinya mengekor sekarang jadi lebih mendekati Ignacia tanpa alasan. Gadisnya mendongak dan bertemu tatap dengan Rajendra. "Kamu lelah?" Pertanyaan itu mendapatkan gelengan pelan dari Rajendra. Dia hanya ingin tahu apa yang sedang Ignacia baca saja.
Ke rak selanjutnya. Rajendra berdiri di samping Ignacia yang kembali membaca blurb buku yang dia dapatkan. Tangannya meraih buku yang letaknya ada di rak paling atas dan ikut melakukan hal yang sama.
"Kamu tertarik dengan buku itu?"
"Tidak. Aku hanya ingin melihatnya lebih dekat saja." Rajendra mengembalikan buku itu setelahnya.
Setelah berkeliling beberapa lama, akhirnya ada buku yang dibawa pulang Ignacia hari ini. Rajendra harus menahan bosan dan lelahnya ketika terus mengikuti Ignacia. Menunggu hingga si gadis benar-benar mendapatkan buku yang dia inginkan tanpa penyesalan. Harus banyak bersabar.
"Maaf karena membuatmu menunggu lama," sesal Ignacia kemudian menggandeng tangan Rajendra keluar toko buku.
"Kenapa minta maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan. Aku tahu jika memilih sesuatu bukanlah sesuatu yang mudah. Lalu kemana kita pergi sekarang? Kamu masih ingin berkeliling lagi? Mungkin membeli camilan atau- entahlah."
"Kamu tidak lelah?"
Rajendra menggeleng, "aku masih ingin bersamamu. Bagaimana jika berjalan-jalan diluar? Mungkin ada tempat yang ingin kamu kunjungi selain mall."
"Bagaimana denganmu? Apa ada tempat yang ingin kamu datangi, Rajendra?" Ignacia menghentikan langkahnya, menatap lurus ke arah Rajendra. Keduanya terlihat seperti kakak beradik yang merencanakan sesuatu sekarang.
"Entahlah, aku tidak terpikirkan apapun. Bagaimana jika duduk-duduk sebentar?"
"Baiklah. Ayo cari tempat yang bagus."
...*****...
"Kamu haus? Mau kucarikan minuman dingin?"
"Kenapa kita tidak pergi bersama saja?"
"Agar tidak ada yang mendapatkan kursi kita. Aku akan segera kembali, tetaplah disana. Akan kucarikan minuman dingin yang enak untukmu."
Rajendra langsung berjalan cepat ke suatu tempat setelah menyelesaikan kalimatnya. Ignacia menatapnya dari tempat duduknya. Muncul senyuman kecil di wajah Ignacia. "Kenapa dia berjalan seperti itu? Tidak sesuai dengan tubuhnya yang tinggi. Hah, dia membuatku jatuh cinta saja," gumamnya.
Ignacia menghembuskan nafas panjang sambil menutup mata. Tubuhnya dia renggangkan agar tidak kaku. Hari ini dia sangat kesal dengan kehadiran orang-orang yang membuatnya menjadi bahan godaan di sekolah. Di sisi lain Ignacia membenci fakta bahwa mereka adalah teman-teman Rajendra.
Sambil menunggu, Ignacia ingin melihat buku yang baru dia beli. Dibukanya sampul plastiknya dan membuka halaman pertama. Rajendra mungkin akan kembali sebelum Ignacia sempat membaca beberapa halaman. Tapi setidaknya ada yang bisa dia lakukan selain melihat ponsel.
Pemandangan di depannya juga hanya orang-orang yang tengah berjalan-jalan saja. Membosankan sekali jika tidak melakukan apapun. Dan berada di tengah keramaian sendirian itu bukan sesuatu yang disukai Ignacia.
Selang beberapa lama, Rajendra muncul dengan dua gelas minuman dingin. Dari kejauhan saja Ignacia tahu jika yang dibawa kekasihnya itu adalah Thai Tea kesukaannya. Tapi sejak kapan Rajendra juga menyukai minuman itu? Ignacia belum pernah melihat Rajendra mencobanya.
"Maaf membuatmu menunggu, Ignacia. Antriannya cukup banyak. Jadi memakan waktu."
Rajendra duduk dan menyodorkan milik Ignacia. Bukankah menerima, Ignacia justru langsung minum dengan Rajendra yang memegangi gelasnya. Rajendra jadi salah tingkah dan kebingungan di saat yang sama.
"Terima kasih," kemudian barulah Ignacia mengambil miliknya.
Rajendra mengangguk gugup. Dia mengurangi rasa gugupnya dengan bertanya. "Bagaimana bukunya? Apa bagus?"
"Ya, seperti yang kusuka. Dari penulis kesukaanku juga."
Rajendra menyandarkan kepalanya pada kepala Ignacia yang sedang merapikan bukunya kembali ke dalam kantong plastik. Rajendra baru menyamankan posisinya setelah Ignacia sudah menyelesaikan kegiatannya. Rambut keduanya bersentuhan.
"Aku tidak akan bisa melakukan ini jika Nesya ada disini. Jadi selagi dia tidak ada, aku ingin berada di posisi ini cukup lama," jelas Rajendra sambil memegang minumannya dekat mulut. Akan meminumnya lagi namun ditunda beberapa kali. "Jika Nesya melihat kita, menurutmu bagaimana reaksinya?"
"Dia mungkin akan muak. Nesya tidak begitu suka melihat pasangan yang sedang kasmaran."
"Tentu saja. Tapi mungkin dia akan memiliki selera berhubungan yang berbeda dengan kita. Omong-omong Rajendra, aku tidak ingin mendapatkan godaan apapun ketika masuk ke sekolah. Aku tidak bermaksud apapun. Tapi aku muak dengan tingkah orang-orang."
Rajendra mengangguk dengan posisi yang sama, "jika ada yang menganggumu, aku akan memperingatkan mereka. Sejujurnya Ignacia, mereka melakukan itu karena kita dikenal sebagai pasangan yang belum pernah berkencan. Jadinya mereka bereaksi berlebihan."
"Mereka tidak tahu apapun tapi bertingkah begitu berlebihan."
"Tenang saja, mereka tidak akan mengatakan apapun soal melihat kita hari ini. Kamu tidak perlu khawatir."
"Tidak, aku sudah tidak peduli dengan apapun yang orang-orang katakan. Toh mereka bukan orang-orang yang dekat denganku. Meskipun begitu, aku berharap tidak ada yang mempengaruhi hubungan kita."
Rajendra mengerti kalimat terakhir yang disampaikan Ignacia. Sekeras apapun Rajendra berusaha, Ignacia masih belum bisa melupakan masa tidak menyenangkan dengan mantannya? Hah, seharusnya Rajendra datang lebih awal dan mencegah Ignacia disakiti oleh orang lain.
...*****...
"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Jika sudah sampai di rumah, kabari aku ya."
Rajendra mengangguk, menerima helm yang digunakan Ignacia dan menyimpannya ke bawah. "Masuklah. Aku akan pulang setelah melihatmu masuk."
"Kenapa begitu?"
"Agar bisa lebih lama melihatmu?"
Rajendra mulai lagi. Entah apa yang dia makan hingga bisa melakukan banyak hal diluar dugaan seperti ini. Setelah mengikuti semua yang Ignacia inginkan, sekarang dia mengatakan hal manis seperti yang pernah Ignacia baca di dalam novel remaja.
"Baiklah kalau begitu. Hubungi aku jika sudah sampai di rumah, Rajendra. Hati-hati di jalan."
Ignacia masuk lebih dahulu, melambaikan tangan pada dia yang masih ada di atas motor. Ada senyuman yang coba ditahan Ignacia sambil melangkah masuk. Ketika pagarnya ditutup dan Ignacia membuka pintu rumah, barulah Rajendra menyalakan kembali mesin motornya.
Ignacia mengintip dari jendela ruang tamu. Ada senyuman yang terukir di wajah Rajendra juga disana. Ignacia jadi ingin tahu apa yang sedang dipikirkan kekasihnya itu. Rajendra memakai kembali helm kemudian melajukan sepada motornya menjauhi rumah. Langsung menuju ke rumahnya sendiri.
...*****...
"Mama membawa puding."
Mama Ignacia melangkah masuk dengan puding di tangannya. Diletakkannya di nakas sebelah putri pertamanya dan kemudian duduk di dekatnya. "Bagaimana kencan hari ini? Mama mendengar suara sepeda motor ketika baru bangun tidur. Beruntung ayah masih tidur saat itu."
Orang tuanya pulang terlambat karena urusan pekerjaan hingga membutuhkan banyak tidur. Bahkan sampai lewat jam makan siang saja orang tuanya masih menikmati bunga tidur. Beruntung masih ada Athira yang bisa mengurus kedua adiknya selama orang-orang meliburkan diri.
"Buku baru hm?"
Ignacia mengangguk.
"Bagaimana Rajendra hari ini?" Mamanya mungkin hanya iseng atau sedang mencari momen dengan anaknya saja. "Mama dengar kalian menonton film dan berjalan-jalan lama di mall. Kalian sudah seperti pasangan kekasih saja."
Ignacia menatap mamanya tidak percaya, "lalu selama ini apa yang kami lakukan mama?" Ada nada kesal namun juga sedikit tidak peduli. Melihat itu mamanya hanya tertawa.
"Sudah menentukan dimana kamu akan berkuliah, Ignacia? Ujian kelulusan sudah semakin dekat. Kita semua harus sudah menentukan tujuan setelah SMA." Ignacia tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti ini.
"Sastra. Aku akan mengambil jurusan sastra agar bisa menjadi penulis. Dengan bekal membaca banyak buku, mungkin aku bisa menulis satu buku novel nantinya."
Ignacia cukup percaya diri saat menjawab. Yakin saja jika jurusan kuliahnya tidak akan memberatkan. Yang penting nanti dia akan mendapatkan pekerjaan segera jika berhasil menjadi mahasiswa yang baik.
"Rajendra akan berkuliah dimana?" Oh rupanya ini alasan kenapa mamanya datang. Sengaja menutupi dengan bertanya jurusan anaknya dahulu. "Apa Rajendra tetap akan menjadi masinis? Kalau begitu kalian tidak bisa bertemu. Kalian akan menjalani LDR nantinya."
"Lalu kenapa?" Ignacia menutup bukunya setelah diberikan tanda. Mengambil puding yang diletakkan mamanya di nakas tanpa menetap yang lebih tua sedikitpun.
"Ingatlah untuk tetap menjaga hatinya meksipun LDR, Ignacia. Kalian sudah menjalani hubungan cukup lama dan tidak mungkin bisa mengakhirinya semudah itu. Jika kamu menjaga diri, Rajendra pasti akan melakukan hal yang sama."
Mamanya ini sedang bicara apa? Kenapa tiba-tiba membaha hal seperti ini? Apa karena Ignacia pernah membuat masalah dengan Rajendra karena Bahri? Mamanya tentu tahu soal itu karena Ignacia menangis begitu sampai di rumah setelah bertengkar di taman malam itu.
"Jangan perdulikan aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Mama hanya memberikan saran. Mama-"
"Mama mengatakannya karena mama menyukai Rajendra. Sudahlah, aku tahu maksudnya. Aku akan menjaga Rajendra hingga di tahap yang mama inginkan. Dia pintar, ramah, mengerti sopan santun, baik, aku tahu. Karena itu mama menyukainya. Tidak perlu memberitahuku."
Ignacia memotong dengan emosi.
Orang-orang menggodanya di sekolah karena Rajendra, karena teman-teman Rajendra datang ke rumah ketika mereka berkencan. Sekarang mamanya meminta agar Ignacia menjaga kekasihnya karena terlalu menyukai Rajendra. Dunia seperti berputar pada Rajendra saja.
Mamanya terkejut dengan sikap tiba-tiba Ignacia. Tapi kemudian bisa memberikan senyuman dan membawa piring sisa puding anaknya keluar kamar. Ada perasaan tidak nyaman pada diri wanita itu karena membuat anaknya kesal. Tapi menurutnya yang dikatakannya tadi tidak salah.
"Kenapa aku yang menjaganya? Bukankah seharusnya Rajendra yang menjagaku? Dia laki-laki di hubungan ini. Kenapa harus aku yang menjaganya? Menurut mama aku selalu membuat masalah ketika berpacaran dengan Rajendra?" Gerutu Ignacia sambil melangkah masuk ke toilet untuk cuci tangan.
...*****...
Suasana hati Ignacia masih belum membaik hingga hari sekolah datang. Ya bagaimana tidak? Rajendra terlihat bersama dengan teman-temannya di taman kecil depan kelas Ignacia yang berhadapan dengan kelas Mipa 4. Jika hanya teman-teman laki-laki saja tidak apa-apa. Tapi kenapa harus ada perempuan di tengah-tengah mereka?
Hanya satu. Tapi kenapa harus dekat dengan Rajendra pula?
"Sudahlah, jangan lihat," saran Nesya. Sejak tadi Ignacia terus menatap kelompok teman-teman itu dengan tatapan malas. Jika menatap saja, Nesya masih bisa mengatasi. Tapi tidak dengan banyak ocehan Ignacia tentang mereka. Menganggunya yang sedang membaca komik saja.
"Hah, sudahlah aku tidak peduli!" Kesal Ignacia kemudian mengalihkan pandangan.
"Oh perempuan itu pergi," ucap Nesya memberitahu.
"Benarkah?" Ignacia buru-buru kembali menatap luar jendela, mendapati yang membuatnya kesal itu menghilang.
"Begitu katanya tidak peduli!" Nesya menahan kesal. Temannya yang sedang jatuh cinta ini memang mengesalkan. Sementara itu Ignacia jadi hanya menatap kekasihnya diluar.