
"Bukankah seharusnya kakak mulai belajar untuk menata rambut sendiri? Bagaimana jika aku sibuk dan tidak bisa membantu kakak lagi?" Athira mengambil ikat rambut kecil untuk melengkapi model rambut kakaknya agar sempurna. Kali ini kakaknya meminta Athira yang kebetulan bangun pagi untuk membantunya. Ada kencan pagi hari dengan Rajendra.
"Kan sudah ada kau. Kenapa aku harus melakukannya sendiri?" Ignacia lebih suka pekerjaan Athira daripada tangannya sendiri untuk bidang ini. Juga rasanya lebih yakin cantik karena Athira yang melakukannya karena anak itu tidak akan mengecewakan seseorang yang meminta tolong.
Akhirnya model rambut twisted half ponytail Ignacia siap juga. Athira tidak perlu bekerja keras untuk model ini daripada saat terakhir kali dia mendandani kakaknya. Hanya memilin rambut ke dalam dan menjalinnya dengan bagian rambut lain sehingga rambut terlihat bertingkat.
"Terima kasih untuk bantuanmu, Athira." Ignacia melihat dirinya sendiri lewat cermin, melihat bagaimana adiknya sangat pandai menata rambutnya hingga si kakak mereka lebih cantik. Ignacia berharap agar Rajendra menyukai model rambutnya yang ini.
"Kakak akan bersepeda dimana? Kakak sudah lama tidak bersepeda? Kakak masih ingat bagaimana caranya bersepeda? Kemungkinan besar kakak akan merasa kram karena sudah lama tidak olahraga juga." Athira menyimpan sisir miliknya kembali ke tempat semula sembari berbicara. Dirinya pasti merasa seperti kakak tertua karena terjebak dengan kedua adiknya selama Ignacia tidak ada di rumah.
Ignacia mengangguk paham. Siapa yang lupa cara bersepeda karena sudah lama tidak melakukannya? Mungkin kram yang dikatakan Athira akan benar datang, namun itulah tantangan jika ingin menyenangkan Rajendra. Kekasihnya itu ingin berjalan-jalan di sekitar bukit dengan menyewa sepeda. Ignacia setuju saja karena akan bersama Rajendra hingga sore.
Selesai bersiap-siap, Ignacia melihat kembali dirinya di cermin. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rajendra akan menyukai pakaiannya kali ini kan? Semoga dia tidak bosan dengan baju berwarna coklat yang dipakai Ignacia. Tatapan Rajendra biasanya berbeda jika Ignacia memakai baju berwarna coklat. Ignacia ingin merasakan tatapan berbeda itu lagi.
"Kakak sudah cantik," puji Athira. Tanpa berdandan dan hanya memakai pakaian biasa saja kakaknya pasti terlihat cantik di mata Rajendra, tambahnya. Athira bersandar di dinding tempat cermin yang ditatap Ignacia berada, melipat tangan di depan dada seperti seorang profesional.
Sweater berkerah berwarna cream milih Ignacia cocok dengan celana panjang coklat berbahan kain pemberian Athira. Hadiah ulang tahun kedua yang dia berikan untuk kakaknya selama hidup. Beruntung ukurannya pas karena ketika membeli Athira tidak lupa membawa celana kakaknya untuk bahan referensi. Athira cukup puas karena kakaknya akan memakai celana pemberiannya itu.
Ignacia keluar kamar Athira, berniat berpamitan pada ayah dan mamanya yang sibuk di halaman belakang. Sebentar lagi Rajendra akan datang menjemputnya. Melihat Ignacia yang sudah rapi untuk pergi dengan seorang teman, ayahnya pun bangkit untuk memberikan pesan. "Jangan pulang terlalu sore, katakan pada temanmu untuk berhati-hati ketika berkendara. Makanlah tepat waktu."
"Setelah bersepeda, kami mungkin akan banyak makan."
Mama Ignacia juga ikut berjalan mendekat, memuji pakaian yang dikenakan putri pertamanya. "Ignacia, ketika bersepeda, fokuskan pandangan ke jalan yang ada di depanmu. Boleh sesekali melihat sekitar, tapi tetap berhati-hatilah. Mengerti?"
Si gadis mengangguk patuh, menerima nasihat yang diberikan kedua orang tuanya dengan lapang dada. "Kalau begitu aku akan menunggu temanku di depan. Lanjutkan saja pekerjaan hebat ayah dan mama disini. Aku pergi dulu." Buru-buru Ignacia pergi ke teras meninggalkan orang tuanya yang belum sempat kembali berbicara.
Baru menunggu beberapa detik sembari memakai sepatu, Ignacia langsung mendengar suara sepeda motor yang akrab di telinganya. Buru-buru ia menutup pintu depan rumahnya dan berlari kecil ke arah pagar setelah menyambar helm miliknya. Begitu dibuka, wujud Rajendra langsung terlihat dengan jelas. Bukan hanya kemunculannya yang begitu cepat, Rajendra juga membuat Ignacia terkejut karena sama-sama menggunakan celana berwarna coklat meksipun modelnya tentu berbeda.
Rajendra mematikan mesin motor, menyapa Ignacia yang tersenyum lebar melihatnya. "Apa kita langsung pergi? Aku tidak perlu berpamitan dengan mamamu?" Ignacia menggeleng, tidak perlu. Bisa bahaya jika ayah Ignacia tahu tentang kencan mereka. Di sisi lain Rajendra ingin sekali berpamitan dengan orang tua Ignacia secara langsung seperti pasangan lainnya.
Ignacia memakai helm miliknya sambil perlahan menaiki sepeda motor Rajendra. Setelah selesai, tangannya langsung memeluk pinggang Rajendra dari belakang. Tidak ada rasa canggung sama sekali meskipun tidak bertemu cukup lama. Yang di peluk terkekeh kecil, "kamu ini bersemangat sekali. Kita pergi sekarang?" Mendapatkan anggukan dari sang kekasih, Rajendra pun mulai menjalankan sepeda motornya.
Perkiraan cuaca hari ini bilang jika langit akan sedikit berawan sepanjang hari. Jika ditambah dengan angin segar, Ignacia tentu tidak keberadaan berlama-lama diluar rumah. Malah si gadis merasa sangat bersemangat keluar rumah karena keberadaan Rajendra. Andai keduanya piknik sambil membaca sebuah buku, kencan ini pasti akan terasa seperti mimpi bagi Ignacia.
"Kita akan bersepeda, makan makanan enak, lalu pulang di akhir sore. Bagaimana menurutmu?" Ignacia tentu ikut saja. Dia mengangguk patuh dengan senyuman yang terpatri sempurna sejak meninggalkan rumah. Rajendra bisa melihat bagaimana gadisnya begitu bahagia dari spion sebelah kiri. Tempatnya bisa melirik Ignacia beberapa kali tanpa diketahui.
Perlahan tubuh Ignacia mendekat, ia letakkan dagunya pada bahu sebelah kiri Rajendra. Si gadis tidak mempertahankan posisinya cukup lama, pikirnya posisi itu akan membuat Rajendra tidak fokus. Atau mungkin malah membuat bahu Rajendra tidak nyaman. Padahal tanpa Ignacia ketahui, Rajendra agak kecewa karena Ignacia tidak mempertahankan posisi tadi cukup lama.
Tidak ada obrolan, Ignacia tidak punya cerita apapun karena sudah dia bagi saat perjalanan pulang dengan kereta. Motor Rajendra berhenti di lampu merah. Kesempatan ini ia gunakan untuk menggandeng tipis tangan Ignacia yang tengah memeluk pinggangnya. Rasa rindunya semakin besar padahal keduanya tengah bersama.
Ignacia yang mendapati perilaku aneh Rajendra pun sedikit terkejut, matanya hampir membulat sempurna tanpa adanya pergerakan pada tubuhnya. Jantungnya yang tadinya bersemangat kini berubah aneh. Detaknya semakin kencang dan rasanya akan segera keluar dari tempatnya. Pasti ini yang namanya salah tingkah diam-diam.
Rajendra tidak mengatakan apapun, hanya tetap menggenggam tangan kekasihnya sambil memperhatikan lampu lalu lintas. Ketika lampunya berubah hijau, tautan tipis tadi terlepas. Motor Rajendra kembali melaju membela jalanan lenggang tengah kota. Sampai di sebuah perempatan besar, motornya di arahkan ke tempat dimana bukit berada.
Bukit ramai dengan pengunjung karena sedang liburan sekolah. Waktunya untuk menikmati hari bebas bersama keluarga dengan menghirup udara segar di area bukit. Pepohonan disana terlihat bertambah dari terakhir kali Ignacia datang. Sayangnya bukan puncak bukit tempat keduanya akan berjalan-jalan hari ini.
Rajendra menerima helm milik Ignacia untuk diletakkan di spion sisi lainnya. Selanjutnya menyambar kunci motor dan tangan Ignacia bergantian. Senyuman masih terpatri sempurna, keduanya berjalan bersama-sama menuju tempat penyewaan sepeda. Sesekali Ignacia mengayunkan tautan tangan keduanya ke udara, menunjukkan kebahagiaan.
Rajendra meminta Ignacia berkendara di depannya agar Rajendra lebih mudah untuk mengawasi dan memastikan Ignacia tetap bersamanya. Namun si gadis menolak, dia lebih suka mengikuti Rajendra daripada harus memimpin jalan. Jika ada Rajendra di depan, Ignacia merasa lebih aman dan nyaman. Baiklah kalau itu mau gadis cantiknya. Rajendra tidak akan memaksa.
Di sisi lain bukit terdapat ruko-ruko dan sejumlah tempat makan yang berjejer rapi dengan ramai pengunjung. Masih pagi namun orang-orang lebih memilih sarapan diluar rumah sambil berjalan-jalan. Aroma makanan yang beraneka ragam menarik minat Ignacia juga Rajendra padahal sudah sarapan.
Ignacia mengayuh sepedanya lebih cepat, menyelaraskan laju dengan kekasihnya yang ada di depan. "Rajendra, nanti kita beli camilan disana ya," ajaknya. Mendapatkan anggukan dari sang kekasih, Ignacia pun kembali ke posisi semula mengekor pada Rajendra.
Di perjalanan bersepeda, Ignacia merasa sedikit lelah. Padahal ini belum setengah kaki bukit. Mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar. Rajendra meminta Ignacia duduk di sebuah kursi taman tepi jalan sementara dirinya pergi membeli minuman dingin di sisi jalan yang agak jauh.
Melihat Rajendra yang berjalan membawa dua botol minuman dingin membawa banyak kupu-kupu ke dalam perut Ignacia. Terlihat keren dan mempesona saja bagi si gadis yang menunggu itu. Ditambah sekarang laki-laki itu tengah berjalan ke arahnya, menatap malu-malu, sesekali melihat sekitar karena Ignacia terus memandanginya.
"Terima kasih, Rajendra." Bahkan Rajendra membukakan tutup botol minumannya sebelum diberikan pada Ignacia.
Rajendra duduk di samping si gadis, meneguk minumannya beberapa kali lalu menoleh pada Ignacia. "Setelah bersepeda dan membeli camilan yang kamu inginkan, aku ingin mengajak kamu pergi ke suatu tempat." Ignacia kira keduanya akan banyak menghabiskan waktu di tempat ini. Tapi tidak masalah jika Rajendra sudah menyiapkan rencana.
Siang harinya sepasang kekasih ini pergi meninggalkan bukit. Rajendra tidak ingin memberitahu Ignacia kemana keduanya akan pergi. Si gadis terus menebak padahal ia tahu Rajendra tidak akan mengatakan jawabannya. Diam-diam berharap agar Ignacia menyukainya dan tidak kecewa.
Lama berkendara akhirnya keduanya sampai di depak sebuah gedung dua lantai yang memiliki jendela besar di bagian depannya. Cahaya yang masuk pasti akan langsung menerangi seisi ruangan. "Ayo kita masuk." Masih bingung dengan apa yang dilihatnya, Rajendra menarik lembut tangan Ignacia masuk ke dalam gedung.
Masuk saja tanpa mengetahui nama gedung yang tertera di dekat pintu masuk. Ignacia sibuk mengamati sekitar hingga lupa membaca. Di dalam, terdapat beberapa orang yang melakukan aktivitas menghias kue. Ada yang masing-masing dan ada juga yang berdua atau dengan kelompok kecil.
Ignacia yang akhirnya sadar refleks mengeratkan genggaman tangan pada Rajendra juga memeluk lengan kekasihnya. Tidak lupa matanya yang berbinar menatap wajah Rajendra, mencari kebenaran. "Kita akan membuat kue juga?" Rasa semangatnya membuat Rajendra tersenyum lebar.
"Seperti yang kamu lihat. Bagaimana? Kamu menyukainya?"
Tentu Ignacia mengangguk. Sudah lama ia tidak menggunakan dapur untuk membuat kue karena minimnya peralatan. Dan kebetulan sekali sekarang dia akan membuat kue bersama orang terkasih di kelas membuat kue. Semoga tangannya tidak lupa bagaimana caranya membuat kue.
Seorang wanita berpakaian semi formal kemudian mendekati sepasang kekasih yang berdiri tak jauh dari pintu masuk, menanyakan alasan kedatangan keduanya. Rajendra langsung mengatakan jika dirinya sudah membuat reservasi di kelas kue siang hari. Mendengar itu, wanita tadi membawa keduanya ke lantai kedua. Tempat kelas kue akan berlangsung.
Di lantai kedua, terdapat banyak meja yang ditata seperti acara masak di tv yang berlogo m itu. Bedanya, Di atas masing-masing meja sudah ada bahan dan alat-alat yang dibutuhkan masing-masing peserta. Bahkan kelihatannya bahan seperti tepung dan serbuk lainnya masih baru dan belum pernah digunakan. Semuanya tampak baru diambil dari dapur.
Melihat mereka-mereka yang sudah menempati meja masing-masing, Ignacia bertanya pada Rajendra apa mungkin mereka semua adalah sepasang kekasih juga. Yang di tanyai mengangguk, masih dengan menggenggam tangan Ignacia agar tetap pada jalur. Itu alasan kenapa Rajendra mengajak Ignacia berkencan disini.
Keduanya berhenti di meja yang dipesan Rajendra. Wanita tadi meninggalkan sepasang kekasih ini setelah pamit undur diri. Ignacia ikut membalas ramah wanita itu dengan Rajendra. Seolah masih kagum, Ignacia kembali melihat sekeliling ruangan yang lebih luas dari ruang kelas ini. Posisi meja yang strategis berada di tengah-tengah ruangan membuat Ignacia bisa melihat kegiatan masing-masing pasangan.
Rajendra bergerak memakaikan apron untuk Ignacia. Gadisnya terlalu sibuk melihat sekitar hingga hampir tidak menyadari tindakan Rajendra yang melepas tautan keduanya. Ignacia terkesiap ketika menyadari Rajendra akan mengalungkan bagian atas apron. Katanya Ignacia harus memakai ini sebelum kelasnya dimulai.
"A-Aku bisa memakainya sendiri," gagap Ignacia. Ya bagaimana tidak? Wajah keduanya menjadi dekat selama beberapa detik, membuat jantung Ignacia merasakan getaran aneh. Rajendra tidak mendengarkan ucapan Ignacia. Malah dilanjutkannya untuk mengikatkan pita untuk diikat di belakang tubuh Ignacia.
Seolah bukan masalah besar, Rajendra bahkan membiarkan jarak yang tipis diantara keduanya untuk menggoda Ignacia. "Lalu kenapa jika kamu bisa melakukannya sendiri?" Ada apa dengan pertanyaan Rajendra yang berbisik itu? Ignacia tidak merespon, wajahnya hampir memanas menahan salah tingkah.
Melihat reaksi itu, Rajendra pun menjauhkan tubuhnya dari sang kekasih, beralih memandang ke depan. Senyuman kecil diam-diam muncul. Entah mengapa wajah Ignacia yang sedikit memerah membuatnya tampak menggemaskan bagai emoji stroberi yang sengaja gadis itu berikan pada kontaknya sendiri. Wajahnya memerah, cantik, dan lembut di dalam.
Wanita yang tadi berbicara dengan Rajendra berdiri di meja paling depan yang menghadap kepada para peserta yang mengikuti kelas. Melihat semua meja yang sudah penuh, tanda semua orang yang mengikuti kelas sudah ada disini, waktunya untuk beliau memulai pelajaran.
"Selamat datang untuk anda-anda semua yang mengikuti kelas kue pada hari ini. Berdirinya saya disini adalah sebagai koki pastry atau patissier yang akan memastikan anda-anda semua dapat mencicipi kue nikmat buatan sendiri."