Beautiful Monster

Beautiful Monster
Kabar Darimu



Ignacia duduk di tempat tidurnya. Di tangan masih ada bulpoin dan juga buku referensi yang dia pinjam dari perpustakaan siang tadi. Matanya sudah lelah, tapi masih belum bisa menyelesaikan tugasnya sebelum energinya benar-benar habis. Tugas ini masih banyak, Ignacia sedang menyicilnya.


"Hoam." Beberapa kali gadis ini menguap. Matanya sudah berair. Sebentar lagi dia pasti tertidur.


Sebelum itu terjadi, suara panggilan datang dari ponselnya di dekat kaki yang dia luruskan ke depan. Kelihatannya mamanya memanggil. Ignacia dapat melihat samar profil yang orang di ujung panggilan itu gunakan. Kenapa harus memanggil selarut ini? Besok mamanya harus bekerja.


"Ada apa?" jawab Ignacia dengan suara serak. Tenggorokannya kering entah mengapa. "Kenapa mama menelfon? Bukankah mama seharusnya masih bekerja?"


"Mama hanya sedang memikirkan anak pertama Mama. Memangnya salah? Kamu sendiri kenapa belum tidur? Besok masih kuliah. Sedang mengerjakan tugas ya?"


"Padahal tadi sore mama sudah menelfon. Tugasnya ada banyak, jadi aku melanjutkannya hingga sekarang." Sekali lagi Ignacia menguap, menutup tangannya dengan tangan yang masih memegang buku referensi. "Mama masih punya banyak waktu istirahat? Biasanya hanya sedikit."


"Mama makan dengan cepat kemudian menelfon. Bagaimana kuliahnya? Lalu bagaimana kabar hubunganmu dengan Rajendra? Mama tidak menghubungi dia karena takut menganggunya. Kalian baik-baik saja kan?"


Ignacia menghembuskan nafas panjang. Melepaskan rasa lelahnya dalam satu hembusan. "Ya, kami baik-baik saja. Aku dengan kesibukanku, Rajendra dengan kesibukannya. Dia bekerja paruh waktu di restoran keluarga temannya."


"Kerja paruh waktu? Apa karena itu kamu ingin bekerja paruh waktu juga? Apa untuk mengimbangi Rajendra?"


Ignacia mengalihkan pandangan pada jam di dinding. "Aku ingin sibuk juga seperti Rajendra. Aku sudah sering ditinggalkan. Jadi aku ingin memiliki pekerjaan, menjadi sibuk, dan tidak begitu menunggu Rajendra menghubungi."


"Begitu rupanya. Tapi jika kamu bekerja paruh waktu, mama dan ayah takut kuliahmu akan berantakan. Mungkin tidak begitu berantakan karena kamu anak yang pandai mengatur semuanya. Kami bisa mengabulkan permintaanmu karena kamu masih menjadi tanggung jawab kami."


"Aku bukan bekerja demi uang. Sudah kukatakan alasannya tadi. Apa mama tidak mendengarkan?" Rasa lelah membuat Ignacia jadi lebih sensitif. "Aku lelah, aku ingin tidur sekarang. Besok aku masih harus melakukan sesuatu."


"Baiklah kalau begitu. Selamat malam."


Panggilan berakhir. Ignacia meletakkan ponselnya di nakas kemudian membereskan semua buku referensi yang dia pakai. Sebelum kembali naik ke atas tempat itu, Ignacia meraih ponselnya untuk memastikan sesuatu. Kekasihnya belum memberikan kabar yang ditunggu si gadis seharian.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Rajendra, aku merindukanmu |^^^


^^^Pekerjaanmu membuatmu sibuk ya? |^^^


^^^Tetap semangat ya, sampai selesai |^^^


^^^Jika ada apa-apa, aku akan ada disini |^^^


^^^Untukmu |^^^


"Apa yang kamu lakukan seharian ini, Rajendra? Apa kamu tidak memiliki waktu sedikitpun untuk memberikan kabar untukku? Mentang-mentang kamu sudah bekerja. Sekarang kamu seperti tidak memiliki aku."


Ignacia meletakkan ponselnya dan buru-buru pergi tidur. Menunggu Rajendra membalas pesannya hanya akan membuatnya tampak mengemis perhatian. Tapi setidaknya Rajendra bisa membacanya saja jika sangat-sangat sibuk.


Mata si gadis tertutup dengan damai setelah beberapa detik. Namun itu tidak menghalangi jatuhnya air di mata yang ditutup itu. Bibirnya yang tadinya tenang sekarang seakan menahan sesuatu yang menyakitkan.


...*****...


"Aku hanya mengatakannya sebagai teman. Aku melihatmu sibuk dengan kegiatanmu dan jarang menggunakan ponsel. Dan setiap kali aku menemukanmu, yang kau lakukan adalah menelfon ibumu. Kenapa tidak sesekali menelfon Ignacia?"


Teman Rajendra masih disana. Menarik tangannya dari bahu Rajendra dan menyimpannya ke dalam saku apron. "Aku mungkin terdengar terlalu ikut campur. Tapi setelah memiliki mantan, aku tahu apa yang sebaiknya dilakukan laki-laki untuk wanitanya."


Rajendra diam saja tidak merespon. Mencoba untuk memikirkan baik-baik apa yang dikatakan si teman. Dia jauh lebih tahu karena dahulunya punya seorang mantan. Rajendra tidak tahu kenapa keduanya putus atau berapa lama keduanya bersama. Yang jelas temannya ini lebih banyak tahu.


"Rajendra, aku akan masuk lebih dahulu. Jika kau masih ingin tersenyum-senyum sendiri disini, aku tidak akan melarangnya. Tapi kuingatkan jika udara malam tidak bagus untuk kesehatan."


Setelah kepergian temannya, Rajendra kembali duduk. Matanya menatap menerawang ke langit malam. Yang dikatakan temannya itu baik. Rajendra tidak ambil hati jika saja kata-kata temannya ini agak ikut campur dalam hubungannya dengan sang kekasih. Rajendra bukan orang yang seperti itu.


Ponselnya ada di dalam tas di ruang karyawan. Sementara posisinya sekarang ada di halaman belakang restoran. Mungkin Rajendra akan mengecek roomchat Ignacia ketika dia sudah dalam perjalanan pulang.


"Ignacia, kamu sudah tidur? Bagaimana harimu? Maaf aku tidak datang seharian ini. Tapi aku akan berjanji padamu jika aku akan melakukan yang terbaik untuk kamu dan aku."


...*****...


Rajendra memakai jaketnya dengan baik kemudian mengambil tas yang dia letakkan di dalam loker. Langsung dia buka resleting tempat dia menyimpan ponsel. Layar ponselnya menyala, menunjukkan beberapa pesan dari sang kekasih yang datang sekitar beberapa jam yang lalu.


Mata yang membaca pesannya berubah sendu. Rajendra tidak meninggalkan kekasihnya dengan sengaja. Rajendra sibuk dan fokus dengan pekerjaannya agar semuanya berjalan lancar. Sama seperti yang dia lakukan ketika sedang bertugas sebagai panitia acara ketika masih menjadi ketua MPK.


"Rajendra, kau masih disini?" Seseorang memanggil dari luar ruangan. Langkah kakinya seperti akan mendekati ruangan dimana Rajendra termenung membaca pesan Ignacia.


Cepat-cepat Rajendra menyimpan ponselnya dan memakai tasnya dengan baik. Segera menemui teman satu kos yang membuatnya mendapatkan pekerjaan ini.


"Pulanglah lebih dahulu. Aku akan berada disini sedikit lebih lama. Bersih-bersihlah sebelum tidur. Besok kita akan memiliki hari yang sibuk," ingat temannya kemudian mempersilahkan Rajendra meninggalkan restoran.


Dalam perjalanan pulang, Rajendra duduk di dalam bis dengan mengecek ponselnya. Tidak ada yang berubah dari roomchat Ignacia yang tidak kembali online. Sudah sangat jelas jika kekasihnya benar-benar tidur. Sekali lagi Rajendra membuatnya kecewa tanpa sengaja.


...Ignacia🍓...


^^^Terima kasih karena sudah mendukungku |^^^


^^^Akan kulakukan yang terbaik, Ignacia |^^^


^^^Agar kita bisa cepat bertemu |^^^


^^^Besok aku akan sedikit sibuk |^^^


^^^Kuusahakan mengirimkan kabar |^^^


Rajendra menekan tombol yang menandakan bahwa dia akan turun di halte berikutnya. Si laki-laki berjaket ini sudah bangkit dari duduknya mendekati pintu keluar bersama orang wanita yang kelihatannya seumuran dengannya. Rajendra tidak sengaja melihat Rajendra wajah gusar wanita itu tadi.


"Hah apa gunanya memiliki lelaki? Dia hanya membuatku frustasi. Menghilang saja terus seperti asap," kesal si wanita sambil menggenggam erat-erat tiang yang digunakan untuk berpegangan di dekat pintu keluar.


Bukan Rajendra yang sedang wanita ini bicarakan, Rajendra juga tidak mengenalnya. Tapi entah mengapa Rajendra merasa takut berada di dekatnya. Seperti aura mahkluk yang siap untuk meledak dan membuat orang-orang di dekatnya trauma.


"Apa yang harus kulakukan?" tiba-tiba suara sendu seseorang disertai dengan isakan. Rajendra menoleh dah menemukan wanita di sebelahnya tengah menutup wajahnya dengan satu tangan sambil menangis. Rajendra berubah panik. Wanita di sampingnya semakin menyeramkan saja.


"Padahal sudah kuberikan hatiku, tapi kenapa malah aku yang ditinggalkan? Seharusnya aku tidak sebodoh ini." Wanita itu masih dengan posisinya hingga bis berhenti di halte tempat Rajendra harus turun. Sebaiknya Rajendra cepat pergi sebelum ada yang berpikir macam-macam tentangnya.


Wanita tadi tidak turun padahal berdiri di tempat orang-orang biasanya akan turun. Apa mungkin amarah dan kesedihannya tadi membuatnya tidak bisa memposisikan diri dengan benar? Wanita itu mungkin merasa tertekan karena sesuatu.


Di perjalanan menuru kos, Rajendra jadi memikirkan soal Ignacia. Sudah beberapa kali dia menghilang dan belum memberikan kabar seperti hari ini. Apa Ignacia juga menangis seperti yang dilakukan wanita tadi?


Tapi Ignacia belum pernah menuntut apapun padanya selama dirinya sibuk dengan pekerjaan. Membuat Rajendra berpikir jika Ignacia memang orang yang sangat suportif dan sabar. Wanita terbaik yang membuatnya bersemangat bekerja dengan semua pengertian tentang kesibukan si laki-laki.


Hujan tiba-tiba turun. Membuat dia yang masih dalam perjalanan menuju tempat istirahat terpaksa berlari sangat kencang hingga akhirnya dapat berteduh. Rajendra menatap hujan yang semakin deras. Ingatannya seakan melayang ke sebuah kenangan di hari hujan yang sama.


"Rajendra," panggil seseorang.


Yang tengah bernostalgia pun menoleh. Menghilangkan lamunan dan kembali ke masa kini. Ditemukannya laki-laki yang katanya akan menetap di restoran lebih lama sudah datang. Bahkan kelihatannya dia yang sejak tadi sudah ada di teras kos.


"Apa yang membuatmu begitu lama kembali?" tanya si teman kemudian berjalan masuk diikuti Rajendra yang belum menjawab. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa bisa sampai setelah temannya ini sampai.


...*****...


Ignacia sibuk dengan buku mata kuliahnya tanpa melihat ponsel sedikitpun. Pesan yang dikirimkan seseorang sesaat sebelum dia menginjakkan kaki di alam mimpi benar-benar membuatnya takut untuk membukanya. Biarkan saja Ignacia tidak melihat ponsel. Lagipula mamanya lebih suka telfon.


"Hei," sapa Danita, "kenapa kau terlihat tidak senang begitu? Setelah ini mata kuliah yang kau suka. Apa ada sesuatu yang terjadi saat aku tidak ada di asrama?"


Danita menginap di rumah temannya yang sedang berulang tahun selama akhir pekan. Jadinya dia tidak bertemu dengan Ignacia selama beberapa hari. Pagi ini saja Ignacia baru melihatnya di kelas.


"Tidak ada apa-apa. Memangnya aku terlihat bagaimana?"


"Seperti terjadi sesuatu. Kau benar baik-baik saja, Ignacia? Jika ada sesuatu, kau bisa bicara padaku." Danita mengambil posisi duduk di samping temannya. Menatap penuh perhatian seolah Ignacia adalah seseorang yang harus dijaganya benar. "Tapi jika kau tidak ingin membicarakannya, tidak apa-apa," tambahnya.


"Aku tidak apa-apa," nada bicara Ignacia berubah rendah, "aku hanya merasa tidak enak karena tidur terlalu malam. Mungkin aku akan demak atau sesuatu." Ignacia mengalihkan pandangan ke papan tulis seberang ruangan. Mencoba untuk tidak bertatap mata dengan yang memperhatikannya.


"Akan kubawakan sesuatu jika kau sakit, Ignacia. Katakan saja padaku apa yang kau inginkan."


...*****...


"Ignacia sepertinya sedang sakit. Aku akan menemaninya jika dia membutuhkan sesuatu. Maaf karena aku membatalkan rencana kita. Lain kali kita akan makan malam bersama, oke?" Danita merasa tidak enak sudah menolak ajakan sang kekasih. Tapi di sisi lain Ignacia juga tidak tampak sehat.


"Bagaimana jika kubawakan makanan untuk kalian berdua? Aku bisa mampir sebentar untuk memberikannya."


"Kenapa tidak dengan ojek online saja? Biar aku yang membayar ongkosnya."


"Tidak, biar aku membayar semuanya. Akan kubelikan makanan yang bisa membuat temanmu cepat sembuh."


Danita menyimpan ponselnya sambil tersenyum bahagia. Kekasihnya memang yang terbaik. Kalau begitu dia harus membalas kebaikannya dengan semua kemampuan yang dia miliki nanti. Danita sudah tahu sejak awal. Bahwa laki-laki ini memang berbeda dari orang-orang payah yang pernah dia temui selama bertahun-tahun hidupnya.


Si gadis berambut pendek memasukkan ponselnya ke dalam saku, berjalan ke arah ruang kelas mata kuliah selanjutnya. Sebaiknya dia buru-buru karena Ignacia pasti sudah ada disana. Keduanya makan siang di tempat yang berbeda, jadi tidak sempat bertemu lagi setelahnya.


Di kelas, Danita melihat sosok Ignacia yang laki-laki seakan kehilangan separuh hidupnya. Ya bagaimana tidak? Dia hanya menatap bukunya dengan tatapan kosong tanpa bergerak. Bahkan para mahasiswa yang ada di sekitarnya seolah-olah tidak pernah ada di dekatnya.


"Apa dia bertengkar dengan kekasihnya?"


Danita menebak-nebak tanpa bicara. Langkahnya kian mendekat hingga sampai di kursi kosong sebelah si teman. Membuat yang di dekati akhirnya kembali ke dunia nyata karena aura yang dibawa Danita. "Malam nanti malam malam denganku ya? Akan kubawakan sesuatu ke kamarmu agar kau lebih baik."


Ucapan Danita membuatnya menoleh, menggeleng lemah tanpa tidak ingin. "Aku akan mengurus diriku sendiri. Aku hanya ingin waktu sendiri." Ignacia menjawab dengan dingin. Dirinya tidak enak untuk menolak, tapi dirinya memang tidak ingin berinteraksi dengan siapapun malam ini.


"Sikapnya sampai berubah begini. Sesuatu yang buruk terjadi selama aku tidak bersamanya?" Danita sudah mengalihkan pandangan, berhenti memperhatikan temannya yang merasa agak tidak nyaman. Gadis berambut panjang di sebelahnya ini kelihatannya kelelahan dengan sesuatu.


...*****...


Seharian Ignacia menunggu kabar dari Rajendra. Tapi sesuatu yang dia tunggu-tunggu seakan tidak akan pernah datang. Apa Rajendra bosan berkirim kabar dengannya? Berkirim pesan memang bukan sesuatu yang disukai laki-laki ini. Laki-laki yang lebih suka bertemu daripada berdialog secara virtual.


Bohong jika di zaman yang seperti ini masih ada seseorang yang begitu sibuk hingga membuka ponsel saja tidak bisa. Tapi Ignacia tidak berani berasumsi bahwa Rajendra sengaja tidak memberikan pesan dengan alasan yang tidak diketahui.


Ignacia terlalu takut jika asumsinya menjadi kenyataan.


"Apa kamu tidak bosan berada di tahap tarik ulur seperti ini, Rajendra? Jika kamu ingin membuatku terus bersamamu, terus memikirkanmu, terus tertarik padamu, bukankah sebaiknya kau tidak melakukan ini. Kita sudah bersama selama hampir 5 tahun tapi kamu masih saja sibuk dengan duniamu."


Ignacia menatap jendela kamarnya yang sejak tadi diketuk oleh hujan. Bukan hujan keduanya di kota ini. Bahkan Ignacia lupa menghitung karena terlalu sibuk dengan perasaan tidak karuan sebab kekasihnya.


"Mengirimkan pesan saja terasa sulit bagimu?"