
"Katanya dia menemukan ini di stasiun. Aneh sekali, maksudku Rajendra tidak pernah lupa mengecek apakah gantungan kunci itu tetap ada di tasnya atau tidak. Dan sekarang dia malah menjatuhkannya tanpa sengaja."
Ignacia bingung harus bereaksi bagaimana. Bagas juga menambahkan jika gadis bernama Sarah itu baru saja kembali ke kota ini untuk menemui temannya. Karena dia pernah melihat Rajendra berada disini, jadi ia memberikan benda temuannya pada Bagas. Jadi gadis yang Ignacia lihat di dalam mobil setelah Rajendra mengobrol dengan Feby pasti adalah Sarah.
Di rumah, Ignacia langsung masuk ke kamar begitu sampai di rumah. Ia hanya bicara sebentar dengan mamanya lalu memilih untuk berdiam diri. Ignacia masih menggenggam gantungan kunci yang ia dapatkan dari Bagas. Jika benda ini sudah lama berada di stasiun, seharusnya seseorang sudah menyimpannya ke tempat barang hilang. Atau bahkan membuangnya.
Sarah bisa menemukannya secara tidak sengaja, di tempat yang tidak terduga. Itu artinya benda ini baru saja dijatuhkan sebelum seseorang menyadarinya. Sebelum waktunya membersihkan stasiun ketika lenggang. Rajendra ada di stasiun? Untuk apa dia disana?
Rajendra tidak bilang jika dia akan pulang, tidak bilang jika ada yang harus dia lakukan di stasiun. Ya memang tidak semua informasi harus Rajendra sampaikan pada Ignacia. Seharusnya Ignacia tidak berpikiran macam-macam dan segara mengganti pakaiannya sebelum tidur. Malam semakin larut.
Apa sebaiknya Ignacia pendam sendiri saja soal pemberian Bagas ini? Mungkin Ignacia bisa bertanya secara langsung ketika bertemu dengan Rajendra awal bulan depan. Semoga tidak ada hal mendadak yang bisa membuat keduanya harus batal bertemu. Kenapa rasanya berat ketika ada sesuatu yang tidak Rajendra katakan padanya? Ignacia juga punya rahasia yang tidak ia katakan pada Rajendra padahal.
Ignacia berterima kasih pada Sarah karena menemukan barang berharga yang Ignacia berikan pada Rajendra sebelum keduanya menjalani hubungan jarak jauh. Karenanya Ignacia tetap bisa membuat Rajendra memiliki benda kecilnya ini. Ignacia penasaran bagaimana ekspresi Rajendra ketika mendapati gantungan kuncinya ada pada Ignacia.
Omong-omong Rajendra tidak menghubungi Ignacia hingga si gadis tertidur dengan ponsel masih ada di tangannya. Laki-laki itu pasti sedang sibuk setelah mengunjungi stasiun. Mungkin dia pulang ke rumah semalam, atau pergi keluar kota untuk melakukan sesuatu. Ah lupakan saja. Ignacia terbangun karena ponsel di tangannya terjatuh ke lantai.
Hari sudah pagi, Rajendra tidak menelepon atau mengirimkan pesan. Jadi Ignacia mengisi daya ponsel lalu mencoba untuk mencari kesibukan tanpa menatap benda pipih itu. Siang harinya masih belum ada kabar dari Rajendra padahal dia online baru-baru ini. Ah pasti karena kuliah, Rajendra sibuk dengan pendidikannya. Mungkin Rajendra sedang menyiapkan wisudanya.
Waktu kosong yang ada Ignacia gunakan untuk mencoba mencari pekerjaan seperti yang disarankan Nesya. Si gadis sedang melakukan riset tentang pekerjaan itu dan hanya perlu memulainya saja nanti. Ignacia akan meminta izin pada kedua orangtuanya setelah risetnya selesai. Hal-hal yang ia lakukan bisa saja tidak berjalan baik karena tidak mendapatkan izin dari orang tuanya.
"Lakukan saja apa yang kamu inginkan, Ignacia. Kamu sudah dewasa dan sudah mengerti apa yang menurut kamu baik. Semoga berhasil dengan apapun yang kamu kerjakan." Ignacia senang keinginannya tidak mendapatkan tentangan. Ia katanya juga akan mendapatkan izin jika ia ingin mengerjakan pekerjaannya diluar rumah sesekali.
Ignacia tidak yakin apakah bisa sukses seperti para Proofreader senior. Ia harus mengikuti kelas dan webinar jika ingin mendalami pekerjaan ini. Baiklah tekadnya sudah bulat. Setidaknya apa yang ia pelajari selama kuliah bisa berguna nantinya. Ignacia harus sabar dan bekerja lebih keras agar bisa menunjukkan kemampuannya pada ayah dan mamanya.
Kabar bagus, Rajendra mengirimkan pesan. Rajendra sekarang punya waktu untuk kekasihnya. Laki-laki itu meminta maaf karena tidak ada waktu untuk Ignacia kemarin malam. Katanya dia ada urusan mendadak hingga tidak bisa menghubungi Ignacia. Dia hanya punya sedikit waktu dengan banyak kesibukan.
Ignacia memaafkan kekasihnya seperti yang seharusnya ia lakukan. Urusan yang Rajendra sebutkan pasti menjadi alasan kenapa burung hantunya ada di atas nakas Ignacia. Apa Rajendra bahkan sadar jika gantungan kunci itu hilang? Tidak terdengar ketegangan atau apapun dari pihak Rajendra di panggilan suara keduanya malam ini.
"Rajendra, kemarin aku mengunjungi kotamu untuk menemui Dianti." Ignacia mungkin bisa membuat Rajendra mengatakan alasannya kenapa gantungan kuncinya bisa ada di stasiun jika dirinya juga mulai bercerita dengan jujur. Rajendra terkejut dengan apa yang ia dengar, bertanya kenapa Ignacia bisa pergi jauh dari rumah untuk menemui temannya ini.
"Hanya dia satu-satunya teman kami yang tidak berkuliah, jadi Rananta berencana untuk membuat kejutan. Dianti baru saja menghadapi masalah, kami berpikir dengan mengunjungi dia kami bisa menghiburnya." Ignacia memperbaiki posisi duduknya, "tapi sayangnya yang bisa datang hanya aku, Rananta, dan Hanasta saja. Teman lain punya kesibukan."
"Itu artinya kejutannya gagal?"
Ignacia menggeleng pelan padahal tahu jika Rajendra tidak akan bisa melihatnya. "Kami berhasil. Kami berakting mencurigakan untuk menjahili Dianti. Dia senang sekali saat kami datang. Lalu kita juga makan malam bersama sebelum pulang." Si gadis tidak akan mengatakan dimana mereka makan. Untuk itu biar Ignacia katakan ketika mengembalikan gantungan kunci.
"Kalian selalu saling menjaga ya. Sayang sekali kita tidak bisa bertemu. Lalu kamu sampai di rumah pukul berapa?" Rajendra khawatir jika gadisnya pulang larut malam. Apalagi dirinya tidak ada disana untuk melindungi. Kemarin Ignacia pulang begitu larut, Rajendra berharap kekasihnya tidak pulang pada pukul segitu lagi. Syukurlah tidak ada apa-apa sepanjang perjalanan.
Obrolan terus berlanjut. Rajendra tidak menyampaikan apapun yang berhubungan dengan stasiun. Dia hanya membicarakan soal apa yang ia lakukan ketika makan siang dan tingkah lucu teman-temannya. Rajendra juga bilang jika saat akan makan ke sebuah rumah makan ia tidak bisa mencari tempat dan berakhir dengan makan sendirian di kosnya. Padahal tadinya Rajendra ingin makan diluar agar tidak sendirian.
Janji temu dibuat malam itu. Keduanya akan bertemu akhir pekan depan. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu meskipun tidak punya rencana ingin pergi kemana. "Sudahlah kita langsung bertemu saja. Soal kita akan pergi kemana, bisa kita pikirkan belakangan." Semoga saja nanti keduanya tidak berujung duduk di sebuah kedai es krim.
Tapi Ignacia juga suka konsep itu. Duduk di kedai es krim lucu waktu itu sambil menikmati siang yang panas dalam ruangan dengan pendingin udara. Duduk berdua dengan laki-laki paling baik yang pernah ia temui. Bergandengan tangan di atas meja sambil membahas sebuah cerita menarik. Mengabaikan semua distraksi sekitar selain es krim yang meleleh.
Ignacia sudah tidak sabar menunggu namanya kembali di panggil oleh laki-laki kesayangannya ini. Harap-harap waktu temu segera datang. Senyuman kecil muncul di bibir Ignacia, mengingat semua episode menyenangkan bersama Rajendra. Ignacia percaya jika cepat atau lambat, semua rasa penasaran soal kekasihnya akan terjawab.
Suara motor terdengar dari beberapa blok. Kurang dari satu menit seorang laki-laki sudah memarkirkan sepeda motornya di depan rumah si kekasih. Ayah Ignacia sekarang sibuk mengantar Arvin ekstrakulikuler. Sementara Rafka juga ikut berenang meskipun kini dirinya sudah masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Dia bosan di rumah dan ingin ikut berenang. Jadilah hanya ada mama Ignacia di dalam.
Dengan leluasa Ignacia membawa kekasihnya masuk ke dalam, berpamitan dengan orang tua si gadis untuk pertama kalinya secara langsung. Dalak umur yang sudah dewasa, mama Ignacia tidak akan khawatir kemana anak gadisnya akan pergi. Rajendra adalah orang yang bertanggungjawab. Mama si gadis tidak akan bertanya lebih lanjut soal rencana mereka. Yang jelas mereka harus pulang sebelum sore.
Ignacia menatap mamanya sebentar sebelum pergi, berterima kasih tanpa bicara. Senang melihat Rajendra merasa diterima dalam keluarga Ignacia meksipun bukan itu kelihatannya. Ignacia akan menunggu hingga seluruh anggota keluarganya menerima Rajendra dalam sebuah pertemuan keluarga.
"Kita akan pergi kemana?" Belum juga Ignacia naik ke jok, Rajendra sudah menanyakan hal yang menjadi dasar kenapa keduanya kini akan meninggalkan halaman depan rumah Ignacia. Si gadis mana mungkin tahu kemana mereka akan pergi. "Kita berkeliling dulu lalu berhenti di tempat yang menarik saja? Apa kamu menyukainya?"
"Tentu, kita lakukan saja. Yang penting sekarang kita bisa pergi berdua." Kira-kira kapan Ignacia bisa mengeluarkan rahasia yang ada di dalam tasnya? Rajendra terlihat tidak punya beban sama sekali. Apa pemberiannya beberapa tahun lalu tidak berarti untuk Rajendra? Tidak, Ignacia hanya membual. Mana mungkin kekasihnya setega itu.
Sekarang masih belum waktunya makan siang, jadi mungkin berkeliling sambil mencari tempat makan enak bukan sesuatu yang salah. Rutenya acak, jika ingin belok, maka Rajendra akan belok. Jika ingin tetap di jalur ini, lajunya hanya akan lurus hingga ingin berbelok lagi. Yang penting bukan kemana mereka akan pergi. Lagipula ada banyak tempat makan di pinggir jalan. Yang penting adalah bisa berlama-lama berdua dan berkontak langsung.
Rajendra banyak menceritakan hal menarik, juga bertanya soal sesuatu yang membuatnya penasaran soal Ignacia. Contohnya seperti percakapan Ignacia dengan kakaknya tempo hari. Ah Rajendra masih tidak bisa melupakannya. Sementara di belakang Ignacia sedikit berbicara, lebih nyaman diam dan memeluk Rajendra daripada bercerita panjang.
Lagipula Ignacia tidak punya cerita lagi kecuali rahasianya.
Waktu makan siang tiba, pasangan kekasih ini mulai merasa hampa. Rajendra tahu sebuah tempat makan enak di sekitar sini. Keduanya langsung pergi kesana tanpa diskusi. Ignacia akan ikut saja. Dia sama sekali tidak punya ide. Niatnya hanya untuk mengikuti Rajendra kemanapun.
Hening, tidak ada obrolan yang tersisa diantara waktu mengunyah dan menelan. Tempatnya juga terlalu ramai untuk mengobrol. Ignacia ingin pergi ke kedai es krim waktu itu sekali lagi. Di sanalah Ignacia akan menunjukkan penemuannya dari Bagas. Ia ingin segera menilai eskpresi dan respon Rajendra. Dengan begitu Ignacia tidak perlu menebak-nebak lagi.
"Bagaimana kamu tahu jika aku dihubungi oleh Kak Amira?" Ignacia ingin bergantian bertanya. Jalanan cukup lenggang, jadi tidak perlu berbicara sambil berteriak. "Kamu datang ke acara makan-makan Maaz?"
Laki-laki di depannya menggeleng, mengaku punya kesibukan hingga bahkan tidak pulang ke rumah. Gafar mengeluh karena berkendara jauh ke rumah Amira. Ibunya sebelumnya juga bertanya apakah Rajendra mau ikut, dan laki-laki ini jelas menolak. Selanjutnya Gafar mengirimkan foto kue yang Amira buat. Rajendra mengira kue itu buatan Ignacia hingga bertanya apakah Ignacia ada disana.
"Tidak, Kak Amira membuatnya sendiri. Resepnya ia dapat dari Ignacia," jujur Gafar. Rajendra bilang jika kakak perempuannya itu agak merepotkan, jadi takut Ignacia ikut repot karena berurusan dengan wanita itu. Sekali lagi aura aneh menyelimuti laki-laki yang Ignacia peluk.
Kedai es krim kali ini cukup lenggang, mirip jalan yang keduanya lalui tadi. Ignacia kembali memilih es krim vanila kesukaannya. Bedanya sekarang ia menggunakan taiyaki alih-alih cone yang biasa. Ignacia ingin topping tanduk unicorn dan bintang. Rajendra juga sama, es krim coklat dengan topping Oreo dan taiyaki yang sama.
Semuanya mirip dengan imajinasi Ignacia. Bergandengan tangan dan mengabaikan semua distraksi. Data ponsel dimatikan, pandangan mata hanya fokus pada satu sama lain. Ignacia sudah siap mengeluarkan hadiahnya setelah obrolan ini. Ia lepaskan sebentar genggaman tangan kekasihnya. "Aku punya hadiah untuk kamu, Rajendra."
Laki-laki di hadapannya menunggu, menatap sesuatu yang Ignacia genggam lalu diletakkan di atas meja. Mata Rajendra hampir membulat sempurna. Ignacia tersenyum lebar. "Saat aku berkunjung ke kotamu, aku berkunjung ke restoran tempat kamu dahulu bekerja. Salah satu temanmu yang tidak aku kenal menitipkan ini, berharap aku bisa mengembalikannya padamu."
Rajendra perlahan meraih gantungan kunci burung hantu itu. Akhirnya dirinya merasa lega sudah menemukan benda yang sangat dia khawatirkan hilang. Ia takut mengecewakan Ignacia jadi memilih untuk tidak mengatakannya. Rajendra sudah mencari ke banyak tempat yang sudah dia lewati. Namun tetap tidak ketemu. Rajendra jelas jujur. Semua yang ia katakan terasa tulus.
Sarah tidak ada hubungannya dengan Rajendra. Gadis itu hanya kebetulan menemukan benda milik kekasihnya ini tanpa pernah bertemu dengan Rajendra. Baguslah jika Rajendra hanya kehilangan hadiah kecilnya karena ketidaksengajaan. Stasiun pasti sangat ramai hingga benda ini bisa terlepas dari rantainya.
"Maaf aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Akan aku pastikan tidak menghilangkan gantungan kunci ini lagi. Aku berjanji." Tangan Ignacia ia raih kembali, mencium punggung tangan si gadis lembut disertai tatapan sungguh-sungguh. "Aku senang kamu membawanya kembali padaku. Terima kasih sudah mengembalikannya padaku."
"Kamu tahu, setiap aku merindukan kamu saat tidak bisa bertemu, aku akan melirik gantungan kunci ini. Dia selalu mengingatkan aku padamu. Aku sampai menuliskan namaku disini karena takut kehilangan tanda sengaja. Aku sangat menyukai gantungan kunci ini, kamu tahu? Dia lucu."
Tidakkah Rajendra terlalu romantis? Ia masih menggenggam tangan Ignacia sambil mengatakan hal masih soal hadiah kecil yang gadisnya ini berikan. Kelihatannya memberikan hadiah ini sebelum berpisah adalah pilihan tepat. Gantungan kunci itu langsung Rajendra simpan dengan baik, sesegera mungkin mengembalikan fokusnya pada gadisnya.