
"Kakak akan sampai di rumah malam hari? Apa tidak apa-apa berpergian malam-malam begini?" Athira tentu khawatir pada kakaknya. Tentu kabar soal Ignacia yang akan mendatangi kekasihnya di kota tetangga sudah sampai ke telinga Athira dan mamanya. Athira khawatir karena malam hari bukan waktu yang bersahabat untuk para perempuan.
Sudut mata Athira menangkap sosok yang baru saja melewati kamarnya yang pintunya terbuka lebar. Keberadaan Athira di dalam kamar menarik perhatian sosok yang baru lewat itu. "Apa itu kakakmu?" tanya ayahnya yang merupakan sosok yang membuat Athira menoleh ke arah pintu.
Anak perempuannya ini mengangguk, mengatakan pada Ignacia jika ayahnya ada disini. Ketika ditawarkan ponsel, ayahnya menolak dan melanjutkan langkah ke suatu tempat. Athira mendekatkan ponselnya kembali ke telinga kanan, "ayah sudah pergi. Kak, jika ada sesuatu yang mencurigakan, hubungi saja aku. Hari ini aku tidak pergi kemana-mana."
Ignacia menatap ponselnya aneh, dia yakin sedang menghubungi Athira yang adalah adiknya. Kenapa Athira khawatir padahal dirinya lebih tua dari si adik ini? Ignacia meyakinkan Athira bahwa dirinya akan baik-baik saja. Kota Rajendra juga selalu ramai walau sudah lewat tengah malam. Dia akan baik-baik saja.
Dengan tiket di tangan, Ignacia tinggal menunggu kereta sorenya menuju tempat Rajendra. Jantungnya sudah berdetak tak karuan karena kejutan yang ia rencanakan sendiri. Tidak sabar kembali bertemu dengan kekasihnya setelah tidak bertemu sekian lama. Tidak sabar untuk kembali melihatnya secara langsung dan mengobrol sepanjang perjalanan pulang.
"Sudahlah, jangan khawatir. Aku ini kakakmu."
"Bagaimana tidak khawatir? Mama saja menentang kan saat pertama kali mendengar soal rencana kakak? Pokoknya hubungi aku jika ada sesuatu. Berikan kabar untuk mama juga sesampainya di kota Kak Rajendra."
Sebaiknya Ignacia iyakan saja daripada mendengar Athira terus mengoceh soal keselamatannya. Panggilan segera diakhiri setelah Ignacia pamit. Ponselnya disimpan ke dalam tas, begitu pula tiket yang tadi dia genggam. Waktunya untuk menunggu kereta datang.
Ignacia sudah mengingat alamat restoran dan bagaimana caranya untuk pergi kesana. Yang harus ia siapkan sekarang hanya emosi yang stabil juga ketenangan hati agar tidak membuat kesalahan. "Akhirnya aku akan menemui Rajendra. Dia pasti senang bertemu denganku juga kan?" tanyanya pada diri sendiri beberapa kali.
Seminggu yang lalu Ignacia sudah memastikan kapan Rajendra akan pulang. Kebetulan sekali kekasihnya tidak sempat curiga karena terlalu sibuk bekerja. Bahkan tidak ada pertanyaan apapun setelah Ignacia begitu penasaran dengan kepulangan kekasihnya itu. Kira-kira apa yang Rajendra pikirkan?
...*****...
"Maaf karena memintamu tetap disini padahal akan pulang. Kau sebenarnya bisa saja jujur pada ayahku jika akan pulang. Apa tidak merepotkan jika kau menggunakan kereta malam?" Bagas melihat jam di dinding sementara tangannya sibuk mencuci peralatan makan di samping Rajendra yang bertugas mengeringkan alat makan yang sudah dicuci temannya.
Rajendra menggeleng, dirinya tetap ingin bekerja dan mencoba untuk lebih membantu. Beberapa hari terakhir dia agak kurang bekerja keras karena sibuk dengan pendidikan. Rasanya tidak adil jika ia memanfaatkan kebaikan keluarga teman sekamarnya dengan bekerja seenaknya.
Bagas selesai mencuci peralatan makan terakhir. Dia duduk di dekat meja di belakang keduanya berdiri tadi. Melihat temannya bekerja keras padahal seharusnya sudah pulang membuatnya merasa senang. "Ignacia beruntung karena mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku," batinnya.
Sore itu sudah waktunya jam istirahat sebelum pembukaan lagi di jam makan malam. Para pegawai kini duduk-duduk di dekat meja kasir sambil menonton televisi yang ada di sudut ruangan. Sedang ada pertandingan sepak bola, jadinya semua orang yang adalah para pegawai laki-laki menonton dengan seru.
Rajendra dan Bagas bergabung setengah menyelesaikan tugas di dapur. Duduk di dekat senior mereka dan menyimak pertandingan yang entah sudah sampai mana. Iseng Rajendra melirik jam dinding, semoga dia bisa sampai di rumah sebelum tengah malam. Kedua orang tuanya juga Ignacia pasti akan menunggu kepulangannya.
Ia berpikir bahwa pertanyaan Ignacia tentang kapan dirinya akan pulang berkaitan dengan keinginan gadisnya untuk mengirimkan pesan atau hanya untuk memberikan perhatian seperti biasa. Rajendra berharap tidak mengecewakan gadisnya lagi karena tidak datang di hari jadi keenam.
"Setelah bekerja kau akan kembali ke kos lalu langsung pergi ke stasiun?" tanya Bagas memastikan. Dia hanya sedang iseng saja bertanya. Tidak.ada maksud apapun. Rajendra hanya memberikan jawaban berupa anggukan kecil. Fokusnya kembali pada layar televisi disana.
...*****...
Begitu keluar dari stasiun, matahari terbenam menyambut kedatangan Ignacia, menyisakan langit dengan semburat merah keorenan. Keadaan luar stasiun yang juga ramai dengan penumpang juga kendaraan yang menunggu seseorang membawa emosi tersendiri bagi Ignacia. Rasanya sangat berbeda dari saat pertama menginjakkan kaki sendirian di kota asing ketika penandatanganan buku.
Disini udaranya lebih hangat daripada kotanya karena bukan di daerah dataran tinggi. Bukan hangat karena matahari yang baru saja pergi. Rasanya hanya hangat karena Ignacia tahu seseorang akan melindunginya saat berada disini. Lebih ke arah kehangatan yang nyaman ketika ia tahu seseorang akan berada di sisinya. "Aku suka disini," gumam si gadis.
Sambil menggenggam tali tas selempangnya, Ignacia berjalan mencari halte bus terdekat. Dianti bilang jika Ignacia hanya perlu berganti bus sekali agar bisa sampai di restoran tempat Rajendra bekerja. Senyuman Ignacia terus mengembang sampai berada di halte bus. Hatinya tergelitik karena akan segera bertemu dengan sang pujaan hati.
Ignacia duduk di halte bersama dengan para pekerja yang masih lengkap memakai kemeja dan seragam. Sementara ada beberapa pasangan muda mudi berseragam SMA yang lewat di hadapan mereka sambil bergandengan tangan dan sedikit menundukkan tubuh, berniat sopan lewat di depan yang lebih tua.
Ignacia seperti melihat dirinya dan Rajendra ketika masih SMA dahulu. Hanya saja keduanya tidak pernah terlihat bergandengan terang-terangan ketika memakai seragam sekolah. Setelah melewati halte bus, mereka melanjutkan obrolan yang sempat tertunda. Saling pandang sesekali diiringi canda tawa.
Bus datang setelah menunggu lama. Ignacia membiarkan orang lain masuk lebih dahulu sebelum dirinya agar tidak sesak. Bus sedang dalam keadaan penuh karena sudah waktunya jam pulang. Jadinya dia berdiri sambil berpegangan pada pegangan bus yang ada di atas. Pandangan Ignacia jatuh pada jalanan ramai yang dilewati bus. Kota Rajendra tidak jauh berbeda dengan pemandangan kota tempat Ignacia menuntut ilmu.
Fokus Ignacia kembali saat bus berhenti di halte tempat Ignacia harus berganti bus. Si gadis dengan tas selempangnya itu kembali menunggu hingga bus selanjutnya datang. Lampu jalan sudah menyala, membuat jalan-jalan kota kembali terlihat jelas. Ignacia melihat sekitar sebelum mengeluarkan ponsel, memeriksa waktu saat ini.
Masih ada banyak waktu sebelum Rajendra pulang. Sebaiknya Ignacia makan malam dahulu sambil menunggu kekasihnya. Bagaimana jika Ignacia datang ke tempat kerja Rajendra dan makan disana? Tapi apakah rencananya bisa tetap terlaksana jika Rajendra mendapatinya duduk di salah satu meja yang kebetulan pesanannya dia antarkan?
"Begitu rupanya. Karena sudah malam, aku jadi khawatir. Oh ya, tebak aku sedang bersama siapa." Panggilan suara berubah menjadi panggilan video setelah Ignacia mengizinkan. "Aku bertemu dengan Nesya ketika berjalan-jalan di kota. Sekarang kami sedang makan mie instan bersama."
Ignacia terkekeh melihat kedua temannya memamerkan semangkuk mie instan masing-masing. Ignacia yakin jika itu adalah mie instan yang sama seperti yang pernah Ignacia dan Nesya makan malam-malam itu. "Kalian curang, kenapa tidak mengajakku makan bersama?" Ignacia mempautkan bibirnya niat berpura-pura kesal.
"Kami mana mungkin merusak rencanamu untuk menjemput si Romeo. Jika berhasil, jangan lupa kirimkan kabar pada kami ya? Aku dan Nesya akan makan mie dan camilan sebelum pulang. Oh ya, berhati-hatilah ketika berada di jalan, Ignacia." Danita adalah teman yang sangat perhatian. Hampir mirip seperti Athira yang khawatir pada kakaknya.
"Aku juga ingin bicara. Hei Ignacia jangan lupa makan malam. Makanlah sesuatu yang enak dan spesial sambil menunggu Rajendra karena hari ini spesial untukmu kan? Selamat bersenang-senang," pesan Nesya. Gadis berkacamata itu melambaikan tangan dan tersenyum pada Ignacia.
...*****...
Restoran keluarga Bagas menjadi cukup ramai malam ini. Mungkin karena liburan, jadinya banyak keluarga dengan anak mahasiswa yang datang untuk makan disini. Setelah satu keluarga pergi, keluarga lain akan menempati meja yang harus cepat-cepat dibersihkan. Rajendra bolak balik mengantarkan makanan dan hanya fokus pada meja mana yang memesan.
Bagas bertugas berdiri di belakang kasir karena teman yang seharusnya berada di posisi ini izin ke toilet sebentar. Dia sendiri juga kewalahan karena tidak terbiasa menggunakan mesin kasir meskipun sudah beberapa kali melihat temannya mengoperasikan mesin ini. Menang sebaiknya dia mengantarkan makanan saja seperti Rajendra.
Antrian di hadapannya masih panjang. Jika temannya tidak segera datang, Bagas harus menyegerakan urusannya dengan para pelanggan ini. Sampai di pelanggan yang kesekian, Bagas merasa pengelihatannya memburuk dan mulai berhalusinasi. Segera ia mengusap matanya kasar dan kembali melihat pelanggan yang berdiri di hadapannya.
"Kau mau melayaniku atau hanya akan menggosok matamu?" ketus si pelanggan main-main. "Rekomendasikan aku sesuatu yang enak dan bisa dibawa pulang," lanjut si pelanggan itu sambil menatap ke arah menu yang ada di atas meja. Semuanya makanan untuk porsi lebih dari dua orang.
"Bagaimana bisa kau ada disini?" bingung Bagas.
"Tidakkah kau harus membuatku memesan agar antriannya tidak semakin lama?" bisik si pelanggan.
Bagas yang sedikit gugup pun meminta pelanggannya ini untuk menepi sebentar. Biarkan Bagas menyelesaikan tugasnya sementara si pelanggan yang belum memesan tadi ia dudukkan di sampingnya. Disana ia tidak akan menganggu siapapun. Temannya merasa santai, namun berbeda sekali dengan Bagas.
Pas sekali teman Bagas akhirnya kembali dan mengambil alih pesanan pelanggan setelahnya hingga Bagas bisa mengungsikan temannya ini ke kantor ayahnya yang kosong. Bagas langsung menyerang temannya dengan banyak pertanyaan begitu pintunya ditutup sempurna.
"Bagaimana bisa kau ada disini? Kau membuatku kena serangan jantung. Rajendra masih bekerja. Kau belum bisa bertemu dengannya. Kau mau mengejutkan dia? Kau akan kesusahan bertemu dengannya jika ramai seperti ini kau tahu?"
"Hei kenapa kau marah-marah padaku? Aku tidak datang untuk menganggu pegawaimu." Ignacia melipat tangan di depan dada, "aku bingung harus menunggu Rajendra dimana. Aku juga sedang lapar, wajar kan jika aku datang untuk membali makanan? Kenapa kau marah-marah?"
Bagas bukannya marah. Dia hanya merasa terkejut karena mantan kekasihnya datang. Beruntung Rajendra tengah berada di dapur hingga tidak bisa melihat gadis ini datang. Juga Bagas buru-buru membawa Ignacia masuk ke ruangan sebelum teman kasirnya melihat si gadis.
"Disini semua makanannya untuk porsi besar. Karena itu restoran ini banyak didatangi oleh keluarga lebih dari dua orang. Kau ingin apa? Biar aku ambilkan untukmu." Nada bicara Bagas melunak. Bagaimanapun Ignacia datang jauh-jauh kemari dengan niat baik menemui kekasihnya. Bagas juga tidak bisa membuat temannya ini kelaparan.
Ignacia berpikir sebentar. "Terserah padamu saja. Aku ingin yang tidak pedas." Setelah menerima pesanan Ignacia, Bagas berjalan keluar ruangan. Mata Bagas menangkap sosok temannya yang masih bekerja. Teman beralis tebalnya itu pasti akan senang karena mendapatkan kejutan dari kekasihnya.
Entah dorongan darimana, Rajendra menoleh ke arah Bagas yang masih berdiri di depan ruangan ayahnya beberapa detik. Perasaan Bagas sudah tidak enak karena tatapan itu. Rajendra sudah berkencan lama dengan Ignacia. Mereka pasti bisa merasakan keberadaan satu sama lain, pikirnya.
Setelah kepergian Rajendra kembali ke dapur, Bagas mendekati juru masak yang baru selesai berganti wajan, memesan nasi goreng satu porsi yang tidak pedas lalu pergi membuat minuman dingin. Bagas pura-pura tidak menyadari aura aneh yang ada di sekitarnya. Harap-harap Rajendra tidak curiga.
Bagas di panggil setelah pesanan khususnya selesai. Bagas beruntung karena tidak sempat mendapatkan pertanyaan untuk siapa makanan itu. Restoran terlalu padat. Bahkan pesanan Bagas tadi dimasak bersamaan dengan pesanan lain yang kebetulan juga tidak pedas.
Segera sepiring nasi goreng lengkap dengan bahan pelengkap lainnya dibawa Bagas masuk ke dalam ruangan. Tidak lupa minuman dingin agar Ignacia tidak tersedak. "Makanlah. Kau tidak perlu membayar, anggap saja ucapan selamat karena kau bisa sampai disini dengan selamat."
Ignacia terkekeh. Perasaan ragunya ketika akan masuk ke restoran ini seketika hilang. "Aku akan membayarnya. Aku datang kemari bukan untuk membuat bisnis keluargamu bangkrut. Terima kasih sudah membawakan pesananku kemari."
Bagas tidak beranjak dari tempatnya berdiri di samping Ignacia. Kakinya seolah mematung. Perasaan bersalah datang secara tiba-tiba. Sama seperti saat ia melihat Ignacia di acara kampus waktu itu. "Aku senang bisa melepaskanmu, Ignacia. Karenanya kau bertemu dengan laki-laki hebat seperti Rajendra."
Ignacia memakan suapan pertamanya sambil menoleh pada seseorang yang baru saja bicara padanya. Bahkan sendok yang Ignacia gunakan masih ia gigit. Segera dilepaskan sendok itu untuk membalas ucapan Bagas. "Bisakah kau biarkan aku makan dengan tenang? Aku lapar."