
"Apa aku memang harus melakukan ini? Ada banyak hal yang membuat Ignacia begitu penasaran. Tidak seharusnya aku menunjukkan sebuah rahasia tanpa sengaja." Rajendra menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan bimbang. Pikirannya penuh dengan bermacam-macam kemungkinan untuk menjalankan misi melamar si kekasih.
Lampu yang menyala terang seolah tak menganggu indra pengelihatan. Entah akibat kepalanya yang terlalu ramai atau memang matanya sudah bisa beradaptasi sejak tadi. Beberapa kali alisnya tampak naik turun disertai kerutan di kening tanda kebingungan. Beberapa kali terdengar helaan nafas panjang dari laki-laki bertubuh jakung ini.
Jika Rajendra melakukan apa yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari, menjadi aktor yang mencoba untuk mengetahui perasaan Ignacia tanpa bertanya, apa Ignacia nantinya tidak apa-apa? Maksudnya, apa Ignacia akan terus menyangkal dan tidak percaya? Semuanya bisa berantakan jika tiba-tiba Ignacia menyerah dan mengiyakan.
Samar-samar Rajendra mendengar suara ketukan dari pintu. Tadi pikirannya melayang jauh sampai tidak dengar ketika seseorang memanggil dan mengetuk pintu. Qabil menatap kesal adik iparnya kala pintu sudah terbuka. "Aku berdiri disini selama tiga menit dan kau baru membukanya, Rajendra? Kenapa untuk membuka pintu saja butuh waktu lama?" Qabil tidak biasanya mengomel.
"Maaf," Rajendra menyentuh belakang kepalanya, "Ada sesuatu yang aku pikirkan. Jadi aku tidak fokus pada hal lain." Mungkin jika Qabil tidak sabar menunggu hingga pintu kamar Rajendra terbuka, si pemilik kamar tidak akan pernah sadar jika ada seseorang yang menunggunya diluar sini. "Kenapa memanggilku?" Rajendra bertanya.
Makan malam sudah siap. Sejak tadi malah. Ibu Rajendra meminta menantu pertamanya untuk memanggil anak bungsunya yang entah sedang apa di kamar. Ibunya bahkan menyerah memanggil. Selanjutnya Rajendra mengikuti langkah si kakak menuju meja makan. Amira dan Maaz tidak terlihat disana. Rajendra juga tidak peduli.
Begitu melihat anak bungsunya, di ibu langsung bertanya. "Tadi kamu sedang tidur? Sampai tidak dengar ketika di panggil." Yang ditanyai hanya menggeleng pelan. Menarik kursi di samping kakak iparnya. Makanan di atas meja sama sekali tidak membuat Rajendra berselera. Rencana yang ia pikirkan matang-matang selama setahun terakhir terlalu berat.
Amira dan Maaz akhirnya bergabung setelah beberapa saat. Mereka duduk di seberang meja. "Rajendra, kenapa tidak makan? Kau tidak suka menunya?" Amira membuyarkan lamunan adiknya. Tanpa menoleh, Rajendra langsung meraih sendok nasi dan memulai makan. Sama sekali tidak terdengar suara dari laki-laki itu.
Selesai makan, Rajendra diminta membantu membersihkan meja. Hanya ada Rajendra dengan ibu juga ayahnya yang masih duduk di dekat meja makan. "Kenapa diam saja hari ini? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Ibunya tentu khawatir. Diamnya Rajendra terdengar amat janggal malam ini. Butuh beberapa menit hingga Rajendra menjawab.
"Aku ingin melamar Ignacia ketika liburan nanti." Tatapan ayah dan ibu laki-laki itu otomatis setuju pada Rajendra. "Aku sudah menyiapkan semuanya, cincin dan apa-apa yang akan digunakan untuk melangsungkan pernikahan. Uang tabunganku sudah cukup. Aku sudah berbicara dengan Kak Qabil jauh-jauh hari dan sudah kuputuskan untuk melamar Ignacia."
Rajendra hanya meminta saran Qabil untuk menemukan waktu dan tempat yang pas untuk melamar. Bagaimana caranya mencari ukuran cincin yang pas, lalu cara untuk memantapkan diri melamar si kekasih. Tidak ada pembahasan drama kecil selain melihat apakah gadisnya sudah siap menikah tanpa ditanyai. Karena itu Rajendra sibuk memilah-milah kata.
Tidak ada yang bisa menghalangi langkah baik si anak bungsu. Lagipula kakaknya juga dalam proses nantinya. Kedua orangtuanya mengerti, Rajendra ingin menunjukkan keseriusannya pada gadis yang ia cintai. "Hubungan kalian sudah berlangsung sangat lama. Kami akan mendukung apapun keputusanmu, Rajendra."
Ayah Rajendra berjalan mendekati si bungsu. Merangkul ala lelaki sambil tersenyum senang. "Lihatlah sekarang anak bungsuku sudah akan melamar kekasihnya. Ayah tidak sabar melihatmu berada di pelaminan bersama Ignacia. Pastikan semuanya sudah benar-benar siap. Ayah dan Ibu akan membantu sebisa mungkin. Kamu mengerti?"
Angin segar seakan menerpa wajah Rajendra. Air wajahnya berubah lega. Dikiranya ia akan mendapatkan penolakan karena kakaknya belum menikah. Ibunya menambahkan jika Rajendra pantas mendapatkan kesempatan ini karena telah berusaha sangat keras. Kakaknya juga tidak keberatan dengan keputusan adiknya. Semuanya berjalan lancar sejauh ini.
Qabil tengah duduk sendirian di ruang tamu ketika Rajendra akan keluar untuk mengunci pagar. Kakak iparnya bertanya apakah komunikasi Rajendra dengan orang tuanya sudah selesai dan mempertahankan hasilnya. Senyuman kecil yang Rajendra tunjukkan pasti sudah lebih dari cukup. Pasti Rajendra sudah merasa lebih baik.
"Mau duduk dan menemani aku sebentar?" Qabil menepuk tempat kosong di sampingnya. "Mungkin sebaiknya kau dengar apa yang ingin aku sampaikan ini." Rajendra menurut saja. Namun setelah permintaan dari ibu yaitu mengunci pagar sudah terlaksana. Rajendra benar-benar anak yang baik. Pantas saja orang tuanya tidak berpikir terlalu lama tadi.
Kata Qabil, jika sudah menikah, selain harus memberikan nafkah, Rajendra juga harus memberikan dukungan moral dan emosional pada istrinya nanti. Melindungi secara fisik, emosional, dan mental itu penting sekali. Rajendra pastinya juga harus menjaga rumahnya agar tetap harmonis dan mendukung satu sama lain demi hubungan rumah tangga yang sehat.
"Saling pengertian, saling menghormati, dan mendukung itu diperlukan. Jadi, jika kalian yang bekerja harus pulang terlambat atau apapun itu, sampaikan saja. Dengan begitu kalian bisa lebih dekat. Aku yakin kalian sudah melakukannya selama ini, tapi alangkah baiknya hal itu tetap dikembangkan." Qabil tampak seperti sedang melayani Rajendra yang berkonsultasi.
Rajendra menyandarkan dirinya pada sandaran kursi ruang tamu, menatap dinding di hadapannya dengan tatapan sulit diartikan. "Aku sudah siap melakukan semua itu, kak. Aku berharap Ignacia juga sudah siap. Aku belum pernah membahas ini karena takut dia merasa terluka. Karena ... aku tidak ingin membuatnya terbebani."
Qabil ikut menyandar santai. Menurutnya Rajendra hanya khawatir dengan perasannya sendiri. Belom tentu Ignacia merasa terbebani. Jika sudah berada di tahap ini, bukankah artinya mereka berdua sudah benar-benar bersedia untuk naik ke jenjang yang lebih serius? Semuanya kembali pada pasangan ini lagi. Terserah mereka akan menjalani hubungan seperti apa.
Hari demi hari berlalu. Rajendra terus memikirkan bagaimana reaksi Ignacia melihat cincin berbahan emas dengan permata kecil yang sudah Rajendra siapkan. Tidak sulit untuk menemukan ukuran yang pas. Rajendra bisa melihat jika jari Ignacia lebih kecil daripada besi yang ada di gantungan kunci burung hantunya. Ignacia pernah terlihat menyelipkan jarinya ke dalam lubang itu, Rajendra tentu sudah memperhatikan.
Hatinya merasa bersalah karena terus mendapatkan panggilan dari orang tua, Qabil, juga mama Ignacia. Rajendra tentu meminta bantuan pada wanita yang paling mengenal kekasihnya ini secara diam-diam. Mereka bertiga menelpon untuk bertanya apakah rencananya sudah dijalankan, apakah ada sesuatu yang terjadi, dan hal-hal lain. Rajendra mengubah rencananya karena permintaan Ignacia untuk melihat matahari.
Membuat Ignacia merasa tersisihkan selama sehari memang bukan hal yang baik. Apalagi Rajendra juga sempat melarang kekasihnya untuk mengerjakan pekerjaan sampingan ketika di dalam mobil. Melihat Ignacia yang memohon rasanya tidak pantas. Tidak seharusnya gadis kesayangannya sampai memohon seperti itu demi perhatiannya.
Tapi panggilan dari sang ibu tidak bisa Rajendra ditolak. Ibunya pasti bertanya soal anaknya dan rencana melamar itu. Laki-laki itu merasa masih menjadi tanggungjawab orang tuanya jadi tidak bisa seenaknya menolak. Rajendra meminta agar orang tuanya tidak menghubungi, begitu pula dengan anggota keluarga lain seperti kakak ipar dan ayahnya.
"Aku sedang dalam misi. Kasihan Ignacia jika dia terus melihat aku mengangkat panggilan dari kalian. Ignacia sangat menginginkan liburan ini." Rajendra meminta dengan sungguh-sungguh.
Di samping itu, Rajendra juga mendapatkan panggilan dari beberapa kenalan yang dia tanyai soal hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan seperti gedung dan lain sebagainya. Nanti jika lamaran Rajendra diterima, Ignacia hanya perlu memilih bersama calon suaminya ini ingin menggunakan gedung mana dan dekorasi apa yang ingin dipajang di seluruh ruangan luas itu.
Rajendra sibuk seperti saat berkencan dengan Ignacia di masa lalu. Ignacia terbayang-bayang oleh sosok workaholic yang seakan selalu melekat pada laki-laki ini setiap keduanya punya kesempatan bersama. "Jika bisa memilih, aku juga tidak ingin mengangkat panggilan dan berdiri jauh darimu, Ignacia. Hanya saja ... Seharusnya kamu tidak mendengar panggilan yang kuangkat seharian ini."
Hari berganti. Orang-orang di sekitar tampak menyangka jika Rajendra berencana memutuskan Ignacia berkat wajah basah gadis itu ketika kembali ke penginapan. Keempat teman mereka ingin pergi makan diluar, otomatis Ignacia dan Rajendra yang sudah berada di pantai sudah bersiap-siap lebih dulu agar bisa langsung pergi setelah teman-teman mereka siap.
Nesya dan Danita langsung panik ketika Ignacia masih menangis. Bagaimana tidak? Selain karena Rajendra mengatakan hal jujur dengan banyak drama yang disengaja, Ignacia tetap saja terharu karena dilamar. Banyak pertanyaan langsung disodorkan karena refleks. Cincin cantik yang melingkar di jari langsung ditunjukkan, agar Ignacia tidak perlu menjawab dengan kata-kata.
Jika mengingat masa-masa yang sudah berlalu, Rajendra tersenyum puas dengan kegiatan membingungkannya selama ini. Dirinya berhasil sampai di posisi dimana dirinya akan duduk berhadapan dengan seorang penghulu bersama dengan ayah dari kekasihnya. Begitu semua orang berkata 'sah' impian terbesar Rajendra setelah mendapatkan pekerjaan yang diam-diam ia jalankan setahun setelah kuliah selama tiga tahun terpenuhi.
Sengaja Rajendra tidak mengatakan bahwa dirinya berkuliah di suatu tempat demi diam-diam mengumpulkan semua yang diperlukan demi jenjang ini. Ignacia tidak perlu tahu bagaimana kerasnya Rajendra berusaha menjadi masinis seperti yang ia inginkan selama ini. Yang ingin Rajendra tunjukkan hanya dirinya baik-baik saja dan akan berusaha untuk memberikan kabar.
Jika gadis itu tahu Rajendra sudah bekerja lebih cepat. Mungkin Ignacia akan enggan menunggu kabarnya. Semua buku di toko buku pasti sudah berpindah ke asrama gadis itu tak lama lagi. Juga karena menyembunyikan ini, Rajendra tidak bisa membiarkan kekasihnya untuk datang dan berfoto bersama. Padahal itu yang sangat diinginkan Ignacia. Punya kenangan bersama dengan kekasihnya setelah berhasil menempuh pendidikan.
Karena tidak bisa datang, Ignacia memberikan buket bunga untuk kekasihnya ketika mereka sudah kembali dari liburan. Rajendra diminta memakai seragam masinis miliknya dan Ignacia akan menggunakan kebaya agar tampak serasi. Mereka bahkan pergi ke studio foto agar bisa mengabadikan momen. "Seharusnya kamu mengaku saja. Kita tidak harus pergi kesini jika kamu tidak menyembunyikan fakta ini." Ignacia tetap mengomel meskipun dirinya senang bisa tahu rahasia lain yang Rajendra sembunyikan.
"Jika aku tahu, nanti aku ingin naik ke kereta yang kamu kendalikan. Entah pergi kemana, aku hanya ingin ikut dan melihat kamu menggunakan seragam tadi saat bekerja." Ignacia melirik kekasihnya yang kini sudah tak lagi menggenakan seragam yang di maksud. "Kamu pasti tampak keren sekali. Kamu curang, Rajendra. Aku hanya bisa melihat kamu dengan seragam itu sekali saja."
Sebelum gadis itu bisa meminum jus dinginnya, Rajendra lebih dulu bergerak untuk merangkul Ignacia hingga menunda kegiatan si gadis. Katanya nanti setelah mereka menikah, Ignacia bisa melihat Rajendra menggenakan seragam itu setiap akan berangkat bekerja dan kembali ke rumah. Mendengar itu, Ignacia jadi tersipu malu. Ucapan Rajendra benar sekali.
"Rajendra," panggil seseorang beberapa kali. "Hei jangan melamun begitu. Sebentar lagi teman-teman kita akan datang." Ignacia mencoba untuk menyadarkan Rajendra yang malah melamun setelah mengobrol dengannya. Duduk di depan sini saja sudah terasa aneh, apalagi ketika Rajendra seolah terpaku pada dirinya. "Rajendra!" tegas Ignacia sekali lagi.
Ignacia pasti tampak terlalu mempesona dengan riasan yang dibuat sekitar dua jam lalu. Sengaja mereka hanya mengadakan acara di siang hari dan selesai sebelum sore agar pasangan yang baru menikah ini tidak kelelahan. Rambut Ignacia yang tergerai indah dengan aksesoris mahkota dari negeri dongeng berhasil membuat gadis itu tampak seperti putri yang dicari-cari oleh pangeran tampan.
Gaun yang Ignacia gunakan di hari pernikahan ini juga sama menakjubkannya dengan sosok si gadis. Gaun berwarna beige yang cocok dengan warna kulit putih Ignacia tampak dibuat khusus untuk si mempelai wanita. Bahu dan lengan Ignacia terekspos dengan indah. Sayangnya Rajendra merasa enggan untuk berbagi pemandangan ini dengan siapapun. Teman-teman Rajendra yang kebanyakan laki-laki semoga saja tidak terus memandangi istrinya.
Benar saja, setelah Rajendra berharap demikian, para tamu undangan dari kalangan teman-teman kedua pengantin datang. Teman-teman Ignacia datang lebih dulu. Kesembilan teman baiknya datang disertai senyuman bahagia. Ada yang datang bergandengan dengan suami atau calonnya lalu yang lainnya saling bergandengan karena merasa takjub dengan kecantikan teman mereka.
Mereka yang lebih banyak mengucapkan selamat dan mengambil foto dengan pengantin baru daripada teman-teman dari Rajendra. Teman-teman istrinya yang lebih lama menetap di pelaminan daripada tamu lain. Bahkan lebih dari para keluarga besar masing-masing mempelai.
"Hari ini melelahkan, tapi aku senang." Bisik Ignacia sambil tersenyum puas pada suaminya.