Beautiful Monster

Beautiful Monster
Curi-curi Waktu



Semester baru dimulai. Tugas, praktek, ujian, semuanya akan kembali datang hingga masa kuliah selesai. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti kurang siap untuk materi selanjutnya dan ujian yang akan datang, Danita mengajak Ignacia untuk mencari kelompok belajar.


Ada dua orang yang bergabung. Dua perempuan yang ikut dalam drama Ignacia sebagai aktor yang bermain dengan Danita. Ini bukan pertama kalinya Ignacia berteman, namun tetap saja ada rasa canggung. Tapi ini bagus. Ignacia sudah memiliki banyak teman dan bergaul dengan orang baik.


Keempatnya berencana untuk belajar bersama setiap akhir pekan. Kegiatannya tentu mempelajari materi sulit dan mencari banyak referensi. Jika ada presentasi, mereka juga inginnya satu kelompok. Bukan semacam geng yang kemana-mana akan selalu berempat. Habya untuk urusan kuliah.


"Ignacia!" panggil seorang teman dari gazebo yang ada di sisi lain taman, "apa aku boleh minta jus dengan sedikit es?"


Yang dimintai tolong itu mengangguk. Mereka sedang istirahat, Danita menawarkan diri untuk membeli camilan dan jus di kantin. Sengaja Danita membawa Ignacia agar temannya ini tidak merasa canggung tanpanya. Sudah berteman selama drama masih belum membuat ketiganya dekat.


Sambil menunggu pesanan jus selesai, Ignacia membuka ponselnya yang sedari pagi belum dia cek. Orang tuanya sudah dia hubungi jika Ignacia akan sibuk belajar, jadi baik mana maupun ayahnya tidak akan menganggu dan berpikir berlebihan.


Ignacia membuka roomchat kekasihnya. Masih belum ada tanda-tanda online. Beberapa Minggu sudah berlalu dengan kabar Rajendra yang memudar. Ignacia sudah tidak terkejut dengan semua yang terjadi. Rajendra sibuk kuliah, bekerja, dan menikmati waktunya dengan beristirahat.


Ignacia harus lebih bersabar.


"Ignacia," tegur Danita, mengoper dua jus alpukat milik kedua teman lainnya. "ayo kita kembali ke gazebo." Tidak ada yang keduanya bicarakan. Danita terlalu lelah dan ingin tidur di asrama. Seminggu ini dia berusaha lebih rajin seperti Ignacia. Tidak semudah itu untuk menaikkan nilai dan menjadi pandai.


Saat makan camilan pun keempatnya tidak saling mengobrol. Menjadi aktif di kelompok belajar hanya seru di bagian awalnya saja. Setelahnya rasanya agak bosan karena jika bukan karena tugas rumit dan ujian, mereka akan jarang menyentuh buku. Jika begitu terus, mereka mungkin akan gagal.


"Baiklah, kita harus kembali bersemangat untuk belajar dan lulus tepat waktu," tengah Danita. Dia tidak menyukai keheningan yang terlalu sepi. "Bagaimana jika kita pergi ke tempat yang baru setiap bulan? Mungkin ke bagus lain yang nyaman untuk belajar. Berada di gazebo agak membosankan."


Apa Danita berpikir dirinya tidak produktif karena berada di tempat yang sama setiap akhir pekan? Sebenarnya bukan hanya dia yang berpikir demikian. Agak membosankan ketika belajar di suasana yang itu-itu saja.


"Kalau begitu kita bisa memutuskan tempat lain setelah membahas materi ini," putus teman di hadapan Danita. Tidak ada salahnya berpindah tempat belajar selagi untuk kebaikan dan benar-benar untuk mengembangkan diri.


Malam harinya, Ignacia menunggu pesan dari Rajendra. Seharusnya laki-laki itu sudah pulang kerja. Tapi sedari tadi belum ada tanda online di ruang pesannya. Akibat terlalu lama menunggu, Ignacia bahkan sampai tanpa sengaja tertidur dengan tangan yang masih memegang ponsel dengan layar mati.


Ketika bangun pun belum tentu Ignacia mendapatkan balasan. Mungkin Rajendra langsung tidur begitu selesai bekerja. Positif saja jika kekasihnya kelelahan dengan tugas-tugas yang dia emban dengan sepenuh hati. Tapi setidaknya baca pesan Ignacia di jam istirahat. Curi-curi waktu atau apalah itu.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Bagaimana harimu, Rajendra? |^^^


^^^Beristirahatlah yang cukup |^^^


^^^Jangan sampai sakit yaa |^^^


Ignacia meninggalkan ponselnya untuk bersiap-siap pergi belajar kelompok lagi dengan teman-temannya. Kali ini mereka akan pergi keluar ke tempat seperti kafe belajar. Seorang teman merekomendasikannya pada Danita dan yang lainnya setuju. Sebaiknya Ignacia tidak terlambat.


Danita dan Ignacia datang terlalu awal. Kedua teman lainnya belum datang. Di jalan juga tengah macet karena ada perbaikan, jadi mereka mungkin akan terlambat. Sambil menunggu, Ignacia dan teman asramanya ini memilih untuk belajar lebih dahulu. Diam dan duduk tidak akan mengubah apapun.


Ponsel keduanya dinonaktifkan agar tidak terganggu meksipun tidak ada peraturan untuk itu. Sekitar lima belas menit berlalu dari janji temu, pada akhirnya kedua temannya itu datang juga. Mereka meminta maaf karena jalanan yang memang padat meksipun menggunakan kendaraan umum.


...*****...


Danita duduk di samping Ignacia, keduanya dalam perjalanan pulang dengan bus sore. Waktunya istirahat dan mempersiapkan diri untuk kuliah besok. Sedari tadi Danita menahan diri untuk tidak bertanya pada temannya yang terus memegang dan mengecek ponselnya itu. Danita terlalu takut membuat Ignacia merasa tidak nyaman.


Keduanya hanya diam. Ignacia sebisa mungkin menghindari obrolan yang Danita buat karena suatu alasan. Mungkin ada yang salah dengan suasana hatinya. Danita berpikir jika Ignacia hanya lelah setelah belajar sedari pagi. Mungkin Ignacia membutuhkan waktu untuk mengisi energinya kembali.


"Sampai jumpa."


Bahkan ketika di asrama, Ignacia hanya pamit dan langsung masuk ke kamarnya. Ditutupnya pintu dengan lemas seolah energinya semakin terkuras. Danita tidak bisa melakukan apapun. Hanya menatap dan mengamati.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Hari ini aku belajar kelompok lagi |^^^


^^^Aku baru pulang sekarang |^^^


^^^Kamu masih bekerja ya? |^^^


^^^Tetap semangat ya, Rajendra |^^^


...*****...


Ignacia mungkin bisa tahan beberapa hari atau bahkan beberapa Minggu dengan sikap cuek Rajendra yang selah tidak mengecek ponselnya sama sekali. Tapi ketahanan Ignacia tetap ada batasnya. Hatinya terasa sangat sakit dan sekarang tiba-tiba sesak karena sesuatu. Entah apa alasannya.


"Apa aku tertekan?" tanyanya pada diri sendiri. Tangannya masih setia menahan sesak di dada yang seakan tanpa henti. Sudah sekitar sebulan Rajendra seolah pergi tanpa kabar. Kadang tidak membalas pesan atau hanya membacanya seperti keduanya sedang bertengkar.


"Aku terlalu menganggu hidupnya?"


Ignacia menjatuhkan tangannya ke samping. Rasa sesaknya sudah hilang. Ditatapnya langit-langit kamar yang temaram. Dirinya merasa kesepian. Sangat kesepian. Seseorang yang selalu dia hubungi tiba-tiba seakan pergi tanpa pamit.


Berkali-kali Ignacia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Dia tidak ingin membuat masalah ketika jauh dari Rajendra. Ignacia terlalu takut kehilangan. Dahulu dia sudah pernah membuat masalah, sekarang tidak lagi. Rajendra yang lelah bisa saja meninggalkan dirinya karena muak.


Ignacia sudah mencoba menjadi sesibuk Rajendra. Belajar kelompok, mengikuti lomba yang berhubungan dengan sastra, lalu banyak tugas yang membuatnya tidak bisa terlalu lama menggunakan ponsel. Tapi tetap saja. Ignacia membutuhkan Rajendra untuk bercerita.


Ada beberapa hal yang tidak bisa Ignacia ceritakan ke selain Rajendra dan bahkan Ignacia tidak mau orang lain mengetahuinya selain Rajendra. Menurutnya laki-laki itu sudah sangat Ignacia percayai dan laki-laki itu lebih bisa mengerti dia daripada siapapun.


Si gadis berambut panjang itu duduk di samping tempat tidurnya, menunggu pesannya dibaca.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


^^^Kamu punya waktu? |^^^


^^^Ada yang ingin aku ceritakan |^^^


Tidakkah seharusnya Rajendra sudah ada di kos dan tengah bersiap-siap untuk tidur? Kenapa dia tidak membuka ponselnya sama sekali? Ignacia tahu jika Rajendra tidak punya alasan membuka ponsel sesering Ignacia. Orang tua Rajendra tidak menuntut banyak kabar seperti yang dilakukan kekasihnya.


Ignacia mungkin harus menyerah lagi hari ini. Rajendra tidak akan muncul. Sama seperti beberapa malam yang lalu. Baru saja Ignacia akan mengembalikan ponselnya ke atas nakas, sebuah pesan yang ditunggunya datang.


...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...


| Maaf aku punya banyak pekerjaan


| Apa yang ingin kamu ceritakan?


Semangat Ignacia kembali. Di gadis mengetikkan banyak hal tentang apa yang dia alami ketika belajar kelompok. Untuk sesaat gadis ini lupa jika dia seharusnya membiarkan Rajendra istirahat. Karena setelah bercerita, Rajendra merespon pasif dan kemudian izin pergi tidur. Seolah merespon pesan Ignacia adalah suatu keformalan tak berarti.


Ignacia bertanya apa mungkin Rajendra bisa menemaninya untuk malam ini saja. Sayangnya bukan jawaban positif yang Ignacia dapatkan. Rajendra sekarang terlalu lelah, dia ingin beristirahat karena harus kembali menjalankan aktivitas besok. Apalagi dengan posisinya yang juga bekerja paruh waktu.


Sekuat tenaga Ignacia mencoba untuk tidak mencampur adukkan perasaan sedih dan sakit yang ia rasakan. Bagian bawah perutnya terasa sangat sakit, hari pertama datang bulannya sudah tiba. Ignacia ingin mengeluh betapa sakitnya itu, namun Rajendra sudah lebih dulu pergi tidur.


Ignacia tidak akan menyalahkan kekasihnya. Di hubungkan yang dewasa, Ignacia tidak seharusnya menuntut sesuatu hanya untuk dirinya sendiri. Ignacia seharusnya memikirkan bagaimana lelahnya Rajendra. Laki-laki itu masih muda, berhak mendapatkan semua waktu yang dia butuhkan untuk mengarungi dunia.


Sementara Ignacia terus menguatkan diri, sesuatu yang bening dan dingin turun perlahan dari manik matanya yang tertutup. Ignacia tidak mau tahu ini rasa sakit karena ditinggalkan atau akibat kontraksi hebat di dalam dinding rahimnya. Yang jelas, keduanya terlalu sakit dan membuatnya lemas.


Si gadis terisak. Dicobanya untuk menahan suara agar tidak terdengar oleh orang lain. Namun usahanya gagal. Semuanya terlalu buruk untuk ditahan. Kenapa Ignacia yang harus menutupi segala perasaan tidak enaknya sendirian? Kenapa juga ia harus merasa sakit hanya karena merasa sendirian?


Seseorang menerobos masuk karena suara tangisan dalam Ignacia. Orang itu langsung memeluk gadis yang dia temukan teruduk di samping tempat tidur sambil memeluk dirinya sendiri. Ignacia tidak tahu kenapa dibiarkan pintunya tidak terkunci. Yang jelas, Ignacia beruntung karena ada seseorang yang mau memeluknya dan memberitahu bahwa semuanya akan baik-baik saja, Ignacia bisa menangis sepuasnya.


Danita mengelus surai panjang Ignacia lembut, menepuk-nepuk punggung temannya untuk menguatkan. Sudah sebulan ini Danita memperhatikan kondisi hati buruk temannya. Danita terlalu takut merusak sesuatu yang tengah dirasakan Ignacia. Tapi untuk malam ini Danita tidak tahan lagi. Di panggilnya pula Nesya yang lebih mengenal Ignacia.


Gadis berkacamata itu membawakan minum, mencoba menenangkan Ignacia. Melihat Ignacia yang seperti menahan sakit datang bulan, keduanya pun tahu kenapa emosi Ignacia bisa meledak. Kondisi hormonnya tengah naik turun. Siapapun atau apapun yang membuat Ignacia sampai menangis sesenggukan itu sungguh kejam.


Malam itu Ignacia tidak menjelaskan apapun, kedua temannya juga tidak banyak berbicara. Keduanya bahkan tinggal hingga Ignacia merasa lebih baik. Emosi Ignacia benar-benar kacau. Dia terus menangis tanpa tahu kapan akan berhenti. Banyak yang dia pendam rupanya.


...*****...


Selang beberapa hari, Ignacia mulai bisa mengendalikan diri. Hormonnya kembali seimbang dan dia akan mulai berlaku sama seperti yang Rajendra lakukan. Dia bertekad untuk mengurangi ponsel sebisa mungkin selain untuk menghubungi orang tuanya, terutama sang mama.


Ignacia menemukan hal lain selain sibuk untuk akademik. Gadis berambut panjang itu menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku menarik dari perpustakaan kampus dan bahkan meminjamnya untuk dibaca di asrama. Kepalanya hanya diisi buku seperti masa lalu ketika dia merasa sendirian.


Buku-buku dari Athira sudah lama habis dibacanya. Suatu hari nanti Ignacia akan membacanya lagi jika emosinya kembali tidak stabil. Ignacia yang membuka pesan dari Rajendra telah dia rendam seharian. Rupanya begini rasanya ketika tidak tertarik lagi mendapatkan kabar dari kekasih.


"Hubungan itu seharusnya tidak membuatmu merasa sendirian, Ignacia. Bukankah kau seharusnya mencari orang yang juga membutuhkanmu? Jika kau mengemis waktu pada Rajendra, laki-laki itu mungkin akan mulai lelah denganmu."


Ignacia ingat betul isi panggilan Bahri malam sebelumnya. Danita bercerita soal Ignacia dan akhirnya Bahri menghubungi teman lamanya itu untuk memastikan. Bahri tidak pernah tahu jika Ignacia bisa menangis selama itu. Dan sebagai teman yang baik, Bahri tidak ingin Ignacia terluka.


Apa maksud Bahri jika dia harus mencari seseorang yang juga membutuhkan dirinya? Apa Bahri tengah memberikan saran bagi Ignacia untuk meninggalkan Rajendra yang entah sedang sibuk apa? Bukan itu yang Ignacia inginkan.


Ignacia akan mencoba selalu ada di saat-saat Rajendra membutuhkan dukungan dan bantuan di masa-masa sulit kuliahnya. Ignacia tidak akan bermain api di belakang panggung Rajendra dalam keadaan apapun. Ignacia sudah terlanjur memberikan semua hatinya untuk laki-laki itu.


Siapa tahu di balik kesibukan Rajendra, Ignacia nantinya akan memetik kemenangan. Mungkin kemudian Rajendra akan menyadari keberadaan Ignacia dan kembali padanya seperti masa lalu kan? Ignacia akan menunggu saat-saat itu.


"Merasa sendirian dan diabaikan itu sama sakitnya seperti sakit fisik, Ignacia. Kau harus tahu batas kemampuan tubuhmu menahan rasa sakit. Jangan sampai terlalu bodoh hanya karena seorang laki-laki!"


Ignacia ingin tahu kenapa Bahri begitu marah. Ignacia tidak merasa pernah mengatakan bahwa Rajendra adalah laki-laki yang buruk padahal. Apa Bahri merasa jika Rajendra sama seperti Bagas? Tapi selama ini Ignacia selalu bersama Rajendra padahal.


Fakta keduanya sudah hampir sampai di tahun keenam hubungan juga menunjukkan jika Rajendra bukan laki-laki yang suka main-main kan?


"Laki-laki yang serius tidak akan membuatmu bingung tentang perasannya, Ignacia. Sekali saja kau ragu, kau harus tanyakan kembali apa Rajendra benar-benar serius denganmu dan bukannya hanya menggantungkanmu."


Bahri hanya terlalu berlebihan, benar?