
Hari pertama PTS. Tidak ada yang aneh. Hanya hari biasa karena nilai-nilai untuk PTS kebanyakan diambil dari ulangan harian atau tumpukan tugas-tugas dari awal semester hingga saat ini.
Sekolah diawali dengan kelas olahraga yang tidak melelahkan. Hanya ada pemanasan ringan sebelum menonton orang-orang yang harus melakukan remidi basket dan lari.
Hawanya lumayan panas meskipun masih belum pukul sembilan. Ignacia duduk di tepi lapangan menatap orang-orang yang remidi bersama dengan teman-teman lain yang bebas remidi. Jadi bersantai saja hingga jam olahraga berakhir.
Selanjutnya ada kelas yang satu jam pelajarannya kosong. Entah karena gurunya yang lupa atau memang sang guru ada kesibukan. Bel berbunyi, menunjukkan jam pelajaran selanjutnya. Masih dengan mata pelajaran yang sama. Ekonomi.
Gurunya datang di empat puluh menit terakhir. Melanjutkan materi yang kemarin, ditambahkan dengan materi baru dan mengerjakan soal. Bukan hal sulit, tapi juga tidak bisa dikatakan mudah juga. Makin kesini makin banyak yang harus dihitung dengan tabel yang juga bertambah dalam akuntansi.
Ignacia iseng melihat keluar ketika tidak ada yang memperhatikan. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu. Ketika Rajendra dan Sarah tampak begitu dekat. Rajendra bahkan masih bisa memberikan waktunya untuk Sarah. Sementara dengan Ignacia saja sekarang semakin jarang.
Pesan tidak lagi datang jika bukan Ignacia yang memulainya.
Ignacia tidak akan membahas soal rasa kecewanya karena seperti ditinggalkan. Dia seharusnya paham jika kelas dua belas memang akan sesibuk ini. Tidak sepantasnya dia merasa kecewa jika kehilangan seseorang yang selalu dia pikirkan. Tapi siapapun boleh kecewa dengan apa yang dilakukan orang lain kan?
"Mau antar aku ke kantin?" Nesya datang, duduk di samping Ignacia yang kebetulan duduk sendirian. Teman sebangkunya pergi ke meja lain dan meninggalkan Ignacia sendirian.
Ignacia mengangguk dan mengekor di belakang Nesya. Membuat yang mengajak keluar jadi kebingungan dengan sikap temannya yang sungguh tidak memiliki tenaga apapun. Di kelas olahraga hari ini saja dia tidak banyak bersuara.
"Sesuatu terjadi?" Pada akhirnya Nesya bertanya untuk memastikan. Jika tidak ditanya, kemungkinan besar Ignacia tidak akan menjelaskan apa yang terjadi.
"Tidak, lupakan saja." Ignacia jelas tengah berbohong.
Nesya mencoba untuk menarik tangan Ignacia agar berjalan beriringan. Bisa dirasakan jika Ignacia seolah tidak memiliki nyawa saking lemasnya. Jika gadis berambut panjangini tidak ingin bicara tentang apa yang membuatnya terganggu, ya biarkan saja.
...*****...
...Rajendra ఇ ◝‿◜ ఇ...
| Ignacia, ayo bertemu di akhir pekan
| Ada hal penting yang ingin ku bicarakan
Tadinya Ignacia hanya ingin mengecek ponselnya sebelum mengisi daya. Tanpa sengaja mendapati pesan yang datang sepuluh menit yang lalu. Akhir pekan ini Rajendra mengajak bertemu? Itu artinya setelah PTS selesai.
Berhari-hari dilalui Ignacia tanpa ingin memperhatikan Rajendra. Jika dipikir-pikir, sikapnya sangat menyebalkan dan kurang empati. Tapi mau bagaimana lagi? Ignacia belum terbiasa merasa nyaman di posisi kesepian setelah memiliki kekasih.
"Tidak apa-apa, Ignacia. Sebentar lagi akhir pekan datang."
...*****...
Akhir pekan.
Waktunya bagi Ignacia untuk pergi menemui Rajendra. Ignacia menyarankan untuk bertemu saja daripada harus menjemput. Lagipula ayah dan mamanya tengah libur juga akhir pekan itu. Lebih baik Ignacia mencari cara untuk pergi keluar sendiri tanpa membuat kecurigaan apapun.
Setelah izin di dapatkan, Ignacia melangkah keluar rumah dengan mengendarai sepeda motornya. Tempat bertemunya ada di pusat kota. Beruntung Ignacia tahu jalan kesana karena Rajendra sering mengajaknya. Siapa lagi yang bisa membuatnya hafal jalanan-jalanan di kota jika bukan Rajendra?
Udara pagi ini cukup hangat. Namun kehangatannya justru membuat Ignacia tidak nyaman. Perasannya bilang jika mungkin hari ini tidak sebagus yang di harapkan. Entahlah, Ignacia hanya merasakan aura tidak enak setelah lama ditinggalkan sendiri.
Alun-alun kota. Tempat keduanya bertemu.
Ignacia mulai mengedarkan pandangan mencari keberadaan Rajendra. Laki-laki itu seharusnya sudah sampai lebih dulu karena dia keluar lebih dulu daripada Ignacia. Langkahnya menelusuri sekitar alun-alun yang ramai. Di akhir pekan, ada banyak keluarga yang sedang menikmati hari bersama.
"Untukmu," sebuah suara datang disertai sodoran es krim vanila kesukaan si gadis.
Rajendra sepertinya sudah menunggu dan berencana memberikan kejutan. Ya meksipun itu artinya makan es krim di pagi hari. Tidak masalah untuk Ignacia. Toh dia senang mendapatkan es krim kapan saja.
Keduanya mencari tempat duduk untuk bicara dan makan es krim. Yang tersisa hanya bangku dekat air mancur di tengah alun-alun. Agak berisik karena ada banyak anak kecil yang berlarian dan tertawa bahagia. Tapi tentu tidak apa-apa selama Rajendra dan Ignacia bisa saling mendengar saat bicara.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Ignacia to the point. Jika bisa diselesaikan dengan cepat, maka keduanya bisa menikmati sisa hari bersama.
Ignacia menoleh, menatap laki-laki yang sibuk dengan es krim coklatnya. Kelihatannya sedang mencari-cari kalimat yang tepat untuk diutarakan.
"Kamu tahu, aku akan melakukan ldks sebentar lag,." Rajendra tidak berani menatap kekasihnya, "dan ldks ini akan memakan waktu seminggu. Aku tidak akan bisa dihubungi dan akan menjawab pesan dengan terlambat."
Ignacia tidak merespon, mendengarkan tanpa menginterupsi.
"Jadi maafkan aku jika aku akan menghilang lagi seperti saat pergi keluar pulau. Jika ingin, kamu kirimkan saja pesan padaku. Nanti aku akan membalasnya."
Ignacia menggeleng ringan, "aku tidak akan menganggumu. Jadi tenang saja. Aku akan mencari teman sendiri. Juga, ada banyak novel yang bisa kubaca. Aku membeli beberapa buku secara online agar tidak kesepian." Ignacia bicara dengan santainya meksipun merasa hatinya sedikit sakit.
Rajendra pasti akan mengambil banyak gambar dengan teman-teman perempuannya lagi. Selalu saja seperti itu. Bahkan terakhir kali, Ignacia mendapati Rajendra mengambil video seorang perempuan yang berjalan di depannya. Tidak tahu apakah mereka hanya berdua di lorong hotel, yang jelas seharusnya Rajendra tidak melakukan itu.
"Iya, kamu pandai menjadi sibuk."
"Aku akan pergi keluar kota untuk pergi ke acara penandatanganan buku penulis yang kusuka." Ignacia sudah tidak tahan lagi. Sontak ucapannya membuat kedua mata hitam Rajendra hampir membulat sempurna. Kekasihnya akan pergi keluar kota demi acara penandatanganan buku?
"Dengan siapa?"
"Mamaku."
"Kapan?"
"Awal bulan depan." Jawaban kali ini juga membuat Rajendra terkejut. Wah dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tepat sekali dengan hari terakhirku ldks. Kalian akan menggunakan kereta pagi dan kembali sore hari?"
Ignacia mengangkat bahu tidak tahu. Dia tidak ingin memberitahu Rajendra tentang rencananya. Toh Ignacia akan tetap ditinggalkan seperti biasanya.
"Hanya itu yang ingin kamu katakan?" Rajendra mengangguk.
...*****...
Minggu yang sepi pun dimulai. Sekolah diliburkan dua pekan, memberi waktu bagi semua ekstrakurikuler melakukan ldks dengan para anggota baru. Ignacia keluar dari klub perpustakaan setahun yang lalu. Alasannya tentu karena orang-orang di perpustakaan sepertinya tidak cocok dengannya.
Jadilah Ignacia menganggur dan hanya membaca novel. Tapi semuanya berakhir ketika sebuah pesan datang ke ponselnya. Pesan yang dapat membuatnya bangkit dari tempat duduk dan mendatangi taman kebanggaan perumahan. Athira dan sang mama yang baru kembali dari toko sayur saja terheran-heran.
| Aku kembali untuk liburan
| Bagaimana jika kubelikan Thai Tea lagi?
Lupakan saja soal Rajendra yang bersikeras jika Bahri tidak hanya berniat berteman dengannya. Toh laki-laki itu tidak akan tahu tentang semua ini. Rajendra hanya akan sibuk dengan organisasinya. Soal membalas pesannya mungkin sebuah kebohongan. Tidak ldks saja dia sudah tidak bisa dihubungi.
"Lihat apa yang kubawa."
Bahri mengangkat dua kantong plastik di kedua tangan, tersenyum bangga sekaligus bahagia. Dia tidak hanya membeli Thai Tea, tapi juga camilan-camilan lainnya. Wah hari ini mungkin akan menjadi seru.
Hanya ada keduanya di taman. Beberapa orang di sekitar taman lebih memilih untuk berlibur daripada tetap di rumah dengan kebosanan.
"Kau akan tinggal dimana jika ada disini?" Ignacia bertanya setelah selesai mengunyah camilan renyahnya.
"Rahasia. Yang jelas, aku akan tinggal disini selama beberapa hari. Lebih menyenangkan disini daripada di rumahku disana. Teman-temanku sibuk berkencan."
Mendengar itu, Ignacia tidak bisa menahan tawanya. Bukankah lebih baik Bahri tetap disana dan berkencan dengan kekasihnya juga. Seingat Ignacia, Bahri memiliki kekasih di perantauan.
"Kami putus." Bahri bicara dengan nada santai.
"Putus?" Beo Ignacia bingung.
"Kami putus sekitar seminggu yang lalu karena salah paham. Jadi aku lebih baik kabur kesini dan bersenang-senang. Tenang saja, aku tidak akan tampak menyedihkan di depanmu."
Ignacia menepuk bahu Bahri iseng, "kau mana pernah tampak menyedihkan di hadapanku. Kau baru putus dengan seseorang pasti akan berpacaran lagi. Tidak apa-apa, kau bisa menemukan orang lain nanti."
Bahri terkekeh, meminum Thai Tea miliknya. "Aku tidak berselera untuk mencari orang baru. Berkencan itu membosankan setelah beberapa lama. Aku akan fokus untuk sekolah saja." Tapi jelas ucapannya itu main-main. Ignacia tidak melihat keseriusan dalam kalimat Bahri.
"Rajendra tidak akan tiba-tiba datang lagi kan?" goda Bahri pada teman yang ada di hadapannya, "takutnya dia tiba-tiba datang dengan aura menyeramkan membawa Thai Tea lain dan mengharuskan aku untuk kabur."
Wajah Ignacia memerah, memukul lengan Bahri beberapa kali dengan kuat. Hingga yang dipukul hanya bisa tertawa sambil meringis. "Seharusnya kau lupakan saja. Itu hal paling memalukan yang pernah terjadi padaku. Kenapa kau harus- hah, kau benar-benar menyebalkan."
"Haha baiklah aku minta maaf. Omong-omong apa benar kau tidak apa-apa duduk disini bersamaku? Rajendra tidak akan menangkap basah kita kan?"
"Rajendra sedang ada ldks. Dia ketua MPK, kau tahu?"
"Wow rupanya itu yang membuatmu bisa datang kemari. Dia kapan akan kembali? Kau tidak akan memposting apapun saat bersamaku kan? Masalahnya waktu itu karena postinganmu."
"Dia tidak akan kembali dalam waktu dekat. Aku saja tidak membawa ponsel. Bagaimana aku bisa memposting sesuatu?"
"Ya mungkin saja."
...*****...
"Kakakmu tidak membawa ponselnya?" Mama Ignacia membawa ponsel dengan casing berwarna biru yang sangat dikenal Athira. Tumben sekali kakaknya keluar rumah tanpa membawa ponsel.
"Memangnya kenapa?" Athira bertanya.
"Tidak. Aneh saja kakakmu pergi keluar tanpa membawa ponsel. Dia ada di taman kan?" Anak keduanya mengangguk sebagai jawaban. Melanjutkan langkahnya menuju kamar dengan membawa segelas air.
Di dalam kamar, dia menatap ruangannya itu dengan tatapan sendu. Di atas nakas dekat tempat tidur, ada fotonya dengan sang kakak yang tersenyum senang. Senyuman yang dia dapatkan dari sosok Bahri yang pernah membantunya bangkit dari rasa sakit hati.
"Senyuman kakak saat bersama Kak Rajendra dan Kak Bahri sangat berbeda. Kak Rajendra lebih banyak memberikan sesuatu yang membuat kakak tersenyum canggung."
...*****...
"Hei apa kau pernah datang ke bukit kota ini? Seumur hidupku aku belum pernah kesana. Kudengar jika bukit itu menjadi sedikit berbeda."
Bukit yang sedang dibicarakan Bahri adalah bukti yang pernah Ignacia kunjungi bersama Rajendra ketika si gadis tengah merasa sensitif.
"Kenapa bertanya padaku?" Respon Ignacia datar.
"Ayo pergi kesana. Kudengar jika bukit itu bahkan memiliki taman. Siapa tahu ada tempat makan enak disana."
"Makanan enak itu ada di kaki bukit. Yang ada di bukit itu hanya taman dan tempat bermain untuk anak-anak," Ignacia menjelaskan. Membuat Bahri semakin penasaran. Memintanya untuk datang kesana berdua.
Ignacia ingin-ingin saja, tapi takut ada seseorang yang melihatnya bersama Bahri. Takutnya orang itu akan membuatnya kena masalah. Takutnya teman Rajendra yang mengatakannya. Itu bisa menjadi masalah besar.
"Kalau begitu kita pakai samaran saja. Bagaimana? Kau tahu? Seperti artis dan aktor." Bahri ini ada-ada saja. Tapi idenya tidak buruk. Sekarang hanya perlu mempersiapkan diri saja.
...*****...
"Kakak serius akan pergi dengan Kak Bahri kesana? Kakak tidak takut ketahuan dan membuat Kak Rajendra sakit hati? Kakak yang selalu di salahkan jika ada kondisi seperti ini." Athira masih belum berhenti mengomel. Sejak tadi dia sibuk berkacak pinggang dengan wajah dongkol menatap kakaknya.
"Sebelum pergi, Rajendra tidak mengatakan apapun untuk tetap di rumah. Aku hanya akan pergi sebentar dengan temanku. Jika kau ingin membantuku, lebih baik diam saja, Athira. Aku akan kembali dengan cepat."
Rajendra itu orang yang pencemburu, dan kakaknya adalah orang yang memiliki pemikiran pendek. Hah, baiklah. Athira mengalah. "Kalau begitu jangan terlihat seperti pasangan, Kak. Takutnya ada seseorang yang salah paham dan- ya kakak tahu sendiri bagaimana sisanya."
Ignacia selesai memakai sepatunya dengan baik. Membenarkan posisi kacamata beningnya dan bangkit. "Aku pergi dulu. Aku tidak akan membawa ponsel. Jika ada apa-apa, telfon Bahri saja. Aku takut membuat kesalahan."
...*****...
Bukit itu ramai. Liburan sekolah yang singkat datang. Minggu pertama baru berjalan empat hari. Ignacia pergi dengan mengendarai sepeda motornya sendiri. Begitu pula Bahri.
Rencananya agar tidak ketahuan.
Bahri menghirup udara segar bukit begitu membuka helmnya. Padahal udaranya tidak jauh berbeda dengan udara di kota. Sama-sama berada di daerah yang sama. Hanya saja disini lebih sejuk karena angin dan pohon-pohon.
"Wah aku sangat menyukainya," gumam Bahri kemudian berjalan beriringan dengan Ignacia.
Berkeliling adalah hal pertama yang harus dilakukan sebagai pendatang baru. Sementara Bahri mengedarkan pandangannya, Ignacia hanya diam dan mengingat tempat dimana dia dan Rajendra duduk terakhir kali.
"Tempat ini untukku mengingat bahwa kau bukan segalanya, kan? Tapi jika aku datang kemari, seharusnya kau juga ada disini," batin Ignacia dengan tatapan mata sendu.