Beautiful Monster

Beautiful Monster
11. Kutukan Kehidupan



Yujiro memandangi ikan yang tertusuk ranting tajam dan harus dimakan setelah dipanggang pada api unggun kecil buatan lelaki tua bernama Obara Sen.


Melihat ikan itu membuat Yujiro teringat akan dirinya sendiri ketika menjadi seekor ikan yang terpancing lalu menjadi santapan manusia lapar seperti dirinya saat ini.


"Bagaimana kau bisa tahu tentang bunga itu dan memburunya sampai sekarang?" tanya Miho yang masih penasaran.


Sen mengunyah ikan miliknya sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Bunga itu sudah diburu dari zaman dulu. Mereka menggunakannya untuk keabadian karena bunga itu berlawanan dengan Higanbana merah yang menghentikan kehidupan. Higanbana biru mampu membuatmu hidup bahkan untuk selamanya. Kau akan memiliki kekuatan yang besar dari bunga itu dan keluargaku selalu memburunya sampai akhirnya aku turun langsung ikut mencari hingga saat ini."


"Ah, jadi maksudmu bunga itu bisa membuatmu tidak akan pernah merasakan kematian karena kau bisa hidup selamanya?"


"Higanbana adalah kutukan. Kurasa, bunga biru itu juga memiliki kutukan di samping kekuatannya untuk kehidupan," sahut Sen mulai serius.


"Itu sebabnya aku masih berburu, karena aku penasaran dan ingin langsung melihat kutukan yang disebabkan oleh bunga itu."


Miho memandangi kobaran api di depannya dengan sendu.


"Ayahku meninggal saat bekerja. Ia menemukan bunga higanbana merah di sana dan tiba-tiba bencana datang yang menewaskan beberapa orang hingga dirinya. Kupikir, kutukan kematian bunga itu benar adanya. Mungkin jika higanbana merah adalah bentuk kematian, maka yang biru bisa saja lebih mengerikan dari itu," tutur Miho.


"Kau benar. Hal yang sulit ditemukan bisa saja beresiko besar," imbuh Sen lalu mengalihkan perhatian pada Yujiro yang sedari tadi santai mengunyah makanannya.


"Kenapa kekasihmu tak bicara dari tadi?" tanyanya penasaran.


Miho menoleh ke arah Yujiro. "Ah, dia memang jarang bicara."


"Aku tak pernah melihat mata biru yang berbinar sepertinya. Itu mengingatkanku pada bayangan dalam kepalaku tentang bunga higanbana biru. Katanya bunga itu mekar di siang hari dan bersinar ketika malam hari," cetusnya. "Kau bisa membayangkan seindah apa bunga itu jika kita benar melihatnya?"


"Ya," balas Miho mengangkat bahu santai.


"Setelah ini, kalian akan pergi ke mana?" tanya Sen berlanjut.


"Kami harus mencari tempat tinggal. Rumahku dibakar oleh seseorang, jadi tak ada tempat yang bisa kami singgahi untuk sekarang."


"Ah, aku punya teman di Desa Noda. Tempatnya tak jauh dari sini. Dia tinggal di dekat pusat perairan desa tersebut. Mungkin dia bisa memberikanmu tempat tinggal," usul Sen membuat Miho mengulas senyum senang.


"Kau bilang saja kalau aku, Obara Sen, yang menyuruhmu mendatanginya."


"Terimakasih, Kakek Sen."


"Aku masih harus berburu di hutan ini. Jika sudah selesai, aku juga akan ke sana," lanjut Sen.


Akhirnya, Sen berpisah dengan Miho dan Yujiro karena ia harus melanjutkan perjalanannya untuk melakukan pencarian.


Miho pergi ke Desa Noda yang Sen bicarakan. Desa dengan perairan yang begitu melimpah dan jernih. Bahkan sesampainya di sana, Miho merasa begitu asri melihat kehidupan orang-orangnya. Ada banyak anak kecil yang berlarian dengan gelak tawa dan orang dewasa yang saling menyapa ketika bertemu.


"Permisi," panggil Miho mendatangi salah satu warga di sana. "Apa kau tahu Tominaga Kawa?"


"Nenek Kawa?" Orang itu menunjuk ke arah di belakangnya. "Dia tinggal di ujung jalan ini. Kau lurus saja, nanti kau menemukan satu rumah dekat sungai."


Miho dan Yujiro pun pergi ke sana. Mereka melalui beberapa pesawahan serta peternakan. Mereka berdua menemukan sebuah rumah yang dimaksud warga tadi.


"PERMISI!" panggil Miho.


Brakkk!


Miho terkejut bukan main ketika pintu dibuka cukup keras oleh seorang wanita tua yang sedang duduk sambil menggerakkan kipas ke wajahnya.


"Apa kau... Nenek Kawa?" tanya Miho hati-hati.


Mata tajam wanita tua itu mengamati Miho dan Yujiro. "Apa kalian sedang kawin lari?"


"Apa?" Miho mengerjap kaget mendengarnya. "Bukan! Maksudku... Tidak. Kami hanya sedang mencari tempat tinggal. Kakek Obara Sen mengusulkan kami untuk datang ke sini."


"Dasar lelaki tua itu!" geram Nenek Kawa lalu berusaha bangkit untuk keluar dari rumah. Tatapannya langsung tertuju pada bola mata Yujiro yang berwarna biru.


...****************...


Miho menatap sekitarnya yang masih asing. Rumah wanita tua itu terurus begitu rapi dan bersih dibandingkan rumah Miho dulu.


"Jadi kalian bertemu Sen di hutan?" tanya Nenek Kawa sambil menyajikan teh hangat pada Yujiro dan Miho.


"Iya. Katanya dia masih harus melanjutkan perburuan mencari higanbana biru," jawab Miho.


"Dia cari mati saja," gumam Nenek Kawa menghela nafas kasar. "Aku sudah memberitahunya puluhan kali jika bunga itu sudah tak ada di sini. Dia masih saja keras kepala untuk menemukan bunga kutukan itu."


"Kudengar bunganya bisa membuatmu tetap hidup," imbuh Miho yang mulai menyesap teh buatan Nenek Kawa.


"Kau hanya mendengar keindahannya saja, Nona. Bunga itu tetap kutukan. Meski higanbana biru bisa membuatmu hidup abadi, tapi bunga itu bisa memberikanmu kematian yang lebih pahit dari yang ditawarkan higanbana merah. Manusia memburunya hanya menginginkan hidupnya saja, tanpa pernah mau mencari tahu kutukan dari bunga itu."


"Tak ada manusia yang menginginkan kematian," tambah Miho mengangguk paham.


"Siapa namamu?" tanya Nenek Kawa pada Yujiro yang sedari tadi diam. Saat ditanya, Yujiro hanya menatapnya tanpa mau mengeluarkan sepatah kata pun.


"Namanya Ushioda Yujiro. Namaku Kurata Miho," lontar Miho membantunya.


"Kau harus banyak bicara, Tuan. Bagaimana caramu mengungkapkan perasaan pada wanita ini jika tak mau bicara?"


Tatapan Yujiro berubah tak bersahabat ke arah Nenek Kawa. Hatinya berkata jika Nenek Kawa harusnya tak perlu mengurus perasaannya dengan Miho karena dia bisa menunjukkannya tanpa bicara.


Sementara itu, Sen terus berjalan menyusuri hutan. Ia melewati sebuah sungai lalu menemukan sebuah gua kecil. Tubuhnya membungkuk masuk ke sana untuk mencari bunga higanbana.


Namun bukannya higanbana biru yang dia temukan, Sen kini menatap higanbana merah yang tengah menyala dalam kegelapan gua itu.


Kematian akan tiba.


Sen langsung terpikir akan hal itu terlebih dia dihadapkan dengan bunga kutukan kematian itu. Sen memetiknya lalu keluar dari gua tersebut.


Guk! Guk! Guk!


Tiba-tiba seekor anjing hitam datang ke arahnya sambil menggonggong. Jo pun berjalan mengikuti anjingnya yang menggonggong keras itu. Saat dilihat, Arai sedang menggonggong ke arah seorang Sen yang hanya berdiri tanpa perlawanan.


"Di mana mereka?" tanya Jo pada Sen.


"Mereka siapa? Aku tidak mengerti maksudmu," jawabnya.


"Jangan membodohiku. Penciuman anjingku tak akan bisa dibodohi oleh siapa pun," katanya lantas merogoh sebuah senjata yang dia arahkan ke Sen.


"Kau pasti bertemu dengan mereka. Monster bermata biru itu... Kau pasti bertemu dengannya, makannya anjingku bisa menyalak padamu."


Ah, Sen menyadari jika yang dicari lelaki garang di depannya adalah Miho dan Yujiro. Hanya Yujiro yang memiliki mata biru dan sempat bertemu dengannya.


"Aku tidak tahu," cetus Sen.


Jo tiba-tiba bersiul yang membuat Arai langsung melompat pada Sen lalu menggigit kakinya dengan ganas. Sen terjatuh, berteriak kesakitan sambil berusaha melepaskan gigitan anjing itu.


Dengan cepat, ia memasukkan bunga higanbana merah yang tadi dipetiknya ke dalam mulut Arai. Gigitan anjing itu pun lepas.


Jo melihat Arai menggeleng-gelengkan kepala dengan keras sambil mundur lalu jatuh dengan tubuh berubah menjadi kaku secara perlahan.


"Sialan! Beraninya kau membunuh anjingku," geram Jo.


Sen meringis sambil menarik tubuhnya susah payah menjauh dari sana.


Dorrr! Dorrr! Dorrr!


Tembakan itu berhasil membuat Sen terbujur kaku, tergeletak tak berdaya. Dia benar-benar menemui kematiannya.