Beautiful Monster

Beautiful Monster
Depan Rumah



Sore itu berjalan seperti biasa. Orang-orang akan saling menegur para penghuni kelas yang harus menjalankan kewajiban membersihkan kelas sepulang sekolah. Tapi tentu bukan teguran biasa yang bisa jika bisa terdengar hingga kelas sebelah.


Anak-anak bahasa selalu memiliki kekuatan untuk sekedar mengingatkan mereka yang piket.


Ada yang mengangkat kursi ke atas meja, menyapu, membersihkan papan yang menyimpan banyak rumus matematika di jam terakhir tadi, juga tidak lupa mereka yang sedang iseng menganggu mereka yang membersihkan kelas.


Di tengah kekacauan sore, Ignacia dan Nesya tengah duduk di depan kelas sambil menunggu sekolah mulai sepi. Pulang ketika semua orang juga pulang bukanlah ide bagus. Sekolah akan menjadi ramai, tempat parkir akan sedikit macet, juga semuanya terasa begitu sesak.


"Sepertinya setelah ini kita bisa pulang," bisik Nesya.


Gadis berkacamata itu mengarahkan pandangannya ke segala arah, memastikan apa orang-orang benar-benar sudah dalam perjalanan meninggalkan sekolah. Tapi bukannya mendengarkan, gadis yang sedang dia ajak bicara justru memerhatikan hal lain.


Mata Ignacia tertuju pada seorang laki-laki tinggi yang tengah mengobrol dengan teman-teman perempuannya. Entah tengah membicarakan apa mereka hingga Rajendra tersenyum seperti itu. Mungkin sesuatu yang lebih menarik dan penting daripada pesan yang di kirimkan Ignacia pada Rajendra. Laki-laki itu bahkan belum membacanya.


"Apa yang kau lihat?" Nesya bertanya.


Matanya mengikuti kemana arah manik bening memikat Ignacia tertuju. Nesya bisa langsung tahu apa yang sedang terjadi. Jika bukan Ignacia yang sedang cemburu, mungkin gadis ini tengah merasa tersisihkan.


"Jika seperti ini, aku ingin jadi temannya saja," gumam Ignacia kemudian memutuskan pandangannya ke arah Mipa 3. "Dia lebih sering bersama teman-temannya daripada aku. Tapi mungkin aku tidak akan bisa mendekatinya jika kami hanya teman. Di sisi lain, mungkin saja dia memiliki kekasih yang sangat dia jaga."


Nesya menatap temannya aneh, "Apa yang sedang kau bicarakan? Jika kalian berteman, mungkin Rajendra akan mengejarmu. Omong-omong kenapa Rajendra tidak pulang? Bukankah dia yang sangat menyukai waktu pulang sekolah?"


Ignacia mengangkat bahu tidak tahu. Seseorang dari kelas sana mengatakan jika Rajendra tengah sibuk membicarakan soal tugas PPKn. Ingin rasanya Ignacia datang dan menganggu laki-laki itu. Ingin melihat reaksi yang akan dia dapatkan, atau mungkin kata apa yang akan Rajendra katakan.


"Lebih baik kita pulang saja, Ignacia. Berada terlalu lama disini mungkin bukan ide baik."


Nesya seolah bisa merasakan jika temannya sedang dalam mood yang kurang baik. Apalagi setelah melihat Rajendra, emosinya akan semakin terguncang. Ignacia yang sedang sensitif tidak mungkin bisa dibuat baik-baik saja jika dibiarkan.


Ignacia mendapatkan uluran tangan dari Nesya yang ingin membawanya pergi dari tempat keduanya duduk. Sekolah sudah semakin sepi. Sebaiknya mereka segera pergi sebelum gerbang belakang ditutup. Jika sudah ditutup, orang-orang harus menuntun sepedanya dari samping masjid hingga gerbang depan. Aturan yang merepotkan.


Beberapa kali Ignacia menoleh ke belakang, berharap bisa melihat Rajendra sebelum dia benar-benar meninggalkan sekolah. Tapi nihil. Laki-laki itu lebih suka membahas sesuatu dengan teman-temannya daripada mencari keberadaan kekasihnya. Ignacia memang mandiri, tapi setidaknya temui dia sebentar di tengah kesibukanmu.


"Ayolah, tidak ada gadis yang sangat kekanak-kanakan seperti kau, Ignacia. Di era ini, seharusnya kau lebih dewasa karena sebentar lagi akan memasuki masa-masa kuliah."


Di perjalanan pulang, ingatan Ignacia mengarah pada sebuah pesan yang dia dapatkan ketika hubungannya dengan Rajendra baru berjalan setahun. Ignacia tersenyum kecil, dia bertengkar dengan Rajendra hari itu karena Ignacia sibuk melakukan sesuatu diluar kota.


Padahal sekolah yang memintanya.


Rajendra bilang jika dia sedang menikmati waktu bersama dengan teman-teman perempuannya karena Ignacia seolah tidak ada waktu untuk sekedar mengirimkan pesan padanya. Padahal posisinya saat itu Ignacia tidak membawa kabel pengisi daya. Alhasil gadis ini harus mempertahankan daya ponselnya dengan mematikannya sewaktu-waktu.


Rajendra tidak mau tahu. Dia hanya marah, mungkin juga kecewa. Sejak dahulu Rajendra memang lebih banyak terlihat berkomunikasi dengan perempuan, jadi lambat-laun Ignacia sudah mulai mengerti dan tidak memikirkan perasaan cemburu yang mungkin timbul.


"Sudahlah, mereka hanya teman. Mana mungkin Rajendra jatuh cinta dengan semua perempuan yang menemaninya. Jika selama ini dia bisa bertahan bersamaku, apa yang membuatku kini meragukan perasaannya?"


...*****...


Pesan dari Kemala sampai di ponsel Ignacia. Katanya gadis itu kebetulan sedang ada di sekitar perumahan Ignacia setelah membeli buket bunga di toko yang ada di dalam perumahan. Ada sesuatu yang ingin gadis itu katakan sepertinya. Meminta Ignacia untuk datang ke taman.


Kemala kelihatannya datang sendirian. Ignacia tidak melihat tanda-tanda keberadaan kekasih si bermata sipit disini. Bukankah tempat ini terlalu jauh dari rumah Kemala? Semoga gadis itu baik-baik saja sampai di rumah.


"Kemala," sapa Ignacia dari kejauhan.


Dia bisa langsung mengenali gadis bermata sipit dengan kacamata yang tersemat di atas kepalanya. Mendengar panggilan itu, Kemala kembali memakai kacamatanya dengan baik, menatap Ignacia yang perlahan mendekat. Duduk di kursi taman, di samping Kemala.


"Kau kemari sendiri?" Ignacia bertanya. Dia mendapatkan anggukan sebagai respon. "Pergi keluar sendirian itu tidak baik, Kemala. Sebaiknya ajak saja seseorang. Tempat ini juga tidak dekat dengan rumahmu."


"Ya mau bagaimana lagi? Kekasihku sedang mengikuti kursus hingga tidak bisa mengantarkan aku. Malam ini juga aku berencana untuk memberikan kejutan padanya. Besok dia akan berulang tahun."


Ignacia melirik ke arah sebuah buket makanan manis yang ada disamping Kemala. "Kekasihmu menyukai makanan manis?"


Kemala mengangguk.


"Omong-omong aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku bingung ingin mengatakannya atau tidak. Karena jika aku katakan, takutnya kau akan terluka. Tapi jika tidak kukatakan, Rajendra sendiri tidak akan pernah mengatakannya."


Ignacia memberikan fokusnya pada Kemala. "Katakan saja. Aku akan berusaha tidak kecewa."


"Jadi beberapa hari yang lalu aku pergi ke kedai Thai Tea dengan kekasihku. Di depannya, aku seperti melihat Rajendra dengan seorang perempuan. Kukira itu kau, tapi saat kudekati, rupanya bukan. Aku agak terkejut karena perempuan itu seperti memohon agar Rajendra mengantarkan dia pulang."


Ignacia menyerkitkan dahinya, "mengantarkan dia pulang?"


"Rajendra menolaknya. Katanya dia harus melakukan sesuatu atau entahlah. Aku tidak mendengarnya dengan jelas karena saat itu kekasihku mengajakku bicara. Rajendra kemudian pergi dengan motornya ke suatu tempat."


"Aku dengar jika perempuan ini tinggal di depan rumah Rajendra. Padahal seingatku tidak begitu." Hal terakhir yang dikatakan Kemala menarik perhatian Ignacia. Gadis itu menatapnya seolah meminta Kemala untuk melanjutkan.


"Perempuan ini namanya Sarah, dia teman sekelas Rananta sekarang. Setahuku rumahnya tidak pindah ke depan rumah Rajendra. Yang pindah rumah di depan rumah Rajendra itu seorang temanku yang bernama Feby."


Apakah Kemala adalah jawaban yang selama ini Ignacia ingin cari dari Rajendra? "Bagaimana Feby ini?" Ignacia bertanya seolah tertarik.


"Aku tidak begitu dekat dengannya. Yang kutahu, dia itu hiperaktif, kepribadiannya agak ramai namun ramah. Kadang dia akan menendang orang jika sedang kesal. Mungkin karena dia dahulunya anak karate."


Ignacia terkekeh. Rajendra mungkin tidak akan mau membuat masalah dengan gadis ini.


"Lihatlah Rajendra. Aku bisa mendapatkan jawaban tanpa menunggumu," senang Ignacia dalam hati. Sekarang dia sudah selangkah lebih maju untuk melihat apakah teman-teman Rajendra ini lebih menarik daripada dia atau tidak.


"Kau memiliki foto Feby, Kemala?" Ignacia bertanya.


Kemala mengeluarkan ponselnya, mencari-cari foto di dalam galeri. Tak lama kemudian ditunjukkannya sebuah foto teman perempuan Kemala di kelasnya. Salah satunya bernama Feby. Seseorang dengan sudut mata tajam.


"Oh begitu rupanya. Terima kasih sudah menunjukkannya padaku, Kemala."


"Tentu. Kebetulan aku memiliki foto ini."


"Oh ya, jangan salah paham pada Rajendra dan Sarah, Kemala." Kemala menoleh sambil menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas kecil yang dibawanya. "Sarah dan Rajendra itu teman sejak kecil. Bahkan kedua orang tua mereka kelihatannya saling kenal. Mereka itu teman, tetangga, jadi jangan salah paham."


Jauh-jauh hari Ignacia sudah tahu siapa Sarah. Namun tidak dengan sikapnya pada orang-orang di sekitar. Dianti pernah membahasnya karena mereka rumahnya juga agak dekat. Mereka bahkan satu sekolah dasar. Jelas Dianti mengenalnya.


Ignacia tidak akan cemburu. Ignacia yakin dia tidak akan tergantikan dengan yang namanya teman lama.


"Bukankah kau yang bisa saja salah paham, Ignacia? Mereka terlihat dekat. Meskipun pada akhirnya Rajendra tidak ingin mengantar Sarah pulang."


"Yang penting Rajendra tidak mengantarkan Sarah pulang. Rajendra itu orang baik-baik." Ignacia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi taman.


"Apa karena kalian sudah berkencan cukup lama? Kau kelihatan tidak cemburu dan percaya pada Rajendra." Kemala menatap ingin tahu, "kau tidak cemburu dengan apa yang kukatakan barusan? Kau tidak masalah jika Rajendra dekat dengan teman lamanya?"


"Jika membaca novel, kita seperti membuka bagian tengah bab. Kita belum tahu bagaimana awal atau akhir dari bukunya. Jadi ambil saja bagian penting yang bisa dipercaya. Lagipula perempuan seperti Sarah pasti memiliki kekasih."


"Bagaimana kau bisa yakin?"


"Karena kita punya Rananta."


Kemala terkekeh, seolah tahu maksud dari perkataan Ignacia. Memang benar jika mereka memiliki Rananta yang sedang senang hati akan membagikan cerita tentang teman-temannya. Tapi masih dengan topik yang tidak terlalu pribadi.


...*****...


Feby.


Ignacia menatap langit-langit kamarnya sambil merebahkan diri di atas tempat tidur. Di tangan kanannya ada novel yang berhenti dia baca sejenak. "Ayah dan Ibunya bahkan setuju jika berangkat dan pulang sekolah dengan Rajendra. Apa ibu Rajendra lupa jika Rajendra masih memiliki aku?"


Bisa saja begitu. Ignacia tidak berani untuk datang ke rumah Rajendra apapun yang terjadi.


Sarah.


Jika gadis itu, dia memang cantik. Kabarnya saja dahulu Rajendra pernah menyukai gadis itu. Namun sayangnya sebelum mengungkapkan perasaannya, Sarah lebih dahulu berkencan dengan orang lain. Ignacia harus berterima kasih pada Sarah. Dengan begitu Ignacia yang dapat memenangkan hati Rajendra.


Ignacia menang tanpa harus bertanding.


"Aku memiliki satu teman laki-laki saja sudah menjadi masalah bagi Rajendra. Tapi dia memiliki begitu banyak teman perempuan di sekelilingnya. Aku tidak peduli kalian sedang membahas apa, tapi kenapa perhatianmu harus ada pada mereka? Padahal kau itu milikku."


Ignacia menatap ke arah pintu kamarnya. Samar-samar terdengar suara seseorang yang melangkah mendekat. Mungkin itu ayahnya atau mamanya. Karena suaranya tidak terdengar seperti langkah Athira atau kedua adik laki-lakinya.


"Kak." Oh rupanya itu mamanya. "Kamu mau jagung serut? Mama membuat banyak. Jika kamu mau, keluarlah dan ambil satu mangkuk. Oh ya, ada film bagus di tv malam ini. Ayo menonton bersama di ruang keluarga."


Kedengarannya menarik.


Ignacia dan mamanya menonton di ruang keluarga ditambah dengan keberadaan Athira yang sibuk mendengarkan musik dan menggambar potrait. Sementara di sisi lain ruang keluarga ada ayah dan kedua adik laki-lakinya yang sibuk membuat prakarya dari stik es krim.


"Jika laki-laki tidak mau mengantarkan teman perempuannya pulang, itu artinya apa ma?" Ignacia bertanya dengan suara pelan agar sang ayah tidak mendengarnya.


"Kalau untuk yang sudah memiliki pasangan, begitu tentu saja untuk menjaga hati perempuannya. Jika belum punya pasangan, mungkin karena mereka tidak dekat. Laki-laki itu tidak akan membiarkan orang lain duduk di motornya sekian orang yang dia sukai atau orang yang benar-benar dekat dengannya. Sama seperti ayahmu. Hanya Keluarganya yang di bonceng."


Cukup masuk akal. Namun Ignacia tidak puas.


Kenapa harus Rajendra yang Sarah mintai tolong? Kemana perginya kekasih Sarah yang pernah Ignacia lihat waktu itu? Laki-laki yang siap mengantarkan dia pulang meksipun nantinya dia harus kembali ke sekolah untuk melakukan sesuatu? Laki-laki baik dan memberikan banyak effort padanya.


Rananta tidak mungkin berbohong. Sarah benar sudah memiliki seseorang di sisinya. Dan jika mereka putus, Rananta kemungkinan besar akan mengatakannya pada Ignacia yang sudah bertanya sebelumnya.


...*****...


Pemandangan tidak mengenakkan didapatkan Ignacia di pagi hari. Dia mendapati Rajendra tengah mengobrol dengan seorang perempuan. Haruskah mengobrol di depan kelas begitu? Rajendra baru saja datang. Kenapa tidak membiarkan dia meletakkan tasnya yang tampak berat?


Setelah obrolan selesai, gadis itu pergi ke arah kelas lain sementara Rajendra memasuki kelasnya yang sudah tampak ramai. Ignacia tidak akan bisa melihatnya dalam beberapa jam kedepan. Apalagi jika Rajendra harus melakukan banyak hal.


Semoga teman-teman perempuan Rajendra tetap berada di batas aman. Terutama untuk Sarah yang adalah tetangga laki-laki itu dan Feby yang tinggal di depan rumah Rajendra. Mentang-mentang keduanya tetangga, kenapa harus diminta pergi bersama?


Jika itu Ignacia, Rajendra mungkin akan sangat marah dan bahkan tidak mau bicara dengannya berminggu-minggu. Tapi untungnya Ignacia yang mendapatkan posisi ini. Dia masih memiliki pengendalian diri dan tidak sampai menendang orang.


"Mau ikut aku ke kantin untuk membeli minuman?"


Ignacia tidak akan menolak ajakan Nesya. Toh dia juga bosan berada di kelas yang berisik. Berjalan-jalan sebentar ke arah kantin bukanlah hal yang buruk.


"Feby!" Kedengarannya seperti suara Kemala. Ignacia otomatis menoleh dan melihat Kemala sedang berbincang dengan perempuan yang di panggil Feby tadi. Ignacia menajamkan matanya untuk melihat lebih jelas.


"Dia persisi seperti di foto. Teman depan rumah Rajendra." Gumam Ignacia. Ada smirk kecil di sudut bibirnya yang tidak diketahui siapapun. Bahkan Nesya tidak sadar jika Ignacia berhenti dan menatap ke arah Kemala yang sudah selesai dengan urusannya.


"Ada masalah?" Nesya bertanya. Ignacia menggeleng, menyusul temannya yang jauh beberapa langkah dengannya.