Beautiful Monster

Beautiful Monster
Pekerjaan Pertama



Di hari pertama, Ignacia merasa seperti kembali ke masa lalu. Ke tempat dimana dirinya seharusnya tidak duduk di perpustakaan dan mengurus buku-buku pinjaman yang dikembalikan. Dia seharusnya langsung berjalan ke selatan setelah memarkirkan sepeda motor. Dan seharusnya Ignacia bisa melihat Rajendra ketika menatap luar jendela.


Sayangnya sekolah ini bukanlah sekolah lamanya. Bukan tempat Ignacia bisa mencuri pandang ke arah kekasihnya yang selalu tampak bersama beberapa gadis membahas sesuatu. Rajendra tidak akan pernah sampai disini. Ignacia juga tidak ingin membawa kekasihnya kemari. Tahu pasti jika kekasihnya akan bosan. Dia tidak tertarik dengan buku manapun.


"Ignacia," sebuah suara memanggil. Nesya muncul dari pintu perpustakaan. Langkahnya cepat menuju temannya di balik meja kebesaran. "Petugas perpustakaan kita datang lebih pagi dari jadwal. Bagaimana setelah bertemu dengan pengurus perpustakaan sebelumnya? Beliau mengajarkan banyak hal?"


"Lebih banyak dari yang aku ketahui." Ignacia tersenyum. Di depannya sudah ada buku yang akan digunakan untuk mencatat nama siswa yang meminjam buku. "Aku tidak sabar melihat para siswa memberikan kartu perpustakaannya padaku dan kukatakan kapan mereka harus mengembalikan bukunya."


Sudah lama sekali Nesya tidak merasakan suasana sekolah bersama Ignacia. Sekali lagi mereka dipertemukan dengan takdir yang aneh. Dunia keduanya seakan tidak ingin dipisahkan. Bedanya Ignacia tidak akan berada dalam satu kelas dengan dirinya. Tidak akan ada nama keduanya di dalam buku absen. Ketika jam istirahat, Nesya tidak bisa ditemani membeli minuman di kantin lagi.


"Nesya," kali ini temannya yang di panggil oleh seseorang. Ignacia ikut menoleh karena refleks alamiah. Si pujaan hati temannya datang. "Aku mencarimu kemana-mana. Kukira kamu belum datang, jadi ingin aku jemput." Tidakkah pemandangan ini tampak seperti sudut pandang Nesya ketika masih lajang?


Masih ada waktu sebelum keduanya mulai mengajar. Karenanya Nesya berniat menyapa temannya lebih dulu. Farhan tidak lupa menyapa Ignacia. Gadis itu hanya tersenyum ramah dan balik menyapa. Rasanya sepi jika Rajendra tidak ada disini. Suasana ini sangat cocok untuk ketua MPK di angkatannya itu. Sepertinya Ignacia kembali merindukan kekasihnya.


"Ignacia, kami pamit kembali ke ruang guru. Nanti siang mau makan bersama di kantin?" Nesya menatap temannya dengan mata berbinar. Ignacia tidak akan menolak jika di ajak. "Bagus, aku akan datang kesini siang nanti. Selamat bekerja, petugas Maheswari."


Seperginya mereka, perpustakaan berubah sangat sepi. Sambil menunggu ada yang datang meminjam buku paket atau yang lainnya, Ignacia akan mengecek iklan yang sempat ia buat mengenai Proofreader. Mungkin saja ada yang tertarik untuk menghubungi dirinya.


"Tidak apa-apa, semuanya butuh proses panjang." Untuk mengisi waktu, Ignacia membuka laman beberapa Proofreader senior. Melihat perkembangan mereka-mereka yang juga memulai dari awal. Di media sosial, Ignacia membuat akun untuk pekerjaannya ini. Dia bisa mendapatkan relasi disana.


Waktu berlalu begitu cepat. Ignacia sampai tidak sadar jika dua jam telah berlalu. Tidak ada yang datang. Bel jam istirahat pertama masih belum berbunyi. Pantas saja tidak ada yang datang. Selain itu, seseorang yang seharusnya bertugas bersama Ignacia hari ini berhalangan hadir. Ignacia benar-benar sendirian.


Si gadis menjauhkan dirinya sebentar dari laptop miliknya. Ia pandangi banyak rak buku yang berjejer di hadapannya. Mereka semua sama sepinya dengan Ignacia. Mungkin ada buku bagus yang bisa menemani Ignacia menetap hingga jam pulang. Ignacia turun dari kursi, mendekati rak-rak yang sudah ia bersihkan bersama seniornya kemarin.


Kemarin Ignacia banyak menemukan novel yang pasti disukai para remaja disini. Hampir semua genre tersedia. Hanya saja Ignacia tidak menemukan buku dari penulis favoritnya kala membersihkan rak. Tujuan gadis ini berpindah ke kubu rak yang seniornya bersihkan. Mungkin ada sesuatu yang menarik disana. Omong-omong Ignacia penasaran apakah koleksi bukunya di rumah bisa dibawa kemari.


Banyak buku penulis senior dan buku-buku referensi untuk tugas. Masih ada dua rak yang belum Ignacia jelajahi. Semakin jauh, tempatnya tampak lebih temaram. Cahaya matahari diluar tidak bisa sampai disini karena barisan rak di depannya. Ignacia lupa untuk menyalakan semua lampu yang ada. Namun tidak ada yang datang, jadi Ignacia mengurungkan niat untuk melakukan tugasnya.


Kejutan muncul, buku Nona Cream ada di rak terakhir. Ignacia langsung meraih salah satu buku disana. Kebanyakan buku Nona Cream disini juga ada di rumah Ignacia. Rasanya seperti berada di rumah sekarang. Si gadis duduk di lantai, bersandar pada rak sambil membuka isi buku. Isinya bisa langsung Ignacia ingat meksipun hanya membaca beberapa kalimat di halaman yang dibuka asal. Kenangannya juga kembali.


"Permisi." Ignacia langsung bangkit begitu mendapati seorang pria berdiri di ujung deretan rak buku. Oh rupanya kekasih temannya. Farhan kelihatan butuh bantuan. "Maaf, aku ingin meminjam tiga puluh lima buku paket untuk kelas sebelas. Nanti akan ada beberapa murid yang mengambilnya."


"Baiklah aku akan menulisnya sebentar." Begitu Ignacia kembali berdiri di belakang meja, beberapa murid datang sesuai kata Farhan. Mereka diminta menunjukkan kartu perpustakaan untuk di proses. Buku paket pun menggunakan kartu itu untuk dipinjam. "Tolong segera kembalikan setelah selesai digunakan." Ignacia mengingatkan para pelajar itu sebelum mereka pergi.


Farhan masih menetap di perpustakaan, masih berdiri di depan meja Ignacia. Perlahan tubuhnya berbalik, ada jeda beberapa detik tanpa ia melakukan hal lain. "Terima kasih, aku pamit pergi." Laki-laki itu tampak aneh. Tadinya tampak seperti akan mengatakan sesuatu tapi sekarang di melenggang pergi mengikuti murid-muridnya.


Hening lagi. Ignacia sempat membawa buku yang tadi ia temukan ke mejanya. Membaca buku sambil menunggu waktu berlalu mungkin akan membantu. Sayangnya membaca disini tidak setenang di rumah. Ada beberapa murid yang meminjam buku novel dan referensi begitu jam istirahat pertama dimulai. Jam sibuk pertama Ignacia datang.


Para murid yang meminjam buku paket kembali. Mereka menyusun bukunya di tempat semestinya dengan rapi. Sebelum pergi mereka menyapa Ignacia dan tersenyum ramah. Bergantian dengan beberapa murid lain yang akan meminjam buku paket lainnya. Mereka menggunakan waktu luang dengan baik agar tidak meninggalkan kelas lagi setelah jam masuk.


Banyak anak perempuan yang datang untuk meminjam novel romansa khas anak SMA. Beberapa ada yang menghampiri Ignacia untuk bertanya apakah buku yang mereka minta petugas perpustakaan simpan bisa diambil. Anak-anak seperti ini lebih suka membaca di tempat tenang ini daripada membawanya pulang. Setiap jam istirahat pertama mereka akan datang untuk sekedar membaca.


Nanti sebelum jam istirahat pertama berakhir, mereka akan meminta petugas untuk menyimpannya lagi. Kartu perpustakaan merasa juga diproses menjadi data. Kesibukan Ignacia semakin menurun. Satu persatu mereka yang duduk di dalam perpustakaan mulai meletakkan buku di tempat pengembalian lalu melenggang pergi setelah menyapa si petugas.


Begitu istirahat berakhir, keheningan kembali menemani Ignacia. Beruntung tidak ada yang menanyakan soal buku yang diambil si petugas tadi. Kembali ke mode membaca. Baru sampai di halaman selanjutnya, sudah ada beberapa murid lain yang meminjam buku paket. Mungkin sebaiknya ia sudahi membaca untuk saat ini dan menyusun kembali buku yang ada di tempat pengembalian.


Ignacia akan menulis balasannya begitu tugasnya selesai. Mencegah ia pulang terlambat karena harus menyusun bukunya kembali sebelum menutup perpustakaan. Seniornya bilang agar Ignacia mengembalikan buku begitu jam istirahat selesai. Sekolah meminta perpustakaan selalu tampak rapi dengan buku-buku yang selalu kembali ke tempat semula setelah dipinjam.


Ia suka pekerjannya yang harus mengembalikan buku ke tempatnya. Pekerjaan memproses kartu perpustakaan tidak seseru berjalan-jalan diantara rak buku. Cepat-cepat Ignacia kembali. Tidak sabar untuk membalas pesan kekasihnya. Tentu saja pekerjannya menyenangkan. Selain bisa menikmati suasana nyaman bersama buku, Ignacia juga hanya melakukan pekerjaan mudah kecuali jika ada kiriman buku.


Nesya datang sesuai perkataannya pagi tadi. Kebetulan Nesya tidak punya jam mengajar setelah jam istirahat kedua. Jadinya ia bisa bersama Ignacia setelah perpustakaan tutup. Kantin sangat sepi, hanya ada beberapa orang saja bersama keduanya. Jika lenggang begini rasanya nyaman sekali.


"Farhan tidak ikut?" Ignacia bertanya. Dikiranya mereka akan bertiga disini. Nesya menggeleng. Kekasihnya masih ada kelas dan dia akan mengantar Nesya pulang setelah selesai. Farhan sudah makan ketika jam istirahat tadi, jadi sekarang perutnya tidak ingin diisi lagi. Nesya tampak senang membahas soal Farhan. Ignacia tertarik dengan sisi lain temannya yang satu ini.


Nesya bertanya soal pekerjaan pertama Ignacia hari ini. Bagaimana kesannya setelah berinteraksi dengan para murid yang datang untuk meminjam buku. Dan apakah Ignacia senang bisa berada di perpustakaan yang dingin sepanjang waktu. Nesya yakin temannya ini pasti sangat betah apalagi jika perpustakaan tengah kosong. Dan keyakinan temannya benar.


Karena masih membahas soal perpustakaan, Ignacia penasaran dengan rekannya di perpustakaan. Besok ia akan bertemu dengan orang ini dan mungkin Nesya mengenalnya. "Kalau soal itu aku tidak tahu. Rekanmu juga orang baru, kita sama-sama belum pernah bertemu dengannya. Tunggu saja hingga besok dan kalian berkenalan untuk pertama kali."


Di perjalanan pulang, Ignacia berjalan bersama Nesya menuju tempat parkir guru dan staff. Farhan sudah menunggu di atas motornya. Matanya tidak berhenti menatap gadis berkacamata yang berjalan di samping Ignacia. Kali ini Ignacia yang akan menyaksikan momen manis temannya. Rasanya lucu melihat Farhan terus menatap lalu menyodorkan helm pada kekasihnya.


Hari esok cepat sekali datang. Ignacia datang lebih pagi lagi untuk membersihkan rak buku. Beberapa kali ia melirik ke arah pintu, mengecek apa rekannya sudah datang. Sampai selesai membersihkan semua rak dari debu, Ignacia masih belum melihatnya. Lalu ketika ia akan menyimpan kemoceng ke tempat alat pembersih, seseorang menyapa dari luar.


Buru-buru Ignacia menoleh, menunda langkah untuk masuk ke ruangan kecil itu. Matanya hampir membulat sempurna jika saja Ignacia lupa bahwa orang itu bisa melihat reaksinya. Wanita yang berdiri di ambang pintu juga sama terkejutnya. Tidak menyangka bisa bertemu dengan seseorang yang ia kenal sebagai kekasih tetangga depan rumahnya.


"Rupanya kamu, Ignacia. Kamu sudah datang sejak tadi?" Feby melangkah masuk dengan alas kaus kaki. Ignacia menyegerakan niat untuk mengembalikan kemoceng agar bisa menemui Feby dan berkenalan. Jujur saja sebuah kejutan bisa bertemu dengan teman kekasihnya ini. "Kelihatannya dunia mulai menyempit bagiku." Feby terkekeh lalu tersenyum.


Andai dia tahu jika dunia Ignacia sudah sangat sempit kemanapun dia pergi. Akhirnya Ignacia tidak perlu berurusan dengan komputer lagi. Sudah ada Feby yang bisa melakukannya. Keduanya mengobrol sebentar, mencoba mengakrabkan diri agar tidak canggung. Mereka akan menghabiskan waktu sangat lama disini mulai sekarang.


Di sela keheningan, Ignacia memilih untuk mengecek iklan yang ia pasang untuk pekerjaan keduanya. Ignacia merasa kurang bekerja keras. Ia tinggalkan ponselnya untuk membaca sebuah buku. Sementara itu Feby mencoba untuk membuka website yang ia gunakan untuk memproses kartu perpustakaan para murid. Untuk mengembalikan ingatannya saja.


Di tengah ketenangan pagi, Feby bertanya apakah Ignacia menyukai buku. Jika dilihat dari kesibukan rekan kerjanya ini, Feby bisa menyimpulkan demikian. Ignacia menandai paragraf dari bukunya sebelum mengangguk mengiyakan. Katanya Ignacia pasti betah berlama-lama disini karena ia menyukai buku. Sekali lagi Ignacia mengangguk.


Ignacia tidak banyak bicara, dia mengangguk dan menggeleng untuk pertanyaan yang tidak membutuhkan penjelasan. Feby berpikir jika sikap lucu ini pasti yang membuat Rajendra jatuh cinta pada gadis ini. Feby saja tertawa karena Ignacia menjawab begitu singkat. Antara Ignacia tidak suka basa-basi atau karena keduanya belum dekat.


Air wajah Ignacia berubah kala beberapa murid datang untuk meminjam buku paket. Ignacia meminta salah satu dari mereka menuliskan nama di daftar pengunjung lalu membiarkan mereka mengambil apa yang dibutuhkan. Sementara Feby memproses datanya. Setelahnya Ignacia tampak tidak bersemangat lagi.


"Ini pekerjaan pertamamu?" Feby bertanya.


"Iya, ini yang pertama untukku. Bagaimana denganmu?" Feby tersenyum kecil, akhirnya Ignacia bertanya balik padanya.


"Iya, aku juga sama. Hanya saja rasanya kamu lebih bersemangat ketika melakukan kesibukan disini. Apa mungkin karena masih baru?" Entahlah Ignacia juga tidak tahu. Dia hanya merasa kurang bekerja keras. Karenanya ia akan memberikan performa terbaik untuk hari-hari pertama dan seterusnya hingga masa jabatannya habis.


Ponsel seseorang bergetar di atas meja. Rupanya milik Feby. Ia izin keluar sebentar untuk menjawab telpon dari temannya. Rekannya ini bangkit dari duduk lalu menggeser tombol yang ada di layar. Karenanya tanpa sengaja Ignacia mendengar sebuah nama yang familier sebelum fokusnya kembali pada buku bacaan.


"Sarah, bagaimana keadaanmu? Kau sudah baik-baik saja? Berhentilah makan makanan pedas." Mereka pasti teman baik. Feby bahkan menanyakan soal keadaan gadis itu. Setelah kembali, Feby mengeluh pada Ignacia. Katanya temanya ini sering sekali makan makanan pedas karena merasa putus asa. Karenanya ia sekarang punya masalah di sistem pencernaannya.


"Kenapa dia putus asa?" Ignacia iseng bertanya.


"Karena dia diputuskan pacarnya."