Beautiful Monster

Beautiful Monster
07. Obat Kesedihan



Ada satu persamaan antara Miho dan Naho. Yujiro harus melihat betapa sengsaranya Miho karena kematian sang ayah, percis seperti saat Naho mendapat kabar jika suaminya telah gugur dalam medan perang.


Miho terus menangis sendirian, seperti Naho yang selalu mengurung diri untuk menangis sendirian agar tidak terlihat oleh siapapun. Namun saat berhadapan dengan Yujiro, tangisan itu seakan memaksa diri untuk berubah menjadi sebuah senyuman seakan mereka baik-baik saja.


Apa yang harus aku lakukan ketika manusia sedih?


Yujiro ingat jika dulu dirinya hanya berdiri di ambang pintu, memandangi Naho yang menangis terisak. Semakin lama dilihat membuat hatinya seakan tengah teriris kecil secara perlahan. Hal itu juga berlaku ketika mendengar Miho menangis terisak dalam kamar Toru sendirian, sementara Yujiro hanya berdiri di depan pintu tanpa tahu harus berbuat apa.


Ceklek!


Pintu terbuka. Miho mengangkat wajah saat langsung berhadapan dengan Yujiro yang berdiri di depan pintu. Ia sedikit memalingkan wajah untuk menyembunyikan mata bengkaknya.


"Ah, aku lupa membuatkanmu sarapan dan sekarang malah sudah sore," katanya.


Yujiro merasa tangannya bergerak sendiri untuk menangkup sisi wajah gadis itu. Dia ingat ketika Miho berkata hendak menyeka air mata yang keluar ketika Yujiro menangis dalam tidur. Dia juga ingin melakukan itu.


Kedua mata Miho terpejam, merasakan ibu jari Yujiro yang menyeka cairan hangat di matanya. Ketika mata itu kembali terbuka, ia langsung berhambur memeluk Yujiro.


"Aku harus bagaimana? Aku kehilangan Papa..." isak Miho.


Yujiro terdiam, merasakan pelukan dari manusia. Ini bukan kali pertama merasakan kehangatan itu. Naho juga sering memeluk Yujiro dulu ketika wanita itu senang atau sedih. Bahkan saat meminta maaf, Naho kerap memeluk Yujiro dan mengatakan bahwa dirinya sangat menyayangi Yujiro.


Apa kehangatan pelukan ini adalah bentuk dari rasa sayang manusia?


Yujiro berusaha mencerna dengan balas memeluknya. Semakin erat, semakin hati Yujiro meluas dan bangga. Ia tak mengerti jika manusia bisa mengalirkan perasaan seperti itu, berbeda ketika dirinya masih menjadi hewan, tangan manusia adalah yang paling dingin.


Detik menit berlalu. Pelukan itu belum terlepas sampai isak tangis Miho kini mereda. Anehnya, Yujiro tak merasa dia bosan atau sekedar pegal karena terus berdiri di sana. Dia perlahan menyukainya, sama seperti genggaman.


Ayo kita seperti ini untuk waktu yang lama.


Sayang, Miho yang merasa sudah tenang mulai melonggarkan pelukan dan hendak melepasnya. Hal itu membuat Yujiro menahan untuk kembali membuatnya masuk ke dalam dekapan.


"Yujiro, ada apa denganmu? Aku... sudah tidak menangis lagi, kok."


Entahlah. Yujiro merasa hanya ingin berlama-lama seperti ini. Jika pelukan akan membuat orang berhenti menangis dan sedih, maka Yujiro akan memberikannya. Rasa sakit di dadanya kini juga mulai menghilang.


"Maafkan aku mengganggu waktumu, tapi... Perutmu terasa keroncongan," tambah Miho membuat pelukan Yujiro melonggar ketika dirinya merasakan hal itu, lapar.


Miho mengulas senyum di depan Yujiro. Dia menggandeng sebelah tangannya yang dituntun untuk pergi ke dapur.


Setelah memasak, mereka berdua pun makan. Yujiro tak menyentuh makanannya, hanya terus mengamati wajah Miho yang sedang berusaha menahan kesedihan sampai beberapa kali matanya meneteskan air mata.


"Ah, maafkan aku." Miho segera menyeka cairan itu lalu kembali makan tanpa mau melihat ke arah Yujiro.


"Makanlah yang banyak, Yujiro. Kau harus tetap hidup dengan baik bersamaku meski Papa sudah tak ada," titahnya tersenyum kecil.


Yujiro hanya mengedipkan mata dengan polos.


"Miho."


Mendengar namanya kembali diucap untuk kedua kalinya oleh bibir Yujiro membuat Miho terbeku dengan wajah terkesima.


"Kau... barusan memanggilku lagi?"


"Miho," panggil Yujiro yang sukses membuat kedua sudut bibir Miho mulai terangkat.


"Ya, Yujiro!"


Yujiro menyadari kesamaan Miho dan Naho lagi. Dulu, untuk pertama kalinya dia mengucapkan 'Mama' sukses membuat tangisan Miho berganti menjadi senyuman penuh haru. Sekarang itu ternyata berlaku pula pada Miho yang terlihat tak bersedih lagi.


...****************...


"Kenapa dia lama sekali?" keluh Rin yang sudah mondar-mandir menunggu kedatangan Miho.


"Siapa yang sedang kau tunggu?" tanya seseorang yang membuat Rin terkesiap melihat kedatangannya.


"Ah, Papa. Dia teman baruku. Aku ada janji pergi jalan-jalan dengannya."


"Iya. Kau tenang saja, dia seorang wanita. Kau bisa menanyakan apa saja yang kulakukan padanya nanti. Aku benar hanya pergi bermain dan jalan-jalan dengannya."


"Baiklah. Kalau begitu aku juga ingin bertemu dengannya," kata Senzo membuat Rin diam-diam dilanda kepanikan.


Tak lama dari itu, sosok Miho terlihat datang mendekat. Air mukanya lesu. Namun saat mendekati Rin, Miho mampu merubahnya menjadi lebih bersemangat.


"Maafkan aku membuatmu menunggu," ucap Miho merasa bersalah.


"Tidak apa-apa." Rin tersenyum lantas merangkul lengan sang ayah. "Dia ayahku, Aihara Senzo. Katanya dia ingin melihatmu."


"Ah, halo Tuan Senzo. Namaku Kurata Miho," balasnya dengan sopan.


"Baiklah. Aku percayakan Rin padamu," cetus Senzo lantas merubah rautnya menjadi lebih serius. "Jangan sampai dia menemui lelaki itu."


Ah, Miho tahu lelaki yang Senzo maksud. Dilihatnya Rin tersenyum kaku dengan mata bergerak memberi isyarat.


"B-baik, Tuan."


"Tuan Senzo," panggil seseorang yang baru saja datang.


Miho menoleh ke arah orang tersebut yang cukup familiar dengan luka bekas cakar di sisi wajah dan sebelah matanya yang rusak. Lelaki itu juga melihat Miho lalu memberi hormat kecil, juga kepada Rin.


"Kalau begitu aku dan Miho akan pergi sekarang," pamit Rin seraya merangkul lengan Miho untuk pergi dari sana.


"Tuan Senzo, aku sudah mulai melakukan pencarian monster itu dengan menyewa pembunuh bayaran yang Tuan Keizo rekomendasikan. Dia bernama Jo," ungkap Koyo yang ternyata terdengar oleh Miho.


Monster?


Miho jadi kepikiran, apa makhluk itu memang ada sampai Senzo dan Koyo membahasnya begitus serius.


"Apa ayahmu sedang melakukan pencarian pada seseorang? Mereka terlihat serius," tanya Miho penasaran. "Maafkan aku karena barusan tak sengaja mendengarnya."


"Kudengar mereka sedang mencari semacam monster," jawab Rin. "Sudah cukup lama ayahku mencari monster itu. Aku juga tidak tahu monster apa yang dia maksud."


"Monster? Apa semacam... manusia serigala?" tanya Miho.


Rin mengangkat bahu tak tahu. "Ayo cepat! Kita akan segera sampai."


Miho mengikuti Rin menyusuri hutan. Gadis itu selalu saja membawa Miho pergi ke tempat-tempat tak terduga. Namun Miho menyukainya karena Rin selalu menunjukkan tempat yang bagus untuk didatangi.


"Yosuke!" panggil Rin berlari kencang lalu berhambur memeluk lelaki yang sedang berdiri di tepi danau untuk menunggunya.


Benar saja. Miho harus kembali menjadi obat nyamuk dan tameng antara Rin dengan Yosuke.


"Aku datang lagi dengan Miho," lapor Rin dengan manja.


"Ah, kita belum sempat berkenalan," kata Yosuke lantas menjulurkan sebelah tangannya. "Namaku Takeda Yosuke."


"Kurata Miho."


"Yosuke ini seorang pengrajin pedang dan senjata lainnya," tambah Rin. "Kalau begitu, kami pergi jalan-jalan dulu sebentar. Kau mau ikut?"


"Aku akan menunggu di sini."


Rin dan Yosuke pun pergi, sementara Miho sendirian memandangi danau dengan pikiran tertuju pada sang ayah.


Krakkk!


Miho langsung berwaspada saat mendengar suara muncul dari belakangnya. Ketika dilihat, tak ada apapun selain tumbuhan yang bergoyang tertiup angin.


Tak lama, terdengar suara lainnya yang cukup keras. Miho pun berjalan mengendap mengikuti sumber suara itu, memasuki semak-semak untuk melihatnya.


Ada seekor harimau sedang memakan babi hutan yang sudah dilumpuhkannya. Miho bergerak mundur dengan hati-hati, tapi sebuah ranting kecil bersuara ketika tak sengaja dia injak.


Harimau itu mengaum sambil berbalik ke arah Miho yang duduk terjatuh dengan wajah ketakutan.