
"Ignacia, aku akan melakukan sesuatu, tunggu sebentar," izin Rajendra kemudian bangkit setelah mendapatkan persetujuan. Entah akan pergi kemana, Ignacia tidak diberi tahu.
Rajendra pergi keluar kamar, mencari teman sekamarnya yang katanya sedang menonton tv di ruang tengah bersama dengan pemilik kos juga teman-teman lain. Karena tontonannya acara bola, jadinya semua orang bersemangat dan gugup di saat yang bersamaan. Bagkan ketika Rajendra datang saja auranya sudah tidak menyenangkan.
"Bagas," panggil Rajendra, "bisa ku pinjam ponselmu sebentar?"
Bagas yang tidak peduli pun hanya mengangguk. Dibukanya pola ponselnya kemudian memberikannya pada teman sekamar. Bagas tahu jika Rajendra tidak akan macam-macam. Jadinya biarkan saja dia menggunakannya untuk sementara.
"Apa aku boleh membawanya saja ke kamar?" tanya Rajendra selang beberapa menit. Bagas kembali mengangguk. Bahkan dia tidak keberatan saat Rajendra membawa ponselnya pergi. Fokus Bagas hanya pada layar televisi hingga... GOL!
Tim kesayangan semua orang di ruangan akhirnya mencetak gol yang membuat kini merekalah pemenangnya. Permainan belum berakhir. Masih ada babak lain yang harus dimenangkan.
Sekembalinya Rajendra dari luar ruangan, Ignacia masih ada di depan laptop. Sekarang sepertinya tengah merevisi apa yang baru saja dikerjakannya. Beberapa kali dia mengecek laptop dan buku catatannya beberapa kali. Tidak menyadari kembalinya Rajendra diam-diam.
Rajendra tidak mengatakan apapun, dia menunduk, mengetikkan sesuatu. Sesekali melirik ke arah Ignacia untuk memastikan bahwa gadis itu masih bersamanya. Rajendra tersenyum kecil, wajah Ignacia tampak lucu meskipun seharusnya Rajendra tidak berpikir demikian.
"Aku selalu suka wajah seriusmu," batin Rajendra.
Rajendra beralih pada laptop sebentar. Karena tidak bisa menggunakan ponsel miliknya, jalan lain untuk menghubungi seseorang adalah lewat tautan di laptop. Seharusnya teman yang dia tuju membalasnya dengan cepat. Harapak Rajendra hanya pada orang itu.
"Rajendra, aku bosan," keluh Ignacia, wajahnya sudah kelelahan, "tapi tugasnya masih banyak. Padahal ulangan datang beberapa Minggu yang lalu. Kenapa sekarang ada banyak tugas?"
"Mungkin untuk menambahkan nilai? Hei bersemangatlah. Setelah semester ini selesai, kita bisa pulang dan berkencan."
Rajendra mengetikkan sesuatu di laptop yang ada di pangkuannya sambil memberikan senyuman manis pada Ignacia. Ya siapa yang tidak kembali bersemangat ketika mendapatkan pemandangan yang menyejukkan begitu? Ignacia mengangguk saja kemudian kembali mengerjakan tugas.
"Omong-omong, Ignacia, kamu tinggal di asrama apa? Kukira ada nama untuk asrama di kampusmu," Rajendra bertanya seolah bukan apa-apa. Padahal alasannya karena teman yang dia andalkan tidak segera mengirimkan jawaban.
"Asrama Lily. Kenapa bertanya?"
"Aku dengar jika tinggal di asrama itu masih harus melewati beberapa tahap. Kamu pasti menyelesaikan tahapan itu dengan baik karena berada di asrama yang bagus," puji Rajendra. Dia buru-buru mematikan kembali laptop, beralih ke ponsel Bagas.
"Ignacia, aku mulai merasa lapar. Bagaimana denganmu? Apa ada sesuatu yang ingin kamu makan? Aku ingin melakukan panggilan video lagi saat kita makan."
Ignacia tampak berpikir sebentar, dia tidak bisa menjawab tidak ingin makan apa-apa atau ingin makan Fitbar saja. "Aku tidak bisa memikirkan soal makanan sekarang. Memangnya kamu ingin makan apa?" Ignacia balik bertanya.
"Mungkin olahan mie?"
"Kedengarannya enak. Aku akan membelinya nanti setelah tugasku selesai. Hanya tinggal sedikit lagi."
Keduanya masih melanjutkan kegiatan masing-masing. Dan selesai di waktu yang hampir bersamaan. Akhirnya Ignacia bisa merasa bebas. Bagkan tugasnya sudah dikumpulkan beberapa waktu yang lalu.
"Rajendra, apa kamu masih ingin melakukan panggilan video? Bagaimana jika memindahkannya ke laptop saja? Ponselku harus segera diisi daya."
Rajendra tidak akan menolak. Yang dia inginkan untuk menjaga kekasihnya tetap sehat meskipun berada di tempat yang jauh. Panggilan video ini hanya untuk memastikan saja.Mama Ignacia sempat memberitahu jika anak pertamanya tidak sering menghubungi. Jadinya Rajendra yang mencari tahu.
"Kita lakukan setelah kamu bersih-bersih saja, Ignacia. Telfon aku setelah kamu selesai."
Ignacia merenggangkan dirinya layaknya kucing yang sedang merebahkan diri di atas lantai. Si gadis berambut panjang akhirnya menyelesaikan tugasnya dengan baik dan tidak terlambat. Sekarang dia harus segera bersih-bersih agar bisa kembali berkomunikasi dengan Rajendra.
Si gadis membereskan buku juga laptopnya, mengisi daya ponsel, menyambar handuk kemudian masuk ke kamar mandi. Entah karena sekarang dia tidak memiliki tanggungan apapun atau karena sebentar lagi Rajendra akan menghubunginya kembali. Air yang mengalir ini rasanya lebih hangat dari sebelumnya.
...*****...
Suara ketukan terdengar, mengalihkan perhatian Ignacia dari handuk di kepalanya ke pintu kamar. Suara ketukan kembali datang seolah memberitahu yang di dalam bahwa dia tidak sedang salah dengar. Siapa yang mengetuk pintunya di malam hari? Ada feeling jika pelakunya adalah Danita.
"Ada apa?" Dan tebakan Ignacia benar.
Gadis berambut pendek di depan pintu itu menyodorkan sebuah bingkisan, katanya kirimkan makanan dari seseorang. "Seorang pengantar makanan memintaku untuk mengirimkannya pada seseorang bernama Ignacia. Orang itu bahkan menyebutkan nama lengkapmu, Ignacia."
Sebelum Ignacia sempat mengatakan sesuatu, Danita lebih dulu memotong. "Katanya orang yang memesan ini ada di kota lain. Nama pengirimnya 'Rowl'. Mungkin temanmu memiliki nama samaran? Atau mungkin dari kekasihmu?" Opsi kedua sepertinya benar, mungkin ini alasan kenapa Rajendra bertanya soal nama asramanya.
"Baiklah terima kasih." Dibawanya masuk makanan yang diberikan Danita. Diletakkan di atas meja tempat Ignacia akan melakukan panggilan video lagi dengan Rajendra. Sudah satu jam berlalu. Apa Rajendra benar-benar mengirimnya?
Ignacia meraih ponselnya, langsung menyambungkan ke panggilan video. Butuh setidaknya dua menit hingga seseorang disana berhasil di panggil. Wajah orang itu langsung sumringah saat melihat apa yang dibawa kekasihnya.
"Kamu yang mengirim ini?" Ignacia langsung tahu jawabannya begitu melihat senyuman lebar dan anggukan Rajendra. Jadi pertanyaan yang diajukan si laki-laki tadi memang ada hubungannya dengan datangnya makanan ini. Di tempat dan waktu yang sangat tepat.
"Aku akan memastikan kamu makan dengan baik," ungkap Rajendra, "aku akan makan denganmu darisini."
Hati Ignacia menghangat, senyuman bahagia terbentuk hanya dalam beberapa detik. Siapa yang tidak meleleh jika mendapatkan perhatian dari si tuan sibuk? Sekarang Ignacia merasa sangat dicintai.
Jika hanya makan, keduanya mungkin hanya akan saling pandang sambil mengunyah, itu tidak seru. Jadinya sesekali ada cerita lucu yang diselipkan agar tidak sepi. Lagipula keduanya sama-sama sendiri, meminjam waktu seolah-olah keduanya benar-benar bersama tidaklah salah kan?
Lebih banyak Rajendra yang bercerita sebenarnya, entah mengapa kehidupan laki-laki berwajah tampan ini begitu lucu bersama teman-teman laki-lakinya. Mungkin karena mereka sama-sama berada jauh dari rumah dan senang mendapatkan teman baru di tempat yang jauh ini.
"Kenapa jika dia menyukai seseorang? Bukankah semua orang selalu senang jika berada di posisi seperti itu?" Ignacia menggigit garpunya sambil menunggu jawaban Rajendra.
"Aku sudah mengenal dia cukup lama. Kami banyak mengobrol dan dia terdengar seperti seseorang yang memiliki kekasih rahasia. Dia pernah memberitahuku sesuatu soal hubungan asmara. Tapi dia mengaku belum pernah berkencan."
Rajendra berhenti sampai disana kemudian beralih membahas hal lain. Ignacia tidak bisa masuk ke topik selanjutnya, dia jadi bingung dengan teman yang Rajendra singgung tadi. Biasanya orang yang benar-benar belum berkencan tidak mengenal hubungan romantis.
Mungkin karena dia banyak melihat pasangan, pikir Ignacia.
...*****...
Danita menunjukkan layar ponselnya pada sang kekasih, "apa kamu menyukainya? Aku memilih tempat berdasarkan apa yang kita berempat suka. Temanku menyukainya, jadi aku bersemangat sekali. Katanya sesuai dengan tipe mereka."
Kekasihnya mengangguk-angguk saja, kemanapun kekasihnya pergi, dia akan menyukainya. Lagipula mereka tidak akan melakukan double date seharian. Dan dengan adanya energi dari Danita, kecanggungan mungkin tidak akan terasa.
"Apa perlu kubantu menyiapkan sesuatu?" si laki-laki bertanya. Membiarkan Danita mengerjakan semuanya membuatnya merasa tidak enak. Danita menggeleng, menjelaskan jika dia dan Ignacia sudah menyiapkan semuanya.
"Oh ya, bagaimana jika kamu berteman dengan kekasih temanku? Mungkin kalian bisa berteman baik seperti aku dan dia. Mungkin lain kali kita bisa melakukan double date lagi." Yanh satu ini saja belum selesai dan Danita berencana untuk melakukan kencan lagi?
Sang kekasih mengacak rambut si gadis gemas, "kamu ini penuh semangat sekali. Tapi kamu juga harus membuat mereka nyaman ketika kencan. Ingat jika kita tidak hanya berdua."
"Tentu saja aku tahu," Danita menarik kembali tangannya, "aku merencanakan ini hanya agar kamu mengenal temanku dan kekasihnya. Kamu akan tahu kenapa dia spesial bagiku nanti."
Mata Danita yang berhenti menatap kekasihnya seolah mengatakan sesuatu. Tiba-tiba cahayanya tidak lagi seterang sebelumnya. "Aku tidak begitu mengerti kenapa perasaanku pada Ignacia bisa tiba-tiba muncul. Aku ingin kamu mencari tahu juga agar aku bisa mengerti."
...*****...
"Kau pinjam untuk apa ponselku?" Bagas memeriksa ponselnya, mengecek apa mungkin ada sesuatu yang bebeda. Rajendra memakainya cukup lama, menimbulkan kecurigaan dari yang meminjamkan. "Apa kau menggeledah ponselku?"
"Aku menggunakan aplikasi pesan antarmu untuk mengantarkan makanan. Sudah kugantu uangnya lewat aplikasi. Aku tidak membuka hal lain," tegas Rajendra di akhir kalimat. Laki-laki yang tengah sibuk membereskan makanannya ini juga tidak tertarik membuka privasi temannya. Rajendra bangkit, membawa bungkusan makanan untuk dibuang.
Bagas membuka aplikasi pesan singkatnya, mengecek roomchat seseorang selagi teman sekamarnya pergi. Masih belum ada tanda-tanda online sejak tengah malam tadi. Beruntungnya orang ini tidak mengirimkan pesan. Jadinya Rajendra tidak akan mendapati pesan baru tanpa sengaja.
Beralih ke aplikasi pesan antar, Bagas ingin tahu makanan apa yang dipesan temannya. Wah Bagas tidak menyangka jika temannya bisa melakukan ini. Bukan karena makanan atau harganya, tapi pada alamat makanan ini berasal dan ditujukan. Rajendra terlalu ekstrim untuknya.
"Kau gunakan untuk apa aplikasi makananku?" tanya Bagas begitu Rajendra datang dengan membawa segelas air.
"Mengirimkan makanan pada Ignacia," cuek Rajendra. Kenapa juga harus menceritakan detail kegiatannya?
Bagas tidak lagi bersuara. Dia meletakkan ponsel dan menyambar handuk miliknya. Sebaiknya dia cuci muka dan segera tidur karena besok dia memiliki rencana dengan dirinya sendiri. Bagas baru akan keluar dari pintu ketika sebuah suara keluar dari ponsel di atas tempat tidur.
"Sepertinya kekasihmu mengirimkan pesan," celetuk Rajendra.
"Kau jangan mengada-ada." Meskipun begitu, Bagas melakukan sesuatu yang berlawanan dengan ucapannya. Didekatinya ponsel untuk mengecek apakah pesan yang datang sama seperti yang dia pikirkan. Fakta bahwa senyuman muncul di wajah Bagas sudah menjawab semuanya.
"Siapa gadis ini? Dia salah satu temanmu?" Rajendra bertanya seolah tidak peduli. Niatnya hanya ingin menggoda teman yang kelihatannya sudah memiliki wawasan. "Apa kau bertemu dengannya secara tidak sengaja?"
"Kau ini bicara apa? Lupakan saja," nada bicara Bagas jadi menajam. Rajendra tahu jika kemarahan tidak berasalan itu hanya dibuat-buat agar dirinya diam. Bagas pergi meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan sempurna.
"Apa aku tidak boleh tahu?" decih Rajendra kesal, "memangnya apa yang mungkin terjadi jika aku tahu siapa orang yang disukainya? Aku yakin dia laki-laki normal."
Rajendra meraih ponsel di atas nakas samping meja belajar, mengecek daya ponsel sebelum menggunakannya. Tapi lupakan saja. Dayanya habis karena mengobrol lama dengan Ignacia. Rajendra tidak menyesal, setidaknya besok mereka akan bisa bertemu setelah sekian lama.
...*****...
Seseorang membuka lemari pakaiannya dengan bingung. Baju apa yang harus dia pakai, model rambut apa yang akan dia buat, dan apakah besok dia bisa menahan untuk tidak terlihat aneh di depan kekasihnya. Pakaian yang dia beli selama berada di kota barunya saja rasanya tidak ada yang cocok.
"Hei kekasihmu tidak akan langsung kembali pulang setelah melihatmu dengan pakaian yang kau pilih," tegur Danita. Ya mau bagaimana lagi? Ignacia terlalu khawatir sampai memilih semuanya saja tidak bisa.
Gadis berambut panjang ini mengetuk pintunya dengan gemetar, merasa canggung untuk meminta tolong padahal Danita dengan senang hati akan membantu. Danita beranggapan bahwa Ignacia hanya malu karena dia belum pernah meminta bantuan selama mengenalnya.
Telinga Ignacia seolah hanya bisa mendengar gumaman dirinya sendiri saja saat Danita berbicara. Dia sibuk membuka lemari untuk terus mencari baju sambil menimbang-nimbang. "Hah aku harus memakai baju apa besok? Lalu bagaimana dengan kencan ganda lusa."
Danita bangkit dari lantai, mendekati lemari Ignacia. Tangannya perlahan meraih sebuah baju berwarna dominan coklat. "Kau mungkin tidak tahu, kau cocok dengan warna coklat. Kau terlihat lebih manis. Cobalah."
Si gadis berambut pendek itu menempelkan baju yang dibawanya ke tubuh Ignacia, "kekasihmu pasti akan menyukainya. Dia hanya peduli untuk bertemu denganmu dan bukannya baju yang akan kamu pakai."
Ignacia meraih baju yang disodorkan. Jika diingat, ketika Ignacia memakai baju berwarna coklat saat mendatangi acara Rananta, Rajendra menatapnya aneh. Apa Rajendra sempat memberikan perhatian pada apa yang Ignacia pakai? Laki-laki itu tidak pernah membahasnya.
Si gadis menatap dirinya lewat cermin, berpikir apa dia akan menggunakan baju dengan warna es krim kesukaan Rajendra. Warna coklat memang bagus, cocok dengan dirinya yang berkulit putih. Rambutnya bisa hanya digerai atau diikat sederhana.
"Baiklah, aku akan memakainya," putus Ignacia.