
"Kenapa kalian kejam padaku?" rajuk Rananta. Si empunya acara tengah dibawa Widia, Kemala, dan Hanasta untuk menjalankan misi. Tidak akan seru jika hanya duduk tanpa melakukan aksi. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menunggu balasan atas pesan yang dikirimkan yang mendapatkan tantangan tadi.
Dengan Kemala sebagai juru kamera, Hanasta dan Widia yang akan membantu Rananta mencari pasangan untuk di ganggu. Si mata sipit bersembunyi di dekat tangga. Tidak ada siapapun yang bisa naik karena satu lantai sudah di reservasi. Meskipun tengah bersembunyi, video yang diambilnya tetap dari sudut pandang yang jelas.
Widia terlihat tengah mendorong Rananta untuk terus mencari pasangan yang tidak sibuk. Di tempat ini lebih banyak yang beramai-ramai alih-alih berdua. Bahkan mereka yang sedang menjalankan misi harus mencari hingga ke area outdoor. Kemala harus mencari tempat persembunyian lain agar tidak ketinggalan momen.
Hanasta dan Widia tampak berbisik pada Rananta, mungkin menunjukkan meja mana yang bisa diganggu sebentar. Dan akhirnya Rananta membiarkan dirinya melakukan hal memalukan. Dia mendekati sebuah meja, berbicara pada pasangan disana kemudian berfoto.
Stelay mengucapkan terima kasih, Rananta langsung menarik kedua temannya kembali ke lantai alas. Mereka bertemu dengan Kemala yang menahan tawa hingga akhirnya sampai di lantai reservasi. Tawa mereka langsung perah karena wajah Rananta memerah menahan malu.
Buru-buru Hanasta mengirimkan foto yang dia ambil ke grup, agar teman-teman lain bisa melihatnya. Kemala juga melakukan hal yang sama, tapi sambil terpingkal-pingkal. Mereka juga menceritakan sesuatu yang tidak didengar dari video Kemala.
Sementara keempatnya pergi tadi, Aruna sudah mendapatkan balasan dari kakak laki-lakinya. Kakaknya tidak mengirimkan pesan, hanya foto selfie dengan pose jempol. Kakaknya bukan tipe orang yang akan mengirimkan foto tanpa konsep. Mungkin jika untuk Aruna, tidak masalah.
Kemala ingat untuk mengecek balasan kekasihnya. Di tengah tawa teman-temannya, Kemala mengirimkan tangkap layar pesan di grup lalu meminum milk shake miliknya dengan tenang. Kekasihnya malah mengirimkan foto selfie dirinya yang sedang makan bersama teman-temannya.
Beberapa pelayan datang, mengambil tumpukan piring sisa camilan yang sudah ditata kesepuluh teman ini sebelum Rananta melakukan tantangan tadi. Menukarnya dengan makan siang. Saking lamanya mengobrol dan melakukan permainan, mereka tidak sadar jika sudah waktunya makan siang. Perut mereka baru terasa hampa setelah melihat makanan datang.
"Kita makan dulu, lalu bertukar kado," ucap Rananta memberitahu.
...*****...
...Ignacia🍓...
^^^Aku akan pulang besok |^^^
^^^Sekarang aku tengah bersiap-siap |^^^
^^^Bagaimana reuninya? Lancar? |^^^
Rajendra meletakkan ponselnya ketika selesai mengirimkan pesan. Dia harus mengambil beberapa barang untuk dimasukkan ke dalam koper. Besok pagi-pagi sekali dia akan kembali ke kotanya dan menghabiskan waktu dengan keluarga yang sudah lama dia rindukan. Terutama ibunya.
Bagas juga akan pulang besok. Jadi kamar ini akan kosong hingga pemiliknya kembali setelah liburan. Dan selama itu juga kamarnya tidak akan disewakan. Jadi mereka tidak perlu membawa semua barang yang ada disana. Tidak perlu membawa semuanya bolak-balik.
"Rajendra, mau makan bersama di ruang tamu?" ajak Bagas, "teman-teman juga akan mulai pulang ke rumah masing-masing besok. Jadi... Ini sebagai perpisahan singkat kita." Padahal mereka semua baru bertemu di awal semester. Pulang sebentar saja sudah di ajak makan bersama.
"Aku akan keluar sebentar lagi."
"Baiklah, tapi cepat. Kami sudah lapar." Bagas menutup pintu kamar, beralih memanggil teman lain yang ada di ruangan sebelah. Samar-samar Rajendra mendengar kalimat yang sama diucapkan Bagas pada teman lainnya. Dengan nada dan kecepatan bicara yang sama.
Layar ponsel Rajendra menyala, sebuah pesan masuk tepat saat benda pilih itu akan dibawa oleh yang punya.
...Ignacia🍓...
| Mau aku jemput besok?
| Reuninya seru sekali
| Sekarang kami akan makan siang
| Kamu juga akan bertemu teman-teman Rajendra?
^^^Tidak, aku akan pulang sendiri |^^^
^^^Seharusnya aku yang menjemput, bukan kamu |^^^
^^^Kurasa aku akan bertemu teman-teman |^^^
^^^Jika mereka merencanakan sesuatu |^^^
^^^Tidak masalah untuk kamu? |^^^
| Tentu tidak
| Kalian sudah lama tidak bertemu juga
| Aku akan makan sekarang
| Rajendra, makanlah tepat waktu
^^^Siap, laksanakan |^^^
Rajendra tersenyum kecil, membawa ponselnya keluar kamar. Didapatinya teman-teman kamar lain sudah berkumpul dengan makanan yang sedang ditata. Bahkan bapak dan ibu kos juga ada disana untuk makan siang bersama. Baru awal semester padahal. Bagaimana jadinya jika sudah hampir lulus?
"Ayo Rajendra, ambil piringnya dan dinginkan nasimu sebelum makan," titah ibu kos, "ibu tadi dibantu Bagas membuat nasi goreng dan ayamnya." Sungguh beruntung Rajendra bisa tinggal di tempat yang sangat ramah dan menyenangkan ini. Tempat yang membuatnya tidak menyesal meninggalkan rumah.
...*****...
"Ignacia, lihat kemari," panggilan Aruna dari ujung meja. Ignacia cepat-cepat meletakkan Fotonya lebih bagus saat diambil dari sini Aruna. Semua teman dan makanannya bisa masuk ke dalam foto dengan baik. Dan terciptalah banyak foto hingga tangan yang memegang kamera kelelahan.
Sebenarnya Rananta bisa saja memanggil seorang pelayan untuk membantu mereka mengambil gambar. Namun teman-temannya merasa canggung dan sungkan untuk meminta tolong. Mungkin nanti saja jika benar-benar tidak bisa dilakukan sendiri. Juga lantai bawah tengah ramai, mereka tidak ingin merepotkan.
Foto sudah diambil, sekarang waktunya untuk makan siang dan mengobrol ringan. Makan saja tidak akan seru. Apalagi jika hanya ada suara sendok dan garpu yang tengah beradu di atas piring. "Widia, ayo cari topik obrolan," suruh Hanasta. Dia menyerah mencari obrolan.
"Oh ya kalian tahu, crushku-"
"Tidak, Indri saja," potong Hanasta cepat. Tingkah dua teman ini membuat yang lainnya terkekeh di tengah makan. Hanasta mungkin sudah lelah mendengarkan cerita tentang orang yang disukai Widia. Jadinya dia melemparkan topik pada Indri yang diam sejak selesai berfoto.
Indri yang tiba-tiba di panggil tentu saja terkejut, dia menoleh masih dengan sendok yang ada di dalam mulutnya. Suapan keseniannya pasti belum sempat turun.
Beberapa menit berlalu dengan ketenangan. Sementara itu satu persatu orang di meja besar itu sudah menyelesaikan makan. Salah satunya Ignacia. Si gadis berambut panjang itu bangkit, izin pergi ke toilet. Dia tidak sendiri, Rananta juga ikut.
Saat berada di tangga, Ignacia bertanya apa mungkin Rananta juga ikut masuk ke grup yang membahas soal komik. Katanya Hanasta bilang jika Rananta juga menyukai komik. Ada sesuatu yang membuat Ignacia ragu soal apa yang dikatakan Nesya ketika mereka makan camilan malam itu. Tidak bisa dikatakan tidak percaya juga sebenarnya.
"Iya, tentu saja ada. Semua hal di dunia ini tentu memiliki semacam kelompok. Grupku itu biasanya memang ramai. Banyaknyang dibahas dan diskusikan," jelas Rananta.
Ignacia mengangguk paham. Dia berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan, masih memikirkan Nesya. Ada sesuatu yang menganggu hatinya tentang anak itu. Padahal Nesya masih bersama kakaknya. Kabarnya akan kembali ke kota kelahirannya, disini, bersama kakaknya juga. Seharusnya Nesya tetap aman.
Sekembalinya Ignacia dan Rananta, mereka mendapati teman-teman lain tengah menikmati jam bebas. Berfoto di pojok lantai ini, sekedar menunjukkan area outdoor, atau membuat video vlog ala-ala. Yanh sedang duduk dan memperhatikan hanya Indri dengan ponselnya yang sudah miring. Mungkin mendapatkan ajakan bermain bersama.
Ignacia meninggalkan Rananta yang tiba-tiba diwawancarai Hanasta dan Widia, mendekati Indri yang tangannya banyak bergerak di layar ponselnya. Tidak ada yang dia lakukan ketika duduk bersebelahan dengan temannya ini di sofa empuk dekat meja tempat makan tadi. Hanya tiba-tiba ingin duduk saja.
Melihat tingkah teman-temannya yang menarik, Ignacia mengeluarkan ponselnya untuk merekam. Pertama diarahkan pada Indri yang duduk di sebelahnya. Saking fokusnya, dia bahkan tidak sadar jika Ignacia mengarahkan ponsel padanya dengan misterius.
Selanjutnya pada Maharani dan Utari yang membahas area outdoor. Suara Maharani yang kecil masih bisa terdengar. Dia bertanya kapan bisa datang kemari lagi dengan laptop dan buku seperti sedang mengerjakan tugas di perpustakaan kampusnya. Pasti akan menyenangkan belajar di area outdoor.
Lalu ada Aruna dan Dianti yang mengambil foto dengan referensi dari ponsel salah satunya. Kemala sebagai juru foto nanti akan mendapatkan hal berfotonya juga. Cukup katakan bagaimana Aruna harus memposisikan kameranya nanti. Harus seperti apa pula gaya Kemala agar fotonya sempurna.
Lalu waktu yang ditunggu-tunggu semua orang akhirnya datang. Karena panggilan Rananta yang memanggil semua orang untuk berkumpul, mereka cepat-cepat kembali ke tempat yang tadi diduduki. Sudah diberi tanda dengan tas agar tidak tertukar. Karena sesuatu yang dibawa kesepuluhnya memiliki cover yang serupa.
Meja sudah dibersihkan saat jam bebas oleh para pelayan kafe. Yang tersisa hanya meja kosong untuk melaksanakan acara kecil selanjutnya. Beberapa Minggu yang lalu Rananta memberikan sebuah ide untuk membuat acara reuni ini lebih berkesan.
Dia mengirimkan sebuah link yang akan membuat teman-temannya bisa menemukan kejutan yang dikatakannya secara terpisah. Jadi tidak ada yang tahu bagaimana hasil teman lainnya. Permainan rahasia yang akan diungkap setelah ini.
Manito Game namanya.
"Bagaimana jika kita menentukan urutannya dengan random? Atau mau menggunakan botol ini lagi?" Diangkatnya botol yang ada di bawah kursinya. Botol yang membuat Widia hampir trauma jika saja mendapatkan kesempatan sesuai kemana botolnya mengarah.
Bermain dengan botol lebih menarik daripada aplikasi. Jadi diputuskan saja menggunakan botol untuk memilih orang pertama saja. Orang yang ditunjuk nantinya harus berdiri, membicarakan soal seseorang yang menjadi pasangannya tanpa ada yang menyadarinya. Harus hanya sepasang itu yang tahu.
Selama permainan berlangsung, Ignacia sedikit khawatir jika hadiahnya tidak sesuai dengan apa yang temannya inginkan. Hadiah yang cocok bagi Ignacia takutnya tidak cocok baginya. Ignacia takut kurang memberikan niatnya pada barang pemberiannya.
Sudah sampai di urusan kesekian, entah kapan giliran Ignacia. Siapa yang berpasangan dengannya kini sudah hampir terlihat. Satu persatu temannya mendapatkan pasangannya masing-masing dan sudah bertukar kado yang paling menggambarkan pasangannya.
Sekarang seseorang tengah membahas temannya yang menurutnya aneh. Dia terlihat berbeda di publik dan private nya. Meskipun begitu, menurutnya temannya ini orang yang hebat karena bisa berjalan bersama orang yang di percaya hingga saat ini. Dia hanya kagum dengan cara temannya menjaga semuanya terlihat baik-baik saja.
"Ini untukmu, Ignacia," simpul dia yang baru selesai bercerita. Dia yang disebutkan namanya pun menerima hadiah yang diberikan, mengucapkan terima kasih juga. Tidak disangka jika orang yang bersamanya sejak pagi ini rupanya pasangan permainan ini. Utari.
"Kubuatkan cookies untuk menemani kegiatanmu membaca buku. Sebenarnya aku ingin memberikan novel, namun Athira bilang jika dia sudah membelikan banyak buku. Tapi tidak apa-apa. Kudengar makanan juga bisa menenangkan hati." Utari berbicara dengan bangga, bahkan dia menyibakkan rambutnya ke belakang.
"Tanpa memberikan makanan pun kau sudah menenangkan hatiku, Utari," balas Ignacia.
"Waduh Rajendra pasti cemburu ini," celetuk Kemala setengah berteriak karena tempatnya jauh dari Ignacia juga Utari.
...*****...
"Athira, kau dimana?" Ignacia duduk di sebuah bangku dekat kafe tadi, menunggu ayahnya menjemput. Seharusnya Athira, namun anak itu tidak bisa dihubungi oleh orang tuanya sejak tadi. "Kau membuat ayah harus menjemputku. Mentang-mentang bisa menggunakan motor, motorku kau bawa."
"Masih ada kegiatan, Kak. Lagipula kenapa jika ayah menjemput? Toh ayah hari ini libur." Ignacia dapat mendengar suara obrolan di sekitar adiknya. Pasti dia sedang beristirahat.
"Aku sudah tidak ingin merepotkan orang tuaku. Aku sudah cukup merepotkan karena tinggal jauh dari rumah, membuat ayah dan mama membayar banyak untuk kuliah karena aku tidak dapat beasiswa. Aku malu karena terus membuat mereka mengeluarkan banyak uang dan tenaga untukku."
"Lalu ayah sekarang sudah datang?"
"Tidak. Ayah katanya masih ada di bengkel, memperbaiki sepeda Arvin. Aku diminta menunggu lima belas menit."
"Jika ayah dengan senang hati menjemput kakak setelah bermain, seharusnya kakak santai saja. Kakak itu jarang keluar rumah, jadi ayah tidak keberatan jika harus mengantar dan menjemput. Sudah ya, aku harus makan siang. Aku lapar."
Panggilan langsung terputus sepihak. Ignacia bahkan belum sempat mengatakan apapun. Ignacia menghembuskan nafas panjang, menyandarkan diri pada sandaran bangku. Adiknya tidak salah, tapi Ignacia bukan anak kecil lagi. Seharusnya dia tidak merepotkan orang tuanya lagi. Ayahnya pula yang memaksa menjemput. Sekalian katanya.
"Belum di jemput?" Seseorang mengambil tempat di sebelah Ignacia, temannya yang bermata bulat itu. "Hei, ada waktu? Aku ingin menceritakan sesuatu," lanjut Utari. Dia memutar posisi duduknya, menghadap Ignacia sepenuhnya.
Ignacia memperbaiki posisi duduknya, memberikan perhatian yang Utari inginkan. "Ada apa?" Tanyanya.
"Aku menyukai seseorang di kampusku," kalimat Utari membuat Ignacia tersedak air liurnya sendiri. Ignacia tidak mencoba untuk menginterupsi, dia mendengarkan temannya dengan seksama. Hanya satu yang dia pikirkan ketika Utari datang menemuinya dan menceritakan soal perasannya pada seseorang.
Utari benar-benar menyukai anak ini.
Teman Ignacia ini bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, sama seperti teman-temannya yang lain. Jadi cukup mengejutkan jika Utari tiba-tiba datang dan berkata jika ada seseorang yang disukainya setelah masuk kuliah. Dari mata Utari, Ignacia dapat melihat ketulusan dan semangat yang membuat kedua manik mata temannya berbinar.
"Temanku jatuh cinta," goda Ignacia iseng.