Beautiful Monster

Beautiful Monster
Timbal Balik



"Begitu katanya tidak peduli!"


Ignacia tidak begitu memperhatikan kekesalan Nesya. Gadis itu kembali fokus pada komiknya setelah beberapa detik. Yang Ignacia lakukan sekarang hanya menatap Rajendra yang bersenda gurau dengan teman-teman yang tidak Ignacia kenal.


"Semua di dunia ini timbal balik ya?" Ignacia bersuara.


Perlahan dia memposisikan dirinya agar terasa lebih nyaman. Menidurkan diri di meja dengan berbantalkan kedua tangan. Tatapan matanya tidak bisa terlepas dari Rajendra. Pertanyaan itu mendapatkan anggukan kecil dari Nesya. Gadis berkacamata tidak ingin mengacaukan fokusnya pada komik.


"Menurutmu Rajendra mendapatkan teman-teman perempuan baru itu karena dahulu aku pernah memiliki teman laki-laki?" Ignacia menatap sendu laki-laki yang ada diluar. Rasanya seperti hatinya benar-benar sudah terbawa dan menetap untuknya. Nesya dapat merasakannya dari nada bicara si teman.


"Bicara apa kamu ini? Bukankah kamu sudah tahu jawabannya? Kenapa bertanya begitu?"


"Aku merasa jika Rajendra seperti ini karena dahulu aku pernah berteman akrab dengan laki-laki. Dia tetanggaku, teman yang baik. Jadi kukira Rajendra seperti ini karena ulahku. Sekarang Rajendra juga memiliki teman dekat."


"Kau ini aneh-aneh saja, Ignacia. Mungkin hanya perasaanmu saja. Lagipula orang-orang pasti memiliki teman beda gender yang akrab. Kurasa itu tidak ada hubungannya."


"Tapi," Ignacia menjawab cepat, "Rajendra memiliki teman perempuan akrab setelah teman laki-laki yang dekat denganku itu pergi. Maksudku setelah dia pindah rumah. Rajendra kemudian lebih dekat dengan teman-teman perempuannya."


"Itu mungkin hanya perasaanmu, Ignacia."


...*****...


"Ignacia," seseorang memanggil.


Rajendra berjalan mendekat. Tatapan matanya hanya tertuju pada si kekasih sementara senyumannya mengembang tanpa alasan. Senyumannya membuat Ignacia muak.


"Ayo pulang bersama," ajaknya.


Nesya menepi sebentar. Lebih memilih berjalan lebih dahulu agar tidak menganggu temannya yang sedang kasmaran. Dia juga ingin memberikan ruang bagi Ignacia untuk memulihkan moodnya setelah merasa sendu sejak siang.


"Terjadi sesuatu?" Rajendra bertanya.


Kepalanya dia dekatkan pada Ignacia agar tidak perlu berbicara dengan nada biasa. Mungkin ada hal sensitif yang tidak ingin mereka perdengarkan pada Nesya yang ada di beberapa langkah dari keduanya.


"Tidak ada," Ignacia menjawab singkat.


Seperti biasa, dia tidak akan bisa menatap Rajendra yang berjarak begitu dekat dengannya. Padahal ini laki-laki yang selalu membuatnya rindu. Kenapa sangat sulit untuk menoleh dan menatapnya?


Apa ada hubungannya dengan kejadian siang tadi?


Rajendra memperbaiki posisi berjalannya. Tidak lagi mendekatkan dirinya pada sang kekasih. Dengan satu tangan membawa tas laptop, dia berjalan dengan ringannya karena Ignacia sedang bersamanya.


"Sikapmu tidak menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu. Ayolah, katakan saja padaku. Atau mau berkirim pesan saja?"


Ah Ignacia sudah muak jika harus berkirim pesan. Sudah hilang hadiah kecil yang selalu dia inginkan. Pesan singkat dari Rajendra jarang datang dan hanya membuat Ignacia menunggu.


"Aku hanya lelah."


"Lelah kenapa? Harimu berat, Ignacia?"


"Aku tidak mau membahasnya."


Nesya menoleh karena jawaban lemah temannya. Mendapati Rajendra tengah mengirimkan kode seakan bertanya apa yang sedang terjadi pada Ignacia hingga bisa sebegini sendu. Nesya tidak mau ikut campur dan hanya kembali melihat ke depan. Biar Ignacia sendiri yang mengatakannya.


Rajendra mengambil ponselnya dari dalam saku, menuliskan sesuatu disana. Setelahnya ponselnya kembali disimpan dan berjalan di samping kekasihnya tanpa pembicaraan apapun. Keduanya terlalu sibuk dengan emosi masing-masing.


...*****...


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Ayo bertemu jika kamu ada waktu


Ignacia meletakkan ponselnya di nakas setelah membaca pesan Rajendra tanpa berniat membalasnya. Mungkin pikirannya yang buruk soal timbal balik antara Rajendra dan masa lalunya terlalu membebani. Ignacia dapat melihat Bahri dan dirinya di masa lalu ketika melihat Rajendra dengan temannya itu.


Tertawa bersama, berbagi lelucon, dan mungkin saling memanggil untuk menanyakan sesuatu. Tapi entah Rajendra menjadi orang pertama yang dibutuhkan si teman perempuan seperti Bahri membutuhkan informasi dari Ignacia atau tidak. Jika begitu, mereka akan jadi semakin mirip.


"Kenapa kau cemburu, Ignacia? Orang dari organisasi selalu memiliki banyak teman. Entah itu perempuan atau laki-laki," Ignacia bicara dengan dirinya sendiri. Menatap wajahnya yang kusut lewat kaca di meja riasnya.


"Rajendra sudah sering bersama dengan teman perempuannya, kenapa kau harus peduli dan berpikiran konyol? Kau hanya akan tampak berlebihan di mata Rajendra."


Ignacia merasa jika dia sebaiknya bercerita pada seseorang untuk membuatnya lega. Tapi Nesya atau mamanya bukan orang yang tepat untuk itu. Sementara Athira mungkin tidak paham apapun soal perasannya yang belum pernah dia rasakan. Lalu siapa yang bisa dia ajak cerita sekarang?


Ignacia melirik ponselnya yang ada di atas nakas. Meraihnya perlahan dan mengetikkan sesuatu disana. Pesan untuk seseorang yang mungkin bisa meringankan bebannya.


^^^Aku tidak suka melihat Rajendra |^^^


^^^Dengan perempuan lain |^^^


^^^Menurutmu itu normal? |^^^


Pesannya terkirim. Membutuhkan waktu hingga di empunya nomor dapat membalasnya.


| Kau ini datang-datang langsung bertanya


| Ya tentu saja itu normal


| Itu namanya cemburu


| Tumben sekali kau cemburu


^^^Rajendra bercanda dengan teman perempuannya |^^^


^^^Ya meksipun disana juga ada banyak teman laki-laki |^^^


^^^Kau tahu maksudku kan? |^^^


| Ya, aku tahu


| Rajendra Kelihatannya bukan tipe buaya


| Kenapa kau khawatir?


^^^Aku tidak khawatir soal ituu |^^^


^^^Hanya saja aku merasa jauh |^^^


| Kalau begitu tarik perhatiannya lagi


| Dengan semua yang kau bisa lakukan


^^^Menarik perhatiannya? |^^^


| Aku akan kembali saat liburan sekolah


Tiba-tiba topiknya berubah. Ignacia menatap aneh pesan yang baru masuk tadi. Kenapa dia harus menyatakan hal seperti itu pada Ignacia? Seolah mereka akan bertemu saja.


...*****...


Ujian-ujian lagi. Yang tulis, online, juga praktek lagi. Ignacia muak dengan semuanya. Tapi beruntungnya setelah ini semua, hanya perlu menghadapi ujian kelulusan dan dia akan dapat terbebas dari kutukan siswa tahun terakhir selamanya. Hal yang paling menegangkan dimulai dari sini. Ujian masuk universitas dan mencalonkan diri untuk surat undangan.


Ignacia menghabiskan banyak waktu istirahat dengan membaca buku novel, sebagai penghilang stress. Sementara itu Rajendra sibuk dengan teman-temannya agar bisa menghadapi semua ujian yang ada. Teman-teman ambis lah istilahnya. Jadi dia akan jarang menghubungi atau bahkan bertemu dengan Ignacia demi mereka.


Sudah biasa Rajendra begitu. Lagipula Ignacia tidak begitu penting kan baginya? Ignacia tidak pandai dalam bidang penghitungan seperti teman-teman Rajendra. Bahkan dalam bahasa sendiri saja tidak begitu sempurna. Jadilah Ignacia sadar diri dan ambil kesimpulannya.


Rajendra membutuhkan orang yang lebih ahli.


"Kak," seseorang memanggil. Suara kecil yang unik. Terdengar seperti suara Arvin. "Ayo bersiap-siap. Kita makan diluar. Kata ayah kita akan pergi dua puluh menit lagi."


Sesuatu dari ucapan Arvin mengetuk isi kepala Ignacia secara tiba-tiba. Tumben sekali ayahnya mengajak makan diluar padahal ini bukan akhir pekan. Biasanya keluarganya hanya akan makan diluar jika menjelang hari liburan atau di akhir pekan agar tidak perlu mencuci banyak piring.


"Apa hari ini hari yang spesial?" Gumam Ignacia. Dia bergerak untuk bersiap-siap pergi.


Di mobil, hanya Rafka dan Arvin yang mengisi kekosongan. Mereka memiliki cerita yang tentunya harus didengar oleh kedua orangnya. Rafka bercerita soal apa yang dia lihat di aplikasi video soal membuat sesuatu sementara Arvin bercerita tentang teman-temannya yang bermain kejar-kejaran.


Ayah mendengarkan dengan seksama sambil mengemudi. Membagi fokus bukalah hal yang mudah. Tapi setidaknya bisa diusahakan karena sekarang sudah berkepala banyak. Lalu di sisi lain, mamanya bercanda dengan kedua anak laki-lakinya. Terus merespon seolah cerita mereka sangat menarik.


Pembicaraan ini membuat Ignacia iri. Kedua adiknya memiliki banyak cerita dengan canda tawa sementara yang dia miliki hanya cerita sendu soal perasannya yang lelah. Percintaannya dengan Rajendra tidak begitu berwarna dan pasal sekolahnya yang memuakkan. Sangat disayangkan.


Saat sampai di tempat makan, Ignacia, Athira, dan sang mama yang memesan. Biar ketiga laki-laki di keluarga ini yang memilih meja. Semoga saja dapat meja yang bagus. Tempat makan ini cukup ramai meskipun bukan akhir pekan.


"Aku dengar dari ayah," Athira berbisik sementara sang mama memesan makanan, "hari ini kita makan diluar karena kakak terlihat stress. Ayah ingin membuat bulan-bulan terakhir kakak di rumah jadi lebih menyenangkan."


"Terdengar seperti bukan ayahku," canda Ignacia.


"Ayah juga bilang jika ini sepadan dengan apa yang kakak lakukan selama ini di sekolah. Sebagai penghilang stress seperti buku-buku yang kakak baca juga."


"Begitukah?"


...*****...


Ignacia tengah menunggu di sebuah bangku taman. Katanya orang yang membuat janji temu dengannya akan datang sebentar lagi. Itu sudah lima belas menit yang lalu.


"Apa dia masih sibuk dengan teman-temannya? Kalau begitu kenapa mengiyakan ajakanku?" Desah Ignacia.


"Apa karena dahulu aku lebih memilih Bahri daripada Rajendra? Saat dia membelikan aku minuman itu." Ignacia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi taman. Menatap langit yang sudah hampir sore Oren keunguan.


"Kenapa timbal baliknya harus datang sekarang? Setelah bertahun-tahun."


"Ignacia!" panggil seseorang yang tengah berlari mendekat. Laki-laki itu akhirnya datang. Wajahnya tampak bahagia namun ada penyesalan karena datang terlambat. Begitu sampai, Rajendra langsung mengatur nafas dan duduk di samping kekasihnya.


"Maaf aku terlambat," ucapnya di sela-sela mengatur nafas.


"Kenapa berlari? Bagaimana jika kamu terjatuh?" Omel Ignacia. Rasanya seperti memarahi anak kecil yang tidak mendengarkan ucapan orang tua. Rajendra malah tersenyum, memposisikan dirinya agar duduk tegak dan menatap Ignacia.


"Maaf karena aku datang terlambat, Ignacia. Kami harus mengulang video beberapa kali karena salah pengucapan dan sebagainya. Juga jalanan masih macet karena ada pohon tumbang sisa hujan tadi malam. Aku minta maaf. Bagaimana jika kubelikan sesuatu sebagai ucapan ma-"


Belum sempat Rajendra menyelesaikan kalimatnya, Ignacia tidak ingin dengar dan lebih memilih untuk menyandarkan kepala pada bahu Rajendra. Gadis ini tidak membutuhkan apapun selain keberadaan laki-lakinya. Ucapan permintaan maaf yang sederhana juga tidak apa-apa jika itu dari Rajendra.


"Kamu baik-baik saja?" Rajendra khawatir.


"Tidak, aku tidak baik-baik saja."


"A-Ada apa? Ada masalah?"


Ignacia menggeleng sebagai jawaban, "aku hanya ingin kau disini. Diam saja. Aku lelah."


Rajendra memeluk kekasihnya dari samping, mencoba memberikan kenyamanan yang diinginkan. Bukan salahnya Ignacia menjadi seperti ini. Gadis ini tahu soal kerja kelompok terakhir sebelum ujian kelulusan.


"Ignacia, aku berhutang banyak maaf padamu. Aku meninggalkan kamu akhir-akhir ini. Aku memiliki banyak urusan untuk sekolahku dan- padahal kamu bisa meluangkan waktu untukku. Tapi aku tidak bisa begitu."


"Tidakkah sekarang suasananya menjadi agak sendu?" Ignacia menarik dirinya, menatap Rajendra lamat-lamat, "aku ingin bersamamu saja untuk hari ini. Jangan meminta maaf. Kamu tidak salah apapun, mengerti?"


"Bagaimana jika kubelikan makanan? Kamu pasti lapar setelah menungguku cukup lama."


Jadi ini balasan setelah menunggu Rajendra? Tapi kenapa rasanya Ignacia sedang membebani laki-laki ini? Bukankah timbal balik seharusnya tidak membebani seseorang? Rajendra tidak akan memikirkan sesuatu yang buruk tentangnya kan?


...*****...


"Kue mana yang kamu inginkan?"


Keduanya sampai di sebuah kafe. Bukan hanya aneka kopi yang ada disini. Beberapa camilan yang terlihat lucu dan enak juga ada. Ignacia dapat melihatnya semua makanan yang ada di etalase kaca. Bingung memilih satu.


"Samakan saja denganmu, Rajendra."


"Kenapa begitu?"


"Ayo makan apa yang ingin kamu makan saja. Pesananku samakan saja denganmu."


Rajendra tidak protes. Kalau itu yang Ignacia inginkan, yasudah dia saja yang pilih. Sambil menebak-nebak apa yang Ignacia inginkan juga. Makanan yang manis, memiliki topping buah, kemudian minuman dingin dengan campuran sedikit kopi tanpa membuat Ignacia begadang malam ini.


Ignacia ingin meja terbaik yang ada di dekat jendela dan jauh dari kerumunan. Namun semua meja sudah dimiliki oleh orang lain. Yang tersisa hanya meja di tengah ruangan.


"Ignacia," panggil Rajendra, "kamu terlihat lemas. Kamu kelelahan? Setelah ini kita pulang saja ya?"


"Bukankah sudah kukatakan padamu jika aku ingin menghabiskan waktu denganmu? Kamu anggap apa ucapanku di taman barusan?" Tubuh lelah Ignacia membuat si gadis menjadi agak sensitif. Ignacia ingin menghabiskan waktu setelah hari-hari sekolah yang panjang. Kenapa Rajendra mengatakan soal pulang?


"Aku tidak ingin kamu sakit, Ignacia. Sejak tadi kamu kelihatan lemas. Aku khawatir kamu sakit karena aku. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku minta maaf, Ignacia." Rajendra menggenggam tangan kekasihnya yang ada di atas meja lembut. Tatapannya dia tujuan hanya untuk gadis kesayangannya.


"Tidak, bukan salahmu. Aku hanya- terlalu terbawa emosi. Mungkin aku kelelahan. Baiklah, kita bisa pulang setelah ini."


Ignacia melepaskan tangannya dari Rajendra, menariknya dengan buru-buru dan disimpan ke bawah meja. Rajendra terkejut, namun segera dia sadari bahwa sebaiknya dia tidak lagi menganggu gadisnya. Mungkin Ignacia kesal karena dia datang terlambat, pikir Rajendra.


Rajendra mengikuti Ignacia sampai ke depan rumah si gadis padahal Ignacia sudah melarang kekasihnya. Katanya dia ingin memastikan bahwa Ignacia sampai di rumah dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.


Suasananya jadi tidak bersahabat begitu Ignacia sudah sampai di depan rumahnya. Tidak ada aura hangat yang biasanya Rajendra rasakan setiap berada di depan kediaman orang yang dicintainya.


"Ignacia, aku minta maaf jika aku belum bisa memberikan yang terbaik hari ini," bisik Rajendra lirih.


Ignacia berjalan mendekat, memberikan senyuman terbaik yang dia miliki untuk seseorang yang berdiri dengan canggung di hadapannya. "Terima kasih sudah memastikan aku pulang dengan selamat. Terima kasih untuk hari ini, Rajendra."


"Kamu sudah bersikap baik, tapi aku malah menjadi memuakkan. Hubungan itu seharusnya timbal balik. Bukan hanya menyenangkan satu sisi saja." Batin Ignacia.