Beautiful Monster

Beautiful Monster
Debut Perdana



Ada pesan mendadak dari grup kelas ketika hampir jam terakhir bimsus kemarin. Pesannya bilang jika semua murid diminta untuk menggunakan baju adat untuk memperingati hari besar yang datang tepat besok pagi. Sangat mendadak seperti semua orang dapat mendapatkan baju adat dalam waktu singkat.


Beruntung Ignacia masih menyimpan kebaya yang dia gunakan di drama tahun kedua SMA nya dengan baik. Tidak perlu repot-repot mencari lagi karena sudah ada. Masih bagus meskipun agak memalukan jika pergi ke sekolah dengan kebaya berwarna merah maroon.


Ignacia tidak melihat seorangpun yang memakai baju adat ketika berangkat ke sekolah. Sepertinya hanya sekolahnya saja yang mengadakan acara ini dengan baju adat.


Rasanya sulit mengendarai motor sambil menggunakan kebaya. Rok bawahnya sulit untuk digunakan berjalan bahkan untuk menjaga sepeda motor tetap berdiri ketika berhenti di lampu merah. Cara satu-satunya adalah dengan mengangkat sedikit rok itu. Meksipun tetap sulit. Sedikit meringankan.


Sesampainya di sekolah, Ignacia merasa lega karena ada banyak orang yang menggunakan baju serupa. Tentu saja berbeda warna dan model, tapi setidaknya namanya tetaplah kebaya.


Hal sulit selanjutnya yang harus Ignacia hadapi setelah sampai di sekolah adalah berjalan dari tempat parkir ke kelas. Ujung ke ujung. Dengan langkah kecil, Ignacia melangkah. Rasanya melelahkan padahal setiap hari Ignacia juga pasti melewati jalan itu menuju kelas.


"Hah aku tidak suka menjadi anggun begini," gumam Ignacia beberapa kali.


Kejutan datang. Teman-teman Ignacia belum datang. Setelah menunggu beberapa menit pun belum ada yang datang.


"Aruna!" Buru-buru dia bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah Aruna yang kebetulan sudah datang dan melewati depan kelasnya. Setidaknya Ignacia tidak akan sendirian.


Aruna menunggu dengan sabar. Membawa Ignacia ke kelasnya untuk membuatnya tidak kesepian. Ada beberapa obrolan kecil hingga sudah hampir lima menit sebelum jam pertama dimulai. Ignacia kembali dan mendapati kelasnya sudah setengah terisi dengan para murid. Setengahnya lagi mungkin sedang dalam perjalanan dan membolos karena tidak memiliki baju adat.


Atau malas saja pergi ke sekolah.


"Ignacia, aku mencarimu." Nesya sudah ada di tempatnya. Tengah bercermin di ponselnya ketika Ignacia muncul dengan wajah bahagia karena mendapati bukan hanya dirinya yang datang..


"Aku pergi ke kelas Aruna karena kalian semua belum datang. Aku kesepian dan mengira kalian tidak akan datang," jujur Ignacia.


Kelas pertama dimulai. Hanya ada pelajaran di pagi hari. Para guru tengah sibuk dengan sesuatu dan para muridnya dibiarkan berjalan-jalan menikmati bazar dan perlombaan basket di lapangan depan masjid. Sudah berlangsung selama seminggu dan finalnya Sabtu ini.


"Bagaimana jika kita menonton basket?" ajak Nesya.


Guru jam pertama sudah meninggalkan kelas. Mereka memiliki banyak waktu luang sampai sekolah berakhir. Ya jika bimsus juga ditiadakan hari ini, banyak orang akan bisa menikmati pertandingan basket tanpa rasa khawatir.


"Wah sekarang tim laki-laki?"


Biasanya saat keduanya datang, kebetulan yang sedang bermain adalah para pemain perempuan. Akhirnya mereka bisa menonton pertandingan pemain laki-laki yang berasal dari luar sekolah.


"Menurutmu ada yang tampan?" Nesya sibuk mencari-cari laki-laki yang tengah bermain. Memang ada-ada saja anak ini. Tapi biarkan saja. Daripada hanya berfoto dengan Ignacia saja sepanjang hari ini.


"Kelihatannya di tim putih ada yang tampan," Ignacia ikut membantu.


Sayangnya udaranya hari ini pas berganti mendung selang beberapa menit. Sebentar mendung, sebentar lagi awan akan menepi karena terbawa angin. Apalagi ditambah dengan suporter yang memadati kawasan sekitar lapangan basket membuat Ignacia merasa pusing berdiri lama disana.


Nesya sibuk menonton, mencari-cari laki-laki yang mungkin bisa diajaknya foto bersama. Ignacia tidak ingin merusak keinginan temannya hanya karena merasa sedikit pusing. Tapi kenapa rasanya pusing? Pagi tadi dia sudah makan. Ini juga belum siang.


Entah sudah berapa lama pertandingan berlangsung. Ignacia tidak menghitung. Dia memberikan saran pada Nesya jika mungkin ingin mengambil foto seseorang yang dia ingin ajak berfoto setelah pertandingan selesai.


"Nomor sepuluh tim putih kelihatannya tampan."


Nesya menaikkan ponselnya untuk mengambil gambar. Ignacia akui jika laki-laki yang dipilih Nesya itu cukup tamban dan senyumannya mengembang meskipun situasinya serius. Dia berkulit putih, terlihat polos dan menyenangkan meksipun tidak begitu tinggi.


Mungkin setinggi dia dan Nesya.


"Ayo nanti kita ajak dia berfoto denganmu, Nesya," ajak Ignacia.


Padahal Nesya yang sedang ingin bersenang-senang, namun malah Ignacia yang bersemangat. Dia ingin melihat Nesya sesekali merasa jatuh cinta. Meksipun dia hanya bisa melihat kekaguman di mata Nesya pada si nomor punggung sepuluh itu.


"Kita lihat saja. Jika teman-teman juga berfoto dengan tim itu, aku juga akan maju. Tapi jika ada yang mengajak si sepuluh berfoto berdua, aku tidak ingin ikut."


"Kenapa?" Ignacia menatap penasaran.


"Aku tidak ingin saja."


...*****...


Pertandingan akhirnya selesai. Nesya dan Ignacia melihat sekitar, memastikan apakah mereka bisa membawa si sepuluh untuk di ajak berfoto. Tim putih berjalan melewati tempat Ignacia dan Nesya menonton. Kesempatan bagus untuk Nesya mengabadikan wajah si sepuluh ke galerinya.


"Wah cepat ambil fotonya, Nesya," semangat Ignacia dengan berbisik. Mencegah seseorang mendengarkan.


Tim putih pergi ke sebuah ruangan yang sudah disiapkan untuk istirahat dan berganti pakaian. Yang ingin berfoto dengan mereka harus menunggu sebentar jika ingin menuntaskan keinginan. Tunggu tim itu keluar dengan wajah yang sudah dibersihkan dan siap berfoto.


"Ada banyak yang ingin berfoto, ayo ikut," masih Ignacia yang bersemangat.


"Sebentar, kita tunggu apakah si sepuluh akan diajak berfoto seseorang atau tidak. Karena feeling ku bilang jika dia akan diajak foto seseorang setelah ini."


Memang seharusnya Nesya tidak menggunakan feeling-nya untuk hari ini. Bagaimana tidak? Seseorang benar mengambil si sepuluh untuk berfoto berdua. Mengurungkan niat Nesya untuk berfoto dengan idola barunya selain mereka yang ada di dalam komik. Sayang sekali.


"Ayo kita kembali ke kelas saja," ajak Nesya.


...*****...


Ignacia meletakkan kepalanya di atas meja, berharap rasa pusing ringannya segera pergi. Tapi kemudian seseorang datang menghampiri dan membuatnya harus menunda tidur singkat di kelasnya.


"Mamamu mengirimkan pesan, bertanya apa aku melihatmu sudah datang atau belum," dia bicara.


Siapa lagi jika bukan Rajendra? Kelihatannya hanya laki-laki itu yang dapat melakukannya. Diberikannya ponsel pada Ignacia yang terduduk. Rajendra ikut duduk di hadapan gadisnya dan hanya diam menatap. Sementara itu Ignacia sendiri yang membalas pesan mamanya disana.


"Jangan mengirimkan hal aneh, itu ponselku," ucap Rajendra waspada. Bisa-bisa dia tidak disukai mama Ignacia jika tidak tahu bahwa anaknya yang membalas pesan.


"Aku tidak akan macam-macam." Setelahnya ponsel itu kembali ke tangan Rajendra. Pemiliknya hanya memastikan dan melihat pesan yang dikirimkan Ignacia disana. Bukan pesan macam-macam.


"Kalian tidak aka berfoto bersama?" Nesya menginterupsi. Di tangannya sudah ada ponselnya yang siap mengabadikan momen temannya. Sang fotografer sudah mengambil tempat untuk mengabadikan momen baik teman dekatnya.


Ignacia tidak berani menatap Rajendra yang kelihatannya menaruh harap. Ignacia tidak tahu bagaimana caranya merealisasikan rencananya. Terlalu canggung dan malu jika berada di hadapan Nesya.


"Kalau begitu aku akan memberikan kalian waktu untuk bicara. Silahkan saja bicara sesuka hati kalian." Nesya mencari kursi lain, tapi masih dengan posisi siap mengambil momen terbaik. Siapa tahu Ignacia akan menyukainya. Siapa yang tidak suka jika difoto saat bersama kekasih?


"Mamamu membalas." Rajendra memberikan ponselnya kembali pada Ignacia.


"Ini salahku karena tidak online tadi. Jadinya mama bertanya padamu. Maaf sudah merepotkanmu, Rajendra."


Laki-laki di hadapannya menggeleng, "aku tidak masalah. Mamamu mungkin khawatir karena kamu menggunakan kebaya. Takutnya terjadi sesuatu. Jadinya tidak bisa menunggu lagi. Aku tidak merasa keberatan sama sekali."


"Tapi tetap saja. Terima kasih sudah memberitahuku."


"Bagaimana saat mengendarai sepeda kemari? Pasti sulit. Bagaimana jika kuantarkan pulang nanti? Aku ingin mengantarmu pulang sampai rumah."


Ignacia terkekeh, "aku membawa sepeda motor kemari. Lalu bagaimana sepeda motormu sendiri hm?"


"Aku dan temanku akan pergi ke sekitar perumahan mu untuk kerja kelompok, Ignacia. Aku bisa meminjamkan temanku sepeda motor dan mengantarmu pulang." Kedengarannya Rajendra sungguh-sungguh. Tapi Ignacia bisa merepotkannya.


"Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat sekarang."


"Tidak, aku akan mengantarmu. Karena bertemu denganmu, aku jadi ingin membuatmu lebih nyaman. Omong-omong," Rajendra memajukan dirinya agar lebih dekat dengan Ignacia yang sejak tadi menghadap ke arahnya, "maaf karena sudah datang ketika teman-temanmu masih ada disini."


Rupanya dia memikirkan soal itu.


"Tidak masalah. Kulihat mereka tidak begitu peduli juga."


Setidaknya Ignacia bisa pura-pura tidak peduli dengan orang-orang di sekitar. Rasanya menyenangkan saat bersama Rajendra. Dari banyaknya orang di dalam kelas, ada seorang laki-laki yang membuatnya merasa istimewa dan diperhatikan. Bahkan datang menemuinya karena pesan sang mama.


"Jadi bagaimana? Mau kuantar pulang?"


"Kamu ini masih saja. Kita lihat saja nanti. Setelah ini masih ada pertandingan basket. Kamu tidak ingin melihatnya?"


"Kamu ingin melihatnya, Ignacia? Kudengar nanti para pemain laki-laki yang bermain. Pemain sekolah kita dan sekolah yang ada di kota." Bukannya menjawab, Rajendra justru balik bertanya. Mungkin ingin tahu keputusan Ignacia setelah mendengar kata laki-laki.


"Aku ikut Nesya."


...*****...


Itu artinya Ignacia akan pergi menonton jika Nesya yang mengajaknya. Dan ajakan itu benar adanya. Nesya mengajaknya setelah kelas Ignacia melakukan sesi foto di taman baru. Entah pergi kemana Rajendra saat itu. Ignacia tidak bisa melihatnya dengan jelas karena terhalang orang-orang yang berdiri dekat pintu ketika Rajendra keluar.


"Bagaimana jika makan dahulu sebelum menonton? Mungkin kamu tadi pusing karena lapar, Ignacia." Nesya benar. Lebih baik makan dahulu sebelum rasa pusing tadi kembali. Masih mengherankan kenapa Ignacia bisa merasa pusing padahal awalnya baik-baik saja.


"Ignacia, kamu harus mengecek akun Instagram. Admin kita menambah video di storynya. Kamu ada disana." Seorang teman memberitahu Ignacia yang baru mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas. Langsung saja Ignacia meraih ponsel di atas meja untuk melihat video yang di maksud.


"Ignacia, bisa ikut aku sebentar membeli minum?" Tapi Nesya sedang membutuhkan air. Mungkin nanti saja melihat videonya. Sambil menunggu Nesya mencari camilan lain di kantin juga.


Di jalan, Ignacia masih belum melihat Rajendra. Mungkin dia sedang sibuk berkumpul dengan teman-temannya. Jika tidak begitu dia mungkin menonton pertandingan basket perempuan.


Ada kesempatan membuka ponsel sebentar saat Nesya membeli minum. Ada banyak update di akun kelas karena hari besar nasional. Ignacia tidak begitu peduli dengan semua update yang ada. Tujuannya hanya untuk mencari sesuatu yang di maksud temannya sebelum dia pergi kemari


Oh yang benar saja. Ignacia ada dengan Rajendra. Admin akun kelas mengambil vidio Ignacia dan Rajendra yang dalam sesi foto dibantu Nesya sebelum laki-laki itu pergi. Foto setelah Ignacia berhasil mengusir rasa canggung setelah mengobrol.


Di caption tertulis, lucu banget malu-malu meong pasangan yang belum pernah berpacaran ini.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Kamu debut di igs kelasku |^^^


^^^Haha videonya terlihat lucu |^^^


"Sudah selesai." Nesya keluar dengan sebotol air. Membawa Ignacia kembali ke kelas untuk makan.


...*****...


Nesya suka menonton konten asmr sambil makan. Dia mengajak Ignacia ikut serta karena Ignacia tertarik dengan acara memasak sebelum seseorang yang membuat konten itu mulai makan. Sambil menunggu Ignacia mengambil minumannya di dalam tas, Nesya buru-buru menyiapkan posisi ponselnya agar bisa digunakan untuk menonton.


Mereka memilih meja paling depan nomor dua di sebelah deretan meja asli keduanya. Alasannya hanya karena di sisi itu lebih tenang dan terang. Cocok sebagai tempat untuk makan.


"Ignacia," panggilan datang dari pintu, pas sekali saat Ignacia akan membuka kotak bekalnya. "Ada yang mencarimu," sambung teman yang memanggil.


"Oh?" Rajendra muncul lagi. Kali ini dengan senyuman yang semakin mengembang. "Kenapa kamu datang?" Ignacia buru-buru bangkit untuk menemui Rajendra yang perlahan berjalan masuk, mendekati Ignacia.


"Aku ingin tahu video yang kamu maksud. Aku malas melihatnya sendiri." Bagaimana bisa Rajendra menjadi semanja itu di depan teman-teman Ignacia? Mana orang-orang juga masih banyak di kelas, makan juga.


Ignacia mencari akun kelasnya dan menunjukkan pada Rajendra. Ponselnya di ambil alih si laki-laki dan menontonnya sendiri. Sekarang posisi keduanya seperti kakak beradik yang adiknya juga ingin melihat apa yang kakaknya lihat. Rajendra terlalu tinggi hingga terlihat seperti kakak.


Kesempatan seperti ini jarang datang. Ignacia iseng menggandeng tangan Rajendra agar tidak menyenggol ponsel Nesya yang diletakkan susah payah agar berdiri. Tapi tidak tahunya itu justru membuat kelasnya semakin ramai.


Teman-teman Ignacia bereaksi pada apa yang dilakukan Ignacia disertai beberapa komentar. "Ignacia dan Rajendra belum pernah berkencan, namun sekalinya bersama terlihat lucu sekali," teriak seseorang.


Mendengar itu Ignacia tiba-tiba menggandeng lengan Rajendra dan menyandarkan kepalanya ke bahu kekasihnya. Reaksinya semakin besar di kalangan perempuan yang ada di belakang Nesya. Buru-buru Ignacia melepaskannya karena semakin ramai.


"Kukira video aib, tapi rupanya tidak."


"Siapa bilang jika ini video aib? Aku hanya bisa kamu debut di akun Instagram kelasku."


"Kamu terlihat lucu disana," bisik Rajendra. Rasanya seperti dia tidak mendengar kebisingan yang dibuat teman-teman Ignacia akibat yang dilakukan pacarnya barusan.