Beautiful Monster

Beautiful Monster
Panggilan Video



Restoran menjadi ramai karena sebuah acara keluarga besar. Ada seorang petinggi di kantor ternama yang menyewa restoran terkenal ini untuk acara keluarga besarnya yang semakin besar karena pertunangan sang cucu yang sudah berumur 26 tahun.


Para karyawan baru bisa beristirahat setelah menjamu semua tamu dengan makanan penutup. Meskipun begitu, semua karyawan diharapkan tetap siap jika harus di panggil sewaktu-waktu. Semua karyawannya ada di dapur, duduk-duduk dan minum minuman dingin.


Tapi minus Rajendra.


Laki-laki ini diminta untuk membantu si pemilik restoran untuk melakukan sesuatu di pantry. Katanya Rajenda dapat membantu karena dia memiliki kekasih dan keduanya sudah bersama cukup lama. Padahal ada para senior yang siap membantu untuk urusan ini, tapi sang pemilik hanya butuh Rajendra.


"Saya merasa tidak enak pada para senior karena mengambil alih tugas yang penting," bisik Rajendra pada sang pemilik restoran, ayah dari teman satu kosnya. "Padahal mereka lebih berpengalaman dan tahu apa yang harus dilakukan."


"Jangan begitu. Jika kau merasa belum berpengalaman, maka ini saatnya untuk memperkaya kemampuanmu. Kita hanya perlu menghiasnya dengan krim dan... sudah selesai."


Sang pemilik restoran meletakkan krim dengan rasa manis ke sisi kue. Meletakkan hiasan terakhir untuk menandai potongan kue mana yang akan digunakan sebagai kejutan oleh si empunya acara di lantai dua. Senyumannya merekah karena berhasil membuat potongan kue yang terbaik dengan bantuan chef tadi.


"Rajendra, terima kasih sudah membantu. Saya memintaku untuk membantu saya agar kau bisa menyusup diantara tamu dan menemui seseorang. Katakan padanya potongan kue mana yang memiliki hadiah kecilnya."


"Karena saya baru bekerja disini?"


"Tentu saja," yang lebih tua melipat lengan bajunya, "anak baru sepertimu juga bisa dengan mudah menyelinap dan memberikan kode seperti yang kumau kan? Para pekerja yang lain sudah pernah melakukan ini ketika diminta menyembunyikan hadiah. Jadi saya harap kau menikmatinya, Rajendra."


Kue terakhir dibawa keluar dapur. Dibantu oleh beberapa pegawai untuk menyebarkannya ke tempat-tempat seharusnya kue itu berada. Si empunya acara benar-benar membuatnya terlihat seperti kebetulan yang menyenangkan.


Rajendra melakukan tugasnya seperti yang diminta. Menyelinap dan berbisik namun dengan gaya yang sudah dilatihnya bersama dengan beberapa senior. "Hadiahnya ada di kue yang ada di samping tangan kanan saya." Setelahnya Rajendra pergi.


Pada pegawai di tarik kembali. Mereka akan menonton acara selanjutnya, acara penemuan hadiah kecilnya dari jendela yang menghubungkan antara dapur dan tempat acara berlangsung. Tempat makanan diantarkan oleh para pelayan tadi.


"Rajendra, tidak ingin melihat acaranya?" panggil salah seorang senior, "kau pasti akan menyukainya. Hei, ini juga bisa digunakan untuk memberikan hadiah pada kekasihmu."


Rajendra berjalan mendekat tanpa suara. Dia sebenarnya akan menghubungi seseorang, tapi ucapan seniornya membuatnya tertarik. Dibawanya ponsel dan menyimpannya ke dalam saku. Dia akan melakukan niatnya nanti setelah acara yang ditunggu-tunggu selesai.


...*****...


"Kau yakin tidak apa-apa? Kau terlihat pucat. Kau tidur pukul berapa hingga terlihat sangat kelelahan begini?" Danita terus memperhatikan wajah Ignacia sambil berjalan. Temannya ini bersikeras untuk kembali ke asrama karena harus mengambil sesuatu yang penting.


"Aku akan menemuimu di kelas selanjutnya," tegas Ignacia kemudian segera berlari menuju gedung asrama. Dia harus cepat atau akan melewatkan kelas. Ucapannya tadi bahkan seolah bukan apa-apa padahal Danita yang mendengarnya saja menjadi terdiam tanpa suara.


"Dia menjadi sangat dingin," bisik Danita.


"Emosku tidak terkendali lagi," batin Ignacia.


Sesampainya di kamar, Ignacia langsung menuju ke arah tempat tidurnya. Mencari di sisi kasur untuk mencari sesuatu yang sangat penting. Dengan bodohnya Ignacia melupakan sesuatu ini hingga sepanjang kelas tidak bisa fokus. Hanya benda itu yang dapat membuatnya merasa baik-baik saja.


"Kenapa aku melepaskan semalam?" gusar Ignacia sambil terus mencari. Tangannya bergerak sangat cepat memindahkan bantal dan selimut yang tadinya sudah dilipat dengan rapi. "Kenapa aku begitu ceroboh?"


"Terima kasih, Ignacia. Aku akan melihatnya jika nanti aku merindukanmu."


Ignacia sudah mencari selama beberapa lama. Namun kenapa benda yang di carinya belum juga ketemu? Apa Ignacia sebaiknya segera kembali ke kampus dan melupakan barang kesayangannya untuk sementara? Tapi benda itu menghubungkan antara dia dan Rajendra.


"Aku seharusnya menjaganya dengan baik."


...*****...


Rajendra menyimpan senyumannya sambil melangkah keluar dapur. Dia mengambil tempat di halaman belakang yang ditutupi oleh langit sore. Tanpa dia sadari hari akan menjadi gelap dan restoran bisa segera ditutup begitu acara keluarga di dalam selesai. Sekarang waktunya istirahat sejenak.


Si laki-laki tinggi ini mengeluarkan ponselnya dari dalam saku apron, mengetikkan sesuatu dan membuka roomchat seseorang. Hatinya tengah senang dan berbunga-bunga karena melihat kejadian membahagiakan keluarga di dalam restoran.


"Apa aku harus menelfonnya saja?" Beo Rajendra.


Dengan segera jari Rajendra menekan icon berbentuk telfon yang ada di sisi atas roomchat. Tidak perlu menunggu waktu lama hingga panggilannya di angkat oleh seseorang di ujung sana. Rajendra menyapanya dengan bahagia, "hai, bagaimana harimu, Ignacia?"


"Maaf karena baru menghubungi sekarang? Apa semuanya baik-baik saja disana? Oh ya, kamu sedang tidak sibuk kan? Aku ingin mencuri waktumu sebentar." Rajendra tidak bisa menahan senyum saking bahagianya bisa mengobrol dengan sang kekasih.


"Hariku tidak terlalu baik. Aku tidak keberatan jika kamu mengambil seluruh waktuku. Bagaimana denganmu?"


Rajendra menyadari sesuatu yang tidak beres dengan suara wanitanya. "Ada apa? Sesuatu yang buruk terjadi?"


"Tidak, aku hanya sedang lelah."


"Kamu pasti membutuhkan istirahat. Omong-omong terima kasih untuk hadiah yang kamu berikan hari itu, Ignacia. Aku jadi selalu mengingatmu kerena pemberianmu."


"Aku senang kamu masih menyimpannya."


"Tentu saja. Semua yang kamu berikan adalah sesuatu yang sangat berharga. Mana mungkin aku menghilangkannya begitu saja. Ignacia, ulang tahunmu akan segera datang. Apa kamu tidak memiliki apapun untuk hari spesialmu?"


"Aku belum memikirkannya. Hari ujian semester sudah akan datang. Aku sedang sibuk memikirkan soal persiapannya daripada hadiah untukku."


Rajendra menatap sepatunya, "kamu pasti khawatir. Kamu bisa hubungi aku kapan saja jika ada hadiah yang kamu inginkan. Aku tidak ingin membuatmu merasa hampa karena aku tidak memberikan banyak perhatian."


"Pesan dan telfon darimu sudah jadi hadiahku setiap waktu. Tidak perlu berpikir macam-macam, Rajendra. Lagipula aku sudah dewasa, aku sudah bukan anak SMA lagi."


"Tepi tetap saja. Aku ingin memberikan sesuatu di hari yang penting untukmu."


"Rajendra," panggil seseorang menginterupsi, "acaranya akan segera selesai. Kita diminta berkumpul di dapur."


Si laki-laki menjauhkan ponsel dari telinganya, berbicara pada yang memanggilnya. "Ada apa, senior?"


"Ignacia, aku harus segera kembali. Kita bicara lagi nanti, ya? Oh ya sebelum itu, apa kamu memiliki tugas nanti malam? Malam ini aku akan mengerjakan tugas yang tidak begitu sulit. Bagaimana jika kita melakukan panggilan video sambil mengerjakan tugas?"


Rajendra jadi ingat hari dimana dirinya dan Ignacia akan melakukan study date. Rajendra begitu gugup hingga tangannya bergetar akibat tatapan Ignacia padanya. Sudah bertahun-tahun bersama namun ada rasa canggung dalam Rajendra jika ditatap begitu intens begitu.


"Iya, aku harus mengerjakan sesuatu nanti malam. Ayo lakukan apa yang kamu katakan. Katakan saja padaku pukul berapa."


"Akan aku kirimkan pesan nanti. Sampai jumpa." Rajendra mematikan panggilan, menyimpan ponselnya dan buru-buru pergi mengikuti seniornya.


...*****...


Di atas tempat tidur, Ignacia masih memposisikan ponselnya di dekat telinga padahal sudah tahu jika panggilan sudah diakhiri. Tangannya menggenggam lemah ponselnya sementara tangan lainnya tengah menggenggam sesuatu. Tatapannya menatap pada jendela kamar yang terbuka sedikit.


"Entah keajaiban apa yang kudapatkan. Kamu datang setelah kuambil barang yang membuatmu ingat padaku," gumam Ignacia. Perlahan tangannya menjauh dari kepala, diletakkan sembarang ponselnya di atas tempat tidur.


"Ada apa denganku? Ditinggalkan sebentar saja sudah membuatku kelewat gila. Apa aku sebaiknya membaca buku seperti dahulu? Buku fisik yang bisa kugenggam lagi."


...*****...


"Iya, aku sudah membungkus satu kotak penuh buku. Kakak sepertinya akan sulit membawanya kembali setelah kuliah kakak selesai. Kakak tau, anak laki-laki keluarga kita bisa bertumbuh cepat dalam waktu empat tahun. Mobil kita akan penuh jika kakak benar-benar ingin aku mengirimkan kotak-kotak ini."


Athira menjepit ponsel dengan bahu agar masih dapat berbicara dengan sang kakak sambil meletakkan buku-buku yang diambil dari lemari sesuai daftar yang diberikan kakaknya. Bahkan Ignacia mengingat semua buku yang sudah dibacanya di dalam satu rak penuh.


"Aku kagum kakak mengingat semua judul bukunya," puji Athira sambil tersenyum. Masih dengan kegiatannya memindahkan buku terakhir.


"Terima kasih atas bantuanmu, Athira."


"Sama-sama. Tapi kenapa kakak menginginkan buku kakak yang sudah selesai dibaca? Kenapa kakak tidak membaca novel online saja jika ingin hemat?"


"Rasanya berbeda. Aku lebih suka sensasi membuka lembaran buku daripada menggulirkan layar ponsel."


"Ah begitu rupanya." Athira duduk di depan rak buku, memandangi ruangan kakaknya yang sudah kosong selama beberapa Minggu belakangan. Ingatannya kemudian kembali pada sesuatu yang mungkin bisa membuat kakaknya kembali bersemangat di kota yang jauh itu.


"Aku akan mengirimkan sesuatu juga untuk kakak. Akan kumasukkan ke dalam kardus lain."


"Apa itu?" tanya kakaknya.


"Kakak tidak perlu tahu. Omong-omong aku ingin bertanya sesuatu pada kakak. Apa kakak kembali merasa tidak nyaman? Kukira kakak sudah bisa lepas dari buku-buku ini." Athira merasa tidak enak setelah bertanya. Dia hanya mendapati kesunyian dari sang kakak yang sekarang entah sedang apa.


...*****...


Ignacia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Mencoba untuk membuat senyuman yang mampu membuat kekasihnya kembali bersemangat. Malam ini emosinya tengah tidak stabil tanpa alasan. Jadinya Ignacia harus membuat topeng agar bisa menyenangkan si laki-laki.


Mungkin hanya malam ini keduanya bisa mengobrol lewat panggilan video sambil mengerjakan kesibukan masing-masing. Ignacia tidak akan membuat laki-lakinya kecewa. Meskipun itu artinya dia harus menyembunyikan banyak hal. Semua hal buruk yang dia rasakan bukan karena Rajendra. Jadi tidak ada alasan bagi Ignacia untuk menunjukannya.


Rajendra akan memulai sedikit terlambat karena baru pulang dari restoran. Jadinya dia meminta agar Ignacia memulai lebih dahulu dan si laki-laki akan menelfon begitu dia sudah siap. Bahkan hanya melakukan panggilan video saja membuat Ignacia gugup. Sudah lama dia tidak melihat kekasihnya.


Di tengah kegiatan belajar untuk ujian, Ignacia seperti mendengar suara ketukan pelan dari pintu kamarnya. Meski merasa ragu, Ignacia tetap bangkit untuk melihat siapa yang datang. Begitu pintu dibuka, seseorang diluar langsung menyodorkan sesuatu padanya.


"Aku membawakan makan malam," ucap seseorang ini. Tetangga sebelah kamarnya. "Aku melihatmu murung sepanjang hari. Aku ingin membuatmu merasa lebih baik dengan makanan enak. Kau tau, makanan enak adalah sumber kebahagiaan. Obat dari segala penyakit hati."


Senyuman Danita mengalihkan perhatian Ignacia dari apa yang dia rasakan. Senyuman itu bahkan menular padanya. Perlahan Ignacia mengambil alih makanan yang di sodorkan, "terima kasih untuk perhatianmu, Ta. Kurasa yang kubutuhkan selama ini hanya makanan enak."


"Benar kan yang kukatakan?" bangga si gadis berambut pendek, "kalau begitu makanlah dan beristirahat. Jika ada sesuatu yang ingin kau bicarakan, kau bisa menemuiku. Ujian juga akan segera datang. Jangan terlalu fokus hingga melupakan sesuatu yang ada di sekitarmu, oke?"


Ignacia mengangguk, sekali lagi mengucapkan terima kasih. Danita senang usahanya berhasil untuk membuat tetangganya tersenyum. Setidaknya untuk malam ini Danita tidak akan melihat tetangganya merasa sangat buruk.


"Kalau begitu aku akan pergi ke kamarku. Sampai jumpa, Ignacia." Gadis itu melenggang pergi, melambaikan tangan kemudian berhenti di depan pintu kamarnya sendiri.


Baru saja Ignacia duduk, dan sebuah panggilan video masuk ke ponselnya. Langsung saja dia geser tombol hijau di layar. Seseorang sudah menunggu dengan senyuman cerah di ujung panggilan. Rasanya sudah lama Ignacia tidak melihat wajah ini. Wajah yang membuatnya begitu bahagia.


"Halo, bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu."


"Aku baik-baik saja. Aku juga merindukanmu. Rajendra, lihatlah apa yang dibawa tetangga asramaku." Ignacia mengangkat bungkusan yang di berikan Danita tadi. Senyumannya merekah melihat Rajendra tersenyum semakin lebar.


"Kelihatannya kalian rukun sekali. Ignacia, ada yang ingin kukatakan padamu." Air wajah yang ada di layar ponselnya itu tampak sedikit serius.


"Apa itu? Langsung katakan saja."


"Maaf sudah membuatmu merasa kesepian." Tatapan mata si laki-laki tampak tulus. "Aku mendengar dari Athira jika kamu menginginkan beberapa buku dari rumah. Kudengar itu juga dalam pengiriman sekarang."


"Apa hubungannya buku dengan rasa kesepian? Kamu ini ada-ada saja. Aku ingin beberapa bukuku karena aku bosan membaca lewat online."


"Tapi kamu membaca banyak buku saat kesepian. Saat aku banyak meninggalkan kamu dengan kegiatanku, yang kamu lakukan membaca banyak buku."


"Itu bukan karena aku kesepian," Ignacia terkekeh, "kamu tahu jika aku sangat menyukai semua buku milikku. Sudah lama aku tidak membacanya kembali karena berada disini. Jadi aku agak merindukan semua tokoh utamanya."


"Kamu yakin tidak sedang berbohong?"


"Tidak begitu yakin, tapi..." Ignacia mengalihkan pandangan, "...aku juga tidak memiliki alasan untuk berbohong."


"Ignacia, ada yang tidak bisa kamu katakan padaku soal hubungan ini? Soal kenapa kamu merasa begitu membutuhkan semua buku itu?"