
Fokus semua orang beralih pada wanita berwajah ramah di depan. Kelas dimulai begitu Nona Patissier di depan selesai menjelaskan tentang semua yang perlu para peserta kelas ketahui. Mulai dari bahan-bahan yang tersedia, alat-alat yang dibutuhkan, juga beberapa peraturan sederhana. Jangan sampai terluka dan melupakan momen bahagia membuat kue bersama pasangan, katanya.
Mendengar peraturan terakhir yang disebut membuat Ignacia mengangguk setuju. Nanti ketika kuenya berhasil, Ignacia berharap agar nanti bisa mengambil foto dengan Rajendra membawa kue buatan mereka sebagai kenang-kenangan. Pasti akan menyenangkan melihat kenangan baru di masa depan.
Nona Patissier akan berkeliling untuk membantu para peserta selama kelas berlangsung, dibantu dengan beberapa staff yang memiliki tugas serupa. Setidaknya ada satu staff yang akan mengawasi empat meja demi keamanan. Menjawab pertanyaan para peserta yang kebingungan.
Di masing-masing meja terdapat buku resep kue yang bisa diikuti oleh semua orang. Memakai resep sendiri pun sebenarnya tidak masalah. Yang penting disini tujuannya hanya agar para peserta berhasil membuat kue. Jika tidak berhasil, para peserta bisa mengambil kue yang sudah jadi dan tinggal di hias. Tapi tentu kuenya akan berbeda nantinya.
Ignacia dan Rajendra membuka-buka halaman buku resep, mencari kue mana yang tidak sulit dibuat. Karena Ignacia tidak mendapatkan bantuan mamanya, lebih baik jangan memilih yang sulit. Rajendra tidak pernah membuat kue, jadinya dia akan menjadi asisten Ignacia saja.
"Bagaimana jika kue ini?" Si gadis menunjuk pada sebuah resep kue coklat dengan lapisan frosting. Selain resepnya yang sederhana, Rajendra kebetulan juga menyukai coklat. Hampir mirip lah dengan kue yang pernah Ignacia berikan di hari ulang tahun lebih awal laki-laki ini.
Sambil membaca resep, Ignacia menyiapkan bahan-bahan yang dia butuhkan. Sementara yang lainnya dipindahkan ke meja yang ada di sebelah tempat cuci piring ujung meja agar lebih leluasa. Mulailah Ignacia mencampurkan beberapa bahan mulai dari susu cair, mentega dan dark chocolate yang semuanya dipanaskan dan dicampur rata.
"Membuat kue mengingatkan aku pada Nesya. Kamu tahu, Nesya pernah membuatkan aku dan Danita kue sebelum dia pergi menemui kakaknya di kota lain." Rajendra mendengarkan sambil sesekali melirik ke arah campuran yang Ignacia tengah dipanaskan. "Kuenya enak, seharusnya kamu mencobanya juga. Lain kali aku akan mencoba resepnya."
"Jika tidak sulit, kita lakukan bersama saja. Aku ingin melihatmu membuat kue lagi." Ignacia terkekeh mendengar pernyataan kekasihnya itu. Mungkin memang benar jika seseorang yang tengah memasak terlihat lebih berkarisma.
Rajendra membantu Ignacia dengan mengocok telur dan gula hingga warnanya berubah putih. Langkah selanjutnya kembali diambil Ignacia dengan memasukkan Masukkan terigu, coklat bubuk, baking powder, baking soda, dan juga garam. Saat Ignacia mengeluarkan mixer, Rajendra tiba-tiba jadi ingin lebih berguna.
Mungkin Rajendra pandai memakai mixer, pikir Ignacia. Meskipun tidak bisa, masih ada dirinya untuk membantu sang kekasih. Beberapa kali Ignacia mengingatkan kekasihnya agar tidak terlalu mengangkat mixernya. Adonannya bisa pergi kemana-mana nanti. "Jangan tegang begitu, biasa saja," pesan Ignacia terus menerus.
Selanjutnya Ignacia memasukkan campuran susu, mentega dan coklat tadi ke adonan yang Rajendra mixer ini. Sementara Rajendra mencampurkan semuanya sampai rata, Ignacia bergerak untuk menyiapkan loyang dan tempat kukusan sesuai perintah buku resep.
"Padahal hanya mencampur adonan, tapi kenapa tanganku terasa agak lelah?" tanya Rajendra tanpa menoleh ke arah Ignacia. Takut jika tangannya tanpa sengaja membawa pengaduk mixernya terlalu tinggi dan membuat sekitar berantakan.
Siapa yang tidak lelah jika dirinya terlalu tegang begitu? Ignacia seolah melihat dirinya sendiri ketika membantu sang mama membuat kue ketika masih kecil. Dahulu dirinya juga tegang ketika diminta menggunakan mixer untuk pertama kali. Yang mamanya katakan sama spesifikasi saran Ignacia pada Rajendra saat ini.
"Kamu bisa memasukkan adonannya ke dalam loyang ini? Aku akan menyiapkan bahan untuk frosting-nya."
"Sebenarnya frosting itu apa? Aku belum pernah mendengar istilah itu sebelumnya." Rajendra terlihat sedikit santai. Bahunya sudah tidak lagi terlihat kaku.
"Semacam lapisan gula berbentuk krim," jelas Ignacia singkat lalu mengambil bahan-bahan sesuai resep. "Rajendra, disini tertulis hanya menggunakan dark coklat. Bagaimana jika kita gunakan dua warna? Mungkin kita bisa menggunakan coklat putih juga sebagai lapisannya nanti."
Laki-laki di sebelahnya setuju saja. Setelah dirasa adonannya tercampur sempurna, waktunya Rajendra untuk memindahkan adonan ke dalam loyang. Ia bertanya pada Ignacia lebih dahulu apakah loyangnya sudah bisa dimasukkan ke dalam kukusan. Jika salah langkah takutnya kuenya tidak berhasil.
Sesudah menutup kukusan, keduanya mengobrol sebentar sambil duduk di kursi yang tersedia di dekat meja mereka. Ignacia sudah memotong dadu satu bar dark coklat dan coklat putih ke dalam sebuah wadah kecil. Rencananya agar bisa langsung di lelehkan setelah kuenya selesai dikukus. Resep bilang jika lapisan gula ini sebaiknya diberikan ketika kuenya sudah dingin.
"Setelah diberikan krim, apa kita sebaiknya juga memberikan topping seperti buah-buahan atau choco chips?" Rajendra betanya karena melihat orang-orang di sekitar membawa beberapa topping seperti yang ia sebutkan. Ada jenis topping lain namun Rajendra tidak tahu apa namanya. Terlihat seperti plastisin di matanya.
Ignacia mengangguk, "Jika ingin buah, nanti kita ambil setelah kuenya matang. Aku tidak tahu apakah cocok, tapi rasanya aku ingin menambahkan beberapa buah stroberi. Bagaimana menurut kamu, Rajendra?"
"Aku tidak keberatan. Pasti cantik menambahkan stroberi. Kamu mau minum? Biar aku ambilkan." Rajendra bangkit dari duduknya setelah melihat anggukan kecil dari Ignacia.
Laki-laki itu berjalan ke arah sebuah kulkas berpintu kaca berisi air dingin di samping tempat-tempat untuk kepentingan membuat kue. Tempat buah-buahan segar juga ada di dalam jajaran kulkas disana. Di samping itu juga ada tempat buah-buahan yang tidak perlu suasana dingin. Jajaran pendingin dan rak-rak buah-buahan disana tampak cantik.
Melihat Rajendra yang datang menghampiri Ignacia membuat si gadis tersenyum simpul. Sekali lagi dirinya seolah kembali jatuh cinta dengan sosok laki-lakinya. Rajendra yang memakai kaus putih, celana coklat panjang, ditambah apron berwarna hitam tampak lebih keren.
"Terima kasih," ucap Ignacia setelah mendapatkan sebotol air dingin dari kekasihnya ini.
"Aku melihat kue yang dibuat orang-orang tadi. Ada yang sudah matang, baunya enak sekali. Sebentar lagi ruangan ingin akan beraroma kue, Ignacia." Ya bagaimana tidak? Semua orang tengah membuat kue dan lalu menunggu kuenya matang. Ignacia berharap kuenya juga akan seharum milik orang lain.
"Biar aku yang mencuci. Kamu duduk saja. Kamu sudah membuat kue tadi. Kamu nanti lelah." Ignacia terkekeh kecil, tidakkah Rajendra terlalu mudah khawatir dengan hal sepele? Jika membiarkan Rajendra melakukan semuanya, bukankah Ignacia yang akan merasa tidak enak karena tidak banyak membantu?
Ignacia berkata jika dia akan mencuci dan Rajendra yang akan mengeringkan mereka lalu diletakkan di tempat aman. Di kencan seperti ini, melakukan semuanya bersama-sama adalah yang utama kan? Dengan begitu masing-masing dapat merasakan kehangatan dan keberadaan masing-masing.
Nona Patissier mendekati sepasang kekasih yang tengah mengobrol sambil membersihkan pos, bertanya apakah semuanya baik-baik saja. Nona ini tidak melihat pasangan ini memanggil staff untuk membantu dalam membuat kue selain soal meja untuk meletakkan bahan yang tidak tertulis di dalam resep.
Melihat tempat kerja mereka yang sedang dirapikan, Nona Patissier merasa senang. Berterima kasih pada pasangan ini karena sudah melakukan kerja yang bagus. Katanya nanti jika ada sesuatu, mereka bisa langsung memanggil beliau. Padahal banyak pasangan yang juga menjaga kebersihan pos, apakah Nona Patissier ini tidak akan kewalahan?
Setelah menunggu lama, akhirnya kue mereka bisa dikeluarkan dari kukusan. Langsung saja Ignacia bergerak untuk membuat frosting seperti yang sudah direncanakan tadi. Rajendra diminta untuk mengambil stroberi dan bluberi yang ada di tempat pendingin disana sebagai hiasan. Ignacia tidak tahu akan jadi seperti apa, tapi mungkin akan lebih enak nanti.
Ignacia terlalu malu untuk bertanya pada staff yang berlalu lalang. Dirinya merasa nanti kuenya akan enak karena buahnya akan membawa rasa manis yang berbeda dari kuenya. Ignacia suka perpaduan berbeda itu.
Begitu Rajendra kembali, ia melihat apa yang sedang gadisnya lakukan dengan dark coklat yang di lelehkan dalam wadah yang ada di atas air panas yang menggunakan bara api kecil. "Ignacia, biar aku yang melakukannya. Aku takut tanganmu kepanasan." Dia khawatir meksipun Ignacia menggunakan sarung tangan oven untuk memegangi wajah berisi dark coklat itu.
"Bisa kamu letakkan panci kecil berisi air di atas api juga? Aku akan mengolah coklat putihnya." Bukan itu yang Rajendra maksud, meskipun begitu ia tidak ingin protes dan membantu Ignacia dengan permintaan tolongnya. Ignacia mengoper dark coklatnya pada Rajendra lalu berganti mengurus coklat putihnya.
"Nanti setelah kita menuangkan lapisan ini, kita akan memotong buah-buahannya," ucap Ignacia memberitahu.
Setelah kedua coklat milik mereka leleh sempurna, Ignacia memindahkan miliknya lalu mberaluh memanaskan whipped cream hingga shimmer. Selanjutnya akan masukkan ke dalam coklat yang sudah dilelehkan tadi. Ignacia menambahkan unsalted butter, keduanya mengaduk frosting mereka hingga merata. Kelihatannya enak.
"Sekarang kita tunggu hingga adonan set dengan tekstur seperti selai, lalu gunakan untuk menghias cake." Ignacia melepaskan tangannya dari pengaduk. Waktunya untuk memotong-motong buah-buahan. Rajendra sekali lagi juga akan membantu kekasihnya.
Selagi Ignacia mencuci stroberi dan blueberi di tempat cuci, Rajendra bertanya plastisin apa yang aman digunakan untuk kue. Rasa penasarannya tidak hilang setelah melihat kue seseorang tadi. Mendengar pertanyaan Rajendra, Ignacia jadi bingung. Bahkan tangannya berhenti untuk mencuci. Memangnya ada plastisin yang bisa dimakan?
Rajendra lalu menunjuk ke arah pasangan lain yang tengah mengolah plastisin untuk diberikan sebagai hiasan kue dibantu dengan Nona Patissier. Ignacia mencari-cari arah tunjuk Rajendra, melihat kegiatan disana bukankah menggunakan plastisin seperti yang Rajendra kira. Ignacia mencoba menahan tawanya agar kekasihnya tidak tersinggung.
"Rajendra, itu namanya Fondant, bukan plastisin. Bahannya jika tidak salah itu berasal dari gula bubuk dan gelatin, jadi semacam lapisan gula dengan jenis lain. Biasanya digunakan sebagai pelapis permukaan kue agar terlihat halus atau ornamen seperti yang mereka buat disana," jelas Ignacia ramah.
Ignacia beralih membawa stroberi dan blueberi yang ada di tangannya ke dekat talenan. Mungkin sebaiknya hanya stoberinya saja yang dipotong jadi dua bagian. Rajendra mengangguk-angguk paham mendengar penjelasan Ignacia. Meskipun begitu sesuatu bernama fondant itu tetap terlihat seperti plastisin. "Apa kita bisa menggunakan fondant juga? Aku ingin tahu rasanya."
Si gadis berhenti sebentar untuk berpikir. "Aku tidak bisa membuatnya. Bagaimana jika kamu meminta tolong pada salah satu staff untuk membuatnya? Nanti kita bentuk seperti kue tart kecil sebagai perayaan anniversary kita?" Rajendra suka ide itu, tepat sebelum laki-laki itu berlalu, Ignacia meminta tolong satu lagi padanya.
"Katakan juga jika kita meminta tolong untuk dibantu melapisi kuenya dengan frosting. Kamu bisa?" Rajendra mengangguk, langsung pergi menemui salah satu staff dan membawanya ke pos mereka. Langsung saja staff wanita yang siap membantu mereka ini mulai mengerjakan bagian frosting sebelum lanjut membuat fondant.
Sambil menunggu kue mereka selesai didekorasi, Ignacia menyodorkan satu buah stroberi pada Rajendra. Meminta si laki-laki untuk mencobanya. Rajendra tidak punya alasan untuk menolak. "Rasanya enak dan manis kan?" Ignacia senang ketika melihat kekasihnya mengangguk setuju.
Rajendra meraih satu stroberi, berniat menyuapi Ignacia. Staff yang mereka mintai tolong tadi bahkan mencoba untuk tidak iri melihat apa yang sepasang kekasih ini lakukan. Sementara itu Ignacia tersenyum, senang mendapatkan perhatian Rajendra.
Kuenya selesai dihias dengan frosting dua warna, waktunya membuat fondant. Tak lupa Ignacia mengutarakan keinginannya untuk meletakkan beberapa stroberi dan blueberi yang sudah dia persiapkan untuk topping kue. Selanjutnya keduanya mengobrol tentang bagaimana posisi fondant dan berinya tanpa Rajendra. Laki-laki itu berada di belakang mereka yang sedang berdiskusi, mengamati dan mencoba memahami.
"Bagaimana menurutmu, Rajendra?" Saking fokusnya hingga Rajendra terkejut ketika Ignacia menoleh ke arahnya. Begitu juga staff di samping kekasihnya. Melihat Rajendra yang kebingungan, Ignacia pun menjelaskan lagi apa yang sudah dikatakan staff dengan lebih sederhana.
Rajendra melirik ke arah kue yang sudah dihias dengan beri juga krim. Di atasnya tampak krim berwarna hitam yang dibuat melingkari bagian pinggir kue putih, sementara di bagian bawah kuenya terdapat krim hitam yang disapukan menggunakan pisau palet seperti untuk melukis.
Ignacia ikut membantu dalam proses pembuatan kue tart kecil berbahan fondant. Rajendra juga akan menolong namun tangan yang dibutuhkan sudah cukup. Jadinya dia berdiri di samping Ignacia, mengamati dalam diam.
Kue tart kecil itu memiliki hiasan seperti lilin layaknya kue perayaan pada umumnya. Dekorasi di bagian atas dan bawah kue mungil itu juga disamakan dengan kue besar mereka namun tanpa tambahan beri. Setelah peletakan kue kecil, waktunya Ignacia dan Rajendra menambahkan stroberi dan blueberi di samping kue kecil tersebut.