Beautiful Monster

Beautiful Monster
13. Ungkapan Cinta



Yujiro terpaku memandangi sosok Miho dari balik kain hitam tipis yang menutup kedua matanya. Kedua kakinya setia mengikuti dari belakang dengan kedua tangan yang saling bertaut tak terlepas sedikit pun.


Mereka berdua menyusuri jalanan melewati beberapa warga yang mulai bergosip tetang monster mengerikan yang sudah memporak porandakan ternaknya.


Yujiro tentu mendengar obrolan itu dengan jelas melalui telinganya yang tajam. Monster, satu kata itu sering dia pikirkan dalam kepalanya akhir-akhir ini.


Namun yang sekarang menjadi fokusnya adalah Miho. Perempuan itu terlihat tenang dan berusaha tak mendengarkan apapun meski dia melihat sendiri bentuk menyeramkan dari Yujiro saat itu.


Miho adalah Naho yang selalu tak kenal takut, selalu melindungi, dan selalu menaruh kepercayaan padanya. Miho tak pernah menganggap Yujiro sebagai monster, bahkan memberikan tatapan takut pun tidak.


"Yujiro?" panggil Miho yang berdiri di depan lelaki itu sambil mengamati dengan lekat.


"Apa kau masih bisa melihatku?" lanjutnya bertanya.


Yujiro mengangguk kecil. Tentu dari kain tipis itu ia masih bisa melihat meski tak jelas. Tanpa digandeng pun, Yujiro bisa berjalan seakan matanya tak tertutup apapun.


"Sepertinya tempat itu masih jauh," oceh Miho berkacak pinggang dengan kesal. Nenek Kawa bilang jika tempat indah di Desa Noda berada tak jauh, tapi nyatanya Miho masih belum melihat danau yang hendak didatanginya itu.


Tiba-tiba Yujiro berdiri membelakangi di depan Miho seraya menepuk kecil punggung seakan memberi isyarat.


"Maksudnya kau mau menggendongku di punggungmu?" tunjuk Miho pada diri sendiri.


Meski ragu, Miho pun naik ke punggung Yujiro yang bisa mengangkatnya dengan begitu mudah. Mereka melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di sebuah tempat dengan hamparan danau yang cukup luas dihiasi pemandangan langit indah menuju sore.


Miho turun. Ia membantu membukakan kain agar tidak lagi menutup kedua mata Yujiro yang kini bisa melihat pemandangan di depannya dengan jelas.


"Bukankah ini seperti di negeri dongeng?" Miho menoleh sambil mengulas senyum hangat pada Yujiro. "Aku selalu ingin mendatangi tempat seindah ini bersama seseorang."


Inikah perasaan cinta manusia?


Alih-alih terkagum dengan keindahan pemandangan di depannya, Yujiro malah terpaku dengan senyuman berseri terpancar di wajah Miho yang menurutnya lebih indah dibanding yang lain.


Selama Yujiro hidup sebagai bermacam-macam hewan dan tumbuhan, dia tak pernah mengetahui atau memahami tentang keindahan. Semua yang dilihatnya adalah hal yang membosankan bahkan tak memiliki arti sama sekali.


Tapi ketika menjadi manusia, senyuman seseorang menjadi hal berarti untuk dirinya. Manusia tersenyum ketika merasakan kebahagiaan. Dan sekarang, Yujiro merasa yakin jika gadis di sampingnya tengah merasa bahagia.


"Miho," panggil Yujiro membuat Miho menengok padanya.


"Ada apa? Kau memanggilku lagi."


Sepanjang Yujiro hidup, nama Miho adalah hal yang selalu dia ucapkan melebihi saat dia memanggil Naho.


Sampai mana batas cinta manusia?


Yujiro mempertanyakan itu dalam hatinya. Banyak pertanyaan yang terkubur dan kini keluar dengan sendirinya dalam kepala.


"Yujiro? Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Miho khawatir karena lelaki itu hanya diam memandanginya cukup lama.


Yujiro berpikir keras, mencari cara untuk mengungkapkan perasaan cintanya pada Miho. Tapi menjadi manusia belum mmebuat Yujiro mempelajari segalanya dan ia masih harus banyak belajar termasuk cara berbicara.


"Kau sering memanggilku akhir-akhir ini," kata Miho tersenyum lebar. Sebelah tangannya bergerak menggandeng tangan Yujiro begitu saja.


"Aku senang bisa menikmati semua ini denganmu. Aku ingin terus melakukan ini. Ada banyak tempat indah yang bisa kita datangi setelah ini."


Tiba-tiba Miho menuntun Yujiro untuk berdansa dengannya. Perempuan itu tersenyum begitu lebar, menggerakkan kakinya dengan anggun, menuntun tangan Yujiro untuk bermain bersamanya di bawah langit yang mulai menguning.


Cinta. Bagaimana cara mengungkapkan perasaan itu?


Yujiro sedang berusaha keras, bergelut dengan hatinya untuk mengungkapkan hal tersebut pada Miho.


Yujiro ingin memberitahu Miho jika dia senang terus berada di dekatnya. Dia ingin terus menggenggam tangannya. Dia ingin terus melihatnya. Dia ingin terus melindunginya. Dia ingin terus melihat Miho bahagia. Dan dia ingin terus hidup dengannya.


Tak ada satu kata pun yang bisa Yujiro ucapkan, sehingga ia hanya bisa memeluk tubuh perempuan itu dengan erat seakan tak ingin kehilangan.


Miho perlahan tersenyum. Meski tidak bicara pun, Miho memahami perasaan Yujiro padanya saat ini.


...****************...


Di bawah langit malam, Yujiro terus berlari memasuki hutan. Nafasnya sudah terengah. Dia hampir merasa gila menahan perasaan aneh yang membuatnya ingin berubah. Dia mulai merasa kehilangan kendali dengan perut lapar tiada tara yang membuatnya ingin menerkam beberapa hewan di sana.


Yujiro terduduk di tanah dengan nafas tersengal. Ia menampar wajahnya sendiri beberapa kali, berusaha menyadarkan dirinya sendiri untuk tidak berubah seperti malam itu sehingga para warga ketakutan.


"Ushioda... Yujiro..." katanya memanggil nama sendiri. Tangan Yujiro juga tak berhenti menampar wajahnya, memarahi dirinya sendiri yang mulai tak bisa mengintrol diri.


Apa yang terjadi?


Yujiro mulai merasa begitu kelaparan. Ia seperti seekor serigala yang ingin segera memburu mangsa untuk dimakan.


Seberapa kuat pun ditahan, Yujiro tetap merasakan tubuhnya berubah begitu kuat. Ia melihat kedua tangannya yang mulai tumbuh kuku panjang untuk mencakar. Bulu hitam mulai tumbuh di seluruh tubuhnya hingga giginya mulai bertaring.


Geraman pun tercipta. Yujiro bersusah payah bangkit ketika sayapnya mulai muncul dan terlentang. Ia mengerang cukup keras lalu terbang ke atas begitu saja ketika kesadarannya sebagai Yujiro kini terenggut.


Sementara itu, Miho menyadari jika malam itu Yujiro kembali tak ada di dalam kamarnya. Melihat Nenek Kawa masih tidur, Miho pun mengendap keluar rumah untuk mencari Yujiro. Mungkin saja lelaki itu kembali berubah dan memburu hewan ternak para warga.


Aku harus segera menemukannya!


"Oy!" panggil seseorang.


Miho menoleh ke arah bayangan yang muncul dari kegelapan. Bayangan itu semakin mendekat, semakin jelas pula yang dilihatnya.


Miho terheran melihat kedatangan lelaki itu. Ia bergerak mundur perlahan dengan penuh waspada.


"Kau bersamanya, bukan?" tanya Jo.


Miho menelan ludah dengan gugup, menyadari jika Jo adalah orang yang memburu Yujiro selama ini.


"Aku ingin memberikan hadiah kepada kalian," katanya lantas mengeluarkan sesuatu dari dalam karung yang ia bawa.


Miho terkesiap dengan kedua mata melotot horor melihat kepala Sen yang terpenggal menggelinding ke dekat kakinya.


"Aku tak ingin wanita tua itu bernasib sama dengannya," kata Jo lantas merogoh senjata yang kini ia arahkan pada Miho.


"Di mana monster itu sekarang?" tanyanya.


Miho menelan ludah susah payah dengan peluh mulai mengucur di sepanjang pelipisnya.


"A-aku tidak tahu... Apa maksudmu?"


"Jangan berpura-pura tidak tahu seperti lelaki itu," tunjuk Jo pada kepala Sen. "Aku tidak ingin menyakitimu. Jadi katakan saja, di mana si mata biru itu?"