Beautiful Monster

Beautiful Monster
Penjelasan Dariku



Rajendra langsung lupa soal rasa lapar akibat apa yang ia dengar dari ujung panggilan. Kekasihnya terdengar kesakitan, entah karena apa. Lalu beberapa saat kemudian ada suara pintu dan langkah cepat mendekati telfon. Rajendra masih belum tenang meskipun Athira sudah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan Ignacia akan menghubungi balik nanti.


Laki-laki beralis tebal itu menatap tajam ponsel, menunggu kapan Ignacia akan menghubungi dirinya. Seharusnya dirinya bisa hadir agar tahu apa yang terjadi. Ignacia menangis, hanya itu yang dia dengar, hanya itu yang Athira katakan. Rajendra tidak marah, tentu tidak. Dia khawatir. Sangat-sangat khawatir.


Jam makan siang tidak bertahan selamanya. Terpaksa ia harus segera makan sebelum jadwal selanjutnya. Mungkin nanti malam setelah semuanya terkendali, Ignacia baru menghubungi. Anggap saja Ignacia berhutang penjelasan detail soal kejadian hari ini. Padahal awalnya Rajendra ingin ditemani ketika makan malah jatuhnya syok.


Waktu berlalu begitu lamban, Rajendra menunggu-nunggu pesan kekasihnya sedari siang. Siang berganti malam, jam makan malam sudah terlewat. Rajendra masih siaga di samping ponselnya yang diisi daya. Padahal kemarin malam keduanya mengobrol seru, sekarang apa yang terjadi? Hampir frustasi rasanya jika menunggu tanpa kepastian begini.


Di sisi lain, Ignacia masih mengumpulkan kekuatan untuk menjelaskan pada Rajendra. Mendapati keluarganya yang tahu bahwa dirinya menangis saja sudah sangat memalukan. Perasaan sensitif Ignacia seharusnya ia sembunyikan sendiri. Seharusnya tidak ada yang melihat ledakan emosional itu selain dirinya sendiri. Beruntung Athira sempat memberitahu semuanya agar pergi, menutup pintu dan kembali pada kakaknya.


Disana Ignacia menumpahkan kegundahan soal Utari. Masih menganggap bahwa semuanya berantakan karena dirinya. Keluarganya tidak memberikan reaksi sekolah sesuatu baru terjadi. Kepura-puraan yang mereka peragakan sungguh sempurna hingga Ignacia lebih merasa bersalah. Seharusnya kegilaannya tidak dibawa ke rumah.


Ignacia tidak bisa tidur bahkan setelah jam tidurnya terlewat. Gadis itu duduk di tengah-tengah tempat tidurnya bersandar pada kepala kasur. Sedang ia pertimbangkan apa dia akan menghubungi Rajendra saat ini juga atau tidak. Berjam-jam ia coba berpikir, lalu sebuah keputusan akhirnya tercetus.


Panggilan lebih dahulu masuk sebelum Ignacia meraih ponselnya. Jelas itu panggilan dari sang kekasih. Si gadis mendapatkan banyak serangan pertanyaan. Sekarang bagaimana ia akan menjelaskan? Rajendra mungkin tidak akan paham karena Ignacia hanya sangat sensitif. Perasannya mungkin tidak akan sampai pada kekasihnya yang lebih banyak menggunakan logika.


"Maaf aku bertindak berlebihan tadi."


"Kenapa kamu sampai menangis begitu, Ignacia? Apa ada hal buruk terjadi? Kamu bisa membaginya denganku. Kita cari solusinya bersama. Bagaimana?" Tidakkah Rajendra terlalu baik? Bahkan dia peduli dengan hal yang pasti menurutnya tidak wajar. Ignacia sangat beruntung.


Ignacia menimbang-nimbang jawaban, apakah dia harus memulai semuanya dari ledakan emosi akibat ucapan ayahnya? Sebab tidak dekatnya ia dengan sang ayah membuat Ignacia menyarankan pada Utari bahwa laki-laki yang baik bisa menyukainya kembali setelah mengenal beberapa lama. Jika Ignacia bercerita seperti itu, Rajendra mungkin bisa meluruskan semuanya.


Tanpa membawa ucapan ayahnya soal berkenalan dengan orang baik yang menjaga Ignacia selama ini. Bisa-bisa Ignacia disangka memiliki niat tersembunyi.


Mulailah cerita Ignacia mengenai pembicaraan malam itu, dengan sang ayah dan cerita masa lalu. Memberikan paham kenapa keduanya harus berkencan diam-diam dari ayah si gadis. Alasan Rajendra tidak bisa meminta izin secara langsung pada orang tua gadisnya sebelum pergi berkencan. Rajendra mengerti, alasannya masuk akal.


Karena cerita ini, Rajendra jadi tahu kenapa gadisnya begitu sulit ditinggalkan sendirian. Begitu sedih ketika merasa tidak ada orang yang bisa berdiri di sampingnya. Cerita ayah Ignacia membawanya ke sudut pandang lain selain fakta bahwa Ignacia sudah sangat menyukainya hingga tidak bisa melepaskan barang sekali. Sisi sensitif dan emosional gadis.


Bergerak ke pertemuan dengan Utari. Cerita soal laki-laki yang ia sukai dan saran yang Ignacia berikan ketika awal mengetahui temannya jatuh cinta pada seorang laki-laki baik. Ignacia tidak lagi menangis ketika membahasnya. Jiwanya terlalu lelah. Sampai disini, Ignacia hanya mengungkapkan apa yang ia rasakan akibat cerita ayahnya.


Perasannya masih terbawa oleh cerita ayahnya. Yang tentunya efek samping dari masa lalu bermain peran sangat besar. Jika saja Rajendra berada di rumahnya, sekarang keduanya pasti sudah bertemu. Menenangkan gadisnya seperti seorang pria yang baik.


Sedikit rasa penyesalan menyelimuti Rajendra. Ketika gadisnya menghadapi masalah sulit, berhadapan dengan sisi lain dirinya, Rajendra tidak bisa hadir untuk sekedar menjadi teman penghibur. Dirinya menganggap kurang jika tidak bisa hadir secara fisik. Tidak bisa melihat kondisi gadisnya secara langsung.


"Sekarang bagaimana kondisimu? Semuanya baik-baik saja?" Rajendra bertanya dengan nada sendu.


Di ujung panggilan, Ignacia mengangguk kecil meksipun tahu kekasihnya tidak akan bisa melihat itu. "Aku sudah kembali menjadi Ignacia, hanya saja energiku sudah habis. Aku kehabisan kekuatan untuk melakukan apapun. Terima kasih sudah menghubungi aku lebih dulu, Rajendra. Terima kasih sudah memastikan aku tidak apa-apa."


"Tentu saja aku akan memastikan kamu baik-baik saja. Tidak perlu berterima kasih, itu peran yang seharusnya kuberikan padamu setiap saat. Akan ku usahakan untuk menemuimu bulan ini. Kita akan memiliki waktu berkualitas bersama dan bersenang-senang."


Laki-laki ini sempurna untuk Ignacia. Setelah cerita sedih tak masuk akal tadi, ia masih akan menyambut Ignacia dengan baik. Tanpa memikirkan perasaan Ignacia yang gadis itu sendiri anggap sakit dan cacat. Semua orang mungkin butuh satu orang seperti Rajendra.


"Iya, aku menyukainya. Lain kali aku ingin menghabiskan waktu lebih lama denganmu. Hanya kamu dan aku."


...*****...


Keesokan harinya Ignacia tidak ingin meninggalkan kamar. Bahkan ketika di ajak makan saja enggan. Ia meminta pada semua orang untuk meninggalkan dirinya sendiri mengurus masalah hati yang berantakan. Diam-diam juga menunggu pesan dari Rajendra. Satu-satunya orang yang ia gantungkan harapan sebagai penyemangat.


Orang terdengar yang bisa memberikan kenyamanan memang ada, hanya saja bukan mereka yang Ignacia inginkan. Meksipun dahulu Ignacia begitu gugup berhadapan dengan kekasihnya, begitu kaku bahkan terkesan tidak peduli, yang Ignacia inginkan selalu Rajendra. Meksipun ada Nesya dan kesembilan teman baiknya. Sama seperti kata ayahnya, benar?


Laki-laki yang diidolakan.


Beberapa kali Athira mengetuk pintu kamar sang kakak, memberitahu jika ia meletakkan sepiring makanan di depan. Ignacia tidak menyentuh sarapannya, makan siang hanya makan lauknya saja, dan ketika makan malam hanya mampu ia habiskan setengah. Mungkin kurang dari setengah malah. Nafsu makannya terganggu.


Omong-omong urung sudah niat Ignacia untuk mengantarkan sang adik ke kos. Bagaimana dia bisa mengantarkan jika kondisinya sendiri masih begitu kacau. Masalah hati memang sulit untuk diatasi sendiri. Dengan bantuan orang lain pun Ignacia tidak sanggup, merasa tidak pantas menerimanya.


"Ignacia, ayah tahu kamu sudah dewasa dan ingin membuat keris sendiri. Kalau begitu kamu sudah tahu bahwa kesehatan adalah harta paling berharga dari segala-galanya? Jika kamu tidak sehat, semua yang kamu lakukan akan terasa lebih berat dan menyiksa, kamu tahu?"


Yang tengah di ajak bicara menatap pintu yang sudah dia kunci dari dalam. Mencari tahu apa maksud lain dari ucapan ayahnya. Apakah ada hubungannya dengan malam itu? Ia berharap tidak. Sungguh jiwanya terlalu lelah. Seharian mengurung diri tidak memberikan efek berarti.


"Tidurlah yang nyenyak, mungkin dengan begitu besok kamu akan merasa lebih baik. Ayah harap kamu menghabiskan sarapan yang dibawakan Athira besok. Selamat malam."


Ignacia masih ada di posisinya, meringkuk di atas tempat tidur dengan novel tebal di tangan. Sedari pagi Rajendra belum datang. Tidak, Ignacia tidak akan menyalahkan siapapun lagi. Hanya saja kemana perginya laki-laki kesayangannya itu? Tidakkah seharian sudah cukup untuk melakukan aktivitas. Ada seorang gadis yang butuh perhatian.


Selang beberapa lama, Ignacia mulai menguap, rasa kantuk menyerang padahal tahu si tubuh masih ingin terjaga. Sekarang belum waktunya tidur, baru saja selesai jam makan malam. Benar juga, Rajendra pasti sedang beristirahat dan makan. Pekerja keras seperti dia pantas mendapatkan waktu bersantai.


Saking lamanya menunggu, Ignacia sudah akan menyelesaikan buku yang ia baca sedari pagi. Rekor baru untuknya, membaca buku tebal empat ratus halaman lebih selama seharian. Bukan salah bukunya yang terlalu menarik minat walau itu benar. Hanya saja Ignacia tidak tahu harus melakukan apa. Selain melakukan hal yang biasa ia lakukan.


Hening, semua orang mungkin sudah ada di kamar masing-masing. Bersantai dan menikmati waktu berharga sebelum matahari kembali terbit keesokan harinya. Mungkin tidak apa-apa jika Ignacia keluar kamar sebentar. Tenggorokannya terasa kering. Tak lupa membawa gelas-gelas kosong yang diberikan bersamaan dengan makanan hari ini.


Ketika melihat dapur, Ignacia seolah bisa melihat bayangan dirinya dengan sang ayah yang duduk di dekat pintu. Ayahnya mengupas dan mengoper apel namun tidak ada satupun yang berhasil Ignacia makan. Si gadis menarik kursi, berniat duduk disana saat minum agar gelasnya bisa langsung ia cuci.


Waktu terus berjalan, dengan langkah berat Ignacia kembali ke kamar. Menutup pintu dengan sempurna tanpa membuat kebisingan. Di atas tempat tidur, sesuatu menyala. Cepat-cepat Ignacia meraih ponsel dan menggeser tombol di atasnya. Karenanya ia sampai duduk di ujung tempat tidur.


"Hai, aku senang kamu menghubungi. Bagaimana harimu, Rajendra? Aku khawatir karena kamu tidak memberi kabar." Perlahan Ignacia memposisikan duduknya dengan nyaman. Senyuman mengembang seperti baru mendapatkan hadiah besar. Akhirnya yang ditunggu datang juga.


Suara bising di sekitar panggilan menandakan Rajendra ada di luar ruangan. Pasti tengah naik kendaraan umum. "Maaf tadi aku sangat sibuk. Maaf sudah membuatmu khawatir. Hariku berjalan seperti biasa, menyenangkan. Bagaimana denganmu? Dari suaramu, kedengarannya hari ini bagus."


Bagaimana Ignacia akan mengatakannya? Menyenangkan karena bisa membaca novel sendirian tanpa gangguan apapun. Dunia perkuliahan tahun terakhir membuatnya tidak bisa lagi menyentuh novel-novel yang belum ia baca. Hanya bungkusan Fitbar yang selalu ia bawa sambil menghadap laptop.


"Ya, aku senang bisa membaca novel lagi. Rajendra kamu masih ada diluar? Meksipun sudah tidak bekerja paruh waktu kamu tetap pulang malam. Apa kamu lelah? Setelah turun nanti, cepat-cepat pulang dan beristirahat." Ucapannya barusan bertolakbelakang dengan hati. Tidak mungkin Ignacia harus menagih banyak waktu di jam segini.


Rajendra menurut saja apa kata kekasihnya. Karena ada kabar baik yang ingin ia sampaikan. Setelah ini Rajendra hanya akan sibuk dari pagi hingga siang. Selanjutnya akan ada banyak waktu luang karena sudah berhasil menjalankan tugas. Lalu ada satu hari libur yang bisa Rajendra gunakan untuk pulang dan menemui Ignacia.


Senyuman si gadis merekah, sangat bahagia hingga rasanya ada banyak kupu-kupu terbang di perutnya. Kalau begitu Ignacia akan menyudahi waktu mengurung diri ini dan mulai menyiapkan kondisi mental dan fisik untuk bertemu sang pujaan hati. Oh sebelum itu, apa Ignacia akan berbohong soal pergi dengan temannya lagi? Rajendra bukan teman.


"Aku akan pulang setelah kesibukanku selesai dan kembali besok malamnya. Kamu tidak apa-apa dengan itu?"


"Tentu saja. Yang penting aku bisa bertemu denganmu. Lalu setelahnya kapan kamu akan pulang lagi?"


Mendengar itu Rajendra terkekeh, "Aku belum melakukannya saja kamu sudah bertanya kapan aku pulang lagi. Soal itu entahlah. Jika memungkinkan, aku akan pulang." Si laki-laki menatap luar jendela bus, membayangkan malam hangat sebelum dirinya harus kembali meninggalkan Ignacia.


Masih rencana saja sudah membuat Rajendra juga tersenyum lebar. Harap-harap dirinya bisa datang kepada Ignacia setidaknya sebulan sekali. Rajendra juga akan menyesuaikan dengan jadwal Ignacia jika saja gadisnya sudah mulai bekerja. Kehidupan penuh perjuangan mereka akan segera sampai di harus finis. Tinggal beberapa langkah lagi.


"Rajendra, aku boleh menjemputmu di stasiun?"


"Tidak perlu, aku akan mendatangi kamu. Tidak apa-apa kan jika aku menjemput kekasihku di siang hari? Kamu lihat dahulu saja bagaimana kondisi di rumah dan aku akan menyesuaikan juga." Kembali ke waktu mereka harus menyembunyikan kencan bahkan dari teman-teman sekolah keduanya. Kecuali mereka yang menangkap basah Ignacia di rumah Rajendra.


"Kalau begitu aku tunggu di rumah. Katakan saja kapan kita akan bertemu. Aku akan langsung bersiap-siap dengan cepat."


Ignacia tidak tahu kekasihnya sudah sampai dimana, sebab sejak tadi masih ada kebisingan kendaraan bermotor. Dia tidak berani juga bertanya kapan Rajendra akan segera sampai di kos. Takut Rajendra cepat-cepat mengakhiri panggilan. Dan Ignacia harus menunggu lama lagi untuk mengobrol dengan kekasihnya ini.


Rajendra bingung apa yang harus mereka lakukan ketika bertemu. Semua kencan yang keduanya bisa lakukan sudah dilakukan. Kencan yang bisa dilakukan dalam waktu singkat sebelum kedua orang tua Ignacia menyadari hal aneh. Kencan malam apa lagi yang bisa mereka lakukan?


"Makan es krim tiga rasa? Selama ini kita hanya makan masing-masing satu. Bagaimana? Kamu mau mencobanya?"


Seperti biasa, Kencan tidak afdol tanpa es krim.