Beautiful Monster

Beautiful Monster
Bukan Berita Bagus



"Tidak apa-apa, aku akan kembali sendirian. Kekasihmu akan segera datang kan? Kalau begitu aku pamit pulang." Ignacia tersenyum lebar sebagai tanda bahwa dia tidak keberatan jika Danita harus bertemu dengan kekasihnya.


"Hubungi aku setelah sampai di asrama, Ignacia," pesan temannya yang masih berat melepaskan Ignacia. Dirinya merasa tidak enak karena meninggalkan si gadis berambut panjang.


Ignacia mengecek ponselnya lagi sambil melihat apakah Rajendra sudah kembali aktif. Sekali lagi nihil. Apa yang dilakukan laki-laki itu sampai mengacuhkan ponselnya dengan sengaja? Kesal Ignacia sambil duduk di halte bus.


"Apa aku harus menunggu hingga malam agar bisa mengetahui kabarnya? Aku bingung kenapa aku sangat menunggumu. Padahal aku sudah mencoba untuk sibuk dengan duniaku sendiri."


"Apa aku kurang berusaha? Aku masih belum dewasa untuk hubungan jarak jauh?"


"Sekarang hobimu berbicara dengan angin?" Seseorang menginterupsi, langsung duduk di sebelah Ignacia dan bersikap seolah-olah bukan apa-apa. "Kukira yang kau suka hanya membaca novel sambil makan Fitbar," lanjutnya.


Ignacia yang menyadari keberadaan orang itu pun hampir membulatkan matanya tidak percaya sebelum akhirnya terkekeh bersama seseorang yang baru datang itu. Orang di sebelahnya terlalu sibuk hingga Ignacia tidak bisa menemuinya beberapa Minggu belakangan.


"Sepertinya calon guru kita sudah tidak sibuk sekarang. Apa masa sibuk calon guru kita sudah selesai? Padahal kita akan menyambut bulan bahasa, kenapa kamu sibuk sekali?" Canda Ignacia sambil menepuk bahu Nesya pelan.


"Menjadi calon seorang guru memang agak sulit. Maaf aku tidak bisa sering menemanimu makan siang dan sebagainya. Tapi sepertinya Danita bisa menggantikan aku dengan baik. Bagaimana hari-harimu sebagai mahasiswi sastra sejauh ini, Ignacia? Kau menyukainya?"


Nesya menyandarkan diri pada sandaran kursi halte. Masih tidak menoleh pada temannya yang perlahan mengembalikan pandangan pada jalanan di depan. "Aku menyukainya, tentu saja. Apalagi sebentar lagi kita akan mengikuti kegiatan kampus pertama kita. Aku semakin bersemangat."


Hening. Beberapa detik keduanya tidak saling membuka obrolan lain. Kemungkinan besar tengah bertarung dengan pikiran masing-masing.


"Aku kembali membaca novel lamaku yang ada di rumah," Ignacia membuka mulut, "membaca novel tidak secara fisik membuatku merasa tidak nyaman. Kurasa aku jadi kesepian lagi."


"Rajendra menjadi semakin sibuk?" Tanya Nesya menebak-nebak.


"Aku tidak keberatan dengan kesibukannya. Aku hanya merasa kesepian tanpa buku yang bisa ku sentuh lembaran kertasnya. Rasanya seperti aku tidak tahu kapan bukunya akan segera habis dan tidak bisa kurasakan semua perasaan yang membuatku baik-baik saja seperti dahulu."


Nesya menoleh, tidak ada komentar. Gadis berkacamata itu terlalu takut untuk berpendapat. Sebisa mungkin tidak memberikan pendapat tentang apa yang temannya rasakan di saat terburuknya. Padahal Ignacia tersenyum tadi. Kenapa sekarang malah terlihat muram?


Bus datang di tengah keheningan keduanya. Ini bukan bus yang akan digunakan Nesya untuk kembali ke kos-kosannya. Jadilah dia hanya berbicara menggunakan tatapan dengan Ignacia yang perlahan menaiki bus. Ignacia tersenyum kecil, tidak mampu lagi mempertahankan kontak mata.


"Aku pergi dulu," pamitnya sebelum bus benar-benar bergerak.


...*****...


Danita mengikuti kemana kekasihnya ingin pergi. Membiarkan tangannya di genggam menuju suatu tempat. Tidakkah laki-laki yang berjalan beriringan dengannya harus menjelaskan sesuatu? Karenanya dia membiarkan tetangga asramanya kembali sendirian setelah menemaninya berbelanja.


"Sampai kapan kamu akan menggandeng tanganku tanpa mengatakan apapun? Kukira ada yang penting," celetuk Danita sambil masih menatap tangan keduanya yang masih bergandengan, "apa yang ingin kamu katakan?"


"Tidakkah kamu lebih suka menghabiskan waktu bersama daripada bertanya alasan kenapa aku mengajakmu bertemu?" Laki-laki di sampingnya berhenti, "harapanku hanya kamu menemaniku hingga aku yang mulai membicarakannya."


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Danita menatap khawatir.


"Aku akan kembali ke kota asalku selama seminggu untuk bertemu dengan kerabat," laki-laki di sampingnya mengeratkan genggaman, "kerabat ibuku sudah memutuskan soal mengangkatku sebagai anak mereka."


Tatapan matanya menatap gugup manik mata bening sang kekasih, "aku minta maaf jika aku akan sulit dihubungi selama seminggu karena mungkin aku tanpa sengaja melakukan kesalahan. Setelah aku selesai disana, aku akan menemuimu dengan segara, Danita. Aku berjanji."


Danita tidak pernah menyangka hal seperti ini akan datang. Tapi bukannya rasa kesal yang ada di dalam hati si gadis saat mendengar berita dari sang kekasih. Dia justru bersemangat dan tersenyum cukup lebar. Langsung saja Danita memeluk kekasihnya seolah perasannya bukan apa-apa.


"Akhirnya kamu akan mendapatkan keluarga yang bisa menjagamu. Akhirnya kamu tidak akan sendirian lagi. Jangan merasa bersalah. Jika demi kebaikanmu, aku tidak masalah."


Danita melonggarkan pelukannya, menatap wajah terkejut si laki-laki, "tapi apa kamu yakin tidak bisa mengirimkan satu pesan pun padaku? Bagaimana jika aku hanya minta 10 menit saja setiap harinya ketika aku tidak bisa bertemu denganmu?"


Pelukannya terlepas perlahan. Danita menatap penuh harap. Kekasihnya yang tidak kunjung menjawab membuat Danita mengetahui jawabannya sendiri. "Tentu, aku tidak masalah selama kamu berjanji untuk menemuiku setelah urusanmu selesai. Tidak apa-apa."


"Aku sungguh minta maaf, Danita," lirih kekasihnya.


"Tidak masalah. Lagipula hanya satu Minggu."


Hening. Keduanya tidak berani membuka suara. Takut membuat kesalahan yang dapat menyakiti satu sama lain. Tidak ada yang ingin terpisah dari seseorang yang begitu penting meskipun hanya sesaat. Jika tidak bisa bertemu secara fisik, setidaknya pesan teks singkat akan menyelamatkan hubungan.


"Lalu kapan kamu akan berangkat? Mau kubantu membereskan barang-barangnya atau apapun itu? Aku tidak ingin membuatmu merasa bersalah karena akan menghilang selama beberapa lama," ucap Danita cepat.


Sudah dia putuskan untuk tidak membuat kekasihnya kecewa dengan sikap yang mungkin akan membuat kekasihnya merasa bersalah. Sebaiknya Danita bersiap-siap mengantarkan kekasihnya yang merasa buruk. Membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja tanpa kode.


"Bagaimana jika habiskan lebih banyak waktu? Mungkin itu yang kamu butuhkan sebelum kembali ke kerabatmu. Lagipula kamu memutuskan berkuliah disini karena ingin memastikan aku baik-baik saja. Kini aku tidak akan merepotkan kamu lebih jauh."


Danita menahan perasannya, "kenapa kamu diam saja? Apa aku salah bicara? Aku minta maaf. Bicaralah padaku, kenapa kamu diam saja?"


Kekasihnya tersenyum lembut, meraih tangan Danita dan menciumnya beberapa detik, "aku pergi bersamamu ke kota ini agar bisa membantumu di segala kondisi. Aku ingin menjadi orang pertama yang kamu harapkan kedatangannya lebih dari siapapun. Kamu tidak pernah merepotkan."


"Jika kamu seperti ini, aku jadi sulit membiarkan kamu pergi selama seminggu, Bahri." Danita tertawa kecil, "siapa yang memberikan banyak referensi kata-kata manis itu padamu? Kamu sungguh pandai bicara."


"Kurasa karena aku bersama orang yang tepat?" Bahri tersenyum kecil.


...*****...


Di sisi lain, jika Rajendra pergi menemui Ignacia, pekerjaan paruh waktunya akan berantakan. Mungkin tidak begitu berantakan jika Rajendra bisa menemukan seseorang yang bersedia menggantikannya selama tiga hari penuh.


"Kalender itu bisa takut jika terus kau lihat tajam begitu," suara teman sekamarnya menginterupsi, "belum kau tentukan ingin bagaimana? Kau pikirkan saja baik-baik sambil beristirahat. Tidakkah kau merasa lelah karena menatap kalender itu dengan tajam sejak kemarin?"


Yang masih menatap kalender itu tidak mendengarkan. Masih sibuk bersembunyi di goa pikirannya. Mendadak menjadi tuli dengan suara temannya. Entah sudah sampai dimana keputusannya sekarang.


Teman sekamar Rajendra mengambil tempat di tempat tidurnya dan memainkan ponsel. Mengecek kisi-kisi yang dikirimkan temannya untuk ujian besok. "Mau kukirinian kisi-kisi untuk ujian besok? Sepertinya ada pem-"


"Aku pergi sebentar," Rajendra memotong. Dengan cepat laki-laki bertubuh tinggi itu langsung bangkit dan meraih ponselnya di atas nakas. Menutup pintu kamar dengan cepat dan seperti terburu-buru pergi keluar. Bahkan temannya yang belum sempat menyelesaikan ucapannya masih mematung.


"Bagaimana bisa dia segesit itu?" gumam si teman masih tidak percaya. Suasana kamar keduanya menjadi sangat hening setelah kepergian Rajendra.


Di halaman kos yang hening, Rajendra membuka roomchat seseorang. Mengetikkan permintaan untuk mengobrol via telfon dengan orang itu jika ada waktu. Sudah malam, jadi Rajendra tidak ingin menganggu dengan langsung menelfon.


Balasan yang di tunggu pun datang beberapa detik setelahnya. Seolah-olah seseorang di ujung sana sedang senggang atau sedang menggunakan ponselnya ketika pesan Rajendra diterima.


Rajendra menekan icon berbentuk telfon yang ada di pojok roomchat, tak butuk waktu lama hingga panggilannya tersambung. Langsung saja dia memulai pembicaraan.


"Ignacia, apa kamu senggang selain hari jadi kita? Mungkin tiga hari setelah hari jadi kita. Aku memiliki urusan penting yang datang tepat di hari jadi kita. Jadi aku ingin merayakan hari jadi kita setelah urusanku selesai."


Rajendra mendengar sama suara hembusan nafas panjang di ujung telfon. Namun dirinya tidak berani menyinggungnya karena berita yang dibawakannya juga bukanlah ide yang akan disukai Ignacia. Gadis itu pasti merasa kecewa.


"Baiklah, terserah padamu," putus Ignacia tanpa pikir panjang. Membayangkan bisa bertemu dengan laki-laki sibuknya setelah hubungan jarak jauh saja sudah bagus. "Kukira aku tidak memiliki tanggung jawab apapun setelah aniv kita. Lalu kita akan tetap bertemu di bulan itu? Jika benar begitu, aku akan menunggumu."


"Aku tidak bisa berjanji, tapi akan kuusahakan. Terima kasih sudah mau mengerti, Ignacia."


"Ya, aku tahu jika kamu akan memilih akal sehat. Pada akhirnya kita juga akan bertemu meskipun tidak di hari yang pas. Lalu apakah urusanmu hanya ada di tahun ini? Atau tahun berikutnya juga akan sama?"


Rajendra terdiam, takut untuk menjawab. Jika Ignacia mendengar urusan yang dia bicarakan, gadis itu akan semakin kecewa. Hubungan ini menyesakkan.


"Urusan pekerjaan paruh waktumu, Rajendra?" Pertanyaan yang diajukan Ignacia membuat Rajendra terkejut. Tebakan gadis itu tepat sasaran. "Kalau begitu aku tidak berani mengusiknya. Kamu sudah lama bekerja disana. Pasti kamu merasa bertanggung jawab," lanjutnya.


"Terima kasih, Ignacia. Kamu yang paling mengerti aku."


...*****...


Danita berat melepaskan kekasihnya pergi jauh. Tangannya masih enggan terpisah. Meskipun dia seharusnya mengerti, tapi kehilangan seseorang yang paling disukai bukan perkara mudah. Apalagi jika laki-laki itu bahkan mengikutinya hingga ke kota ini demi menjaganya.


"Cepatlah kembali dan berkencan denganku. Jangan melirik perempuan lain saat kembali. Kamu harus selalu ingat padaku, mengerti?" Danita tidak menatap kekasihnya, terlalu takut untuk kembali memintanya menetap diam-diam.


Kekasihnya terkekeh pelan, menepuk bahu si gadis agar perhatiannya tertuju padanya. "Aku akan mengurus urusanku dan kembali kemari dalam waktu singkat. Berikan aku waktu satu Minggu untuk mengurus keluargaku. Dan setelahnya aku akan kembali padamu dan berkuliah."


"Ya, aku tau itu." Akhirnya Danita melepaskan genggamannya, menatap kekasihnya beberapa detik kemudian kembali membuang muka, "cepatlah naik. Keretanya akan segera berangkat. Awasi barang-barangmu juga."


Danita tampak tidak peduli padahal terlihat sangat tidak rela. Membuat kekasihnya bertambah gemas saat melihatnya. Ya bagaimana tidak? Danita selalu memenangkan hatinya dalam segala situasi dengan tingkahnya yang tidak dibuat-buat.


"Sampai jumpa, Tata," ucap si laki-laki sambil melambaikan tangan menjauh. Laki-laki beransel hitam itu pada akhirnya menghilang di pintu stasiun. Danita hanya bisa menatap pintu yang dilewati beberapa orang tanpa melihat lagi kekasihnya.


"Padahal hanya satu Minggu," gumam si gadis.


...*****...


Ignacia terduduk di kamarnya, menggenggam sebuah gantungan kunci burung hantu di tangan kanan dan tangan lainnya membawa ponsel. Panggilan suara dari Rajendra sudah usai sejak 10 menit yang lalu, namun Ignacia masih membawa ponselnya dekat dengan telinga seakan panggilannya belum selesai.


"Bagaimana bisa aku bertanding dengan pekerjaan yang kamu sukai, Rajendra? Aku yakin pekerjaan paruh waktumu sungguh membutuhkan semua staff nya hingga kamu bahkan tidak bisa mendatangi aku," si gadis bergumam.


Diletakkannya ponsel dengan layar yang sudah mati itu ke atas nakas. Begitu pula gantungan kunci burung hantu kecil tadi. Si gadis bangkit untuk mencari makan malam. Bukan makanan berat yang dicari, melainkan Fitbar yang pernah dikirimkan Athira bersamaan dengan pengiriman bukunya.


Anak itu membawakan terlalu banyak hingga Ignacia belum sempat menghabiskan semuanya padahal sudah di makan beberapa hari belakangan. Ignacia tidak mengeluh akan hal itu. Berkat adik pertamanya, Ignacia dapat menghemat pengeluaran karena rasa laparnya menipis setelah memakan Fitbar. Lagipula Ignacia ingin memulai dietnya sebelum bertemu dengan Rajendra di hari jadi keduanya.


Samar-samar Ignacia seolah mendengar suara langkah kaki yang terseret. Entah mengapa Ignacia ingin sekali membuka pintu dan melihat siapa yang ada di sekitar kamarnya. Dan ditemukannya seorang gadis dengan wajah yang tidak secerah biasanya. Pasti terjadi sesuatu padanya.


Danita menatap Ignacia yang tertegun sambil masih memegang kenop pintu kamarnya. Keduanya bertatap mata tanpa berniat untuk melepaskan seolah tengah berkomunikasi. Tangan Ignacia bergerak, menyodorkan Fitbar di tangannya pada si teman.


"Mau mencobanya? Rasanya enak," ucap Ignacia masih tanpa memutuskan kontak mata.


Yang di ajak bicara itu menatap camilan yang di sodorkan. Tersenyum kecil dan perlahan mengambilnya. "Kekasihku harus kembali ke kampung halamannya untuk menyelesaikan urusan keluarga," ucap Danita memberitahu. Dia memutuskan kontak mata, menatap camilannya.


"Aku tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi padamu," jujur Ignacia.