
Ada banyak hewan yang telah ditembaki berserakan tak bernyawa di atas tanah. Hewan-hewan itu berlumuran darah, mengingatkan Yujiro pada dirinya ketika diburu oleh manusia yang tak merasa bersalah sama sekali seperti semua manusia yang ada di depannya.
Senzo mengangkat sebelah tangan memberi isyarat agar semua bawahannya itu tidak menembaki Yujiro.
"Mana wujud monstermu?" tanyanya seakan menantang. "Aku tak butuh manusia. Aku butuh makhluk sepertimu berubah agar menjadi pajangan yang bagus dan penghargaan untukku yang telah menghabisi monster mengerikan sepertimu."
Monster.
Yujiro berusaha keras menampar dan mengingat bahwa dirinya adalah Ushioda Yujiro, manusia. Bukan monster. Makannya Yujiro datang menghadapi mereka dalam wujud manusianya karena ia tahu Miho tak akan menyukainya jika dirinya berubah.
"Kau harusnya sudah kuhabisi dari dulu, sialan! Aku tak sabar melihatmu mati setelah membuatku seperti ini," tambah Koyo yang terlihat penuh dendam.
Yujiro hanya diam, menatap satu per satu orang di depannya. Tak ada yang baik, mereka semua jahat karena terbukti sudah menghabisi hewan-hewan itu.
Yujiro sengaja mengorbankan semua hewan di hutan untuk mencari tahu mana saja manusia yang perlu dia buru nyawanya untuk menggantikan nyawa semua hewan itu dan mana yang tidak.
"Jika kau masih menggunakan wujud manusia, kami terpaksa akan tetap menghabisimu," ancam Senzo.
Yujiro mengedarkan pandangannya lagi, mencari sosok Miho yang tak dilihatnya ada di sana. Kedua kaki Yujiro pun melangkah sehingga orang-orang di sana menganggapnya sebagai ancaman.
Dorrr! Dorrr! Dorrr!
Suara tembakan pun terdengar. Yujiro terus melangkah untuk mencari Miho sementara dua sayapnya muncul untuk menghempas semua tembakan peluru itu agar tak mengenai tubuhnya.
"Miho..." panggil Yujiro berlirih di tengah gempuran serangan dari semua manusia itu.
Sayap Yujiro bergerak menghempas orang-orang di depan yang menghalangi jalannya hingga mereka terlempar. Yujiro hanya menggunakan kedua sayapnya itu sebagai senjata tanpa mau merubah diri sepenuhnya.
Miho, hanya itu yang dia pikirkan untuk saat ini. Dia harus menemukannya dan membawanya pergi jauh dari semua manusia jahat itu.
"SERANG DIA LAGI!" teriak Koyo yang sudah geram karena tembakannya tidak mempan.
Orang-orang itu pun mulai menyerang dari dekat menggunakan pedang mereka, tapi Yujiro segera menggunakan sayap untuk mengibasnya.
Mata Yujiro mengarah pada Koyo, orang yang masih dia ingat telah membunuh Naho. Kedua kakinya berlari dengan cepat ke arah Koyo, mencekik leher lalu melemparnya jauh hingga membentur pohon.
Dendam Yujiro tak sampai di situ. Ia kembali melompat dan mulai menyerang orang-orang di sana dengan tangan dan kakinya sendiri.
Yujiro mulai mau mengamuk. Ia marah karena Miho tak ada di sana. Yujiro marah karena hewan-hewan di hutan dibunuh oleh para manusia itu. Yujiro marah karena dirinya tak bisa menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.
Banyak orang mulai tumbang. Senzo yang kabur meninggalkan Jo sendirian harus melawannya. Mereka saling berhadapan, membuat Yujiro meyakini jika aroma yang membawa Miho ke sana adalah milik lelaki itu.
"Aku selalu menuntaskan pekerjaanku," kata Jo menodongkan senjata ke arah Yujiro yang hanya berdiri tanpa menyerang lagi.
"Tidak peduli kau manusia atau monster, tugasku adalah memburu dan membawamu ke hadapan Tuan Keizo. Hidup atau pun mati."
Jp seperti anjing yang patuh pada majikannya.
Yujiro teringat akan dirinya saat menjadi anjing yang harus patuh. Jika tak patuh, maka siksaan yang didapatkannya.
Dorrr!
Satu tembakan keluar tapi segera Yujiro hindari. Dia berhasil membuat senjata di tangan Jo terlepas sehingga mereka berdua harus bertarung dengan tangan kosong.
Baik Yujiro maupun Jo, mereka berdua saling memukul dan menghindar. Saling bertinju di tengah mayat hewan dan manusia yang sudah mereka berdua habisi.
Blugh!
Tubuh Yujiro berhasil jatuh dan ditahan oleh Jo yang kini mencekik serta memukuli wajahnya habis-habisan.
Yujiro tidak ingin mati.
Bukan sekarang, sampai dia berhasil menemukan Miho dan membawanya pergi. Yujiro memiliki tekad untuk bertahan hidup sehingga ia bangkit menyerang Jo.
Hingga akhirnya Jo berada di bawah kuasanya setelah babak belur. Yujiro tahu Jo sudah kewalahan. Dia mengangkat sebelah tangannya yang sudah mengeluarkan cakar untuk mengoyak wajah dan tubuh lelaki itu.
"Yujiro, ini ayahmu..."
Gema suara Naho terdengar dalam pikiran Yujiro. Kepalanya tiba-tiba mengingat momen ketika Naho menunjukkan selembar foto usang padanya ketika masih kecil.
Foto seorang lelaki yang sangat Naho tunggu dan cintai. Ushioda Shojiro, ayah dari Yujiro. Saat itu dia tak tahu cinta yang dimaksud manusia sampai Naho rela menunggu Shojiro. Sampai Naho menangis begitu sedih ketika lelaki itu pergi darinya.
"Naho..." lirih Yujiro membuat Jo mulai mengalihkan perhatian padanya.
"Mizuno... Naho..." kata Yujiro lagi yang kini mencengkram kerah baju Jo.
Jo mengamati raut sedih Yujiro. Tiba-tiba matanya terasa panas setelah mendengar nama sang istri yang kini telah menghilang darinya. Wanita yang kini telah pergi entah ke mana.
"Naho! Naho! Naho!" seru Yujiro mengguncang tubuh Jo.
"Naho," ucap Jo memandangi langit sambil sedikit tersenyum, membayangkan wajah Naho yang tersenyum ketika dia tinggalkan untuk berperang.
"Mama..." cetus Yujiro pada akhirnya.
Saat itu, Jo menyadari sesuatu.
...****************...
Keizo menyesap rokoknya dengan santai sambil mengamati pepohonan di depannya. Ia menunggu kedatangan Yujiro di lahan luas itu bersama para pasukannya yang ia ambil dari para tentara untuk melawan Yujiro.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dari hutan itu. Mereka bersiap untuk menyerang, menggunakan tank yang nantinya akan langsung menembaki Yujiro sampai mati.
"INI AKU!" teriak Senzo yang berlari terbirit mendekati Keizo.
Keizo menjatuhkan rokok yang kini ia injak. Matanya mengamati Senzo yang tengah terengah dengan penuh ketakutan di depannya.
"Dia menghabisi semuanya?" tanya Keizo.
Senzo mengangguk. Saat itu dirinya melihat Rin tengah ditahan oleh salah satu bawahan Keizo.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Senzo pada Rin yang hanya memalingkan wajah, enggan bicara dengannya.
"Dia membuat masalah dengan berusaha membawa kabur wanita ini," tunjuk Keizo pada Miho yang sudah tergeletak tak sadarkan diri setelah kepalanya dipukul oleh sang bawahan.
"Biarkan putriku pergi dari sini," pinta Senzo.
Keizo memberi isyarat pada bawahannya itu agar melepaskan Rin. Bukannya pergi dari sana, Rin langsung menghampiri Miho dan berusaha membangunkannya.
Krakkk!
Terdengar langkah yang semakin mendekat. Keizo memberi isyarat pada semua bawahannya itu untuk mempersiapkan senjata mereka.
Orang-orang dalam tank mulai mengekor kedatangan Yujiro yang berjalan menunduk mendekati mereka. Dia berdiri tanpa rasa takut, melainkan hanya ada kesedihan di sorot matanya.
"Habisi monster itu!" titah Senzo.
Keizo menggeleng. "Tidak sampai dia berubah. Aku ingin melihat bagaimana bentuk monster itu."
Kedua mata Yujiro mengamati dari kejauhan, hingga berhenti pada sosok Miho yang tergeletak tak berdaya di depan sana.
"Miho..." lirih Yujiro berjalan perlahan dengan tatapan terus terarah pada wanita itu.
Keizo melirik Miho dengan penuh rencana. Ia mengambil salah satu senjata milik bawahannya yang langsung di arahkan pada kepala Miho.
"Kau ingin wanita ini? Maka berubahlah," titah Keizo.
Yujiro berhenti. Ia mulai melakukan pertimbangan untuk berubah atau tidak agar bisa mendapatkan Miho kembali.
Geram karena Yujiro hanya diam, Keizo mendorong Rin agar menyingkir sehingga dia bisa menarik Miho yang tak sadarkan diri untuk mengancam lelaki itu. Keizo menjambak rambut Miho yang ia angkat sambil mengarahkan senjata ke kepalanya.
"Aku akan menghabisi wanita ini. Aku akan membuatmu melihat kematiannya saat ini juga." Keizo menghempaskan kepala Miho lalu ia injak begitu saja.
"Tidak!" seru Rin hendak menolong tapi para bawahan Keizo kembali menahannya.
Yujiro mengepalkan tangan melihat Keizo semena-mena memperlakukan Rin. Ia mulai menggeram marah hingga tangannya mulai berubah.
Keizo mulai tertarik melihat tubuh Yujiro perlahan membesar, berubah menjadi seperti seekor serigala hitam legam di bawah cahaya bulan. Tanduk rusa yang menyala di kepalanya mulai muncul dan sayap hitam itu kembali terlentang.
Terdengar suara seperti seekor serigala yang berteriak penuh kekuatan. Kini, Yujiro sudah merubah diri sepenuhnya menjadi makhluk yang membuat orang-orang di sana mulai gemetar dan ragu untuk melawannya karena dianggap mengerikan.
"APA YANG KALIAN TUNGGU? SERANG DIA!" teriak Keizo.