Beautiful Monster

Beautiful Monster
Gadis Beruntung



Rajendra bersandar pada sepeda motornya, menunggu gadisnya keluar dari rumah. Sementara itu tatapannya hanya tertuju pada arah gerak Ignacia. Apa karena dia membawa berita bagus, jadinya auranya semakin terpancar. Keduanya berencana untuk pergi ke kedai es krim waktu itu. Tempat itu cocok sekali untuk dinikmati berdua dengan simbol lain yang menunjukkan bahwa mereka berkencan.


Ignacia menyapa kekasihnya di depan pagar, tersenyum sangat ramah hingga wajahnya tampak sangat cantik bagi si laki-laki. Sebelum naik, keduanya ingin sekedar saling tatap. Berbagi senyuman aneh tapi menyenangkan. Akhirnya laki-laki yang ia rindukan datang juga. Akhirnya penantian selama ini terbayarkan dengan temu yang membahagiakan.


"Terima kasih sudah datang, Rajendra." Ignacia memberikan hadiah kecil sebelum mereka mulai meninggalkan halaman rumah. Rajendra tersenyum salah tingkah. Sudah lama pipinya tidak mendapatkan hadiah manis itu. "Terima kasih juga karena mau bertemu denganku hari ini."


"Kita pergi sekarang?" Sambil memakai helm, Rajendra diam-diam tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada yang bisa melihat senyuman itu kecuali orang-orang yang berada di jalan. Apalagi ada pelukan ringan di pinggang. Rasanya perjalanan jauh kemarin malam tidak terasa melelahkan sama sekali.


Ada banyak cerita yang ingin Rajendra sampaikan. Beberapa informasi singkat ia katakan selama perjalanan dan yang panjang untuk nanti. Bayangan es krim dingin di cuaca yang panas benar-benar sempurna. Rencananya mereka akan memakan es krim stroberi. Jika diingat-ingat stroberi memang menjadi pembatas rasa untuk keduanya. Vanila dan coklat selalu berada di samping stroberi.


Bahkan hawa panas tidak bisa menghalangi senangnya mereka berdua. Di lampu merah, Ignacia sengaja mengeratkan pelukan, menikmati waktu berhenti sesaat tanpa guncangan. "Aku berharap bisa lebih sering bertemu denganmu, Rajendra. Apa kita tidak bisa bertemu lebih sering?" Gumaman Ignacia sampai di telinga kekasihnya.


Lantas Rajendra menjawab dengan nada menenangkan, "Tunggu sebentar lagi, Ignacia. Begitu semuanya beres, kita bisa lebih sering bertemu. Sebelah itu kita bisa bertemu sesuai keinginanmu." Ignacia sedikit melonggarkan pelukannya, ia menatap ke wajah yang hanya terlihat sebelah saja. Apa yang Rajendra barusan maksud? Dia tidak salah dengar bukan?


Sampai di kedai es krim, tumben sekali lantai pertama sepi. Begitu pula dengan lantai di atasnya. Rupanya mereka datang ketika kedai kembali beroperasi setelah jam makan siang. Pantas saja sepi, orang-orang baru boleh masuk setelah keduanya menginjakkan kaki di tangga menuju pintu masuk. Waktu yang sungguh pas.


Pesanan dibawa ke lantai dua, agar bisa melihat pemandangan dan jauh dari keramaian lantai pertama. Tangan keduanya bertautan di atas meja. Tangan besar Rajendra mengelus lembut tangan kekasihnya. Sembari itu senyuman mengembang di setiap patah kata yang menyatakan suka cita. Rindu akhirnya bisa sirna juga.


Ignacia membiarkan kekasihnya berbicara lebih dulu. Ada banyak hal menarik yang ingin disampaikan laki-laki ini selagi mereka makan es krim. Mata Ignacia terus menatap pada wajah kekasihnya, sesekali mengangguk paham. Karena terus memandang, akibatnya senyuman Rajendra menular sempurna pada gadis itu.


Sebelum berangkat kesini, Rajendra sempat diberikan pesan pada ibunya untuk tidak terburu-buru pulang. Katanya dia boleh berkencan dengan Ignacia selama yang Rajendra inginkan berkat kerja kerasnya selama ini. Ibunya juga kelihatannya sedang dalam mode bahagia, jadinya Rajendra juga ikut bahagia.


Wajah Ignacia memerah, malu mendengar cerita Rajendra barusan. Ucapan Rajendra barusan itu benar dari ibunya atau hanya dibuat-buat? Jika benar, Ignacia pasti pernah melakukan kebaikan yang sangat besar hingga ibu kekasihnya memikirkan soal kencan anaknya. Tidakkah itu pertanda jika kunjungan Ignacia terakhir kali itu berhasil?


"Aku hanya terkekeh kecil karena malu. Apalagi saat itu ayahku juga ada disana. Ayah hanya mengangguk saja," lanjut Rajendra masih dengan kekehan kecilnya. Apalagi melihat gadisnya yang agak salah tingkah, Rajendra jadi gemas. "Bagaimana dengan kamu, Ignacia? Ada yang ingin kamu sampaikan?"


Si gadis mengangguk. Sebelum mengungkapkan apa yang sudah ia pendam, Ignacia bertanya lebih dulu. Apakah Rajendra bisa mengambil waktu liburnya untuk bersama dirinya. Ignacia ingin memastikan apakah kekasihnya sanggup. Mendengar pertanyaan aneh Ignacia, Rajendra tentu mengangguk. Sekarang hari liburnya, dan keduanya kini tengah bersama.


Ignacia menatap lekat-lekat mata Rajendra. Bibirnya masih menunjukkan senyum sebelum mulai berbicara. Sementara itu tubuhnya ia condongkan sedikit ke depan. "Teman-teman setuju untuk pergi berlibur sehari sebelum hari jadi kita. Kamu pasti akan bergabung kan? Aku sudah menunggu lama untuk acara ini, jika kamu lupa."


Dikiranya Rajendra akan berpikir-pikir sebentar sebelum setuju. Mengambil hari libur secara mendadak biasanya tidak bisa dilakukan. Namun bukannya berjalan sesuai dengan perkiraan Ignacia, laki-laki di hadapannya justru mengangguk. Katanya tentu dia akan ikut. Tidak mungkin Ignacia akan ditinggalkan sendirian seperti wali untuk dua pasangan yang akan bergabung.


"Aku juga ingin menghabiskan waktu dengan kamu jauh dari hiruk pikuk kota. Menikmati waktu berdua di tempat baru dengan pemandangan indah. Bukankah itu bagus?" Rajendra masih menjaga pandangan, tubuhnya juga ia condongkan lebih ke depan. Meniru apa yang gadisnya lakukan. "Juga mana mungkin aku bisa menolak ajakan darimu."


Apalagi Ignacia sedang bermimpi? Teman-temannya setuju dengan permintaannya dan kini Rajendra juga setuju? Kurang beruntung apa lagi Ignacia tahun ini? Ia berharap kebetulan ini bukan takdir baik yang datang setahun sekali. Ia tidak sabar menunggu harus istimewa keduanya sambil berlibur.


Ignacia tersenyum puas hingga sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel kekasihnya. Entah siapa yang tega menganggu kencan Ignacia dengan Rajendra hari ini. Laki-lakinya izin menjawab telpon sebentar, membuat kekasihnya penasaran siapa di ujung sana. Kelihatannya penting dan seru bagi Rajendra, kabar yang orang itu sampaikan. Kekasihnya sampai tersenyum kecil sambil sesekali menggerakkan tubuh.


Apa ibu Rajendra yang menelpon? Katanya tadi tidak perlu buru-buru pulang. Lalu kenapa ada panggilan masuk? Ignacia menepis kemungkinan itu. Apa mungkin saudara yang laina tau temannya? Kenapa sampai sesenang itu? Rajendra tidak dekat dengan perempuan lain kan? Mana mungkin.


Ketika kembali, Rajendra masih menunjukkan senyum yang sama. Oh atau mungkin lebih merekah dari sebelumnya. Ingin rasanya bertanya, namun kelihatannya tidak ada hubungannya dengan dirinya. Siapapun itu semoga tidak menganggu jalannya kencan mereka. Kembali pada pertanyaan yang ingin Rajendra sebelumnya, ia ingin tahu apakah Ignacia bisa menemaninya bersiap untuk liburan nanti.


Rajendra tentu bisa melakukannya sendiri, hanya saja kini ia ingin bersikap berbeda agar bisa lebih lama bersama Ignacia. Masih di kedai es krim yang sama, keduanya saling bertatapan. Tidak ada kebisingan yang mampu menganggu sepasang mata dan telinga yang hanya ditujukan untuk masing-masing. Ada sesuatu dari Rajendra yang membuat Ignacia semakin bahagia.


Jika dirinya bisa membantu laki-laki di hadapannya, mengapa tidak? Ignacia pasti senang bisa berbelanja dengan Rajendra. Omong-omong apa pendingin ruangan disini tidak berfungsi? Udara di sekitar keduanya begitu nyaman dan hangat alih-alih dingin. Es krim yang mereka pesan juga rasanya lebih manis.


"Gantungan kunci yang kuberikan masih ada padamu kan? Seseorang tidak mengambilnya lagi?" Celetuk Ignacia berhasil mengubah air wajah Rajendra. Laki-laki itu mengerutkan dahi tanda kesal. Dia tidak ingi mengingat mass itu lagi. Dia bertekad untuk menjaga pemberian Ignacia dengan baik.


Hari berganti, Minggu depan sudah waktunya bagi Ignacia dan Rajendra menyiapkan segala sesuatu untuk dibawa selama berlibur. Rajendra mengajak kekasihnya membeli camilan. Di minimarket terdekat, sepasang kekasih ini berjalan berdampingan menyusuri rak berisi camilan ringan. Rajendra bingung harus memilih apa jadi hanya mengikuti Ignacia saja.


Gadis itu mengambil beberapa keripik untuk dibawa ke hadapan Rajendra. Bertanya keripik mana yang paling enak dan juga ingin Rajendra makan. Mereka berencana untuk bangun cukup pagi dan mengobrol ditemani makanan juga minuman dingin nantinya. Sambil menunggu matahari terbit di hari jadi keduanya.


"Kita bisa membeli keduanya. Nanti ada yang kita bagikan dengan yang lain," saran Rajendra. Kekasihnya berjalan mendekat, membawa tiga macam keripik untuk dimasukkan ke dalam troli. Untuk minuman dingin bisa mereka beli ketika di perjalanan.


Sejujurnya mereka tidak punya ide akan melakukan apa hari ini, jadi dialihkan menjadi membeli sesuatu untuk liburan nanti. Masih di tempat yang sama, Ignacia melihat banyak camilan dengan rasa coklat. "Bagaimana jika aku membuat kue coklat untuk liburan kali ini?" Si gadis berbalik menatap kekasihnya, minta persetujuan.


Ignacia ingin membiarkan teman-temannya mencicipi hasil karyanya seperti yang ia lakukan untuk Rajendra dan keluarganya. Tentu jika kekasihnya tidak keberatan jika ia ingin membuat kue spesial untuk orang lain. Dan Rajendra mengangguk. "Kamu boleh melakukannya tapi ingatlah untuk mengatur waktu. Jangan sampai terlalu lelah."


Senyuman lagi-lagi mengembang di wajah cantik gadis berambut coklat itu. "Terima kasih. Apa kamu ingin aku membuat kue laij untuk dimakan berdua di hari lain?" Kali ini Rajendra menggeleng, khawatir kekasihnya kelelahan. Sekarang gadisnya sudah bekerja, jadi takutnya menganggu waktu produktif.


"Ada camilan lain yang kamu inginkan? Jika tidak, aku akan pergi mengantri disana." Kasir tampak ramai. Rajendra ingin lebih cepat sampai di tempat pembayaran jika saja Ignacia ingin mencari makanan lain. Ignacia tidak ingin ditinggalkan, jadi ia mengikuti arah pergi kekasihnya. Mereka sudah berkeliling sejak tadi, sekarang sudah waktunya pulang.


Sambil mengantri, Ignacia melihat barang-barang di dalam troli sekali lagi. Memastikan tidak ada yang ia lupakan. Rajendra jadi ikut memperhatikan isi troli alih-alih menunggu antrian. Keduanya sampai mengisi antrian kosong di depan agak terlambat. Semua camilan enak sudah ada disini. Hanya perlu membayar dan meninggalkan tempat ramai ini.


Keluar bukan berarti pulang. Mereka menyimpan belanjaan di rumah Ignacia sebentar lalu duduk di teras ditemani camilan dan minuman dingin. Mereka tidak mungkin meninggalkan sekantong besar camilan di sepeda motor sementara pemiliknya menikmati pemandangan indah di bukit. Cuaca hari ini berawan, angin berhembus pelan, cocok sekali untuk menikmati waktu dikuar ruangan.


Rasanya tidak benar jika membiarkan Rajendra berputar-putar, jadilah keduanya ada disini. Ignacia muncul setelah menyimpan bungkusan besar tadi di dalam kamar. "Habiskan saja, nanti bisa aku tampahkan es lagi." Ignacia mengambil tempat di samping meja kecil tempat suguhan disajikan. Matanya tidak berhenti menatap. Ada hal mengganjal yang ingin ditanyakan.


"Apa liburan kita tidak merusak jadwalmu, Rajendra? Mungkin jadwal wisudamu atau mungkin yudisiummu?" Setahun berlalu setelah Ignacia berhasil mendapatkan gelas sarjana. Sejak saat itu Rajendra tidak mengatakan apapun soal kuliahnya. Orang pintar dan bertanggung jawab seperti Rajendra tidak mungkin melewatkan kelulusan.


Pertanyaan tadi berhasil membuat kekasihnya terbatuk. Ignacia jadi merasa bersalah sekaligus khawatir. Pertanyaan mengganjal ini mungkin juga mengganjal bagi kekasihnya. "Aku hanya penasaran. Maafkan aku." Rajendra mencoba untuk menenangkan diri, mengambil nafas dan membuat rasa tidak nyaman di tenggorokan.


Kekasihnya tidak bersalah. Dirinya saja yang terburu-buru minum tadi. "Soal itu akan aku jelaskan ketika kita liburan saja. Aku butuh waktu untuk menjelaskan semuanya. Tidak apa-apa kan?" Air wajah Ignacia berubah seketika. Sesuatu dari kosa kata serta nada bicara Rajendra tampak semakin janggal. Apa yang ingin disampaikan hingga menunggu waktu?


"Ada banyak yang kamu sembunyikan dariku?" Pertanyaan konyol itu berhasil lolos dari mulut Ignacia tanpa disadari. Laki-laki ini meraih tangan kekasihnya, ia usap lembut. Tatapan matanya mencoba untuk mencari cela agar gadis di hadapannya tidak salah sangka. Belum sempat ia bicara, Ignacia sudah membuka suara lagi. "Tentu, aku tidak apa-apa. Lupakan saja apa yang aku katakan tadi."


Ignacia mengira dengan pernyataan itu tangannya bisa dibebaskan dari sentuhan Rajendra. Namun rupanya tidak, Rajendra hanya senang menyentuh tangan kekasihnya terlepas dari apapun yang gadis ini katakan. "Terima kasih sudah mau mengerti, Ignacia. Aku sangat menghargainya."


Ini juga termasuk dalam keberuntungan Ignacia? Rajendra tidak marah atau kesal padanya setelah mendengar pertanyaan menginterogasi tadi. Malah sekarang Rajendra menarik Ignacia untuk berdiri dan memeluk tubuh yang sangat ia rindukan ini. "Aku senang bisa mempertahankan hubungan ini bersamamu. Aku berharap kita bisa terus seperti ini."


Tubuh Ignacia melunak. Bahu tegangnya sudah kembali turun. Tangannya membalas pelukan Rajendra di belakang punggungnya. Apa yang Rajendra katakan barusan ada hubungannya dengan sesuatu yang ia sembunyikan? Bukan disembunyikan, tapi coba disampaikan tanpa merusak perasaan siapapun. Apapun itu, semoga Ignacia tidak merasa buruk.


Rajendra mengaku sudah tidak sabar pergi jauh bersama Ignacia. Untuk pertama kalinya mereka akan melakukan perjalanan tanpa penolakan dari orang tua masing-masing. Ya karena Ignacia tidak jujur pada ayahnya seperti pada mama. Bisa kacau keberuntungan Ignacia nantinya.


Masih dalam posisi yang sama, pelukan terasa lebih erat. Tidak ada lagi bagian longgar yang dibiarkan menganga. Rajendra seolah ingin membuat tubuh Ignacia menyatu dengan dirinya. Aroma dari rambut Ignacia semakin membuatnya tidak ingin melepaskan kedekatan. "Maaf karena aku butuh waktu untuk menjawab pertanyaanmu tadi, Ignacia."


Si gadis menggeleng, "Tidak apa-apa. Kita masih punya banyak waktu untuk mengobrol. Kita masih punya waktu liburan yang bagus bersama. Kamu bisa menyusun kalimat selama yang kamu butuhkan." Ignacia berjanji akan menunggu dengan sabar.