
Pagi harinya, Ignacia buru-buru bangun agar bisa membersihkan wajahnya lagi. Setelah mengobrol dengan ayahnya semalam, Ignacia sudah membasuh wajahnya agar tidak meninggalkan bekas di kemudian hari. Sayangnya Ignacia menggagalkan usaha itu dengan kembali menangis sebelum tidur. Ucapan ayahnya membuatnya amat kebingungan.
Karena itu ayahnya menolak keras jika Ignacia berkencan semasa sekolah dulu. Alasan masuk akal kenapa ayahnya tidak ingin anaknya tidak diperbolehkan untuk menjalin hubungan romantis dengan laki-laki. Mendekati kaum Adam saja tidak diperbolehkan dahulu ketika masih SMP. Hingga Ignacia melanggar dengan menjalin hubungan payah bersama Bagas.
Athira terbangun ketika merasakan matahari menyentuh pipinya. Ia tidak menemukan keberadaan ayah dan kakaknya pagi itu. Sang ayah kemungkinan besar tengah minum kopi di halaman belakang karena ada bau kopi dari arah sana. Lalu dimana kakaknya? Athira bangkit, mengecek apakah kakaknya bersama sang ayah.
"Mau kopi?" Ayahnya menawarkan ketika menyadari keberadaan Athira di bingkai pintu. Anak keduanya itu menggeleng, dia menanyakan keberadaan kakaknya. Takut-takut semalam ia hanya bermimpi kakaknya ada di rumah. Kata ayahnya, Ignacia sepertinya ada di kamarnya. Kemudian besar tengah melakukan ritual pagi.
Belum juga sampai di depan pintu kamar kakaknya, Athira dikejutkan dengan kakaknya yang tiba-tiba muncul. Rupanya keberadaan kakaknya bukan mimpi. Oh jika dilihat-lihat kenapa mata kakaknya tampak sembab? "Kakak bertengkar dengan Kak Rajendra?" Hanya itu yang bisa Athira tebak. Kejadian semalam pasti juga tak terpikirkan olehnya.
"Tidak, aku hanya merindukannya."
Kakaknya tidak terlihat berbohong, apalagi dengan wajah tanpa semangat itu. Baiklah, Athira percaya saja. "Kalau kakak baik-baik saja, bagaimana jika kakak mengantar aku membeli beberapa peralatan untuk kuliah?" Permintaan tolong lain sebelum sang adik menempati kosnya selama tiga hari untuk menyesuaikan diri.
Ignacia tidak akan menolak. Tempat yang Athira ingin kunjungi ada di dalam sebuah toko buku yang biasa Ignacia datangi selain yang di mall. Ya dulu Ignacia sering datang kesana, menghambur-hamburkan uang untuk mencintai dirinya sendiri dengan membaca banyak buku yang ia mau. Sekarang Ignacia akan pergi kesana lagi.
Kakak beradik ini pergi tepat setelah makan siang. Dapur sudah kembali ke keadaan semula dan digunakan untuk makan sebagaimana mestinya. Ignacia malas untuk berkendara, jadi ia biarkan Athira yang melakukannya. Ia akan mempercayakan nyawa juga keselamatan motornya pada sang adik. Biar dia bisa melihat sekeliling sementara keduanya menuju toko buku.
Athira bercerita jika dirinya banyak membuat lukisan di buku sketsa daripada kanvas agar kamarnya kembali lenggang. Terlalu memakai kanvas terlalu banyak memakan tempat. Apalagi dirinya adalah tipe seniman yang selalu ingin memayang hasil karyanya di dinding. Alhasil kamarnya mirip pameran seni.
Ignacia tentu mendengarkan semua cerita adiknya sepanjang perjalanan. Mereka sudah lama tidak mengobrol. Si kakak meletakkan kepalanya di bahu sang adik, agar lebih mudah mendengar ceritanya saja. Setelah ceritanya selesai, Ignacia akan kembali ke posisi semula memperhatikan sekitar jalan.
Seperti yang ingat dulu, toko buku ini selalu ramai dikunjungi mereka yang berstatus pelajar. Lebih banyak pelajar daripada mereka yang sudah beranjak dewasa. Satu-satunya alasan adalah karena harganya ramah sekali untuk pelajar padahal semua bukunya buku asli.
Athira membawa kakaknya pergi ke rak yang menjual banyak cat juga kuas. Anak ini sudah punya banyak namun masih ingin membeli yang baru. Alasannya karena ada yang rusak dan kurang nyaman dipakai. Juga ia akan membedakan kiss untuk di rumah dan kuas keperluan kuliah. Untuk cat, beberapa warna sudah habis dan harus diisi ulang.
"Kakak bisa melihat-lihat buku di lantai dua jika mau. Tidak perlu mengikuti aku disini"
Ignacia yang tadinya berdiri diam memperhatikan adiknya melihat-lihat banyak warna cat lalu berlalu pergi sesuai usulan si adik pertama. Mana mungkin dia akan menolak. Berpesan untuk menghubungi dirinya jika urusannya sudah selesai. Ignacia tidak berencana memilih buku apapun, kecuali ada yang menarik perhatiannya.
Di atas lebih banyak pelajar daripada di bawah. Mereka mengerubungi rak buku fiksi yang diterbitkan dari aplikasi novel daring. Kelihatannya ada buku keluaran terbaru dari penulis terbaru mereka. Ignacia menelusuri rak buku lain. Mencari buku bergenre ringan, sebagai teman menunggu Rajendra. Ah kebiasannya menunggu dan melampiaskan pada novel kembali lagi.
Nona Cream mungkin mengeluarkan novel baru. Ignacia ingin mencoba mencarinya disini. Ya meksipun dia tidak tahu pasti apakah tahun ini penulis kesukaannya itu akan menerbitkan buku baru. Ignacia tidak terlalu fokus pada hal yang ia sukai akibat sibuk kuliah. Jika Ignacia bermimpi menjadi partner Nona Cream, apakah sedikit berlebihan? Agar bisa tahu kegiatannya saja.
Ah tapi Ignacia tidak punya kemampuan menulis novel. Yang ia bisa hanya membaca. Jika banyak membaca, tentu bisa menulis. Gagasan itu bagus, Ignacia bisa mencobanya suatu saat. Seorang gadis melewati Ignacia sambil menggenggam sebuah novel. Dari segi cover, Ignacia seperti melihat novel yang punya ciri khas dari Nona Cream.
Ingin rasanya dia menghentikan orang itu dan bertanya ia mendapatkan darimana buku itu. Tampak seperti buku yang berlum pernah Ignacia tahu sebelumnya. Lalu sampai di ujung lorong, Ignacia melihat dengan jelas siapa gadis yang baru ia temui tadi. "Utari, itu kau?" Ignacia bertanya ragu-ragu.
Ketika gadis itu menoleh, mata bulat si gadis bertemu dengan manik coklat Ignacia. Benar, itu temannya yang berkuliah di tempat yang jauh hingga keduanya belum pernah bertemu. Utari terkejut dengan keberadaan temannya. Ia berjalan ke arah Ignacia lalu memeluk temannya itu. Bukannya senang, ia malah menangis di bahu temannya.
Beruntungnya mereka berada di tempat yang lumayan sepi hingga Ignacia tidak perlu menjelaskan apapun pada mereka yang melihat. Utari menangis dalam diam, bibirnya tampak bergetar sebelum memeluk Ignacia tadi. Gadis ini pasti punya banyak hal untuk di ceritakan. Keduanya harus duduk dan mengobrol di suatu tempat.
Disana Utari di tenangkan. Punggungnya di teluk pelan sebagai dukungan emosi. Selama lima menit Utari masih memeluk temannya. Berulah setelahnya pelukan melonggar dan Ignacia bisa melihat wajah basah si teman. Seperti yang Ignacia pikirkan, Utari memiliki cerita sedih untuk dikatakan.
Terpaksa Ignacia meminta adiknya untuk pulang lebih dahulu. Jika Ignacia sudah akan pulang, Athira akan dia hubungi untuk menjemput. Sekarang ia ada urusan dengan temannya. Utari dibawa keluar toko buku. Di trotoar depan sana ada bangku yang masih kosong. Yang di ajak menurut saja, menahan semua sesak sebelum bercerita.
Ini tentang laki-laki yang disukai Utari. Laki-laki yang ia ceritakan ketika reuni bersama teman-teman terakhir kali. Ya itu dia Ilham si laki-laki kukis. Setelah lama keduanya saling kenal dan dekat, Utari harus menerima kenyataan pahit karena Ilham mengencani orang lain. Utari menyalahkan dirinya karena terlalu berharap para orang yang tidak mengetahui perasannya.
Yang makin miris, perempuan yang Ilham kencani adalah seorang gadis dari kelas Utari. Dia lebih baik daripada Utari dalam semu mata kuliah. Dia jadi paham kenapa orang sesempurna Ilham bisa menyukai temannya. Selain cantik dan pandai, kepribadiannya juga baik. Utari merasa tidak bisa menandinginya.
Utari sadar sepenuhnya jika Ilham tertarik padanya hanya karena keduanya punya hobi yang sama, hanya saja melihat laki-laki baik yang ia sukai membuat hati terasa sakit. Utari melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Ilham bergandengan tangan dengan kekasihnya. Di hari yang cerah kenapa Utari harus melihat Ilham bersama orang yang bukan dirinya?
Kesedihan yang dia pendam selama menonton kemesraan laki-laki yang ia sukai langsung meledak begitu melihat Ignacia. Orang yang ia yakini bisa membuat dirinya merasa lebih baik. Dirinya memang berada di universitas yang sama dengan Indri, rasanya berbeda jika bukan bercerita pada Ignacia.
"Setelah mereka berkencan, Ilham jadi jarang mengirimkan pesan padaku di game. Padahal awalnya kami banyak mengobrol sambil bermain bersama disana. Rasanya seperti kehilangan sosok teman dekat baru."
Mungkin wajar jika Utari merasa tersakiti sendirian. Karena mereka memang tidak menjalani hubungan apapun selain teman baik. Sikap Ilham wajar jika mulai jarang menghubungi Utari di game keduanya. Sikap yang akan dilakukan laki-laki baik manapun yang sudah menjalin hubungan dengan seorang gadis pujaannya. Hanya saja sikap Ilham terlalu baik hingga sakit Utari semakin dalam.
Ignacia bingung harus bicara bagaimana. Yang bisa dilakukan hanya mendengarkan, memberikan perhatian penuh. Utari juga menambahkan jika dirinya beberapa kali membuat kukis untuk Ilham sebelum ia tahu jika kukis-kukis itu dimakan bersama kekasihnya. Gadis itu yang memberitahu Utari, dia berterima kasih untuk kukisnya.
Mungkin seharusnya yang kecewa itu kekasih Ilham karena ada seorang gadis yang membuatkan kekasihnya kukis beberapa kali. Jika Ignacia ada di posisi itu, dirinya akan merasa terluka. Takut jika nanti kekasihnya berubah pikiran. Hubungan Ilham dengan gadis itu pasti lebih bermakna. Si gadis sampai berterima kasih pada Utari dengan sopan.
"Aku malu jika harus berhadapan dengan temanku, Ignacia. Aku khawatir tentang apa yang dia pikirkan karena aku perhatikan pada kekasihnya." Utari menatap Ignacia, "Kurasa dia kecewa, marah, bercampur sedih. Seperti saat mendapati Rajendra mengobrol dengan perempuan lain kan?"
"Kamu yang paling tahu, Utari."
Utari mengembuskan napas panjang, menyandarkan tubuh tegang ke sandaran. Dirinya sudah menyerah, hanya saja kurang baik jika tidak ia ceritakan pada seseorang. Sekarang dia akan melupakan perasaan yang sudah ia rasakan selama empat tahun terakhir. Anggap saja yang kemarin hanya sebagai hiasan untuk dunia Utari yang belum berbunga-bunga.
Ignacia masih harus menunggu Athira setelah kepergian temannya. Mendengar cerita Utari tadi, apa mungkin Rajendra bisa mendapatkan perhatian yang sama? Maksudnya mungkin ada seorang gadis yang memberinya sesuatu karena tidak tahu jika Rajendra sudah ada yang punya. Jika benar begitu, Rajendra akan memberitahu Ignacia atau tidak?
"Kak," Akhirnya yang di tunggu datang juga. "Teman kakak tadi baik-baik saja? Aku sedikit khawatir."
"Ya, dia baik-baik saja. Kurasa dia hanya meledak karena menunggu waktu hingga bisa bercerita padaku."
Sesampainya di rumah, Ignacia langsung pergi ke kamar. Utari yang terlihat kacau benar-benar membuatnya takut sekaligus merasa bersalah. Seharusnya dahulu Ignacia tidak menyemangati Utari untuk mendekati Ilham. Salahnya karena memberikan dukungan atas apa yang temannya rasakan.
Ponselnya menyala, sebuah pesan masuk. Rajendra mengirimkan pesan. Ignacia menatap ponselnya tanpa berniat meraihnya. Nyawanya seperti tersisa setengah, tidak kuat untuk sekedar meraih ponsel di atas tempat tidur. Tangannya bergetar, takut menghadapi Rajendra.
Karena Ignacia tidak kunjung memberikan respon, Rajendra beralih ke panggilan suara. Sebaiknya Ignacia angkat sebelum membuat kecemasan pada sang kekasih. "Ignacia, halo. Aku sangat merindukanmu." Suara Rajendra terdengar begitu bahagia. Dia layangkan semua perhatian pada sang kekasih.
Rajendra minta maaf karena sudah melewatkan jam berkirim pesan. Dirinya sibuk hingga sekarang baru bisa menghubungi. Kabarnya si laki-laki tengah makan sekarang. Jadi anggap saja makan sambil mengobrol seperti biasa. Bibir Ignacia bergetar, lidahnya kelu untuk berbicara.
"Ignacia, kamu ada disana? Kenapa kamu tidak merespon? Ignacia, kamu baik-baik saja?"
Tubuh Ignacia jatuh ke lantai. Kedua kakinya kehilangan kekuatan untuk berdiri. Ponsel di tangannya lepas dari genggaman. Pertanyaan Rajendra membuat bendungan di pelupuk matanya retak. Membanjiri pipi mulus Ignacia. Isakannya terdengar oleh Rajendra, membuat yang mendengarnya panik.
Ignacia menangis sendirian, sekuat tenaga tidak membuat kebisingan. Dia bekap mulutnya sendiri menggunakan tahan, setelah kejadian semalam, sekarang dirinya membuat orang lain menderita. Kenapa Ignacia harus mengatakan itu pada Utari? Kenapa harus Ilham yang menggagalkan kebahagiaan temannya itu? Kenapa dunia membuat Ignacia merasa sangat buruk?
Namanya terus di panggil, Rajendra hampir putus asa karena hanya ada suara isakan. Tak lama setelahnya, suara pintu yang dibuka tiba-tiba membuat gaduh. Dari suaranya, mungkin Athira yang datang. Isakan kakaknya hampir berhenti, wajahnya sampai memerah akibat berusaha menahan.
Si adik membawa kakaknya ke dalam pelukan, mencoba menenangkan seperti yang harus dilakukan. Athira melihat sekeliling, mendapati ponsel kakaknya masih terhubung dengan panggilan seseorang. Athira mencoba menjelaskan apa yang terjadi, mengatakan bahwa nanti kakaknya akan menghubungi Rajendra. Panggilan langsung berakhir.
"Aku menyemangati Utari untuk mendekati seorang laki-laki. Tapi rupanya--orang itu berkencan dengan orang lain." Rasa sesak menyelimuti hati Ignacia. Ini pasti efek samping dari pembicaraan dengan ayahnya semalam. Hati Ignacia semakin sensitif apalagi setelah ada seseorang yang memeluknya sambil menangis kesakitan.
Tidak ada gunanya untuk mengatakan bahwa kakaknya tidak bersalah. Athira kehilangan kata-kata. Kakaknya tampak begitu sedih, menyalahkan dirinya berkali-kali. Athira yakin jika apa yang kakaknya adukan tapi bukan karena campur tangan sang kakak. Tuhan sudah membuat alur lain untuk temannya, bukan salah Ignacia.
"Aku merasa bersalah padanya. Utari menangis," lirih Ignacia lagi.
Athira menguatkan dekapannya. Dari bingkai pintu, seluruh keluarganya berdiri menatap kakak beradik disana. Ikut merasa sakit mendengar isakan si anak pertama.