Beautiful Monster

Beautiful Monster
Undangan Bertamu



Ignacia tidak menyadari kapan ponselnya terjatuh. Seingatnya semalam ada panggilan dari Rajendra dan mereka mengobrol sebentar. Ketika dipungut, Ignacia melihat banyak notifikasi di layar ponsel karena tidak mematikan datanya semalam. Baterai ponselnya hampir habis. Ignacia memutuskan untuk mengisi daya lebi dulu sebelum mengecek apakah ada yang penting. Sebentar lagi waktunya sarapan, sebaiknya Ignacia juga mandi.


Benar saja, Rafka mengetuk pintu kakaknya sesaat sebelum Ignacia keluar dari kamar mandi. Panggilan untuk sarapan. Karena tidak ada jawaban dari kakaknya Rafka pun tetap menunggu dan sesekali mengetuk. Setelah kakaknya menyelesaikan ritual pagi, barulah ia pergi mendahului ke dapur. Perutnya sudah lapar ingin diberi makan.


Tidak ada yang spesial dari sarapan hari ini. Ignacia tiba-tiba teringat soal statusnya sekarang yang belum memiliki pekerjaan setelah lulus kuliah. Ignacia tidak terpikirkan pekerjaan apapun ketika masuk ke dalam jurusan sastra. Ia hanya ingin banyak membaca buku seperti anjuran ketika mengerjakan setiap tugas yang datang di kampus.


Ignacia ingin bertanya pada ayah dan mamanya setelah sarapan, namun ia sendiri belum punya gambaran. Apalagi kedua orangtuanya. Mungkin Ignacia akan mencari referensi lebih dulu sebelum bertanya. Mungkin ada yang bisa orang tuanya tambahkan setelah argumen yang Ignacia sampaikan. Sebaiknya Ignacia menggunakan keahliannya dalam bidang sastra sebaik-baiknya.


Ada sebuah pesan yang terselip diantara banyaknya notifikasi di ponsel Ignacia. Sebuah pesan dari Nesya salah satunya. Sudah lama keduanya tidak berkomunikasi setelah lulus wisuda. Teman berkacamatanya ini mengundang Ignacia untuk datang ke rumahnya akhir pekan nanti. Katanya ia ingin mengajak Ignacia juga Danita memasak di rumahnya seperti saat di pantry waktu itu.


Ignacia tidak punya jadwal apapun hari itu jadi bisa dipastikan ia akan datang. Untuk Danita, apa gadis itu juga akan datang? Kota ini dan kota gadis itu tidaklah dekat. Ignacia yakin Bahri juga akan mengantar kekasihnya untuk sampai di rumah Nesya. Akhir pekan ini akan menjadi hari yang menyenangkan.


Suara ketukan di pintu lagi-lagi menganggu Ignacia. Kini mamanya yang datang. Berdiri di dekat daun pintu yang memang dibiarkan terbuka oleh si pemilik kamar. "Apa mama boleh minta tolong sesuatu?" Mamanya bertanya tanpa melangkah masuk. "Bisa antar mama membeli bahan makanan? Mama ingin menyiapkan bahan untuk makan malam."


Kedua orang tua Ignacia akan kembali bekerja nanti. Mulai sekarang Ignacia yang akan menggantikan tugas Athira menjaga kedua adiknya di rumah. Berhubung adik pertamanya itu sudah mulai aktif berkuliah dan tidak bisa terus-terusan pulang. Rencananya mama Ignacia akan memasak untuk makan malam siang nant. Dan malamnya hanya perlu di hangatkan.


Setelah memarkirkan sepeda motor dengan benar, Ignacia mengikuti mamanya masuk ke dalam pasar tradisional kotanya. Mamanua juga memerlukan tangan tambahan untuk membawa buah-buahan. Begitu sudah mendapatkan buah, keduanya terus melangkah ke bagian sayuran berada. Sekarang sudah hampir siang dan pasar terasa semakin ramai saja.


Ignacia melihat sekeliling tempatnya berdiri, mengamati orang lain yang sedang melakukan transaksi jual beli selain mamanya. Dari sebuah sudut Ignacia seolah terpanggil. Disana ada seorang perempuan yang sangat Ignacia kenali punggungnya. Orang itu masih sibuk mencari rempah-rempah hingga Ignacia tidak bisa melihat wajahnya.


"Ignacia, ayo kita cari rempah-rempah." Pengamatan gadis berambut panjang itu harus berakhir. Meskipun begitu kini ia menjadi lebih dekat dengan tempat gadis yang sempat menarik perhatiannya tadi. "Rempah apa yang sudah habis di rumah? Mama lupa tidak mencatatnya." Ignacia ikut melihat-lihat, ia juga tidak tahu rempah-rempah apa yang habis.


"Ignacia?" Sebuah suara mengubah fokus gadis berambut panjang itu. "Wah tidak kusangka bisa bertemu denganmu disini." Tebakan Ignacia benar, rupanya memang ia mengenal gadis yang tadi dia perhatikan. Rupanya seseorang yang tadi mengirimkan pesan padanya.


Nesya menyapa mama Ignacia yang juga ada disana. Kebetulan sekali gadis berkacamata itu juga sedang bingung mencari rempah-rempah. Jadilah Nesya dan mama Ignacia mengobrol soal apa yang mereka cari sementara Ignacia hanya memperhatikan dari belakang. Sebelum berpisah, Ignacia penasaran kenapa tiba-tiba Nesya mengundang dua temannya ini ke rumahnya. Mungkin ada alasan lain.


"Tidak ada, aku hanya ingin mengundang kalian. Orang tuaku kebetulan ada acara diluar jadi aku sendirian di rumah."


...*****...


Ignacia memberitahu Rajendra soal undangan ke rumah Nesya akhir pekan besok. Kebetulan sehari sebelumnya Rajendra juga harus kembali ke kotanya. Liburan singkatnya sudah berakhir. Rajendra berjanji akan mengunjungi Ignacia lagi kapan-kapan. Kali ini Ignacia diizinkan untuk mengantar kekasihnya ke stasiun. Sekali lagi Ignacia melihat kekasihnya pergi menaiki kapsul baja itu menuju kota perantauan.


Keesokan harinya Ignacia diantar ayahnya menuju rumah Nesya. Kelihatannya tidak ada tanda-tanda kehidupan, sunyi sepi seperti rumah Ignacia ketika kedua adik laki-lakinya pergi keluar. Ignacia menghubungi ponsel Nesya, memastikan temannya ada di dalam rumah sebelum ia memanggil.


Tak butuh waktu lama hingga si pemilik rumah keluar menampakkan diri. Begitu melihat Nesya ada di rumah, ayah Ignacia pamit pulang. Nesya bilang Danita masih dalam perjalanan. Seperti dugaan Ignacia, Bahri juga akan datang namun hanya mengantar kekasihnya kemari. Nanti dia entah akan kemana kata Danita.


Tebakan Ignacia mengatakan bahwa Bahri mungkin akan mendatangi tetangga lamannya di perumahan Ignacia. Berkumpul dengan teman-teman lama yang kebetulan sedang berada di rumah. Selagi Danita bersenang-senang di rumah temannya, Bahri akan menikmati waktunya sebagai mantan tetangga yang baik.


Kedua teman ini berniat menunggu di depan rumah kalau-kalau Danita bingung harus pergi ke rumah yang mana. Dan benar saja, mereka berhenti di rumah yang cukup jauh dari milik Nesya. Jika bukan karena kedua temannya yang melambaikan tangan, mungkin anak itu sudah menemani bel dan berhadapan dengan orang yang salah.


"Hubungi aku setelah kamu selesai," pamit Bahri lalu pergi.


Tema memasak hari ini sama seperti terakhir kali. Membeli bahan-bahan sendiri lalu tidak mengatakan judul masakan hingga semuanya selesai. Tidak tahu kenapa ketiga gadis ini membuat lauknya masing-masing. Tidak ada karbohidrat dan serat seperti saat di pantry. Karenanya mereka harus menunggu Nesya selesai memasak nasi untuk bisa makan.


Sambil mencuci alat memasak, Ignacia sesekali melirik ke arah Nesya yang berdiri di dekat penanak nasi. Gadis itu sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya. Jika bukan sesuatu yang berarti, Nesya seharusnya tidak terkejut ketika tertangkap basah oleh temannya. "Kenapa?" Ignacia bertanya.


"Harus aku letakkan dimana ini?" Danita lebih dahulu mendapatkan jawaban dari Nesya sebelum Ignacia. Dia bertugas mengembalikan alat memasak yang sudah dicuci temannya. Nesya tampak gugup seolah menyimpan sesuatu. "Ignacia, biar aku yang membilas. Kau bersihkan dengan sabun saja." Danita segera kembali, membantu agar cepat selesai.


Danita izin menghubungi kekasihnya sebentar. Nesya bilang lauknya terlalu banyak jika hanya mereka yang makan. Kehadiran Bahri akan membantu nanti. Belum lagi porsi yang ketiga gadis ini buat menyesuaikan porsi tiga orang. Jika Rajendra masih disini, dia pasti bisa membantu juga.


Selang sepuluh menit, Danita kembali bersama Bahri di belakangnya. Wajah mereka tampak kebingungan. Menular pada mereka yang mengetahui kedatangan keduanya. Danita menunjuk ke arah pintu keluar tanpa bisa berkata-kata. Nesya entah bagaimana bisa langsung tahu apa yang terjadi.


Ada satu orang lagi yang datang. Seorang pria yang tingginya melebihi Nesya. Senyuman tampak canggung muncul di wajahnya. Di tangan sebelah kanan ada sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Ignacia seperti pernah melihat orang ini sebelumnya, entah dimana. Sepertinya di SMA karena wajahnya berbeda dari yang ada di ingatan Ignacia.


"Teman-teman perkenalkan ini, kekasihku." Nesya nampak menggandeng laki-laki yang baru datang itu seraya tersenyum lebar. Kebahagiaan terpancar sangat jelas dari wajahnya. Sementara laki-laki yang ada di sampingnya masih tersenyum kaku, pasti canggung untuknya.


Laki-laki itu menyapa Ignacia dan kedua temannya, "Halo senang bertemu dengan kalian. Namaku Farhan." Tangannya terulur untuk berkenalan. Ignacia orang pertama yang mendapatkan uluran tangan itu merasa ada yang aneh. Ingatannya mungkin bermasalah. Nama itu terdengar asing namun tubuh laki-laki ini tidak.


Sekarang Ignacia tahu alasan kenapa Nesya terus mengecek ponsel dan mengadakan acara ini. Farhan duduk di sebelah Nesya, berhadapan dengan Danita juga Bahri. Sementara Ignacia seperti wali dari keduanya. Duduk di sisi lain meja tanpa ada seseorang di sisinya. Oh ada, Danita dan Nesya namun mereka tidak benar-benar di sebelahnya.


"Jadi, kita mulai makannya?" Danita bersuara, memecah keheningan.


Jujur saja Neysa tampak santai berbeda dengan kekasihnya yang bernama Farhan itu. Biasanya laki-laki akan mudah bergaul, seperti yang dilakukan Bahri. Dia bertanya apakah Farhan masih berkuliah atau sudah bekerja. Soal hobi yang mungkin bisa mereka bahas bersama. Berkat Bahri, Farhan akhirnya bisa bersuara banyak. Yang lain juga ikut menimpali. Obrolan ringan berjalan sepanjang makan siang.


Mereka saling kenal saat Nesya dalam perjalanan menuju kampus. Kebetulan Farhan hampir terlambat hingga berlari cepat sekali. Nesya menawarkan tumpangan karena gedung yang mereka tuju sama. Memang agak aneh karena Farhan tidak membawa kendaraan waktu itu. Kebetulan sepeda motornya rusak karena kurang perawatan.


Lalu keduanya mulai dekat karena lebih sering bertemu. Mereka baru berkencan selama enam bulan setelah berkenalan enam bulan juga. Rupanya Nesya berhasil wisuda di waktu yang sama dengan Ignacia dan Danita karena ada dukungan penuh dari Farhan selain kedua orangtuanya dan sang kakak. Dukungan yang juga didapatkan kedua temannya saat berperang dengan tugas kuliah tahun lalu.


Omong-omong Farhan bukan tipe laki-laki pemalu. Dia hanya belum mengenal lawan bicaranya tadi. Buktinya sekarang dia malah akrab dengan Bahri. Mereka mengobrol di ruang tamu bersama pasangan masing-masing. Sementara para pria asik mengobrol, pada gadis disini juga tidak kalah asik membahas soal tempat makan bagus.


Ignacia merasa seperti berada di situasi yang sama dengan Nesya sebelum ia mengenalkan kekasihnya. Sendirian diantara dua pasangan yang sedang kasmaran. Sekali lagi Ignacia merasa seperti wali. Duduk sendiri di single sofa. Setidaknya kedua temannya masih mengajaknya bicara.


Danita menyampaikan kabar bahwa dirinya mengikuti kegiatan sukarela. Beberapa hari lalu Danita di ajak teman sukarelawannya untuk mendatangi sebuah taman kanak-kanak yang terpencil. Meskipun tidak punya keahlian mengajar, Danita berharap bisa banyak membantu. Kabarnya akhir bulan nanti ia akan mendatangi tempat yang terdampak bencana. Danita juga ditugaskan untuk membuat laporan setiap mereka melakukan tugas sukarela.


Kabar baik dari Nesya adalah kekasihnya berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah sekolah menengah atas sebagai pengajar bahasa. Pekerjaan yang diimpikan Nesya berhasil digapai lebih dahulu oleh Farhan. Tapi Nesya juga sedang menunggu keputusan sekolah menengah lain atas surat lamaran pekerjaan miliknya. Jika diterima, Nesya bisa menyusul kekasihnya.


Bagaimana sekarang? Hanya Ignacia yang belum memiliki kegiatan setelah lulus? Bahri sedang magang di sebuah perusahaan, jadi dia juga punya kegiatan mengisi waktu luang meksipun belum lulus. "Menurut kalian apa yang harus kulakukan? Pekerjaan apa yang harus kuambil?"


"Kau hebat dalam mengerjakan tugas, kau teliti. Bagaimana jika mencari pekerjaan yang berhubungan dengan sesuatu seperti itu? Kau suka novel, bagaimana jika menulis novel saja?" Sepertinya menulis novel tidak cocok untuk Ignacia. Gadis itu mudah bosan dengan pekerjaan yang terus datang. Mengerjakan tugas kampus saja sudah melelahkan.


Dikala kedua temannya berbicara dengan bahan obrolan mengambang, Nesya cepat-cepat meraih ponselnya untuk mencari sesuatu yang mungkin membantu. Salah satu pekerjaan yang mungkin menarik dia tunjukkan pada Ignacia. Disana ada pekerjaan yang hanya bertugas menemukan kesalahan pengetikan dan memperbaiki kesalahan tata bahasa tepat sebelum proses penerbitan buku. Proofreader namanya.


Ignacia belum pernah dengar. Biasanya yang ia tahu adalah pekerjaan editor buku. Mereka bekerja di bawah perusahaan penerbitan. Biasanya mengawali karier sebagai asisten editorial hingga kemudian naik pangkat. Kedengarannya lebih bagus pekerjaan yang pertama dan terasa tidak begitu berat.


Berbeda dengan pekerjaan editor yang bertanggung jawab untuk menyunting naskah secara menyeluruh. Sementara proofreader itu bertugas untuk mengoreksi kesalahan ejaan dan tata bahasa, serta memastikan kualitas naskah. Mungkin Ignacia bisa bekerja sebagai proofreader freelance di internet. Jika pekerjaannya bagus, mungkin Ignacia bisa jadi editor buku juga.


Nesya memberikan ponselnya pada Ignacia agar bisa memeriksa soal pekerjaan yang ia tunjukkan tadi. Minuman di meja sudah hampir habis, jadi ia berniat untuk mengisinya kembali. Farhan memanggil nama gadis yang tengah fokus dengan ponsel kekasihnya ini. "Kalau tidak salah, kau ini kekasih Rajendra ya? Namamu Ignacia."


Bagaimana ia bisa tahu soal Rajendra? Ia tidak merasa pernah membahas soal Rajendra. Kalau begitu ingatan Ignacia soal pernah melihat laki-laki ini ketika SMA itu benar adanya? Ignacia mengangguki ucapan Farhan. Lalu bertanya bagaimana Farhan bisa tahu siapa kekasihnya.


"Kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi aku Seung melihatmu dengan Rajendra di sekolah. Kita dulu satu sekolah." Ah jadi Ignacia benar pernah melihatnya.