Beautiful Monster

Beautiful Monster
Sedikit Cerita



Hening, tidak ada yang mampir bersuara. Takut menyakiti perasaan Danita yang mencoba untuk kembali bangkit. Ignacia tahu bagaimana rasanya ketika berhadapan dengan sesuatu yang sangat menakutkan, butuh waktu lama untuk memproses kembali kepala dan hati agar kembali seperti semula.


"Kalian pasti sangat terkejut." Danita bersuara, ucapannya yang berbisik terdengar jelas saking heningnya penginapan mereka. Dia yang terduduk di lantai bersandar pada sisi tempat tidur menatap lautan itu menoleh sedikit, melihat sosok kedua temannya yang ada di tempat tidur masing-masing lewat sudut mata. "Aku sangat minta maaf," tambahnya.


Kedua temannya cepat-cepat mendatangi Danita, memeluk gadis itu agar tidak menangis lagi. Mereka duduk di lantai, memeluk Danita dari kedua sisi. "Tidak perlu minta maaf. Tidak apa-apa, kau pasti sangat terkejut tadi." Nesya menyandarkan kepalanya pada bahu Danita, "Tidak ada yang salah, jangan khawatir pada apapun."


"Apa sebaiknya aku memanggil kekasihmu kemari? Mungkin itu bisa menenangkanmu." Danita menggeleng, menolak tawaran Ignacia. Takutnya Bahri akan menghubungi ibunya dan membuat semua orang semakin cemas. Danita sudah cukup membuat ibunya terpuruk karena menemukan dirinya hampir tanpa busana. Kejadian hari ini biar menjadi rahasia saja.


"Kalian tahu, dahulu aku pernah terlibat kasus dengan seorang pria dewasa." Ignacia terdiam, mendengarkan tanpa berniat menatap wajah kacau Danita. Begitu pula dengan Nesya, dia memilih untuk menutup mata dengan posisinya saat ini. "Kasus itu sangat menyiksaku."


"Aku harus pergi ke rumah sakit karena ada masalah pada tubuhku. Aku diantar oleh sepasang suami istri yang kebetulan lewat. Mereka orang yang sangat baik namun tidak pernah bisa kutemui karena mereka hanya menetap lima menit setelah aku sadarkan diri. Ibuku bilang jika mereka bahkan menemani ibuku untuk menunggu aku siuman semalaman."


"Kehangatan yang mereka berikan pada ibuku membuatku ikut merasa nyaman. Kalian berdua mengingatkan aku pada pasangan ayah dan ibu itu. Kalian juga menyelamatkan aku dari pria menakutkan tadi." Tangan Danita bergerak, membalas pelukan kedua temannya. Ia sandarkan kepala di atas milik Nesya, jiwanya terasa semakin tenang.


...*****...


"Aku harus menghubungi Rajendra," izin Ignacia pada kedua temannya tanpa menunggu respon.


Gadis itu membawa ponselnya keluar kamar penginapan. Rencananya akan melakukan panggilan sejauh mungkin seperti di pantai. Kondisi diluar tidak sepi meskipun sudah malam. Ada beberapa keluarga yang menikmati angin malam beraroma laut. Lampu-lampu di sekitar penginapan juga lebih terang dari tempat-tempat lainnya.


Ignacia mengambil tempat di sebuah bangku samping penginapan. Alat berlayar hitam di tangannya dinyalakan, dicarinya kontak seseorang untuk dihubungi. "Rajendra, kamu sudah ada di kos? Maaf jika aku menelfon tanpa mengatakannya padamu lebih dahulu."


"Aku dalam perjalanan pulang. Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" Rajendra menyikapi telfon Ignacia dengan tenang. Mendenhar nada bicara gadisnya yang buru-buru membuat Rajendra menaruh perhatian penuh untuknya. Takut ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuan dirinya.


Gadis berambut panjang itu mengatur nafas sebelum menjawab. Ia hanya ingin mengobrol ringan dengan Rajendra tanpa alasan. Pengalihan terbaiknya dari emosi yang campur aduk adalah Rajendra. Siapa lagi yang bisa ia repotkan malam-malam selain kekasihnya? Kebetulan Rajendra tengah lenggang juga.


Di tengah obrolan, Rajendra izin mematikan panggilan sebentar. Katanya nanti akan dia kirimkan pesan setelah urusan bersih-bersihnya selesai. "Kita mengobrol lagi nanti." Rajendra menyudahi panggilan dengan baik.


Saat melihat layar ponselnya, Ignacia baru menyadari keberadaan pesan dan panggilan berturut-turut dari seseorang. Bahri pasti khawatir karena Danita tidak bisa dihubungi lagi. Sebelum keluar, Ignacia mendapati ponsel Danita sedang diisi daya. Dan tadi Danita sepertinya sudah akan pergi tidur. Sudah bersiap-siap di tempat tidur.


Ignacia membuka pesan Bahri. Baru dibaca sekilas saja panggilan lain sudah datang. Disana Bahri bertanya bagaimana Danita dan liburan mereka. Seperti yang sudah Ignacia duga, laki-laki itu mencari keberadaan kekasihnya. Ingin rasanya Ignacia menceritakan soal kemunculan pria menakutkan tadi, namun takutnya Bahri malah akan datang menemui Danita.


Rencananya untuk menjaga Danita diam-diam bisa gagal.


"Apa trauma Danita muncul lagi? Kau bisa mengatakan semuanya padaku. Aku akan berpura-pura tidak tahu saat bertemu dengannya nanti."


"Sebenarnya-" Ignacia tidak sanggup menjawab. Bahri seperti sudah tahu apa yang terjadi tanpa Ignacia beritahu. "Kurasa aku sebaiknya tidak ikut campur. Aku bukan menjaga yang baik. Danita sangat terkejut karena ada seorang pria yang muncul dari balik kegelapan. Kami bermain terlalu jauh dan pria itu mengingatkan kami agar tidak semakin jauh dari penginapan."


Bahri tidak merespon.


"Yang dia butuhkan hanya tidur panjang. Jika bisa, besok biarkan Danita bangun sesuka hatinya. Dengan begitu energinya akan kembali lagi. Jangan khawatir, Danita sudah banyak melewati proses terapi. Dia akan baik-baik saja."


Panggilan berakhir.


Ignacia menjauhkan ponsel dari telinga. Ia letakkan benda persegi panjang itu di sisi tubuhnya. Tatapan ia layangkan pada ombak yang masih setia pada laut. Danita bingung harus melindungi Danita bagaimana. Jika Bahri disini, semuanya pasti akan lebih terkendali.


Matanya tertutup perlahan, mencoba untuk menghirup udara pantai agar kepalanya tidak pusing. Untuk beberapa saat rasanya seperti ada yang sedang mengendap-endap untuk mengejutkan dirinya. Ignacia langsung membuka mata, mendapati Nesya berdiri di belakangnya. "Seharusnya kamu jangan menoleh. Rencanaku jadi gagal," canda Nesya.


"Kenapa keluar? Danita bagaimana?"


"Dia sudah tidur. Aku bosan di dalam, jadi aku menemuimu. Sudah selesai mengobrol dengan Rajendra?" Yang di tanyai mengangguk kecil, tubuhnya ia sandarkan pada sandaran kursi dan mendongakkan kepala berganti menatap cakrawala. Rasanya canggung setelah apa yang terjadi.


Sebelum Nesya membuka suara, suara notifikasi samar terdengar dari saku celana si berkacamata. Suara yang menginterupsi barusan membuat Ignacia berhenti menatap langit, dirinya seakan tahu siapa yang akan menghubungi temannya malam-malam begini. Jika itu orang yang sama seperti yang menghubungi ketika keduanya makan camilan di depan minimarket, Ignacia seharusnya pura-pura tidak peduli.


Nesya mengambil ponsel dari dalam saku, mematikan suara apapun yang bisa muncul lalu menoleh pada Ignacia. "Hei kenapa jadi kaku begini? Apa karena sesuatu yang terjadi hari ini? Kita semua bingung dan terkejut tentang apa yang terjadi, tapi bukan berarti ada sesuatu yang berubah nantinya."


"Apa menurutmu Danita selama ini menjagaku karena dia tahu aku menyedihkan? Aku begitu takut ditinggalkan sendiri dan ketika aku menangis, kalian akan datang padaku." Suara Ignacia berubah lirih, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang harus di tahan sekuat tenaga.


Ia menganggap dirinya sangat menyedihkan hingga harus dilindungi seperti yang selalu Danita katakan di awal pertemuan mereka. Gadis kuat yang berusaha keras untuk sembuh dari trauma kini merasa harus melindungi gadis lain yang dirasanya rapuh. "Aku jadi tampak sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan apa yang Danita lalui."


"Tapi bukan itu yang kulihat antara kalian." Respon Nesya membuat temannya menoleh. Gadis itu yakin jika Danita pasti punya alasan yang dia sendiri tidak sadari untuk menjaga seorang gadis yang ia kenal selama masa kuliah. "Lupakan saja soal apa yang terjadi tadi. Danita hanya terkejut, dan itu memicu kenangan buruknya."


Temannya ini mungkin benar. Ignacia sebaiknya berhenti memikirkan omong kosong dan kembali membangun keceriaan liburan. Tinggal satu hari lagi, setelahnya Danita akan ia kembalikan pada Bahri. Biar laki-laki itu yang memperbaiki kondisi kekasihnya seperti semula.


"Sejujurnya aku sebal dengan pria yang tiba-tiba muncul tadi. Tadi aku bertemu dengan Kak Riris, katanya pria itu adalah penjaga pantai yang selalu melakukan patroli sukarela di arena gelap sekitar pantai. Tapi tetap saja, perawakannya menakutkan." Siapa yang tidak kesal jika dikagetkan dengan kemunculan tiba-tiba?


...*****...


Flashback On


Langit sudah semakin sore, Danita harus cepat-cepat pulang sebelum ibunya sampai di rumah. Dia bisa kena marah jika ketahuan pulang terlambat akibat terlalu asik bermain. Hari ini dia baru saja resmi menjadi murid sekolah menengah pertama, jadi sebagai perayaan dia main ke rumah teman baiknya.


Jarak rumah keduanya yang terbilang tidak dekat membuat Danita harus berlari sekuat tenaga. Danita kecil yakin jika dirinya akan sampai setelah ibunya sadar bahwa dirinya belum ada di rumah. Meksipun begitu Danita berharap dia bisa pura-pura seharian berada di kamar saat ibunya datang.


Jalan menuju rumah Danita harus melewati sebuah pekarangan yang hanya diterangi lampu-lampu jalan. Di sekitarnya tidak ada rumah karena rencananya akan digunakan untuk membuat toga khusus desa. Jalan yang cukup menyeramkan namun tidak berbahaya pada awalnya.


Hingga di tengah perjalanan, seorang pria tiba-tiba muncul di belakang Danita. Jarak keduanya cukup jauh, namun Danita yakin jika dirinya sedang diikuti. Dia tidak begitu mengenal para warga selain mereka yang tinggal di dekat rumah. Tapi melihat beliau yang bisa masuk kemari, berarti salah satu warga disini. Para pendatang tidak pernah bisa sampai disini karena tempatnya yang ada di ujung desa.


Danita tidak begitu peduli dengan pria ini, ibunya lebih penting. Sampai di ujung jalan, Danita mulai kehabisan nafas. Langkahnya terhenti demi pernafasan yang lebih baik. Tubuh Danita tertunduk, menatap kakinya yang kelelahan.


Di tengah usahanya, tubuh Danita ditarik dari belakang beserta mulutnya yang dibekap dengan tangan besar. Tubuh ringkih Danita dengan mudahnya digendong menjauhi lampu jalan. Sekuat tenaga Danita memberontak ingin dilepaskan. Karena kondisi mulutnya tengah tertutup, ia tidak bisa menggigit sebagai upaya mempertahankan diri.


Berbagai macam usaha telah ia lakukan, memukul, menendang, tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan pria. Disana Danita benar-benar ketakutan, menangis sejadi-jadinya tanpa bisa meminta tolong pada siapapun. Tubuhnya bergetar hebat, bahkan dadanya terasa sangat sesak luar biasa.


Tangan kanan pria itu semakin dieratkan di tubuh Danita agar gadis malang ini tidak lagi memberontak. Begitu sampai di balik banyak pohon bambu yang menjulang tinggi, tubuh Danita dihempaskan di atas dedaunan tebal. Seperti tempat itu sudah dirancang agar bisa ditempati untuk berbaring.


Tatapan liar pria bertubuh gempal itu layangkan pada Danita. Sorot matanya seakan haus akan kepuasan. Danita tidak akan pernah merasakan betapa hancurnya dia di malam resminya sebagai murid sekolah menengah pertama. Ditambah dengan kedua tangan dan kakinya yang sudah dikunci rapat, sudah dipastikan dia tidak akan lolos.


Mukutnya disumpal dengan sebuah kain lusuh, diikat kuat agar si gadis tidak mampu menarik perhatian siapapun. Rambut panjang Danita yang basah sebab keringat disingkirkan kasar agar si pria biadab ini bisa melihat air wajah ketakutan sang korban. Senyuman kemenangan terukir, sangat menggelikan.


Kala tubuh Danita hampir terekspos sempurna, bantuan Tuhan datang. Entah bagaimana ibu Danita datang dengan beberapa pemuda yang tinggal di dekat rumahnya. Pria bertumbuh gempal yang sudah melecehkan gadis malang itu segera diamankan, kedua tangannya diikat dan di jauhkan dari si korban.


Ibu Danita menangis sejadi-jadinya melihat anak gadis semata wayangnya terbaring lemas dengan pakaian yang sudah acak-acakan. Darah terlihat keluar dari area sensitif si gadis hingga ibunya tidak bisa mengatakan apapun. Tubuh itu segera ditutupi oleh jaget ibunya, dipeluk erat dengan isakan keras.


Polisi di panggil, pria tadi langsung ditangkap. Para warga yang berhasil mengikat penjahat ikut ke kantor untuk memberikan keterangan. Mereka tidak akan melibatkan Danita dan ibunya dalam hal ini. Mereka sudah cukup kacau karena ulah pria tak tahu malu. Sudah cukup penderitaan mereka.


Danita kecil pingsan, ibu Danita meminta tolong pada warga yang datang ke tempat itu untuk memanggil ambulans. Namun sayangnya ambulans yang mereka harapkan tidak segera datang semua ambulans tengah dipakai. Hingga di tengah kepanikan, sebuah mobil melintas.


Dua pemilik mobil tentu saja terkejut karena mereka tiba-tiba didatangi oleh banyak warga yang terlihat panik. Setelah mendapatkan izin, tubuh Danita beserta ibu dan seorang tetangga perempuannya dibawa ke rumah sakit terdekat. Danita dipinjamkan jaket lain oleh wanita pemilik mobil sementara suaminya berusaha keras untuk sampai tepat waktu.


Setibanya di rumah sakit, beberapa suster datang untuk membawa Danita sesegera mungkin. Sepasang suami istri yang membawa mereka juga ikut masuk, sangat khawatir dengan keadaan gadis yang seakan hampir kehilangan nyawa itu. Apalagi ketika tadi bekas bekapak kencang di sekitar mulut Danita tampak sangat jelas.


Akibat kejadian malam itu, Danita kecil harus menjalani terapi agar bisa hidup berdampingan dengan laki-laki lagi. Traumanya dengan pria sangat parah hingga hanya melihat pria di televisi saja Danita sudah menjerit ketakutan. Setiap malam dia harus tidur dengan sang ibunda karena terus mengalami mimpi buruk.


Para warga desa perempuan beberapa kaliberkunjung untuk menghibur Danita. Membawa makanan dan mainan. Mereka menyesal karena tidak bisa menjaga gadis paling ramah ini dari kejadian mengerikan. Padahal mereka melihat Danita sebelum melewati pekarangan.


Dunia Danita runtuh tanpa berniat dia sentuh. Dimintanya sang ibu untuk memotong rambut panjangnya hingga sebahu. Dirinya merasa sangat kotor mengingat rambutnya juga sempat disentuh oleh pria itu. "Aku tidak akan pernah memanjangkan rambutku lagi," bisiknya pada diri sendiri.


Flashback Off